Cause I'M Yours

Cause I'M Yours
Pabrik



Balai desa hari ini begitu sesak dengan para warga yang mengikuti forum diskusi. Di sana Jo beserta para aktivis pun ikut hadir dalam pertemuan.


Segala hal diperdebatkan dalam forum itu. Setiap kubu memiliki titik beratnya masing-masing. Kubu Jo dan para petani serta pecinta lingkungan tetap ingin mempertahankan kelestarian hutan itu.


Sementara kubu Fredie ingin pendirian pabrik didukung untuk peluang lapangan kerja baru dan kemajuan bersama bagi para pengangguran dan buruh tidak tetap.


Kedua kubu memiliki poin plusnya masing-masing, membuat Jacob tidak dapat memihak pada salah satu kubu. Setelah forum ini pun total suara keberpihakan menjadi seimbang, mengingat Fredie yang memang pandai mempengaruhi pikiran orang lain dengan argumen-argumennya.


"Baiklah saudara-saudara, sepertinya keputusan ini tidak akan mendapatkan titik temu mengingat masing-masing pihak seimbang dan memiliki titik beratnya masing-masing. Saya akan ajukan kasus ini ke parlemen agar ditemukan solusi yang lebih tepat untuk kita semua," kata Jacob mengakhiri pertemuan di balai desa.


Semua orang bubar barisan dan kembali ke aktivitasnya masing-masing.


"Jo!" seru Patrick.


Jo menoleh dan melihat Patrick berlari ke arahnya. "Ya?"


Jo dan Patrick berjalan beriringan. "Bagaimana ini? Jika pabrik itu berdiri, pasokan air tanah dan kehijauan desa ini akan rusak," kata Patrick membuka diskusi.


Jo mengangguk. "Ya. Tapi Fredie pun tidak seratus persen salah. Kita masih punya sungai untuk mengairi pertanian kita, yah meski kita akan kesulitan di musim kemarau. Akan tetapi, jika ini berkaitan dengan lingkungan kita, tentu pabrik itu dapat mengancam kelestarian ekosistem hutan."


"Lalu apa yang harus kita lakukan?"


Tiba-tiba Jo teringat Javier. "Seperti cara Javier dulu, kita harus cari titik kelemahan dari perusahaan itu untuk dapat diangkat menjadi bahan pertimbangan."


"Titik kelemahan?"


"Ya. Kita cari riwayatnya apakah ada kasus suap dari para petingginya atau kasus limbah dari pembangunan pabrik yang sebelumnya atau apapun itu yang dapat memberatkan perusahaan itu untuk dikabulkan permintaannya oleh parlemen."


Patrick mengangguk paham. "Kau benar!"


Jo mengedipkan kelopak mata kanannya. "Always!"


Mereka berdua berhenti berjalan setelah sampai di depan mobil Jo yang terparkir.


"Kau mau ke mana?" tanya Patrick.


Jo mengingat hari ini adalah hari Sabtunya bersama Javier. "Aku mau menikmati hari liburku. Kau juga. Jangan lupa bahagia!"


Jo pun masuk ke dalam mobilnya. Patrick melambaikan tangannya setelah Jo membunyikan klakson.


***


"Jadi kapan aku mencoba tempat tidur barumu?" tanya Javier.


Jo melirik dan menangkap tatapan jahil Javier. "Aku sedang serius! Jangan bercanda!"


Javier membelalak. "Aku pun serius!"


"Baiklah kita bicarakan soal tempat tidur itu nanti. Sekarang kembali ke diskusi kita sejak awal."


Javier membenarkan posisinya di atas sofa. Dia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali melihat Jo berbicara serius. Keseriusan yang dipancarkan Jo mengingatkannya pasa saat awal perjumpaan di kantor parlemen saat Jo memimpin demonstrasi.


"So, kasus itu sudah dilimpahkan ke parlemen untuk dicarikan solusinya," tandas Jo.


"Baiklah. Akan aku pelajari itu Senin nanti. Tapi berjanjilah apapun yang akan menjadi keputusannya nanti, itulah yang terbaik," kata Javier.


Jo mengangguk paham. Javier beringsut mendekati Jo yang duduk di sofa panjang. Jo bergeser untuk menghindar sampai akhirnya dia tidak bisa bergeser sama sekali.


"Kenapa kau menghindariku?" tanya Javier.


Jo gelagapan. Haaa! Dia terlalu menggoda untuk ditinggalkan!


Javier meraih belakang leher Jo dan mendekatkannya ke wajahnya. Sapuan nafas beraroma manis tercium seketika Jo mendekat. Tak menunggu lama bibir itu pun dilumat habis oleh Javier.


Tautan bibir mereka terlepas, Jo terengah-engah menahan nafas. "Kau mau melakukannya di sofa?"


Javier segera mengangkat tubuh Jo layaknya karung gandum dan membawanya ke dalam kamar.


***


Javier beserta Tom masuk ke ruang rapat di kantor parlemen. Semua staf dan senator lainnya pun sudah berkumpul. Hari ini adalah pembahasan mengenai kasus pendirian pabrik di Desa Forks.


Di sana pun hadir Alfonso sebagai pimpinan perusahaan yang bermaksud untuk mendirikan pabrik itu. Alfonso menatap Javier dari kejauhan dengan ekspresi santainya seperti biasa.


"Jadi ini lelaki yang tengah diperebutkan itu? Aku jauh lebih baik darinya!" gumam Alfonso dalam hati.


"Jadi pabrik apa yang akan didirikan?" tanya Javier dalam forum.


Alfonso mendekati mikrofon. "Saya akan mendirikan pabrik sepatu di sana. Hampir empat puluh persen penduduk di sana hanya bekerja menjadi buruh serabutan. Dengan adanya pabrik ini maka akan menambah lapangan kerja baru."


Beberapa orang mengangguk-ngangguk setuju. Javier membuka lembar profil perusahaan di tangannya dan menatap wajah Alfonso. Lelaki ini mencurigakan.


"Di sini kau tidak mencantumkan bagaimana analisis dampak lingkungan dari pabrik yang akan kau dirikan," kata Javier saat menemukan celah kekurangan dari Alfonso.


Alfonso terdiam. Bagaimana mungkin aku sampai lupa hal sebesar itu! Shit! Dia tentu akan mengangkat isu lingkungan!


"Hal itu masih dalam kajian staf khusus kami yang menangani soal lingkungan. Saya jamin, pabrik ini akan aman. Tidak ada limbah yang akan terbuang sembarangan," respon Alfonso dengan tenang.


Javier menutup profil. "Baiklah kalau begitu, masalah ini tidak dapat diputuskan hari ini. Kita tunggu sampai staf khususmu selesai, lalu kita kembali lagi ke ruangan ini untuk mengambil keputusan."


Sidang pun ditunda sampai Alfonso memenuhi permintaan Javier. Analisis dampak lingkungan itu tentu tidak akan dia serahkan. Dia akan membuat Javier menyetujui pendirian pabrik tanpa adanya analisi dampak lingkungan agar citra Javier rusak di kalangan para pecinta lingkungan.


Setelah Alfonso masuk ke dalam mobilnya, dia pun merogoh ponsel di saku jasnya.


"Ya Tuan?" ucap seseorang di seberang sana.


"Lakukan malam ini," perintah Alfonso.


"Baiklah Tuan."


"Ingat, lakukan dengan rapi. Jangan sampai tercium polisi!" tegas Alfonso.


"Baik Tuan."


Panggilan pun terputus. Alfonso memacu mobilnya cepat menuju hotel, tempatnya memadu kasih dengan Mary yang sudah menunggu di sana.


***


Jo keluar dari rumah Elena setelah mencurahkan isi hatinya. Elena sudah bagaikan seorang konsultan kejiwaan bagi Jo. Setelah dia berbicara dengan Elena, hatinya terasa tenang dan ringan.


Seperti biasa, jalanan begitu sepi di pukul sebelas malam. Hanya ada dirinya yang berjalan menyusuri jalanan di sana. Jo menatap taman yang hanya diterangi lampu taman yang mulai redup. Dia teringat Javier yang pernah muncul tiba-tiba di sana.


Jo tertawa kecil lalu menggeleng. "Haha.. Tidak mungkin dia muncul lagi malam ini."


Dia pun kembali berjalan. Ruko Bibi Ema sudah mulai terlihat. Tak lama, suara mobil terdengar dari arah belakang. Jo berbalik dan wajahnya diterpa cahaya lampu mobil yang membuatnya silau dan tak bisa melihat siapapun yang berada dalam mobil itu.


Cahaya lampu mobil tidak lagi menerpa pandangan Jo setelah mobil itu berhenti di sampingnya. Sebuah mobil van berwarna hitam. Kaca jendela dari pintu depan terbuka. Terlihat wajah seorang lelaki yang tak dikenalnya.


"Maaf Nona, boleh aku bertanya alamat?" ucap lelaki itu.


Jo semakin mendekatkan dirinya ke arah si pengemudi. "Ya?"


Seketika, pintu jok belakang van terbuka dan muncul dua orang laki-laki tinggi besar. Salah satu di antaranya segera membungkam mulut Jo dengan gulungan kain.


Jo sempat meronta dan berteriak tapi teriakannya tidak akan terdengar karena kain yang menyumpal mulutnya. Dua orang lelaki itu mengangkat tubuh Jo dan memasukkannya ke dalam van.


Van itu pun melaju dengan cepat. Jo tak dapat mengenali orang-orang yang menculiknya hingga akhirnya gelap meliputinya.


♤♤♤