
New York City adalah salah satu kota metropolitan terbesar di Amerika Serikat. Kota yang dijuluki sebagai kota yang tidak pernah tidur. Di kota ini, Javier dan Jo dapat bebas menikmati kencan pertama di depan umum setelah hampir satu tahun menjalin hubungan. Ada ribuan orang berkeliaran di sana. Tak akan ada yang mengenali baik Javier maupun Jo di sana.
Javier memarkirkan mobilnya di salah satu hotel bintang lima di Manhattan.
"Malam ini kita tidur di hotel ini?" tanya Jo.
"Ya."
Setelah keluar dari mobil, mereka pun memutuskan untuk jalan-jalan menikmati kota New York meski mereka adalah orang Amerika, tapi jalan-jalan berdua seperti ini akan mereka kenang seumur hidup.
Javier mengulurkan tangannya dan Jo pun meraih genggaman tangan itu dengan penuh suka cita. Mereka berjalan menyusuri jalanan layaknya sepasang kekasih yang sedang berkencan.
Sesekali mereka mengambil selfie untuk mengabadikan momen berdua yang tentunya hanya untuk konsumsi pribadinya. Saat mereka melewati toko gaun, Javier menarik Jo ke dalam toko itu untuk rencananya menikmati malam spesial di restoran hotel.
"Kemari, cobalah beberapa gaun dan pilih yang kau sukai!" kata Javier seraya masuk ke dalam toko, masih menggenggam tangan Jo.
"Gaun? Untuk apa?" tanya Jo heran.
"Aku ingin mengulang pesta dansa kemarin. Aku belum puas berdansa denganmu," jawab Javier dengan wajah sedih yang lucu.
Jo tersenyum. "Baiklah. Aku pun belum puas berdansa denganmu."
Tak lama, seorang karyawan wanita datang menghampiri.
"Selamat datang. Gaun seperti apa yang Anda inginkan Nyonya?" tanya karyawati yang berpapan nama Susan itu.
Jo bingung harus menjawab apa. "Apapun yang pantas untukku."
"Baiklah, mari ikut saya Nyonya," kata Susan.
Javier duduk di sofa tamu untuk menunggu sambil membaca majalah, sedangkan Jo masuk ke ruangan lainnya di dalam toko. Akhirnya dia bisa memiliki gaun pesta tanpa harus meminjam lagi pada Elena.
"Baiklah Nyonya, warna apa yang Anda suka? Gelap atau terang?" tanya Susan.
"Gelap."
Susan pun berjalan ke bagian gaun-gaun yang berwarna gelap. Gold, marun, cokelat, navy dan hitam. Pilihan jatuh pada gaun berwarna hitam dengan glitter di lapisan kainnya yang membuatnya terlihat sederhana tapi tetap glamor.
Jo keluar dari ruang ganti dan Susan yang sedari tadi mendampinginya, takjub melihatnya.
"Apa Anda ingin memperlihatkannya pada suami Anda?" tanya Susan.
Mendengar kata 'suami' membuat Jo tertegun sesaat.
Jo pun menjawab. "Tidak, nanti malam dia akan melihatnya."
"Baiklah Nyonya, sepertinya akan ada perayaan malam ini," ucap Susan sambil tersenyum.
Perayaan? Jo masuk kembali ke dalam ruang ganti untuk mengganti gaunnya ke baju semula sambil berpikir. Apa benar hari ini ada perayaan? Apakah Javier memang sudah merencanakan perjalanan ini sebelumnya?
Setelah selesai membeli gaun, Jo dan Javier pun keluar dari toko itu.
"Bagaimana denganmu? Apa aku akan berdansa dengan memakai gaun sedangkan kau memakai stelan casual?" tanya Jo, sambil menggandeng Javier.
Javier tersenyum. "Aku sudah membawa jasku di mobil."
"Tunggu, apa kau sudah merencanakan perjalanan ini? Atau ini rencana spontan karena aku marah-marah padamu tadi pagi?"
Javier terkekeh mendengarnya. "Apa kau tidak mengingat tanggal ini?"
Perlahan, Jo menggeleng.
"So, menurut survey wanitalah yang akan mengingat tanggal anniversarynya. Tapi ternyata survey itu salah!"
Jo terkejut dengan itu. "Astaga! Apa hari ini adalah anniversary kita?"
Javier hanya tersenyum.
"Hahaha.. Ya ampun! Aku bahkan sudah lupa bagaimana kita bersatu!"
"Hahaha!" Jo membelai halus pipi kekasihnya.
***
Javier sudah siap dengan stelan jasnya. Stelan jas sangat cocok untuk dirinya dan style itu tidak akan pernah out of date baginya.
"Kau sudah siap?" tanya Javier setengah berteriak pada Jo yang berada di dalam kamar mandi hotel.
"Sebentar lagi!" sahut Jo.
Jo menatap pantulan dirinya di cermin. Sangat jauh dari dirinya sehari-hari saat mengantar sayuran. Jo menyanggul rambutnya seadanya, membuatnya tak kehilangan jati diri.
Kulitnya yang cokelat sangat menawan dengan make up yang hangat bernuansa cokelat dan peach. Gaun berwarna hitam dengan gliter di lapisan kainnya, membuat Jo semakin berkilau.
Jglek!
Pintu kamar mandi terbuka. Javier berbalik dan terperangah melihat Jo keluar dari kamar mandi. Tak ada pujian yang keluar dari bibir Javier. Dia hanya menghampiri, mendekap lalu mencium bibir Jo tanda bahwa dia sangat menyukai penampilan wanitanya saat ini.
"Let's go!" kata Jo setelah ciumannya berakhir.
Javier membuka sikut lengan sebelah kanannya, lalu Jo pun menggandengnya. Mereka berdua keluar dari kamar hotel, masuk ke dalam lift menuju restoran di lantai paling atas. Javier tak henti-hentinya menatap Jo. Penampilan anggun yang jarang seperti ini sangat sayang jika dilewatkan.
Sesampainya di restoran, seorang lelaki penerima tamu datang menghampiri.
"Selamat Malam, Tuan dan Nyonya?" sapa lelaki itu.
"Malam. Saya sudah pesan atas nama Javier Thompson," ucap Javier.
Kemudian lelaki itu membuka buku tamunya dan mendapatkan pesanan atas nama Javier Thompson.
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya Thompson. Mari ikuti saya!" kata lelaki itu lalu berjalan mendahului untuk menunjukkan meja yang dipesan.
Jo mengernyitkan dahinya lalu melirik Javier yang tersenyum bahagia mendengar sebutan Nyonya Thompson yang disematkan pada wanita yang dicintainya.
Meja itu berada di samping jendela dengan pemandangan malam kota New York yang bertaburan cahaya lampu. Setelah mereka duduk, para pelayan segera melayani mereka dengan membawakan hidangan satu per satu mulai dari appetizer, main course dan dessert. Mereka fokus menikmati makanan sampai dessert datang ke meja mereka, barulah memulai obrolan.
Javier menyeka mulutnya dengan serbet, lalu menggenggam tangan Jo di depannya. "Bagaimana makan malamnya? Kau suka?"
Jo menelan suapan terakhirnya, lalu meneguk wine di sampingnya. "Aku kenyang sekarang. Makanan di sini sangat memuaskan!"
Javier tersenyum, lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan kotak beludru berwarna hitam. Jo menerka-nerka perhiasan apa yang ada di dalamnya. Kotak itu terbuka dan terlihat sebuah kalung dari emas putih dengan liontin inisial huruf J.
"J for Jo?" tanya Jo.
"J for Javier. Dengan kau memakai ini, semoga orang-orang yang melihatnya langsung menyadari bahwa kau milik Javier. Haha.."
Jo tertawa mendengar kekonyolan Javier. Lelaki di hadapannya itu lalu berdiri dan berjalan menuju ke belakang kursi yang diduduki Jo, lalu memasangkan kalung pada leher wanitanya.
Kemudian musik klasik dimainkan para pemusik di panggung. Javier mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Jo dan mereka pun berjalan menuju lantai dansa. Para pengunjung lainnya mengikuti dan menemani pasangan JJ itu untuk berdansa bersama pasangannya masing-masing.
Jo menatap Javier dengan penuh rasa haru sekaligus bahagia. "Aku tidak akan pernah melupakan malam ini."
Javier tersenyum. "Happy anniversary, honey!"
Mendengar sebutan honey, membuat Jo terkekeh. Dia pun menyenderkan kepalanya pada dada Javier dan menikmati dansa pertama kali di hadapan umum dengan perasaan bebas, tanpa takut orang-orang mengenalinya.
"Aku sudah menggenggam tanganmu di hadapan orang lain, lalu mengatakan pada si penerima tamu bahwa kau milikku dengan menyebutmu Nyonya Javier, dan berdansa denganmu di depan umum," kata Javier menyebutkan satu per satu tantangan Jo saat Jo meluapkan emosinya tadi pagi.
Jo yang mendengarnya, tertawa pelan tanpa mengubah posisi kepalanya yang menempel di dada Javier.
"Apa lagi yang kau inginkan?" tanya Javier.
Jo mendongak, tatapan mereka bertemu. "Menciumku di depan umum."
Javier tersenyum, lalu meraih dagu Jo kemudian menempelkan bibirnya pada bibir Jo dengan penuh cinta. Tamu lain yang ikut berdansa tentu melihatnya. Mereka hanya bisa tersenyum dan memuji keharmonisan pasangan itu dalam hatinya.
♧♧♧