
Pintu ruang penanganan gawat darurat terbuka dan sebuah ranjang pasien dengan kain yang menutupi seluruh tubuh orang yang di atasnya melintas.
Javier, Nany dan Patrick tercekat. Orang yang berada di atas ranjang itu pasti telah meninggal mengingat kain yang menutupi seluruh tubuhnya.
Javier menempelkan tubuhnya ke dinding dan berusaha mungkin untuk tidak terjatuh.
Patrick menghampiri ranjang itu dan membuka perlahan kain yang menutupi tubuh itu. Belum sempat kain itu terbuka, perawat yang mendorong ranjang itu menghentikan.
"Anda keluarga Joana?" tanya perawat wanita itu.
Patrick mengangguk, matanya sudah berkaca-kaca dan air mata di dalamnya sudah siap meluncur.
"Joana selamat, dia akan dipindahkan ke ruang rawat. Ini adalah jenazah pengantar pizza," kata perawat itu seraya kembali melaju mendorong ranjang menuju kamar jenazah.
Javier, Nany dan Patrick segera bernafas lega.
"Aku akan mengurusnya. Jo akan ditempatkan di ruangan VIP," kata Javier lalu merogoh ponsel dalam sakunya.
"Halo Tom? Bisakah kau ke rumah sakit untuk mengantarkan Nany dan Ivy pulang? Ada sesuatu yang masih harus ku urus. Oke, thank's!" ucap Javier melalui sambungan telepon dengan Tom.
Javier jongkok dan menghadap putrinya yang sedang duduk. "Ivy sayang, kau pulang bersama Nany ya."
Ivy menggeleng keras. "No, Daddy! Ivy ingin bersama Jo!"
"Besok kamu boleh ke sini untuk menemani Jo. Sekarang kamu harus pulang dulu, mandi dan makan," kata Javier berusaha membujuk putrinya.
"Siapa yang menjaga Jo kalau aku pulang?" tanya Ivy.
Javier melirik Patrick dan Nany. "Daddy yang akan menjaga Jo."
"Janji?" tanya Ivy lagi.
"Janji."
Tak lama kemudian, Tom datang menghampiri. "Apa yang terjadi?" tanya Tom pada Javier.
"Jo mengalami kecelakaan saat menyelematkan putriku," jawab Javier mempersingkat cerita.
"Apa? Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Tom lagi.
"Dia akan segera dipindahkan ke ruang perawatan. Tom, tolong antarkan Nany dan Ivy pulang. Aku masih menunggu perkembangan Jo," kata Javier dengan tatapan khawatirnya.
Tom mengangguk. "Baiklah."
Nany pun segera menggendong Ivy dan mereka mengikuti Tom menuju mobilnya untuk kembali ke rumah.
"Patrick?" ucap Javier.
Patrick yang duduk menoleh ke samping kirinya. "Kau pasti lelah hari ini. Malam ini biar aku saja yang menjaga Jo."
"Bagaimana dengan Bibi Ema?" tanya Patrick.
"Kau bilang pada Bibi Ema kalau Jo baik-baik saja dan aku yang menjaganya. Jika Bibi Ema ingin ke sini, besok pagi saja."
Patrick mengangguk. "Baiklah. Terima kasih Tuan Javier. Anda sudah banyak membantu kami."
Javier menggeleng. "Tidak. Hanya ini yang dapat kulakukan untuk membayar utang budiku pada Jo yang telah menyelamatkan putriku."
***
Di ruangan VIP itu, Jo masih terlelap di atas ranjangnya. Kepalanya diperban dan alat pendeteksi detak jantung berbunyi seiring dengan bunyi jarum detik jam dinding di ruangan itu.
"Jo.. Di saat aku akan menghapusmu di hatiku, kini aku malah tidak bisa pergi jauh darimu. Kenapa Tuhan membuat takdir hidupku menjadi rumit seperti ini?" Javier tertegun di kursi di samping tubuh Jo.
Sudah tengah malam dan Javier telah menitipkan Jo pada perawat yang jaga malam. Javier harus pulang dulu ke rumahnya untuk mengganti pakaian.
Sesampainya di rumah, Javier mendapati Mary sedang packing baju.
"Hai sayang!" sapa Mary sambil terus mengepak bajunya dan memasukannya ke dalam koper.
"Kau mau kemana?" tanya Javier sambil membuka jas dan dasinya.
"Kau lupa? Aku akan ke Ethiopia untuk menyalurkan bantuan."
"Ah.. ya." Javier duduk di atas kasur menghadap Mary.
"Tadi sesuatu hampir terjadi pada Ivy," kata Javier.
"Oh ya, aku sudah mendengar ceritanya dari Nany. Syukurlah Ivy baik-baik saja," kata Mary sambil memasukkan sepatu yang akan dia bawa ke dalam koper.
"Dan orang yang menolong Ivy dia terluka parah!" Javier meninggikan volume suaranya.
"Hei.. what's the problem?" Mary menghentikan aktivitasnya dan mulai memperhatikan suaminya.
"Kau tidak akan menunjukkan empatimu pada orang yang menolong anakmu sendiri?" tanya Javier.
Mary mengangguk. "Ohh tentu. Aku akan mengirimkan cek padanya melalui asistenku."
Javier menggeleng dan mulai kehabisan kesabaran. "Mary, segala sesuatu di bumi ini tidak selalu dapat dibayarkan dengan uang!"
"Apa katamu?"
Mary meninggikan nada suaranya. "Jadi maumu apa? Aku harus ke sana dan berterima kasih padanya? Aku yakin bukan hanya ucapan terima kasih yang dia butuhkan!"
Javier menghela nafas dan tidak tahu lagi harus seperti apa menghadapi Mary. "Malam ini aku akan di rumah sakit."
"Kenapa? Yang harus bertanggung jawab padanya kan si penabrak?"
"Yang menabraknya meninggal tadi siang."
Mary terdiam. "Kemana keluarganya?"
"Dia tidak punya keluarga."
Javier masuk ke dalam kamar mandi dan mandi air hangat untuk mengusir kejengkelannya pada Mary.
Mary pun tak ingin berdebat dengan suaminya. Dia kembali menyelesaikan packing kemudian tidur.
Setelah Javier selesai mandi dan berganti pakaian menjadi lebih casual, Javier mendapati Mary sudah tertidur. Dia pun memeriksa Ivy dan putrinya pun sudah tertidur. Setelah merasa aman dengan kondisi keluarganya, Javier kembali bertolak menuju rumah sakit.
Javier terkejut saat melihat Jo sudah sadarkan diri ketika dia sampai di ruangan VIP.
"Jo, bagaimana keadaanmu?" tanya Javier lalu duduk di kursi di samping Jo.
"Kepalaku masih sakit," kata Jo dengan suara yang lemah.
"Jangan banyak bergerak, istirahatlah."
"Kenapa kau ada di sini? Mana Patrick?"
"Aku sudah menyuruhnya pulang. Malam ini aku yang akan menjagamu."
"Ah.. tidak usah. Kau punya keluarga yang harus dijaga."
Javier menatap dengan tatapan tajam. "Satu-satunya yang harus kujaga saat ini adalah kau, Jo."
Jo terdiam seketika. Baiklah aku tidak akan membantah lagi.
Javier duduk di sofa dan mulai menyiapkan tempat untuknya tidur.
"Um.. apa kau akan tidur di sini?" tanya Jo.
"Dimana lagi selain di sofa ini?" Javier malah balik bertanya.
"Ohh.. oke," Jo sangat tidak terbiasa ada orang asing tidur dekat dengannya. Apalagi orang itu adalah Javier. Laki-laki beristri yang selalu membuatnya serangan jantung.
"Um.. bolehkah kau memanggilkan perawat?" tanya Jo seraya berusaha meraih tombol pemanggil perawat.
Javier menghampiri. "Ada apa?"
Jo merasa tidak nyaman dengan kateter yang terpasang di saluran kemihnya saat ini dan Jo tidak bisa mengatakan itu pada Javier.
"Tolong panggilkan saja, please?"
Tanpa banyak bertanya lagi, Javier menekan tombol dan tak lama seorang perawat datang.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat wanita itu.
Jo mengisyaratkan sesuatu, kemudian perawat itu mendekat dan Jo membisikan sesuatu kepada perawat.
"Ohh begitu. Baiklah," kata perawat itu lalu melirik Javier. "Tuan bisakah Anda membantuku untuk mengangkat tubuh istri Anda?"
Hah? Istri? Kenapa perawat itu berani menyimpulkan itu? Dia bukan suamiku!
Tanpa protes dengan ucapan perawat itu, Javier segera melakukannya. Dia mengangkat tubuh Jo dan Jo kembali merasa serangan jantung. Jantungnya berdetak cepat dan dia merasa sulit bernafas.
"Ya, cukup Tuan," kata perawat itu setelah posisi Jo pas untuk melakukan tindakan. "Tolong buka selimutnya Tuan,"
Hah? Apa?! Jo merasakan dia sedang tidak memakai celana saat ini. Bajunya saja hanya selembar kain hijau berlengan.
"Stop!" kata Jo.
Javier hampir saja melakukannya kalau Jo tidak menghentikan. Perawat itu tertegun dan memperhatikan Jo dan Javier.
"Apa kalian bukan suami istri?" tanya perawat itu.
"Bukan!" seru Jo yang mukanya sudah memerah.
"Oh, haha maaf!" perawat itu tertawa. "Maaf Tuan, kalau begitu Anda tunggu di luar saja."
"Baiklah."
Haaaaa!!! Memalukan sekaliiii!!!!!
♧♧♧