
Jo berjalan bergandengan tangan dengan Daniel di bandara internasional. Hari ini Daniel harus pergi ke Jerman untuk pekerjaannya. Di depan pintu keberangkatan, mereka pun berhenti karena sudah saatnya mereka berpisah. Daniel memeluk tunangannya beberapa lama.
“Aku akan merindukanmu,” kata Daniel.
“Aku juga,” balas Jo.
Daniel melepaskan pelukannya, kemudian menempelkan bibirnya pada bibir Jo. Ciuman perpisahan sebelum dia naik pesawat. Ciuman yang entah kenapa dia merasakan bahwa ciuman itu adalah ciuman terakhirnya. Daniel menempelkan batang hidungnya pada dahi Jo setelah ciuman penuh cinta dari Daniel itu berakhir.
“Kabari aku jika kau sudah sampai,” ucap Jo.
Daniel mengangguk, kemudian berjalan menyeret kopernya.
“Daniel,” kata Jo saat Daniel mulai menjauh darinya.
Daniel berbalik.”Ya?”
“Maafkan aku,” kata Jo dari hati yang terdalam.
Daniel tersenyum. “I love you.”
Jo tersenyum. Kemudian menatap Daniel berna-benar pergi.
Setelah dari bandara, Jo pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli keperluan bulanan. Di pusat perbelanjaan, Jo berkeliling di toko pernak-pernik dan dia begitu terkejut sekaligus senang ketika melihat Ivy dan Nany sedang berada di toko yang sama.
Jo mendekat untuk menyapa. “Hai,”
Nany dan Ivy berbalik.
“Ah! Nona Jo?” ucap Nany dengan raut wajahnya yang terlihat senang.
Jo melirik Ivy yang sudah lebih tinggi dari terakhir kali dia melihatnya. Ivy tidak memeluknya seperti biasa, dia sudah lebih anggun sekarang.
“Kau masih mengingatku?” tanya Jo pada Ivy.
Ivy tersenyum manis. “Tentu, Jo.”
Jo membuka kedua lengannya, barulah Ivy memeluknya.
“So, kalian mau membeli apa?” tanya Jo setelah pelukannya dengan Ivy berakhir.
“Daddy berulangtahun hari ini, kita mau membelikannya hadiah,” jawab Ivy
Jo tersenyum kikuk, Javier berulangtahun dan dia sudah menyakiti hatinya kemarin. Dia harus menebus kesalahannya.
“Baiklah, kalau begitu aku pun ingin memberi Daddymu hadiah. Boleh aku titipkan padamu?” tanya Jo pada Ivy.
“Kenapa kau tidak datang saja ke pesta ulangtahun Daddy malam ini?” Ivy malah mengundangnya.
Jo melirik Nany yang mengangguk.
“Baiklah,” kata Jo akhirnya.
Mereka pun berkeliling mencari hadiah untuk Javier. Mata Jo tertuju pada sebuah mug. Sebuah mug untuk kopi dengan tulisan “Forgive Me”. Jo mengambilnya untuk dijadikan sebagai permohonan maafnya. Setelah selesai berbelanja, mereka bertiga makan siang bersama atas undangan dari Jo.
“Really?” Ivy terbelalak saat mendengar Jo menceritakan petualangannya di Australia menyelamatkan hewan-hewan kelaparan di hutan.
Jo mengangguk. “Kasihan sekali hewan-hewan itu.”
“Aku ingin menjadi volunteer juga sepertimu Jo,” kata Ivy.
“Setelah kau dewasa nanti, kau boleh melakukannya,” balas Jo.
Ivy mengangguk antusias. Meskipun Ivy sudah banyak berubah, namun sikap manisnya masih tetap sama.
***
Ivy berlari membawa tabletnya dan menghampiri ayahnya di halaman belakang.
“Daddy! Ini Mommy!” teriak Ivy.
Javier duduk di kursi dan mendudukkan putrinya di pangkuannya dan menatap layar tablet yang menyala. Sebuah video call dari Mary.
“Hai, happy birthday!” seru Mary dengan wajah yang ceria.
“Hai, thank you!” balas Javier. “Kau tidak bisa datang?”
“Maaf, aku dengan di Argentina. Aku sebenarnya ingin sekali merayakan ulangtahunmu bersama kalian,” jawab Mary.
“It’s oke Mommy!” ucap Ivy.
“Kalau begitu, selamat bersenang-senang. Bye bye!” kata Mary mengakhiri sambungan video callnya.
Jo turun dari mobilnya di halaman rumah Javier. Jantungnya berdegup kencang saat dia turun dari mobilnya dengan kado kecil di tangannya. Rumah Javier tampak sepi, sepertinya pesta ulangtahun yang dikatakan Ivy hanya pesta kecil-kecilan. Untungnya, Jo tidak dandan berlebihan malam ini.
Ding Dong
Bel rumahnya berbunyi, Javier mengernyitkan dahi dan menatap Ivy yang tersenyum.
“Aku mengundang seseorang Daddy, boleh?” kata Ivy.
“Siapa?”
“Kau akan melihatnya sendiri!” Ivy turun dari pangkuan ayahnya dan berlari menuju pintu.
Javier menghentikan Nany yang lewat untuk menata makanan di meja.
“Siapa seseorang yang Ivy maksud?” tanya Javier pada Nany.
Nany tersenyum jahil pada Javier. “Kau akan mengetahuinya sendiri, Tuan!”
Tak lama, Ivy pun datang menggandeng lengan Jo. Javier segera berdiri dan terlihat kikuk melihat kedatangan Jo di malam ulangtahunnya. Terlebih setelah kejadian ciuman dua hari lalu, dan kejadian penolakan Jo kemarin siang. Jo pun tak kalah kikuk di hadapan Javier.
“Hai,” sapa Javier.
“Daddy, kau masih ingat Jo?” tanya Ivy.
Javier menatap Jo dengan tatapan penuh makna. “Tentu.”
Javier menerimanya. “Terima kasih.”
Tak lama kemudian, Nany pun datang sambil mendorong meja saji dengan kue dan lilin yang menyala di atasnya. Ivy terlihat begitu ceria seakan malam ini adalah malam ulangtahunnya sendiri. Jo berdiri bersama Nany di hadapan Javier dan Ivy yang bersiap meniup lilin.
Javier menatap Jo, kemudian menutup matanya melakukan permintaan. Aku ingin hidup bahagia dengan orang-orang yang kucintai.
Javier membuka matanya lalu menatap Ivy. “Kau siap membantuku meniup lilin?”
Ivy mengangguk keras. Dalam hitungan ketiga, Javier dan Ivy pun meniup lilin itu sampai padam.
Jo dan Nany bertepuk tangan melihat keceriaan ayah dan anak di hadapannya. Nany segera mengambil kamera milik Javier dan memotret momen-momen indah itu.
“Potong kuenya Daddy!” teriak Ivy.
Javier pun memotong kuenya, kemudian menyuapi Ivy dalam satu potongan besar. Setelah Ivy mendapat suapan kue dari ayahnya, dia segera berlari dan menarik Jo sampai di hadapan ayahnya.
“Suapi Jo kue juga Daddy!” kata Ivy.
Jo mulai merasa bingung dengan apa yang harus dilakukan. Javier menuruti apa kata putrinya, dia memotong kue dan menusuknya dengan garpu kemudian melayangkannya menuju mulut Jo. Jo pun mau tidak mau membuka mulutnya dan melahap suapan kue dari Javier.
Tak lupa Nany pun memotret momen itu. Mereka mulai menikmati malam bersama dengan bermain kembang api dan menikmati makanan sambil mengelilingi api unggun.
“Jo, kau memiliki cincin yang indah!” seru Ivy yang duduk di samping Jo.
Jo menatap Javier yang duduk di hadapannya terhalang api unggun. Javier balas menatap. Javier mulai merasakan apa yang dirasakan Jo di masa lalu. Mencintai milik orang lain ternyata tidak enak rasanya.
Jo kembali melirik Ivy, lalu mengeluarkan cincin dari jari manisnya. “Kau mau mencobanya?”
Jo memasukkan cincinya di jari manis Ivy. Ivy tersenyum melihat jarinya dihiasi cincin yang ukurannya terlalu besar banginya.
Ivy berdiri lalu menari-nari. “Indahnya!!”
Pluk!
“Ops!” seru Ivy.
Cincin itu terlepas dari jari Ivy dan jatuh entah kemana. Jo, Nany dan Javier yang melihatnya mulai kalang kabut turun tangan menyisir rerumputan untuk mencari kemana cincin itu jatuh.
“I’m so sorry Jo,” ucap Ivy dengan perasaan bersalahnya.
“Tidak apa-apa Ivy, itu hanya sebuah cincin!” kata Jo sambil mencari-cari kemana perginya cincin yang sialnya, adalah cincin tunangannya.
Javier melihat kerlipan berlian dan menemukan cincin itu. “Ini dia!”
“Horee!! Kau menemukannya Daddy!” teriak Ivy.
Jo dan Nany bernafas lega, menghentikan pencariannya. Javier berjalan mendekat sampai di hadapan Jo. Mereka kembali berada di suasana yang kikuk. Jo mengulurkan telapak tangannya, bermaksud meminta cincinnya kembali. Javier menarik tangan kiri Jo, kemudian memasangkan cincin itu ke jari manisnya seakan dia yang kini bertunangan dengan Jo.
Prok! Prok!
Jo dan Javier melirik Ivy yang bertepuk tangan. Nany sangat peka akan situasi ini, kemudian mendekati Ivy.
“Ivy, saatnya tidur. Besok kau harus bangun pagi untuk sekolah!” kata Nany.
Ivy mengerucutkan bibirnya, lalu mendongak pada ayahnya. ”Daddy, bolehkah besok aku bolos sekolah?”
Javier mengangkat sebelah alisnya memandang putrinya yang mulai memiliki egonya sendiri. Javier menggeleng. “Tidak nona manis, kau harus sekolah dan menjadi gadis yang sukses!”
“Huuhh!” Ivy menurunkan kedua bahunya berat. “Baiklah!”
Jo tertawa melihatnya. Ivy pun kemudian memeluk Javier dan Jo bergiliran, kemudian masuk ke dalam rumah bersama Nany.
Javier menoleh pada Jo yang terlihat bingung. “Mau bir?”
“Tentu.”
Javier membawakan dua botol bir kemudian memberikan salah satunya pada Jo. Mereka berdua duduk di kursi menghadap api unggun yang masih menyala dengan sebotol bir di tangannya masing-masing.
“Mary tidak datang?” tanya Jo, membuka percakapan.
“Dia sedang dalam misi sosialnya di Argentina,” jawab Javier.
“Apa kalian baik-baik saja?”
Javier mengerti apa yang Jo maksudkan. “Hubungan kami menjadi lebih baik setelah berpisah. Dan Ivy, kau melihatnya? Dia masih tetap ceria seperti dulu!”
Jo tersenyum. “Baguslah kalau begitu.”
Mereka berdua kembali terdiam.
“Aku mau minta maaf,” kata Jo kemudian.
Javier mengernyitkan dahinya. “Maaf? Untuk?”
“Maaf jika aku telah menyakitimu,” jawab Jo kemudian menatap Javier.
Javier mengangguk. “Aku pun ingin meminta maaf padamu.”
“Untuk apa?”
“Kini aku tahu rasanya menjadi dirimu sewaktu aku masih berstatus seorang suami. Ternyata rasanya begitu menyakitkan, mencintai seseorang yang bukan milik kita.”
Jo terdiam. Kini dia telah menyakiti dua hati, Daniel dan Javier. Semakin rumitlah kisah ini.
***
Javier keluar dari pintu lift dengan wajah yang berseri-seri sambil menenteng mug hadiah dari Jo semalam. Para tim kampanyenya sudah memberinya kado dan ucapan kemarin, tapi Javier merasakan bahwa hari ini masih menjadi hari spesialnya. Di depan ruangan Javier, Tom berdiri menyambutnya.
Javier menempelkan mug di tangannya ke dada Tom dan Tom pun meraih mug yang disodorkan Javier dan menatapnya bingung.
“Buatkan aku kopi!” ucap Javier, sambil tersenyum kemudian masuk ke dalam ruang kerjanya.
Tom semakin bingung dengan mood atasannya dan mug yang nampaknya begitu spesial.
***