Cause I'M Yours

Cause I'M Yours
Move On



Jo berjalan kembali menuju mes dengan menekuk bahunya, tak bersemangat. Dia tatap sekuntum bunga mawar di tangan kanannya, lalu menghirupnya. Dia tidak sempat melihat siapa yang memberikannya pada Maya. Kemudian dia menatap buket bunga di tangan kirinya. Baru saja dia resmi menjadi kekasih Daniel.


“Ha… apa yang harus kulakukan selanjutnya?” gumamnya.


Di koridor utama, Daniel sudah berdiri di sana, menatap Jo dengan senyuman yang lebar. Senyuman yang dapat membuat siapapun yang merasa gundah menjadi lega hatinya. Senyuman yang dimiliki oleh Daniel. Lelaki yang kini menjadi kekasihnya. Jo membalas senyuman itu sambil terus berjalan ke arahnya.


Semoga apa yang kulakukan sudah benar.


“Kamu dari mana?” tanya Daniel saat Jo sudah berada di hadapannya.


Jo hanya menggeleng tak menjawab dan terus tersenyum. Aku takut menyakitimu Daniel, kau lelaki yang baik.


Daniel membelai pipi Jo, kemudian mendekatkan wajahnya bermaksud untuk menciumnya. Tapi Jo belum siap menyerahkan ciuman yang seharusnya milik Javier pada orang lain. Maka Jo menoleh dan menyerahkan pipi kanannya untuk dicium. Daniel pun memakluminya.


“Kau tidak ingin terlalu cepat?” tanya Daniel.


Jo mengangguk. “Aku ingin menikmati hubungan ini dengan perlahan.”


Bertolak belakang saat Jo bersama Javier. Dia sudah menyerahkan jiwa dan raganya sesaat setelah mereka berdua saling menyatakan cinta, dahulu kala. Mereka berdua pun kembali ke kafetaria bersama untuk makan malam bersama volunteer lainnya.


“Ini dia pasangan baru kita!” seru Nick saat Daniel dan Jo duduk di meja dengan nampan berisi makanan mereka masing-masing.


Daniel dan Jo pun duduk dan mulai menikmati makan malamnya.


“Apa kalian akan tidur satu kamar?” tanya Nick blak-blakan.


“Uhuk! Uhuk!” Jo tersedak makanannya.


Daniel mengusap punggung Jo untuk meredakan batuknya.


Daniel menggeleng dengan wajah agak kesal. Nick hanya akan merusak suasana yang menyenangkan ini.  “Oh come on, Nick!”


“Aku hanya bertanya,” timpal Nick.


Makan malam selesai. Jo dan Daniel berpisah di lantai tiga di mana kamar Daniel berada. Jo berjalan bersama Lucy dan Maya ke lantai empat menuju kamarnya masing-masing.


“Apa kau bertemu dengan lelaki itu?” tanya Maya setelah Daniel sudah tidak ada.


Jo menggeleng.


“Jo, kenapa kau tidak memikirkan apa yang dikatakan Nick?” kata Lucy, mengalihkan topik pembicaraan.


“Apa?”


“Soal tidur bersama Daniel,” ucap Lucy sambil tersenyum jahil.


“Shut up, Lucy!” seru Jo, tidak suka. “Ini mes Green Peace, bukan hotel.”


“Oh, jadi kau akan melakukannya di hotel?!” Lucy semakin histeris.


“Ssshh!” Maya segera menutup mulut Lucy. Lucy hanya tertawa.


“Please. Biarakan hal itu menjadi urusanku dengan Daniel. Oke?” ucap Jo.


“Oke!” sahut Lucy kemudian masuk ke dalam kamarnya.


“Jo, apa kau bahagia?” tanya Maya tiba-tiba.


Jo terdiam, kemudian menatap Maya. Jo hanya tersenyum dan mengangguk.


“Alright, semoga kau dan Daniel bahagia. Kalian berdua pasangan yang serasi!” Maya mengedipkan kelopak mata sebelah kanannya, kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Jo pun masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu. Jo segera membantingkan tubuhnya ke atas kasur kemudian membuka ponselnya dan menelepon Elena, sebelum dia menelepon Bibi Ema.


“Halo?” suara Elena terdengar dari dalam ponsel.


“Elena!!!” teriak Jo.


“Ada apa Jo? Kenapa berteriak?!”


“Aku telah menerima seseorang menjadi pacarku.”


“Namanya Daniel. Dia berasal dari Philadelphia, Amerika. Tapi dia kuliah di Jerman dan menetap di sana setelah lulus.”


“Kalian bertemu di mana?”


“Dia salah satu volunteer di Green Peace. Kami menjadi dekat di sini, dan tadi dia menyatakan cintanya. Aku tidak tahu apa yang telah kulakukan, tapi aku menerimanya.”


“Jo, jangan katakan kalau kau masih mencintai Tuan Senator!”


Jo hanya terdiam.


“Jo! Kau pantas bahagia, memiliki hubungan yang sehat dan berkeluarga. Mungkin Daniel adalah takdirmu.”


“Bye the way, bagaimana kabarnya dia sekarang?”


Elena menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa gemas dengan Jo yang masih menyimpan perasaannya pada Javier. “Dia sekarang sudah bukan senator lagi. Masa jabatannya sudah selesai. Sekarang dia akan naik ke pemilihan Gubernur.”


Jo membayangkan Javier dengan gagah dan kharismanya duduk di kursi Gubernur Pensylvania. “Ohh begitu.”


“Ya. So, dia maju terus ke depan dengan karirnya dan keluarganya, kau pun berhak melakukan hal yang sama. Maju ke depan bersama Daniel! Kau akan melupakan Javier setelah kau tidur dengan Daniel!”


“Hahaha!” Jo hampir tersedak karena tertawa. “Kau bahkan belum mengenalnya, tapi kau sudah mendukung Daniel habis-habisan begitu!”


Percakapannya dengan Elena tidak akan berakhir jika Elena tidak sedang bekerja. Setelah menelepon Elena, Jo pun menelepon Bibi Ema untuk memberi kabar bahwa dirinya baik-baik saja dan memastikan bahwa Bibi Ema pun baik-baik saja.


***


Javier kembali ke Amerika malam itu juga dari Australia. Javier lebih memilih tidur di pesawat, dari pada masih menetap di Australia dan membayangkan hal yang tidak-tidak soal Jo yang telah memiliki kekasih baru. Javier sama sekali tidak dapat melihat siapa laki-laki kurang ajar yang telah merebut Jo darinya. Dia hanya dapat melihat lelaki itu dari belakang. Sudah dapat dipastikan dalam pikirannya bahwa wajahnya masih lebih tampan dari pada lelaki itu.


Javier menutup matanya. Lagi-lagi, yang dilihatnya adalah Jo. Baiklah, aku harus bisa menerima bahwa Jo harus bahagia meski tidak denganku. Karena kebahagiaan Jo adalah kebahagiaanku juga.


Bayangan Jo berubah menjadi bayangan putri semata wayangnya tercinta, Ivy. Ivy selalu menjadi obat dari segala kegundahan hatinya. Saatnya dia kembali menata hidupnya untuk kebahagiaan Ivy. Dia akan melakukan apapun yang membuat Ivy bahagia, termasuk kembali menjadi suami Mary seperti sebelum dia bertemu dengan Jo meski sulit.


Javier sampai di rumahnya setelah enam belas jam perjalanan. Selama enam belas jam itu, dia tidak bisa tidur di pesawat karena pikirannya terhadap Jo.


“Daddy!” Ivy berlari ketika Javier datang.


“Sayangku!” Javier memeluk tubuh putrinya.


“Kau sudah pulang Daddy?” tanya Ivy yang sudah siap untuk sekolah.


Javier mengangguk.


“Daddy, kau tampak lelah. Istirahatlah! Aku mau pergi ke sekolah dulu ya!”


Javier tersenyum melihat keceriaan putrinya. Ya, aku harus tetap mempertahankan senyum ceria melaikat kecilku itu.


Setelah melihat Ivy pergi bersama Nany dan sopirnya, dia pun naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya. Mary sudah berdandan rapi untuk berangkat kerja.


“Kau sudah pulang? Bagaimana perjalanan bisnismu? Lancar?” tanya Mary.


“Hm..” Javier membuka jasnya kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum beristirahat.


Namun sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi, dia berhenti dan menoleh pada Mary yang sedang memasang antingnya di depan meja rias.


“Apa malam ini kau sibuk?” tanya Javier.


“Mmhh… Tidak. Ada apa?” kata Mary sambil memasang anting di telinga sebelahnya lagi.


“Aku akan menyuruh Tom memesan restoran. Malam ini kita akan makan malam berdua.”


Mary terdiam, kemudian menoleh pada Javier dengan wajah yang sumringah.


“Aku tahu aku telah mengkhianatimu. Aku ingin memperbaikinya. Demi anak kita,” ucap Javier meski dia tidak yakin dengan apa yang barusan diucapkannya.


Mary mengangguk dan tersenyum lebar. “Ya, demi anak kita.”


 


***