
Javier berenang bersama Ivy di kolam halaman belakang rumahnya. Mary menonton di kursi sambil menikmati jus jeruknya dan merancang pesta ulang tahun Ivy yang ke-6 tahun.
Mary selalu mengadakan pesta ulangtahun Ivy dengan meriah, dengan mengundang semua koleganya di yayasan. Mary sangat menyukai pesta, apalagi pesta yang dia rancang sendiri.
"Honey, apa kau ingin mengundang teman-teman sekolahmu?" tanya Mary pada Ivy yang sedang asyik bermain air bersama ayahnya.
"Tentu Mommy! Guru-guruku juga!" jawab Ivy. "Oh satu lagi! Aku ingin Jo juga datang!"
"Jo?" Mary bingung dengan nama asing itu.
Javier kelabakan mendengar Ivy menyebutkan nama Jo di depan istrinya.
"Siapa Jo?" tanya Mary.
"Dia malaikat pelindungku!" jawab Ivy.
"Malaikat pelindung?" Mary semakin bingung.
Javier berenang mendekati Mary. "Kau ingat perempuan yang menyelematkan Ivy dari kecelakaan tahun lalu?"
Mary mengingat kejadian itu, tapi Mary belum pernah bertemu dengan perempuan yang menyelematkan putrinya. Tidak ada waktu untuk mengunjunginya di rumah sakit waktu itu.
"Oh.. perempuan itu," Mary mengangguk-ngangguk.
"Ivy menjadi akrab dengannya karena Ivy menganggapnya sebagai malaikat pelindungnya," jelas Javier dengan penjelasan yang sangat aman.
"Baiklah. Undang juga dia sesuai dengan apa yang Ivy inginkan. Bagaimana kita menghubunginya?"
"Biar aku saja yang menghubunginya," kata Javier sambil melirik Mary.
Mary mengangguk dan tak terlihat curiga. Lalu dia menelepon event organizer untuk memesan pelayanan jasa mengatur acara ulangtahun Ivy sesuai dengan yang dia inginkan.
Ulang tahun Ivy akan diselenggarakan hari Minggu, pekan depan. Masih ada waktu untuk memikirkan bagaimana caranya memberitahu Jo bahwa dia diundang. Meski sebaiknya Jo tidak usah datang, mengingat Javier tidak suka Jo merasa rendah lagi apabila melihat Mary bersamanya.
***
"Hai, Jo!" sapa Martin, saat Jo datang mengantar sayuran di Pizza Planet.
"Hai, Martin!" balas Jo.
Beberapa orang karyawan Pizza Planet membantu Patrick menurunkan sayuran dan langsung memasukannya ke bagian dapur restoran.
Martin dan Jo melihat para karyawan itu bekerja.
"Kenapa kau belum meneleponku?" tanya Martin tiba-tiba.
"Kemarin aku meneleponmu kan?"
"Kau menelepon ke nomor kantor. Bukan menelepon ke ponsel pribadiku."
Jo melirik Martin dan teringat bahwa Martin pernah memberikan nomor telepon pribadinyanya di faktur saat pertama dia mengirimkan sayuran.
"Oh.. haha. Lalu, apa yang harus kubicarakan kalau aku meneleponmu selain soal pengiriman barang?" Jo melipat kedua lengannya di dada.
Martin merona. "Apapun. Banyak hal yang bisa kita bicarakan. Misalnya, soal kau dan aku?"
"Kau dan aku?" Jo tertawa geli mendengarnya, lalu mendekati Martin dan berbisik. "I don't think so. Kekasihku akan marah jika tahu aku menelepon lelaki lain."
Martin membelalak, lalu menggaruk rambut di belakang lehernya yang tidak gatal. "Kau sudah punya pacar? So.. sorry."
"Ahahah.. It's okay!" Jo menepuk bahu Martin.
Setelah selesai dengan urusannya di Pizza Planet, Patrick pergi menemui kekasihnya begitu juga dengan Jo. Tadi malam Javier meneleponnya dan siang ini mereka akan makan siang bersama di apartemen.
Jo membuka pintu apartemen dan Javier sudah ada di sana duduk di meja makan.
"Hai, sayang!" sapa Jo seraya berjalan mendekat lalu meletakkan kantong kresek berisi makanan yang dibelinya tadi.
Javier tersenyum, lalu mengecup bibir Jo sebagai ucapan selamat datang. Jo segera mempersiapkan makanan ke dalam piring lalu menatanya di meja dan mereka berdua pun mulai menikmati makan siangnya.
"Minggu ini Ivy berulangtahun yang ke enam," kata Javier di sela-sela makan siang.
Jo terlihat antusias mendengarnya. "Wow! Aku akan mempersiapkan kado spesial untuknya!"
"Hari minggu nanti kami akan mengadakan pesta di rumah."
Jo mengangguk dengan perasaan yang tidak enak. "Aku mengerti, Sabtu ini kau tidak usah bersamaku."
Javier meraih tangan Jo lalu menggenggamnya. "No. Bukan itu."
"Pestanya diurus event organizer, dan waktuku denganmu absolutely tidak boleh terganggu," tegas Javier.
Jo kembali tersenyum. "So?"
"Ivy memintaku untuk mengundangmu," kata Javier lalu senyum Jo memudar. "Kau sebaiknya tidak usah datang jika itu akan mengganggu perasaanmu. Kita bisa mengganti kebersamaanmu bersama Ivy di lain waktu."
Jo menggeleng. "No. Aku akan datang, untuk Ivy."
Javier menatap Jo lekat. "Are you sure?"
Jo mengangguk. "Yap."
Setelah selesai makan siang, mereka pun berpisah dan kembali ke rutinitasnya masing-masing. Jo pergi ke toko mainan untuk mencari kado dan Javier kembali ke kantornya.
"Tuan, apa Anda membeli mobil baru?" tanya Tom saat Javier masuk ke dalam ruangannya.
Tom duduk di sofa sambil membaca rekening koran milik Javier. Sebagai asistennya, dia selalu memeriksa pemasukan dan pengeluaran Javier, baik pribadi atau urusan politik agar tetap bersih dari uang-uang yang mencurigakan.
Javier duduk di hadapan Tom, dan kali ini dia tidak dapat menutupinya lagi dari asisten yang juga sahabatnya itu. Hanya Tom yang paling dekat denganya selama ini.
"Ya. Aku membeli mobil. Tapi Mary tidak tahu dan jangan sampai dia tahu," kata Javier.
Tom menatap Javier lekat, meskipun dia tidak akan melaporkan keuangan Javier pada Mary, tapi mendengar Javier memintanya untuk tidak memberitahukan Mary perihal mobil itu, pasti ada sesuatu yang dia tidak tahu.
"Baiklah Tuan, Anda bisa berterus terang padaku," kata Tom setelah menghela nafas.
"Aku menjalin hubungan dengan Jo."
Tom mengernyitkan dahinya. "Jo?"
"Joana March, aktivis pecinta lingkungan dari Desa Forks."
Tom mengangguk. Sudah kuduga.
"Kalau boleh saya tahu, sudah berapa lama?"
"Satu tahun."
Tom terlihat terkejut mendengarnya. "Kau merahasiakannya dariku selama satu tahun?"
"Sorry.."
"Oh Tuan! Sepertinya aku masih banyak kekurangan sampai-sampai Anda tidak mempercayaiku?"
Javier menggeleng. "Bukan. Bukan seperti itu. Aku tidak ingin mengambil resiko."
"Sepertinya dia sangat berharga bagimu," kata Tom melihat kesungguhan Javier.
"Sangat. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti yang aku rasakan pada Jo. Bahkan pada Mary sekalipun."
Tom tahu Javier salah, tapi dia tidak dapat menyalahkan cinta dan sumpah setianya pada Javier akan selalu tetap dia pegang teguh.
"Kuharap kau bahagia Tuan."
Javier tersenyum dengan mata yang berbinar. "Aku tidak pernah sebahagia ini Tom."
Tom mengangguk. Kini pekerjaannya bertambah. Dia akan menutupi jejak Javier agar wartawan dan para pesaing politiknya tidak memanfaatkan situasi untuk menjatuhkan Javier.
***
"Jadi itu pacarmu Patrick?" tanya Jo di samping Patrick dalam perjalanannya menuju pulang.
Tadi saat Jo sempat melihat Patrick berpisah dengan seorang wanita berambut pendek sebahu di toko bunga.
"Ya. Dia cantik bukan?" Patrick melirik sahabatnya.
"Haha.. aku akui, dia memang cantik. Tapi sayang.."
"Kenapa?" Patrick mulai serius.
"Sepertinya dia butuh kacamata karena memilihmu menjadi pacarnya!" goda Jo.
Patrick memukul kepala Jo dengan handuk kecil di atas dashboard. Jo tertawa melihat reaksi lucu sahabatnya.
♧♧♧