Cause I'M Yours

Cause I'M Yours
Australia



Session 2


Satu bulan kemudian.


Jo mendarat di bandara internasional di kota Sydney, Australia. Di sana dia akan dijemput oleh pemandu dari yayasan Green Peace, Australia. Jo menebarkan pandangannya saat keluar dari pintu kedatangan. Dari kejauhan dia melihat seorang wanita bermata sipit khas orang Asia dengan karton bertuliskan Grean Peace. Jo pun menghampiri wanita itu.


“Joana?” tanya wanita itu sambil menurunkan kartonnya.


Jo mengangguk. “Cukup panggil aku Jo.”


Wanita itu meraih tangan Jo dan bersalaman. “Aku Liza. Panggil aku Liz.”


“Okay. Kalau begitu, kita pergi sekarang?” tanya Jo yang siap untuk kembali menyeret kopernya.


“Tunggu. Masih ada satu orang lagi,” jawab Liz.


Jo mengangguk dan berdiri di belakang Liz. Jo mengaktifkan ponselnya. Jantungnya berdegup saat mendapatkan pesan suara dari seseorang yang nama kontaknya belum dia hapus. Kontak itu bertuliskan nama “sayang”. Kontak dengan nama itu tak lain adalah Javier. Perlahan Jo menempelkan ponselnya di telinga.


Bibi Ema muncul dari balik pintu setelah mendengar bel berbunyi. Hari ini Bibi Ema tidak membuka kios karena hari libur. “Tuan Javier?”


Javier tersenyum. “Selamat pagi,”


“Apa kau mencari Jo?”


Javier mengangguk. “Apa Jo ada? Ada urusan bisnis yang…”


Belum sempat Javier menghabiskan kalimatnya, Bibi Ema sudah menyela. “Jo sudah berangkat ke bandara setengah jam yang lalu, Tuan.”


Javier mengernyitkan dahinya. “Bandara?”


“Ya, dia akan pergi ke Australia. Apa Jo tidak membicarakannya?”


Javier menggeleng. “Untuk berapa lama dia pergi?”


“Dia bilang ingin menjadi volunteer di Greean Peace Australia. Dia bilang kurang lebih satu tahun di sana,” ujar Bibi Ema.


Javier seperti disambar petir di pagi hari. Tak menunggu waktu lama, dia segera memacu mobilnya dengan kecepatan penuh untuk menyusul Jo, atau setidaknya mengucapkan kalimat perpisahan padanya. Setelah satu bulan dia menjalani hari tanpa Jo, dia tidak punya kekuatan lagi untuk bertahan.


Setelah memarkirkan mobilnya, Javier berlari kencang masuk ke dalam bandara dan mencari pintu keberangkatan penerbangan tujuan Australia.Dia bertanya ke bagian informasi kemudian berlari dan berlari menuju tempat Jo berada. Sampai akhirnya dari jendela terlihat sebuah maskapai penerbangan menuju Australia melaju ke udara. Javier berhenti, nafasnya tersenggal dan hatinya remuk untuk ke sekian kalinya.


“Jo,” ucap Javier pada ponselnya seraya terduduk lemas di kursi bandara sambil memandang pesawat yang ditumpangi Jo sudah terbang di ketinggian. “Ternyata aku tidak bisa hidup tanpamu. Kau sudah menjelma menjadi bagian dari diriku. Tadi pagi aku pergi ke Desa Forks dan Bibi Ema bilang kau sudah pergi ke bandara untuk penerbangan ke Australia. Aku terlambat. Kau sudah pergi. Namun kuyakin, suatu saat kita pasti bertemu kembali dan aku masih milikmu. Aku mencintaimu, sayangku.”


Pesan suara berakhir. Jo gemetar dan wajahnya memerah. Kuakui bahwa aku pun masih mencintaimu. Tapi aku tidak ingin kembali menjadi benalu di antara kau dan istrimu. Kau harus mulai terbiasa, Javier.


Jo mengusap wajahnya, menghela nafas dan mengembalikan ekspresi wajahnya seperti semula.  Saat dia berbalik, Liz sudah bersama seorang lelaki tampan berambut cokelat dan bermata hijau. Tingginya hampir sama dengan Javier. Jambang halusnya pun sama. Di mata Jo, bayangan Javier sudah melekat di kornea matanya. Bahkan menatap benda mati pun, dia seperti melihat Javier.


“Jo, kenalkan ini Daniel dari Jerman,” kata Liz.


Lelaki itu tersenyum manis dan mengulurkan tangannya. “Daniel.”


“Jo,” kata Jo seraya membalas jabatan tangan Danieldan menepiskan bayangan Javier.


“Baiklah, daftar jemputanku sudah komplit. Saatnya kita pergi!”


Liz pun beranjak dari bandara, Jo dan Daniel mengekor di belakangnya. Mereka naik ke dalam sebuah mobil van berwarna putih. Di sana sudah ada sopir yang menunggu. Liz duduk di depan sedangkan Jo dan Daniel duduk di belakang.


“Kau dari Amerika?” tanya Daniel pada Jo memulai percakapan.


Jo mengangguk.


“Pensylvania.”


“Oh, Philadelphia!” mata Daniel berbinar.


“Ya,” Jo hanya menjawab seadanya.


“Keluargaku pun ada di sana. Aku kuliah di Jerman dan setelah lulus aku bekerja dan meneruskan tinggal di Munchen, Jerman. Hmm… aku sudah lama tidak mengunjungi orangtuaku,” Daniel terus berbicara di saat lawan bicaranya sangat tidak berselera untuk berbicara.


Jo hanya dapat merespon dengan mengangguk sambil sesekali menatap jendela.


“Apa kau sudah menikah?” tanya Daniel lagi.


Jo yang menatap jendela langsung menoleh dan menjawab dengan lemah namun dapat didengar oleh seluruh isi mobil. “I’m free and broken.”


Daniel terdiam, bingung untuk merespon apa. Dasar! Kenapa aku menanyakan privasinya?


“Ppppfff…Hahahaa!” Jo akhirnya tertawa setelah melihat Daniel merasa tidak enak hati.


Daniel pun akhirnya ikut tertawa, begitu pun Liz dan sopirnya. “Hahaha…”


Jo berhenti tertawa. “Tapi itu benar.”


“Kau menarik!” ucap Daniel kemudian mengulurkan tangannya.


“Kenapa? Kita sudah berkenalan dan bersalaman kan, tadi?” Jo menatap Daniel dengan heran.


Daniel meraih tangan Jo dengan paksa. “Mari berteman! Kau orang yang menyenangkan!”


Ajakan berteman dari seorang lelaki lagi-lagi mengingatkan Jo pada Javier. Daniel melepaskan jabatan tangannya kemudian kembali berbicara.


“So, kau pergi ke Australia karena patah hati?” tanya Daniel.


Jo mengangguk. “Ya. Tapi aku memang benar-benar ingin menjadi volunteer. Di Philadelphia aku adalah seorang aktivis lingkungan. Patah hati, membuat motivasi kepergianku ke Australia lebih besar.”


“Well, kita tidak jauh berbeda. Aku diputuskan kekasihku karena aku ingin menjadi volunteer. Dia tidak ingin menjalani hubungan jarak jauh yang tak tentu sampai kapan, makanya dia memutuskanku," ujar Daniel berterus terang.


“Kau tidak sedih?”


Daniel menggeleng. “Aku merasa bebas.”


Jo tertawa melihat ekspresi Daniel yang terlihat bahagia dengan statusnya yang lajang dan Daniel pun ikut menertawakan dirinya. “Hahaha..”


 


***


“Tuan, apa Anda siap untuk naik ke pemilihan Gubernur Pensylvania?” tanya Tom di ruang kerja Javier.


Javier berdiri menghadap jendela dan menatap jalanan yang ramai, tapi hatinya sepi. Jo sudah pergi. Namun hatinya sudah memilih untuk tetap menjadi milik Jo meski statusnya masih menjadi suami Mary. Javier merasa sangat yakin bahwa suatu saat nanti mereka pasti bersatu kembali.


Javier menghela nafas panjang, lalu berbalik. “Baiklah, aku siap.”


Menyibukkan diri adalah cara terbaik untuk mengobati segala kegundahan hatinya. Tom tersenyum melihat tuannya mulai bangkit dari keterpurukan.


“Saya akan persiapkan timnya. Saya optimis, tahun depan Anda akan menjadi Gubernur Pensylvania,” kata Tom dengan wajah optimisnya.


Begitulah Jo dan Javier menghabiskan waktunya masing-masing. Javier dengan kegiatan politiknya dan Jo dengan kegiatan volunteernya. Javier selalu menjalani hari-hari dengan perasaan yakin bahwa Jo pasti kembali, sementara Jo selalu menjalani hari-hari dengan usahanya melupakan Javier. Namun semakin dia melupakannya, semakin dalam pula rasa rindunya.