Cause I'M Yours

Cause I'M Yours
Hari Sabtu



Jo terbangun dari tidurnya dengan perasaan luar biasa. Tak ada rasa yang paling indah selain rasa dicintai oleh seseorang yang kita cintai. Jo masih terus mengingat apa yang dikatakan Javier.


Saat Javier bersamanya, dia adalah seorang Javier Thompson. Bukan seorang senator, bukan seorang ayah dan bukan seorang suami. Meski kerap kali dia terperangkap dengan perasaan bersalah yang tak terjelaskan.


Wanita berambut ikal itu melangkah dan membuka jendela kamarnya yang menghadap ke jalan raya. Di luar sana, Javier berdiri menatap ke arahnya dengan kedua tangan tersimpan dalam saku jaketnya.


Hari ini sudah pekan ke sekian setelah mereka menyatakan perasaannya dengan jujur. Hari Sabtu adalah hari yang selalu mereka tunggu-tunggu dalam setiap pekannya. Hanya hari Sabtu, tapi satu hari itu akan membekas bagaikan pahatan tato di atas kulit.


"Jo!" teriak Bibi Ema.


Javier sudah masuk setelah Bibi Ema membuka pintu. Jo keluar dari kamarnya dan Javier sudah duduk di meja makan bersama Bibi Ema sambil sarapan berdua.


"Jo, nanti antarkan Javier ke villa!" kata Bibi Ema.


Jo hanya membalas dengan senyuman pada Bibi, seraya berjalan ke dapur dan membuat secangkir teh hangat untuk dirinya. Javier mencuri-curi pandang pada wanita yang dicintainya. Wanita yang baru bangun tidur itu begitu menggelitik baginya saat ini.


Jo duduk di samping Bibi Ema, menghadap Javier membuatnya saling menatap.


"Bibi, entah kenapa sarapan buatanmu selalu enak. Aku tidak keberatan menyempatkan diri untuk datang ke sini setiap harinya hanya demi sarapan buatanmu," kata Javier.


Jo terkekeh mendengarnya. Hah, alasan!


Sudah tidak ada perasaan canggung lagi terhadap lelaki di hadapannya. Dia sudah menjadi bagian dari dalam dirinya.


Bibi Ema tersipu mendengar pujian itu. "Kau melebih-lebihkan Tuan Javier! Pasti juru masakmu lebih hebat dariku! Hahaha.."


Javier tersenyum sambil melirik Jo. Pandangan nakal dari seorang senator itu sungguh menggelitik.


"Lain kali, kau harus pasang tarif untuk sarapannya Bi!" kata Jo pada Bibi Ema.


"Hus! Tidak boleh bicara seperti itu pada tamu!" gubris Bibi Ema.


Oh damn! Bahkan sekarang Bibi berada di pihaknya! gerutu Jo dalam hati.


Javier merasa menang dengan senyuman itu. Sepertinya, kau ingin bermain nakal padaku. Baiklah, lakukanlah sesuka hatimu!


Jo berdiri. "Aku buka kios dulu Bi!"


Jo segera turun dan mulai mencari-cari keranjang kubis yang harus dia keluarkan terlebih dahulu. Tak lama, seseorang memeluknya dari belakang.


Refleks, Jo segera menghardik perut orang itu dengan sikutnya yang tak lain adalah Javier.


"Aw!" Javier memegang perutnya.


"Apa yang kau lakukan!" teriak Jo dengan volume suara yang tertahan agar Bibi Ema tidak mendengar.


"Kau bertingkah aneh hari ini!" sahut Javier dengan menirukan volume suara yang tertahan.


"Tidak, aku tidak bertingkah aneh!"


"Itu! Kau sangat aneh!"


Jo berbalik dan berusaha menahan diri agar tidak tertawa. Tapi usahanya sia-sia. Dia sudah tertawa dan sialnya tawanya sudah terdengar oleh lelaki itu.


Javier menggeleng sambil menghela nafas merasa tak habis pikir dengan wanita di hadapannya. Hal kecil dan aneh yang dilakukan Jo, membuat Javier semakin mencintainnya.


"Awas kau!" ancam Javier.


Javier terkekeh lalu segera menyelesaikan tugas Jo untuk membuka kios, dan segera membawa wanita itu ke villanya untuk balas dendam atas kelancangannya hari ini.


***


Jo dan Javier berjalan beriringan di balik rerimbunan hutan lebat. Mereka berjalan menuju villa del phia, sarang cinta mereka. Dalam satu bulan sekali, Javier akan menghabiskan hari Sabtu di villa sedangkan Sabtu lainnya Jo pergi ke apartemen rahasia yang dimiliki Javier di pusat kota.


Mereka sudah membuat aturannya sendiri untuk menyalurkan perasaan mereka satu sama lainnya. Dalam urusan menelpon, Jo tidak pernah memulai menelepon. Selalu Javier yang melakukannya agar situasi tetap aman.


"Apa besok kau ada waktu?" tanya Javier.


Jo menoleh. "Besok? Bukankah waktu kita hanya hari Sabtu?"


"Besok aku dan Ivy berencana untuk pergi ke taman bermain. Dia pasti senang kalau kau ikut."


Jo menghentikan langkahnya. Dia sudah lama tidak bertemu dengan si manis Ivy. Tapi ada rasa ragu di hatinya. Dia akan merasakan bersalah pada gadis kecil itu karena ayahnya mencintainya.


"Apa kau yakin?" tanya Jo.


Javier berbalik dan menghadap Jo. Dia menyempilkan rambut Jo ke daun telinga sebelah kanannya, lalu mendekat. "Aku jamin segalanya akan berjalan lancar."


Jo tersenyum lalu mengangguk sebagai tanda persetujuan. Javier ikut tersenyum, lalu berusaha mencium bibir Jo tapi segera Jo hentikan karena takut ada yang melihat.


Javier menghela nafas, lalu menggenggam tangan Jo dan mengajaknya berlari agar mereka sampai di villa lebih cepat.


Jo berlari dengan tersenyum seraya menatap genggaman tangan Javier. Sampai kapan tangan ini dapat kugenggam?


BRAK


Pintu villa tertutup kencang setelah mereka berdua masuk ke dalamnya. Tak banyak menunggu waktu, Javier segera mencium bibir Jo dengan ganas.


Rasa rindu yang dipendam selama seminggu, membuat mereka begitu bergairah. Bibir mereka masih bertautan bahkan sampai mereka masuk ke dalam kamar.


Javier mengangkat tubuh Jo lalu menidurkannya ke atas kasur. Helai demi helai kain terbuka begitu saja membuat mereka dapat melihat keindahan tubuh pasangannya satu sama lain.


Bahu dan punggung Javier yang bidang dan berotot adalah bagian yang paling indah dipandang bagi Jo. Leher jenjang yang dimiliki Jo selalu menjadi area kesukaan Javier saat mengeksplor tubuh kekasihnya dan dia selalu meninggalkan jejaknya di sana.


Bercinta dengan cinta selalu terasa begitu menggebu. Selain itu, ada perasaan sedih dalam waktu bersamaan dalam hati mereka ketika melakukannya.


Sedih karena mereka tidak dapat melakukannya setiap saat mereka menginginkannya. Sedih karena mereka terhalang tembok takdir yang begitu tebal untuk ditembus. Rasa sedih itu membuat perasaan mereka menyatu begitu dalam.


Javier mencium kening Jo setelah mencapai puncak kenikmatan. Sialnya, rasa cintanya semakin bertambah setelah selesai melakukannya, membuat mereka semakin tidak dapat berpisah.


"I love you," bisik Javier pada Jo yang tertidur dalam pelukannya.


Perlahan Javier beranjak dari atas ranjangnya. Dia menutupi tubuh kekasihnya yang polos dengan selimut sampai menutup leher yang penuh dengan tanda merah.


Hubungan terlarang itu sudah berjalan hampir satu tahun, tapi dia tidak pernah merasa bosan pada Jo. Wanita itu adalah wanita yang diinginkannya. Pertemuan dengannya seolah recharge energi dari penatnya dunia.


Javier berdiri menatap kaca jendela, "Aku adalah lelaki pecundang yang telah menyakiti dalam kedok mencintaimu Jo. Aku bahkan tidak dapat menggenggam tanganmu di hadapan semua mata. Maafkan aku."


Rasa itu akan selalu menjadi beban dari hubungan itu. Tapi Javier selalu dapat menanggungnya selama dia masih bisa bersama dengan cintanya, Joana March.


♧♧♧