
“Jo, aku di sini,” ucap Daniel yang duduk di samping Jo yang tengah berbaring.
Jo perlahan membuka matanya, suara Daniel terdengar seperti suara Javier di telinganya. Jo membuka matanya, wajah Javier mendekat dan samar-samar Jo melihatnya.
“Aku tidak ingin kehilanganmu,” ucap Jo, lirih.
Meski tidak mengerti kenapa Jo mengucapkan kalimat itu berkali-kali, Daniel lantas mengusap kepala Jo. “Kau tidak akan kehilanganku.”
Jo kembali beristirahat dan perasaannya sudah lebih tenang. Javier, aku tidak ingin kehilanganmu.
Jo terbangun keesokan harinya. Dia sudah berada di kamarnya, di mes. Kedua telapak tangannya terlilit perban, lukanya sudah tidak terasa perih.
Jglek!
Pintu terbuka dan Daniel masuk ke dalam kamarnya dengan membawa segelas teh hangat. Daniel tersenyum, kemudian duduk di pinggiran kasur Jo dan memberikan teh hangat itu.
“Kau sudah lebih baik?” tanya Daniel.
Jo meminum teh hangat itu perlahan. “Ya, aku sudah lebih baik.”
“Kau mau aku bawakan sarapan?” tawar Daniel.
Jo menatap jam dinding, sudah waktunya sarapan. “Tidak usah, aku akan ke kafetaria saja.”
“Let’s go!”
Jo turun dari ranjangnya dan Daniel dengan sigap membantunya. Jo merasa heran dengan sikap Daniel padanya yang terasa berlebihan.
“Aku bisa sendiri,” ucap Jo sambil perlahan melepaskan tangan Daniel dari lengannya.
Daniel mengangguk. “Oke.”
Mereka berdua pun pergi ke kafetaria. Kafetaria itu disediakan oleh yayasan untuk sarapan, makan siang dan makan malam gratis bagi para volunteer.
Jo mengambil makanannya sambil sesekali dia melirik Daniel yang mengikutinya di belakang melakukan hal yang sama. Kenapa Daniel terus mengikutiku?
“Jo!” Lucy melambaikan tangannya.
Jo dan Daniel pun menghampiri meja yang diisi oleh Lucy, Maya dan Nick.
“Hai, semua!” sapa Jo.
“Jo, bagaimana keadaanmu?” tanya Maya.
“Setelah aku sarapan, aku sudah bisa berlari cepat sejauh tiga kilometer dalam sepuluh menit,” jawab Jo sambil melahap sarapannya.
Keempat temannya yang mendengarkan seketika tertawa dan bernafas lega melihat Jo sudah kembali seperti semula.
“Bagaimana dengan simpanse itu?” tanya Jo di sela-sela makan paginya.
“Oh come on, Jo! Kau hampir mati karena asap dan kau masih menanyakan simpanse itu?” kata Nick, dengan nada tinggi.
Semua orang menatap Nick dengan tatapan sengit. Nick angkat tangan.
“Simpanse itu selamat,” jawab Maya.
“Ah, syukurlah!” kata Jo.
“Lain kali, jangan lakukan itu!” kata Daniel.
Jo menoleh pada Daniel di sampingnya. “Kenapa?”
“Kau harus memanggil tim, agar kita bisa menyelematkan simpanse itu bersama-sama dan kau selamat,” jawab Daniel sambil menghabiskan sarapannya.
Lucy dan Maya seketika menatap Jo dan Daniel dengan tatapan menggoda. Jo membalas tatapan itu dengan penuh tanda tanya.
“Kau perhatian sekali padanya!” seru Maya pada Daniel.
“Haaaa!!! Aku merindukan rasanya punya pacar!” teriak Lucy.
Mereka berlima adalah para lajang yang datang ke Australia dengan alasannya masing-masing. Lucy dan Maya datang karena kekasihnya berkhianat. Nick, entahlah yang jelas dia tidak pernah menyebutkan soal kekasih atau lebih tepatnya istri, dilihat dari cincin yang melingkar di jari manisnya.
Daniel, dia putus dari pacarnya karena pacarnya tidak suka dengan Daniel yang lebih memilih kegiatan pecinta lingkungan. Jo, sudah jelas dia pergi dari Javier. Yayasan itu sudah sepantasnya mengganti nama menjadi tempat penampungan para lajang yang patah hati.
“Bagaimana kalau malam ini kita pergi ke club?” tanya Maya.
“Oh, ayolah! Sudah sebulan kita di sini, kita belum pernah bersenang-senang!” tambah Maya.
“Ide bagus,” kata Nick.
Semua setuju. Malam ini akan menjadi malam pengukuhan pertemanan para lajang Green Peace. Setelah selesai sarapan, Jo berjalan menyusuri koridor bersama Lucy untuk kembali ke kamarnya.
“Lucy, kenapa Daniel tiba-tiba menjadi aneh?” tanya Jo setengah berbisik.
Lucy terkekeh. “Tidakkah kau senang? Sepertinya dia menyukaimu.”
“Apa aku mengatakan hal-hal aneh saat tidak sadar?”
Lucy memutar bola matanya ke atas dan mengingat-ngingat. “Ah ya! Kau bilang pada Daniel, kalau kau tidak ingin kehilangannya! Oh… romantisnya!”
Jo seketika menepuk kepalanya. Kenapa aku bodoh sekali? Aku berhalusinasi kalau Javier datang dan ternyata yang datang itu adalah Daniel? Perfect! Sialan!
“Kenapa? Daniel cukup keren di mataku. Kalau aku jadi dirimu, malam ini aku akan tidur dengannya! Hahaha!” Lucy meracau dengan fantasinya.
“Kau suka padanya? Dekati saja dia!” kata Jo.
Lucy menggeleng. “Sepertinya dia tidak menyukai wanita pirang sepertiku. Kau tipe kesukaannya!”
Jo menggeleng malas meladeni Lucy. Mereka berpisah setelah sampai di kamarnya masing-masing.
***
Suara musik menggema ke seluruh ruangan. Lampu warna warni berputar menerpa ke segala penjuru.
“Yeah!” seru Nick yang menyukai suasana hiburan malam. “Australia, baby!”
Mereka memesan minuman terlebih dahulu di meja bar. Nick sudah larut dengan suasana, dia minum dan berjoget ria di lantai dansa dengan wanita-wanita yang baru dia temui di sana.
“Hey, apa kau pikir Nick adalah pria lajang?” tanya Maya.
“Kenapa?” Lucy balik bertanya.
“Kenapa dia memakai cincin kawin?” tambah Maya.
“Ya, tapi dia tidak membuka diri soal itu. Sepertinya pernikahannya di ujung tanduk,” kata Lucy.
Jo dan Daniel hanya mendengar sambil meminum minumannya.
Lucy menyimpan gelasnya di meja. “Ayo kita dansa!” teriaknya seraya menarik Maya ke lantai dansa.
Maya pun menarik Jo. “Let’s go!”
Jo belum sempat menyimpan gelasnya, dia sudah ditarik oleh Maya yang tenaganya kuat meski berbadan kecil. Daniel segera meraih gelas dari tangan Jo dan melihat ketiga wanita yang hampir mabuk itu loncat-loncat di lantai dansa. Daniel tertawa melihatnya sambil menikmati minumannya.
Drrt.. Drrtt..
Ponsel Daniel bergetar. Kemudian dia membuka pesan yang baru saja masuk. Pesan terbaru dari mantan pacarnya, Paula.
Paula : Daniel, maafkan aku. Aku sudah kehilangan akal sehatku karena memutuskanmu. Kau adalah lelaki terbaik yang pernah kutemui, bahkan lelaki terbaik di dunia ini. Aku ingin kita kembali bersama. Please…
Daniel tersenyum miring, kemudian menatap Jo di kejauhan. Paula adalah wanita yang menjengkelkan. Dia selalu ingin menjadi sosok yang harus berada di posisi paling utama di mata Daniel. Daniel sudah merasa jengah dengan sikapnya yang kekanak-kanakan.
Dibandingakan dengan Jo yang independen dan memiliki ketertarikan yang sama terhadap lingkungan, tentu Daniel lebih memilih Jo. Daniel mematikan ponselnya, meminum habis minumannya kemudian ikut bergabung bersama yang lainnya di lantai dansa.
Jo berdansa sambil memejamkan mata. Vodka yang diminumnya sudah meracuni otaknya. Dia merasakan kehadiran Javier di belakangnya.
“Jo, aku di sini,” suara Javier kembali terdengar di telinganya.
Jo berbalik. Sosok Javier kembali berada di hadapannya. Jo meletakkan kedua tangannya di bahu Javier lalu berdansa mengikuti irama musik. Javier memegang pinggang Jo dan tubuh mereka begitu dekat.
Lucy dan Maya terbelalak sambil menahan tawa melihat Jo dan Daniel berdansa seintim itu.
***
PS. Jangan komen soal brewok lagi ya, entah kenapa model-model yang ganteng mereka punya kumis dan janggut. Haha
Daniel.