Cause I'M Yours

Cause I'M Yours
Are You Happy?



Tok Tok Tok


Javier membuka pintu villa dan melihat Jo di sana dengan senyuman secerah sinar matahari seperti biasanya.


"Hai! Aku membawakan titipan Bibi Ema!" kata Jo sambil memperlihatkan tas yang berisi makanan.


"Jo!" Ivy berlari dari belakang Javier dan memeluk Jo.


Javier menatap putrinya yang nampak bahagia dengan kedatangan Jo, sama seperti dirinya.


Ivy menarik Jo untuk masuk ke dalam villa. "Jo, kau suka rumahku?"


"Tentu Tuan Putri!"


"Ini seperti rumah tujuh kurcaci di film Snow White!" teriak Ivy.


"Ya! Dan kau adalah Snow White!" seru Jo, lalu menunduk memberi hormat pada Ivy. "Your Majesty!"


"Hahaha..." Ivy tertawa senang.


Jo mempersiapkan makanan di atas meja makan untuk Ivy dan Javier.


"Baiklah Tuan Putri, saatnya anda sarapan!" kata Jo lalu membuka kursi untuk Ivy.


Ivy berlari senang menuju meja makan disusul Javier dari belakang.


"Jika Ivy adalah Snow White maka aku?" tanya Javier saat berhadapan dengan Jo.


Jo melihat tatapan kharismatik yang menyayat-nyayat jantungnya saat ini. Dia sudah sekuat tenaga menghempaskan perasaannya semalaman tapi luluh dengan tatapan sepersekian detik itu. "Kau.. um..."


"Daddy adalah kurcaci!" teriak Ivy.


"Haha.. ya! Kau kurcaci!" kata Jo merasakan kejanggalan atas ucapannya barusan.


Javier tertawa lalu duduk di samping Ivy dan sarapan.


"Kalau begitu aku pergi dulu. Aku harus mempersiapkan Festival. Ini hari terakhir," kata Jo pada Javier.


"Baiklah," jawab Javier.


"Tuan Putri, sampai ketemu nanti!" kata Jo yang dijawab dengan anggukan Ivy.


Jo pun pergi dari sana.


"Aku menyukainya Daddy!" kata Ivy dengan mulut penuh roti. "Apa kau menyukainya?"


Javier melirik Ivy dan menjawab. "Um.. ya, aku menyukainya juga."


***


Farmer Festival diakhiri dengan pengumuman perlombaan sayuran raksasa. Dimenangkan oleh ayahnya Patrick dengan labu berdiameter setengah meter. Farmer Festival berakhir siang hari.


Jo tengah duduk berkumpul di atas panggung yang sedang dibereskan dekorasinya bersama Patrick dan sepuluh orang lainnya yang tergabung ke dalam panitia acara.


"Terima kasih teman-teman, acara Farmer Festival tahun ini berjalan lancar seperti tahun kemarin. Bahkan di tahun ini kita mendapatlan keuntungan lebih banyak dari tahun sebelumnya!" seru Jo.


Prok Prok Prok


"Yeah!!"


"Itu semua tidak akan terwujud tanpa kerja sama dari kalian semua Guys!" akhir Jo.


Mereka semua saling bersalaman dan memberi ucapan selamat. Javier dan Ivy terlihat menunggu dari kejauhan dengan membawa peralatan memancing.


"Jo!" seru Patrick sambil menunjuk Javier dengan pandangannya.


Jo menatap apa yang Patrick lihat dan dia pun tersenyum.


"Patrick, bisa kau urus sisanya? Aku harus pergi," kata Jo.


"Tentu!" jawab Patrick.


Jo turun dari panggung dan menghampiri Javier dan Ivy.


"Hallo Princess," sapa Jo sambil mengusap pucuk rambut Ivy.


"Kami berencana untuk memancing di sungai. Ivy memaksa untuk mengajakmu," kata Javier.


"Oh ya?" Jo melirik Ivy.


Ivy meraih tangan Jo. "Ayo ikut Jo!"


"Hahaha.. Oke oke!"


Mereka bertiga berjalan menuju sungai tak jauh dari villa del phia. Javier memancing di atas batu besar bersama Ivy dan Jo.


"Di sini ikannya banyak. Kita akan cepat mendapatkan ikan!" kata Jo.


Satu jam kemudian...


"Jo! Ikannya tidak ada!" rengek Ivy.


Jo menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal. "Biasanya di sini banyak ikan!"


Javier menggeleng, lalu turun ke dalam air.


"Daddy, kau mau apa?" tanya Ivy.


Javier berjalan ke dalam sungai. Kedalaman air mencapai perut Javier.


"Jo, tolong lemparkan jala. Di sini banyak ikan!" teriak Javier.


"Horeee!!! Daddy hebat!!" teriak Ivy kegirangan.


"Ayo Ivy kita siapkan perapian!" seru Jo.


Jo dan Ivy pun beranjak menuju di pinggir sungai. Dengan batu-batu dan ranting kering, Jo berhasil membuat perapian untuk membakar ikan. Ivy duduk beralaskan dedaunan.


Javier datang dari arah sungai dengan keadaan shirtless dan tubuh yang basah. Tubuh berotot dan kotak-kotaknya terbentuk sempurna. Membuat Jo menelan ludah melihatnya.


Jo menerima ikan yang dibawa Javier lalu segera membersihkannya kemudian membakarnya di perapian yang telah ia buat. Sesekali Jo dan Javier saling mencuri-curi pandang.


*Sadarlah Jo! Javier hanya seorang teman! Tidak lebih!


Kendalikan perasaanmu Javier! Kau akan menyulitkannya*!


"Waah! Enak sekali!" seru Ivy saat memakan ikan bakar.


"Kau suka honey?" tanya Javier.


Ivy mengangguk keras. "Aku suka Daddy! Lain kali Mommy harus ikut ke sini!"


Mendengar kata 'Mommy' membuat Jo dan Javier tertegun.


Haha.. kenapa perasaanku tidak enak? Ah sudahlah Jo!


Javier hanya tersenyum lalu mengusap rambut Ivy.


Setelah selesai makan ikan bakar, karena hari mulai gelap mereka pun kembali ke villa del phia dan melanjutkan bermain Uno di ruang tengah dengan perapian yang menyala.


Ivy tertidur di pangkuan Jo. Jo memberi isyarat pada Javier untuk menghentikan permainan, kemudian dia mengangkat tubuh Ivy dan menidurkannya ke dalam kamar.


"Kau mau bir?" tanya Javier saat Jo keluar dari kamar.


"Tentu."


Jo dan Javier duduk di depan perapian dengan sebotol bir di tangannya masing-masing.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Jo memulai obrolan.


"Ya."


"Kenapa ibunya Ivy tidak ikut bersama kalian?"


Javier meneguk birnya. "Dia sibuk mengurusi yayasan sosial."


"Apa mengurusi yayasan melebihi kesibukanmu sebagai senator?"


Javier tertegun mendengarnya. Jo baru menyadari kelancangan kalimatnya barusan.


Jo segera.mengklarifikasi. "Oh.. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud.."


"Haha.. No, kau benar. Sesibuk apapun diriku, Ivy adalah prioritas. Sepertinya tidak begitu dengan Mary, ibunya Ivy. Semenjak Ivy dilahirkan, Mary tidak pernah mengurus Ivy dengan tangannya sendiri. Segala bentuk kasih sayangnya dia gantikan dengan segala fasilitas yang diamiliki," jelas Javier.


Javier merasa nyaman untuk berbagi cerita dengan Jo. Jo merasakan apa yang dirasakan Ivy. Ivy memiliki seorang ibu tapi tidak pernah mendapat kasih sayang yang sempurna dari ibunya sama saja seperti Jo yang tidak memiliki orangtua sama sekali.


"Orangtuaku meninggal saat aku berusia empat tahun dan aku dibesarkan oleh Bibi Ema sejak saat itu," kata Jo lalu meneguk birnya. "Mereka meninggal dalam kecelakaan tunggal dan aku berada di dalam mobil itu saat kecelakaan terjadi."


Javier menatap Jo lekat. Di balik senyuman dan sikap cerianya ternyata menyimpan sebuah trauma mendalam. Javier semakin mengagumi Jo, wanita yang kuat dan independen.


"Apa kau bahagia?" tanya Javier.


Jo terkekeh mendengarnya. "Apa aku terlihat tidak bahagia?"


Javier tersenyum. "Kau sangat bahagia."


"Ya.. tentu aku bahagia. Kenapa kau bertanya soal itu? Kau pun pasti bahagia dengan kehidupanmu kan? Menjadi senator yang dipercaya masyarakat, memiliki keluarga yang harmonis, kekayaan dan kekuasaan?"


Javier terkekeh sambil menggeleng mendengarnya. "Begitukah aku di mata orang lain?"


Jo terdiam melihat tatapan sunyi Javier. "Tidak seperti itu?"


"Ya, aku memiliki itu semua tapi ada perasaan hampa dalam diriku. Setiap hari perasaan hampa itu sangat menyiksa."


"Kenapa kau menjalani hidupmu tanpa kebahagiaan?"


"Sejak kecil jalan hidupku sudah ditentukan oleh ayahku. Termasuk pernikahanku. Aku hanya tinggal menjalani jalan yang telah dipilihkan untukku."


"What? No.. kau berhak menjalani hidup sesuai pilihanmu. Kau berhak bahagia dengan caramu sendiri."


Javier menatap lekat Jo. Mata cokelat itu terasa hangat seperti bara api di perapian. Javier merasa mendapatkan kelegaan dan pencerahan hidup setelah bertemu dengan Jo.


"Jo, kenapa kita baru bertemu sekarang?" tanya Javier.


Jo terdiam mengerti akan maksud dari pertanyaan Javier barusan. Jo dan Javier saling bertatapan. Perasaan yang membuncah itu kembali hadir dan mendorong mereka untuk semakin mendekat satu sama lain. Nafas mereka kembali menyapu wajah yang ada di hadapannya satu sama lain.


"Daddy..."


Suara Ivy dari dalam kamar membuyarkan keduanya. Jo dan Javier segera berdiri dengan wajah memerah.


"Aku harus pulang!" seru Jo.


"Yap, maaf aku tidak bisa mengantarmu," jawab Javier salah tingkah sambil sesekali menatap pintu kamar yang tertutup.


"It's oke. Bye!" Jo pun keluar dari villa dan menyalakan senter dari ponselnya lalu berjalan secepat yang dia bisa sambil berusaha menghempaskan perasaannya.


Javier berbaring di atas kasur dengan Ivy di pelukannya. Perasaan yang menggebu-gebu itu akhirnya kini dia rasakan. Tapi bukan pada Mary istrinya, melainkan pada Jo.


♧♧♧