
Javier mengemudi dengan tangan sebelah kanannya menggenggam tangan Jo seakan dia tidak ingin kehilangan cintanya. Jo menatap Javier sambil sesekali menatap jendela di luar yang gemerincik turun hujan di sore hari.
Seharian ini mereka menghabiskan waktu di hotel seperti pengantin baru karena hari ini adalah hari Minggu, jadi Javier libur dari beban pekerjaannya.
Jauh dalam lubuk hati Jo masih menyimpan rasa gemetar yang tak terjelaskan. Rasanya seperti anak kecil yang telah memakan cokelat di saat orangtua akan marah besar jika ketahuan.
"Jo, I know what you're thinking," ucap Javier. "Jangan pikirkan yang lain. Ketika aku bersamamu, lihatlah aku sebagai diriku seorang diri tanpa embel-embel lainnya. Aku, seorang Javier Thompson yang mencintai Joana March."
Jo tersenyum, menghela nafas dan mengangguk meski itu tidak akan semudah menganggukan kepala.
Javier menepikan mobilnya tak jauh dari depan Lux, dimana mobil Elena terparkir. Jo membuka sabuk pengamannya.
"Kapan kau ke pusat kota lagi?" tanya Javier.
"Minggu depan saat mengantarkan sayuran ke Pizza Planet. Kenapa?"
"Aku harus merindukanmu selama satu minggu? Apa aku membuka restoran saja agar bisa menjadi partner bisnismu?" racau Javier.
Jo menatap malas yang dibalas dengan tawa Javier.
"Baiklah.. aku akan menahan rinduku," Javier membentung huruf V dengan jemarinya.
Joa menggeleng. "Javier, aku tidak bisa menemuimu kalau bersama Patrick. Aku tidak bisa mengambil resiko meski Patrick adalah sahabatku."
Javier menghela nafas. "Baiklah. Soal itu biar aku yang tangani, kau jangan memikirkannya.
"Oke. Sampai jumpa!" ucap Jo.
Sebelum Jo membuka pintu, Javier menariknya mendekat. Wajah lelaki itu hanya berjarak beberapa inci dari pandangannya. Bibir mereka kembali menyatu.
Jo menutup matanya dan membiarkan Javier menguasai dirinya. Debaran jantung yang tadinya menyiksa, kini berubah menjadi kehangatan yang menjalar dari dada mereka.
Hujan lebat diluar, tak ada yang dapat melihat apa yang terjadi di dalam mobil. Tapi Steve tahu apa yang mereka lakukan. Steve menatap dari jendela clubnya di lantai 2. Lantai 2 club itu adalah tempat tinggal Steve.
Steve tersenyum miring, dia ingin segera menghancurkan Javier saat ini juga. Tapi masih terlalu dini. Dia akan membiarkan perasaan mereka semakin mendalam agar rasanya sangat menyakitkan ketika hancur.
Kening Jo dan Javier menempel dan mereka mengatur nafasnya masing-masing.
"Aku harus pergi," ucap Jo.
Javier mengangguk, lalu melepaskan Jo. Dia pun segera keluar dari mobil itu dan masuk ke dalam mobil Elena. Javier menunggu, memastikan Jo melaju dengan aman dari sana. Setelah Jo pergi, rasanya kembali hampa.
"Shit!"
Dia mengutuk dirinya karena sebagai seorang lelaki yang seharusnya dapat memegang kendali atas segala yang terjadi, dia tidak berdaya pada takdir.
Drrt Drrt
Ponsel Javier bergetar dan dia segera mengangkat telepon dari Tom.
"Bagaimana Tom?"
"Steve tidak mencurigakan. Tidak ada catatan kejahatan sama sekali dan club malam yang dia jalankan pun tidak ada indikasi perdagangan narkoba dan senjata. Catatan keuangan perusahaannya sangat bersih," lapor Tom.
Javier menghela nafas lega. "Baiklah kalau begitu. Terima kasih Tom."
"Hanya itu Tuan?"
"Ya. Hanya itu."
"Kalau boleh saya tahu, untuk apa kau mencari tahu soal Steve?"
"Um.. tidak ada apa-apa. Baiklah Tom, selamat berakhir pekan."
Javier segera menutup sambungan telepon sebelum Tom mencurigai sesuatu. Dia pun memacu mobilnya menuju rumah. Rumah yang bagaikan neraka baginya. Hanya Ivy yang membuatnya selalu kembali ke rumah itu.
***
Jo memarkirkan mobil Elena di garasinya. Elena terlihat berdiri di beranda rumahnya. Sebelum Jo keluar, dia berkali-kali melakukan teknik pernafasan agar jiwanya tenang dan dapat berakting dengan baik di hadapan Elena.
"Kemana saja kau semalam?" tanya Elena dengan wajah khawatirnya saat Jo berjalan mendekat.
Jo nyengir. "Maaf, semalam aku diluar kendali dan mabuk. Sesuai saranmu, aku menginap di hotel."
Elena mengangguk. "Bersama siapa kau ke hotel?"
Dia memberikan kunci mobil pada pemilikinya, Elena menggenggam tangan Jo dan menatap sahabatnya lekat.
"Hanya itu?" Elena menatap sahabatanya itu dengan tatapan skeptis.
"Oh come on!" Jo melepaskan genggaman tangan Elena sambil melengos. "Sampai jumpa! Terima kasih sudah meminjamkan mobilnya!"
Elena mengangkat kedua bahunya sambil masuk ke dalam rumahnya.
Jo berjalan menuju rumah Bibi Ema dan ponselnya bergetar tanda pesan masuk.
Javier : Kau sudah sampai?
Jo tersenyum mendapat pesan itu, lalu dia mengetikkan pesan balasan.
Jo : Baru saja sampai.
Javier tersenyum mendapatkan pesan balasan dari Jo. Dia berdiri di balkon kamarnya menghadap kolam berenang di taman belakang sambil memantau Ivy yang sedang berenang dengan Nany.
Javier : 2 jam lalu kita berpisah, aku sudah merindukanmu. Malam nanti aku akan menelpon.
Javier tak habis pikir pada dirinya sendiri. Dari mana dia mendapatkan kata-kata gombal seperti itu? Sangat bukan dirinya.
Jo semakin berbunga-bunga mendapatkan pesan itu dan dia sudah tak sabar menunggu telepon dari kekasihnya nanti malam.
"Jo!" seru Bibi Ema dari luar toko. "Syukurlah kau sudah pulang. Ayo bantu aku menutup toko!"
Jo memasukan ponselnya lalu tersenyum pada Bibi Ema dan berlari kecil untuk membantunya menutup toko.
Bibi Ema yang mendapati Jo senyam-senyum seperti itu menjadi curiga. "Hm... ada kabar bahagia apa?"
"Hm?" Jo mengangkat keranjang berisi kubis.
"Apa kau punya pacar?" tanya Bibi Ema dengan tatapan menggoda.
Jo terkekeh mendengarnya. "Apa sih..."
Bibi Ema tertawa. "Hahaha.. Kalau kau serius dengan pacarmu bawa dia ke sini!"
Jo ikut tertawa sambil menggeleng. Dia sudah sering datang ke sini Bibi Ema dan dia menyukai makanan buatanmu.
***
Jam sembilan malam sesuai janjinya, Javier menelepon. Jo menguci diri di kamarnya untuk mengangkat telepon itu.
"Jo?" ucap Javier dari sambungan telepon.
"Ya."
"Aku merindukanmu," ucap Javier yang menelepon di balkon kamarnya. Balkon ini akan menjadi salah satu tempat favoritnya di rumah. Sementara Mary belum pulang dari urusannya, Javier memanfaatkan waktunya untuk menelpon.
"I know," Jo tersenyum lalu berbaring di atas ranjangnya.
"Apa kau tidak merindukanku?"
"Hahaha.. aku tidak ingin terlalu merindukanmu. Aku tidak akan sanggup."
Javier tersenyum dan darahnya seakan berdesir. Inikah yang disebut kasmaran? Damn it! Kemana saja kau selama ini?!
"I love you," kata Javier.
Jo tersenyum. "Me too."
Jglek!
Pintu kamar Javier terbuka dan hanya Mary yang membuka pintu kamar tanpa mengetuk seperti itu.
"See you," akhir Javier seraya memutus sambungan telepon.
Senyuman yang terkembang di wajah Jo mulai beringsut menjadi kusut. Jo menyadari perjalanannya bersama Javier akan selalu seperti ini sampai mereka memutuskan untuk berpisah. Kapankah itu? Hanya waktu yang akan menjawabnya.
♧♧♧