Cause I'M Yours

Cause I'M Yours
Sandera



Jglek!


Pintu kamar Jo terbuka. Bibi Ema heran Jo tidak ada di


kamarnya sepagi ini. Kemudian dia teringat adegan semalam. Jo memakai jaketnya


dan bersiap untuk keluar.


“Bi, aku ke rumah Elena,” ucapnya seraya pergi keluar rumah.


“Oh, mungkin dia menginap di rumah Elena,” gumam Bibi Ema lalu


pergi ke dapur untuk memulai aktivitasnya.


***


Perlahan Jo membuka matanya. Dia berada di ruangan yang


seperti basement tercium dari aroma yang lembab. Dia terlentang di atas sofa


seorang diri, bau ammonia masih tercium samar-samar di hidungnya membuat kepalanya


pening. Tak lama, pintu ruangan terbuka dan lima orang lelaki datang menghampirinya.


Tak ada yang dia kenal, selain satu orang yang wajahnya baru diatemui semalam


saat menanyakan alamat.


Menyadari bahwa dirinya diculik, barulah Jo mulai berontak.


Namun dua orang lelaki segera menahan gerakannya dan mendudukannya tegak di


sofa.


“Kau mau ke mana manis?” ucap salah seorang berpakaian


resmi.


Lelaki itu terlihat mencolok di antara yang lainnya. Hanya


dia yang memakai stelan jas, sementara yang lain sekedar memakai kaos dan


celana jeans.


“Siapa kalian? Apa masalahmu denganku?” tanya Jo dengan


tegas.


“Ckckck,” lelaki berstelan jas itu duduk di sofa yang


berhadapan dengan Jo. “Duduk manislah. Aku hanya membutuhkanmu sebagai senjata.”


“Senjata apa?” Jo sama sekali tidak dapat berpikir.


Dia tidak mendapat pencerahan sedikit pun soal siapa


orang-orang yang ada di hadapannya saat ini. Berpikir jika mereka adalah musuh


Javier pun tidak mungkin. Menculik Mary akan terasa lebih logis karena tidak ada


yang tahu rahasianya itu selain Javier sendiri dan Elena. Tentu Elena tidak


mungkin membocorkannya.


Lelaki itu merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya


kemudian mulai merekam video.


“Apa yang kalian inginkan dariku?” teriak Jo yang hanya


dibalas tawa oleh orang-orang di sekitarnya.


Kemudian, lelaki yang wajahnya dia kenali semalam


mengeluarkan kain dan kembali membekap mulut Jo. Perlahan Jo pun kembali tak


sadarkan diri.


Alfonso menghentikan rekaman video dari ponselnya, kemudian


dia berdiri. “Tinggalkan dia di sini. Jangan sampai dia lolos!”


“Baik Tuan!”


***


“Tuan, siang ini Anda ada undangan makan siang dengan Tuan


Alfonso,” kata Tom.


Javier tersenyum miring. “Apa dia akan mencoba memberiku


sogokan?”


Tom menaikkan kedua bahunya.


“Baiklah, kita lihat nanti,” ucap Javier seraya bangkit dan


pergi menuju restoran yang sudah dipesan oleh Alfonso untuk perjamuan makan


siangnya.


“Selamat datang, Tuan Javier!”


sapa Alfonso saat Javier tiba di restoran Italia tak jauh dari kantor parlemen.


Javier mengangguk kemudian duduk


di kursi di hadapan Alfonso.


“Sebaiknya kita makan siang dulu


sebelum membicarakan soal bisnis dan politik,” kata Alfonso seraya memanggil


seorang pelayan.


Javier memandang dengan skeptis.


Alfonso tentu sangat dia curigai sejak awal. Setelah pesanan datang, mereka pun


menikmati makanan yang mereka pesan. Alfonso menyeka bibirnya dengan serbet


kemudian meminum segelas air putih di sampingnya sebagai tanda bahwa dia sudah


selesai. Javier selesai makan siang lebih dulu.


“Jadi, apa tujuanmu mengundangku makan


siang?” tanya Javier langsung to the point.


“Baiklah karena kau bertanya


langsung pada intinya, aku pun akan menjawab langsung pada intinya. Ini soal


pendirian pabrik itu. Kau pasti sudah paham kan, benefitnya jika pabrik itu


berdiri. Banyak masyarakat yang akan mendapat lapangan kerja baru.”


Javier mengangguk. “Ya, kau


memang benar. Akan tetapi, aku masih menunggu bagaimana analisis dampak


lingkungan dari staf khususmu. Jika tidak ada, maka aku tidak akan memberikan


izin.”


“Staf khususku butuh waktu lebih


dari satu bulan untuk itu.”


“Maka kita akan putuskan satu


bulan lagi.”


Alfonso menggeleng. “Aku harus


membutuhkan lapangan kerja baru di sana. Bahkan mereka berani mengancamku.”


Drrt Drrt


Ponsel Javier bergetar dan


terlihat ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Pesan itu berisi


sebuah video tapi Javier tidak membuka pesan itu sekarang.


“Mengancammu seperti apa? Kenapa


kau tidak melaporkannya ke polisi?” tanya Javier kembali fokus pada Alfonso.


Alfonso memasang ekspresi


sedihnya. “Mereka menyekap seseorang yang kucintai. Aku tidak bisa mengambil


resiko kehilangannya jika aku melaporkan ke polisi. Mereka pun tidak dapat


dideteksi bahkan oleh ahli IT yang pernah kutemui. Kumohon, kabulkan permohonanku


sebelum dua minggu.”


Javier tertegun melihat


keseriusan Alfonso. Dia tidak bisa mengiyakan juga tidak bisa membiarkan nyawa


orang lain dikorbankan. Namun segala kebingunannya antara percaya dan tidak,


terjawab saat dia berada dalam mobilnya dan membuka pesan yang terkirim di


ponselnya tadi.


Javier menekan tombol play dan


video itu pun diputar.


“Apa yang kalian inginkan dariku?” teriak Jo yang hanya


dibalas tawa oleh orang-orang di sekitarnya.


Kemudian, seorang lelaki yang berjalan membelakangi kamera


datang lalu mengeluarkan kain dan membekap mulut Jo. Perlahan Jo pun kembali


tak sadarkan diri.


“Dirikan pabrik di Desa Forks dalam dua minggu, maka kami


akan melepesakan wanita ini,” ucap sebuah suara yang telah diubah menjadi suara


misterius. “Jika tidak, maka sandera akan bertambah.”


Kemudian di layar muncul foto Bibi Ema dan Ivy selama


beberapa detik dan video itu pun terhenti.


Javier membelalak dan keringat dingin menetes di dahinya.


Menyaksikan kekasihnya berada dalam kondisi tidak aman beserta ancaman lain


yang muncul di akhir video.


“Apakah Alfonso mendapat ancaman seperti ini dari


orang-orang itu?” gumam Javier.


Dia masih belum yakin, segera dia memacu mobilnya menuju


Desa Forks. Sesampainya di sana, Javier pergi ke ruko Bibi Ema.


“Selamat siang,” sapa Javier saat masuk ke dalam took Bibi


Ema.


Bibi Ema berbalik dan seperti biasa memasang wajah ceria


atas kedatangan Javier. “Tuan Javier, selamat siang! Mari-mari silahkan masuk!


Apa kau ingin secangkir kopi?”


Javier menggeleng. “Tidak, aku tidak akan lama. Aku hanya


ingin bertanya apakah Jo ada?”


“Ah, anak itu. Dia tidak pulang semalam. Kemarin sore dia


bilang mau ke rumah Elena. Tapi sampai siang ini dia belum pulang. Apa perlu


saya panggilkan Tuan?” kata Bibi Ema.


Javier terdiam. Sepertinya Bibi Ema belum merasa curiga


dengan ketiadaan Jo.


“Biar saya yang ke rumah Elena,” kata Javier seraya keluar


dari took.


“Ada apa Tuan? Ada ada sesuatu?” Bibi Ema curiga.


“Ah, tidak apa-apa. Mungkin jika Jo ada di rumah Elena, saya


akan mengajaknya pergi. Ada urusan bisnis yang harus saya tangani bersama Jo,”


dalih Javier.


“Ooh.. begitu.” Bibi Ema mengangguk.


Tok Tok Tok


Elena terkejut saat Javier berdiri di hadapannya sedekat ini.


Wajah terkejut sekaligus terpesona terlihat jelas dari Elena. “Tuan Javier?”


“Apakah semalam Jo ke sini?” tanya Javier.


Elena engangguk. “Ya semalam dia ke sini dan pulang di jam


sebelas.”


Deg.


Javier kini semakin yakin bahwa wanita yang berada dalam


video penyanderaan itu benar Jo.


“Ada apa Tuan? Apa telah terjadi sesuatu?” Elena merasakan


keanehan.


“Maukah kau membantuku?”


Elena mengangguk keras. “Tentu.”


“Pergilah ke rumah Bibi Ema dan katakan bahwa Jo menginap di


sini dan saat aku ke sini, katakan kalau Jo ikut bersamaku,” ucap Javier.


“Ada apa Tuan? Apa yang sebenarnya terjadi?” wajah terpesona


Elena kini hilang digantikan wajah penuh kekhawatiran.


“Seseorang telah menyekap Jo. Tapi berjanjilah padaku,


jangan sampai orang lain tahu. Aku akan membebaskan Jo sesegera mungkin," Javier berjanji pada dirnya.