Cause I'M Yours

Cause I'M Yours
Villa Del Phia



"Ah Tuan, apa kau ingin mengunjungi villamu?" tanya Jacob.


"Ah iya. Setelah villa itu dibangun, aku belum sempat mengunjunginya," jawab Jacob.


"Kalau begitu," Jacob merogoh saku mantelnya. "Kebetulan kemarin aku baru selesai membersihkannya. Ah, ini dia!" Jacob mengambil kunci villa yang masih tersimpan di mantelnya.


"Tuan Jacob!" seorang lelaki berlari menghampiri. "Istriku sudah melahirkan! Dia ingin kau menamai bayinya!"


"Bah! Kau kan ayahnya!" tolak Jacob.


"Ini kehormatan bagi kami Tuan!" kata lelaki itu.


"Hahaha! Jo, kau temani Tuan Javier ke villa di tengah hutan. Aku harus memberi nama pada warga baruku! Hahaha" kata Jacob pada Jo.


Jo dan Javier beradu pandang. "Baiklah."


"Maaf Tuan, aku tidak bisa menemanimu lagi. Jika kau ingin bermalam di villa itu, bilang pada Jo biar dia membersiapkan makan malammu," tambah Jacob yang dibalas senyuman Javier.


Jacob pergi bersam laki-laki itu. Jo dan Javier pun pergi meninggalkan bibi.


"Ah... mereka berdua kelihatan cocok. Kalau saja Tuan Javier belum menikah!" ucap bibi sambil menatap punggung Javier dan keponakannya yang sudah jauh.


***


Mereka sampai di kawasan hutan. Pepohonan rindang menghiasi jalan setapak. Bunyi ranting yang retak terdengar seiring mereka melangkahkan kaki.


"Inilah hutan yang kau selamatkan Tuan Javier," kata Jo memulai obrolan sambil terus berjalan.


Javier terkekeh. "Panggil saja aku Javier, Jo."


Jo melirik ke arah Javier di samping kirinya. "Baiklah."


"Lagipula aku tidak menyelamatkan hutan ini. Mereka sendiri yang bodoh. Melakukannya dengan cara kotor," jelas Javier.


"Well, anda hebat," puji Jo.


Javier senang mendengarnya. "Jadi, kau mau menjabat tanganku sekarang?"


Jo terhenyak mendengar itu. Dia ingat janjinya saat di gedung parlemen. Mereka berdua berhenti. Jo mengusap telapak tangan pada kemejanya lalu mengulurkan tangannya pada Javier dan mereka saling berjabatan tangan.


"Terima kasih," kata Jo.


Javier tersenyum manis. "You're welcome."


Mereka pun sampai di villa tengah hutan. Villa kecil itu terlihat sangat nyaman. Di dalamnya hanya ada satu kamar tidur, toilet dan dapur serta ada perapian di ruang tengah.


"Kau membuat villa di sini lima tahun lalu?" tanya Jo sambil melihat-lihat kondisi dalam villa yang terawat.


"Ya. Sewaktu kunjungan pertamaku ke sini," kata Javier lalu memasukkan ranting-ranting kering ke dalam perapian dan membakarnya.


Seluruh ruangan menjadi hangat saat perapian itu menyala.


"Untuk apa? Desa ini bukan desa tujuan wisata," tanya Jo lagi.


"Untuk menenangkan diri," jawab Javier.


"Ya, lokasinya di tengah hutan ini memang cocok sekali untuk menenangkan diri," imbuh Jo.


Javier memeriksa keran air dan menyalakan lampu. Semua berjalan sempurna. Jacob merawat villanya dengan sangat baik.


"Apa kau punya nama untuk villa ini?" tanya Jo.


Javier mengernyitkan dahinya. "Untuk apa memberikan nama pada benda mati?"


"Aku memberikan nama pada barang-barang miliku. Untuk identitas."


Javier tertawa. "Baiklah, nama apa yang cocok untuk villa ini menurutmu?"


"Um... karena ini milik Senator Philadelphia, bagaimana kalau villa ini dinamakan Villa Del Phia?" saran Jo.


Javier tersenyum setuju. "Ide bagus."


"Apa kau akan bermalam di sini?" tanya Jo.


Javier masih ingin menghabiskan waktunya di sini. "Ya, aku akan bermalam di sini."


"Kalau begitu, aku akan menyiapkan makan malammu," kata Jo lalu pergi meninggalkan Javier karena di villa itu tidak ada makanan sama sekali.


Javier menghempaskan tubuhnya di atas sofa di ruang tengah. "Villa Del Phia, Ivy pasti senang liburan musim panas di sini."


Seakan teringat pada putrinya, dia pun merogoh ponselnya lalu menelpon rumah.


"Hallo?" suara Ivy terdengar nyaring dari dalam telepon.


"Hai, sayang!" balas Javier.


"Daddy! Kau ada dimana Daddy? Kau tidak pulang?"


"Maafkan Daddy sayang, Daddy ada urusan di luar kota. Besok Daddy pulang."


"Oke Daddy. Hati-hati di sana!"


"Baik Tuan Putri!"


Aku masih ada urusan di luar kota. Besok aku pulang.


***


TOK TOK TOK


Pintu villa berbunyi pukul 6. Javier membukanya dan terlihat Jo membawakan sekantong makanan yang telah disiapkan bibinya.


Javier membiarkan Jo masuk. Jo pun menyiapkan makanan yang dibawanya di dapur. Ada roti, sup ayam hangat dan buah-buahan.


Javier duduk di meja makan kecil. Mereka berdua makan malam bersama di sana.


"Wah, sup ini enak sekali!" kata Javier sambil menyeruput sayurnya.


"Ini masakan bibi," jawab Jo. "Dia adalah koki terbaik di desa ini!"


Setelah selesai makan, mereka berdua duduk di sofa di depan perapian. Javier membuat perapian tetap menyala agar dia tetap hangat.


"So, bagaimana rasanya menjadi seorang senator?" tanya Jo memulai pembicaraan.


"Umm... kau tertarik untuk menjadi senator?" Javier melirik Jo yang ada di samping kirinya.


Jo menggeleng. "Tidak. Aku selalu berada di pihak kontra dengan pemerintah."


Javier tertawa mendengarnya. "Jadi, aku sedang duduk bersama lawan politikku?"


Jo merasa aneh dengan sebutan itu.


Javier menatap perapian. "Dengan menjadi senator, kau dapat membuka peluang lebih banyak. Kau juga bisa membantu orang lebih banyak."


Jo tersenyum mendengarnya. "Kalau begitu, kau bukan pemerintah yang selalu aku lawan."


Javier melirik Jo. Mereka tertawa bersama.


"Berapa usiamu?" tanya Javier.


"Aku? Kau lancang sekali bertanya soal umur pada seorang wanita!"


"Lima tahun lalu, kau berusia berapa?"


"Dua puluh empat."


"Jadi sekarang kau berusia dua puluh sembilan."


Jo menepuk jidat kebodohannya. Javier terkekeh melihatnya.


"Masih muda tapi kau sudah bisa memberi manfaat untuk desamu sendiri. Kau akan menjadi seorang senator yang hebat kelak," kata Javier.


"Hoho.. aku tidak tertarik soal itu!" Jo bergidik mendengarnya.


"Kau sudah menikah?" tanya Javier.


"Belum aku belum menikah. Aku sangat menikmati kesendirianku saat ini," jawab Jo. Petualangannya dalam melindungi lingkungan ini membuatnya melupakan pernikahan.


Javier menatap cincin pernikahannya. "Aku sudah memiliki seorang putri. Dia berusia lima tahun."


Wait, kenapa dia curhat? batin Jo.


"Apa istri anda tahu anda di sini?" tanya Jo.


"Ya. Anakku juga tahu. Dia pasti akan senang jika ke sini," kata Javier.


"Kalau begitu, ajak dia ke sini dua minggu lagi!" seru Jo.


"Dua minggu?"


"Dua minggu lagi akan ada Farmer Festival. Aku dan teman-teman sesama aktivis mengadakan acara itu setiap tahunnya. Akan ada pasar raya, bazar makanan dan musik," jelas Jo.


Javier mengangguk. "Baiklah. Aku akan membawa Ivy ke sini."


"Ivy?" tanya Jo.


"Anakku bernama Ivy."


Jo teringat pada anak kecil yang tersesat di taman bermain beberapa minggu lalu, saat dia menjadi guru outing class. Apakah itu Ivy yang sama?


Jo melirik jam tangannya dan sudah menunjukkan pukul sembilan malam. "Aku harus pulang!"


Jo beranjak lalu membawa tas berisi wadah makanan yang sudah kosong. Javier berdiri dan mengantarkannya sampai pintu.


"Kau ingin aku antar?" tanya Javier.


Jo menyalakan senter di ponselnya dan melihat hutan yang gelap. Tapi dia malu meminta antar pada Javier. Akhirnya dia pun menggeleng. "Tidak usah! Baiklah, sampai jumpa besok! Aku akan membawakanmu sarapan!"


"Tidak usah. Biar besok aku yang akan ke rumahmu," kata Javier.


"Baiklah. Bye!" Jo pergi dari sana dan mulai berjalan dengan cepat secepat yang dia bisa.


Javier terkekeh melihatnya. Karena merasa bertanggungjawab, dia pun mengikuti Jo jauh di belakang untuk memastikan dia baik-baik saja.


♧♧♧