Cause I'M Yours

Cause I'M Yours
Farmer Festival



Ivy sudah tidur di rumah Bibi Ema ditemani Bibi Ema. Malam ini Jo dan Javier sedang menikmati live musik di area Farmer Festival. Mereka berdua duduk agak jauh dari panggung.


"So, it's you huh?" kata Javier membuka obrolan.


Jo menoleh. "Apa maksudmu?"


"Jadi kau yang menolong putriku saat dia tersesat di taman bermain?"


"Aku melihatnya menangis seorang diri di taman."


"Aku belum berterima kasih padamu untuk hari itu. Aku melihatmu saat keluar dari ruang informasi bersama seorang anak laki-laki. Kupikir kau mencari anakmu yang hilang juga, ternyata kau baru saja mengantar Ivy ke sana."


Jo mengernyitkan dahinya dan mengingat kejadian itu. Ya, dia berpapasan dengan Javier saat di pintu. Tapi dia tak menyangka bahwa orang itu adalah Javier Sang Senator. Bahkan dia pun tidak menyangka dapat menjalin keakraban dengannya saat ini.


"Ivy menganggapmu sebagai malaikat pelindungnya," kata Javier.


Jo terkekeh mendengarnya. "Haha.. Oh ya? Kenapa?"


"Karena kau selalu ada di saat dia mengalami kesulitan. Termasuk saat kau menceritakan soal peri gigi padanya," Javier terkekeh mengingat soal peri gigi.


"Hahaha.. Ya, kebetulan hari itu aku mengantar temanku ke rumah sakit. Tak kusangka, aku bertemu Ivy lagi di sana."


Javier menatap Jo lekat. "Terima kasih. Karena kau sudah di sana dan membantu Ivy. Apapun yang kau inginkan, akan kuberikan."


Jo menatap Javier yang sungguh-sungguh dengan ucapannya itu. Apapun yang kuinginkan??


"Ah, sudahlah! Aku sangat senang membantu gadis manis seperti Ivy," Jo menghempaskan pikiran serakahnya.


Javier menggeleng. "No.. Jo, aku sungguh-sungguh. Apapun yang kau inginkan akan aku berikan. Apapun itu."


What? Apa yang kuinginkan? Uang berjuta-juta? No!


Jo serasa menghadapi jin yang keluar dari lampu ajaib. Memikirkan apa yang diinginkan adalah hal yang paling sulit karena saat ini tak ada yang dia inginkan.


"Baiklah, akan kusimpan itu nanti saat aku tahu apa yang kuinginkan."


Javier tertawa. "Hahaha.. Ya, setelah kau menginginkan sesuatu katakanlah padaku. Aku berjanji akan memberikannya."


Sehebat apa Javier sampai dia bisa mengabulkan keinginan seseorang? Itu yang dipikirkan Jo saat ini. Keinginannya nanti harus sangat sulit didapatkan.


Musik yang slow kini berganti menjadi musik yang enak untuk berdansa. Orang-orang yang bersisa anak-anak muda dan beberapa pasangan di sana mulai menggoyangkan badannya untuk berdansa.


Jo berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Javier. "Mister Javier The Senator, would you like to dance with me?"


Javier terkekeh lalu meraih uluran tangan Jo untuk berdansa. Seharusnya dia sebagai laki-laki yang mengajaknya lebih dulu. Jo adalah gadis yang atraktif dan mudah bergaul dengan siapa saja.


Javier menikmati malam ini dengan bahagia. Belum pernah dia tertawa sepanjang malam seperti itu. Di desa itu, bersama Jo dan orang-orang di sana, dia merasakan kehangatan dan kebahagiaan yang belum pernah dia dapatkan selama hidupnya.


"Hahaha! Tuan Javier, kau berdansa sangat jelek tadi!" Jo tertawa terbahak-bahak sambil berjalan bersama Javier menuju rumahnya.


Farmer Festival hari pertama telah selesai, besok akan menjadi hari penutupannya.


"Hahaha aku tidak terbiasa berdansa dengan musik beat seperti itu. Tapi aku sangat hebat dengan dansa ball atau waltz," ucap Javier.


"Dansa dengan musik klasik dan orchestra?"


"Ya!"


"Wah wah! Kelas kita berbeda sekali!"


Jo dan Javier tertawa. "Hahaha..."


Javier berhenti berjalan lalu berlutut di hadapan Jo. Dia mengulurkan tangannya. "Would you like to dance with me Miss Joana?"


Javier berdiri, tangan kanannya menggenggam tangan Jo sementara tangan kirinya berada di pinggang Jo. Tangan Jo yang satunya lagi dia letakkan di bahu Javier.


"Lalu, kita akan berdansa tanpa musik?" tanya Jo.


Javier mulai bergerak. "Damdam dadam.. Dam dam dadadamm.."


Javier membuat musik dengan lantunannya. Jo tertawa sambil mengikuti gerakan Javier. Jalanan yang sepi menjadi lantai dansa mereka. Pandangan mereka beradu, tubuh mereka terikat satu sama lain dalam suasana yang tenang dan damai. Membuat sesuatu yang tak diharapkan terjadi.


Jantung mereka berdetak kencang mengikuti alunan musik yang dilantunkan Javier. Jo merasakan sesuatu dalam dadanya memburu. Begitu pun dengan Javier. Dia merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan, bahkan pada Mary.


Jo berputar saat Javier memutar tubuhnya, lalu putaran itu berakhir sampai Javier menarik tubuh Jo ke dalam pelukannya. Jo terkulai saat Javier memiringkan tubuhnya empat puluh lima derajat sebagai gerakan terakhir dansanya.


Wajah mereka saling berhadapan. Nafas mereka saling menyapu wajah satu sama lain. Sesuatu dalam diri mereka mendorong mereka untuk berciuman. Jo menutup matanya dan Javier sudah menempelkan hidungnya pada hidung Jo.


Tapi sebelum bibir mereka menempel, Jo menahan Javier. Mereka berdua kembali berdiri dengan sempurna dan Jo melepaskan tubuhnya dari dekapan Javier.


Itu tidak boleh terjadi.


"Kita sudah sampai!" tunjuk Jo pada pintu rumah Bibi Ema sambil membuyarkan suasana yang berubah aneh dan dingin.


"Akhm!" Javier berdeham dan menyesali tindakan bodohnya barusan. "Ya. Kita berdansa sampai sejauh ini!"


Javier memandangi jalanan yang telah dilaluinya dengan berdansa.


"Hahaha.." mereka berdua tertawa sambil mencoba melupakan apa yang barusan terjadi.


Bibi Ema membuka pintu dan Ivy terlihat tertidur pulas di atas sofa dengan selimut yang hangat.


"Ahh.. Tuan, kau bermalamlah di sini. Jangan di villa di tengah hutan," kata Bibi Ema.


Javier melirik Jo. Atas kejadian aneh tadi, dia harus jaga jarak dulu dengan wanita itu.


"Tidak apa-apa. Rencanaku ke sini memang untuk menginap di villa bersama Ivy," kata Javier sambil menggendong putrinya yang tertidur.


"Baiklah kalau begitu!" ucap Bibi Ema.


"Kalau begitu sampai jumpa besok!" kata Javier lalu beranjak dari sana.


"Tunggu!" henti Jo.


Javier berhenti lalu berbalik dengan Ivy di pelukannya. Wajah Ivy terkulai di bahu ayahnya. Jo mengambil selimut di sofa lalu membalut tubuh Ivy bersama Javier dengan selimut itu.


"Supaya badan kalian hangat," kata Jo.


Javier tersenyum. Bentuk perhatian kecil itu cukup memberi dampak besar pada perasaan Javier saat ini. "Terima kasih."


Javier pun keluar dari rumah Bibi Ema dan berjalan menuju villa del phia di tengah hutan bersama putrinya. Sepanjang perjalanan dia terus tersenyum dengan hati yang berbunga-bunga layaknya anak remaja yang dimabuk cinta.


Jo berbaring di atas kasurnya dengan perasaan campur aduk. Aaakk!!! Aku tidak boleh mencintainya!!! Dia sudah beristri dan memiliki citra yang baik. Aku tidak boleh merusaknya dan merusak diriku sendiri.


Jo mengacak-acak rambut ikalnya sambil terus menerus menghempaskan perasaan liarnya terhadap Javier. Tapi, semakin dia menolaknya semakin kuat bayangan Javier melintas di benaknya. Dia bahkan dapat mencium aroma parfum Javier, mengingat genggaman tangannya dan dekapannya saat ini.


♧♧♧


Joana.



Javier.