Cause I'M Yours

Cause I'M Yours
Kebenaran



Elena segera mengangkat ponselnya begitu Jo menelepon balik setelah beberapa kali dia menelepon tidak diangkat.


“Jo!” seru Elena dengan nada penuh penekanan.


Elena mengucek kedua kelopak matanya, kemudian duduk di atas tempat tidurnnya. “Elena, ada apa?  Aku baru bangun tidur,” kata Jo dengan nada malasnya.


“Jo! Kau masih bisa kembali pada Javier!”


Jo langsung tersadar dari rasa kantuknya begitu mendengar nama Javier disebut. “Elena, apa maksudmu?”


“Ternyata Mary mengkhianati Javier!” seru Elena seakan dia telah memecahkan sebuah kasus kriminal terbesar atau rumus matematika tersulit sepanjang sejarah.


“Kau tahu dari mana?”


“Aku bertemu asisten pribadi Tuan Javier yang bernama Tommy  tadi siang. Dia yang melihat


dengan mata kepalanya sendiri tentang perselingkuhan Mary!”


“Apa Tom sudah memberi tahu soal itu pada Javier?”


“Belum. Tom masih harus mengumpulkan bukti perselingkuhan Mary.”


“Oh begitu,” ucap Jo datar.


Elena merasa aneh dengan Jo yang tidak terdengar antusias dengan cerita perselingkuhan Mary. “Apa jangan-jangan kau sudah mengetahuinya?”


“Ya. Aku sudah tahu.”


Elena terbelalak. “Kau tidak mengatakannya pada Javier?”


“Untuk apa? Agar Javier kembali padaku dan meninggalkan keluarganya?” Jo menggeleng. “Tidak Elena. Aku tahu, aku dan Javier telah melakukan sebuah kesalahan. Aku tidak akan mencari pembenaran dengan kesalahan orang lain. Perselingkuhan Mary, bukanlah urusanku. Aku peringatkan, kau pun jangan sampai terlibat.”


Elena menyayangkan hubungan Jo dan Javier yang sudah bagaikan Romeo dan Juliet, tapi apa yang dilakukan Jo sudah tepat. “Hm… baiklah jika itu maumu. Bagaimana kabarmu dengan Daniel?”


“Kami baik-baik saja. Daniel sangat baik padaku.”


Elena menghela nafas. “Syukurlah kalau begitu. Apa kau bahagia?”


Jo terdiam. Pertanyaan yang sama, dia lemparkan untuk dirinya sendiri. Apakah aku bahagia?


“Ya,” jawab Jo.


Elena tahu betul Jo tidak yakin dengan apa yang dikatakannya. “Kuharap kebohonganmu itu menjadi sugesti sehingga menjadi kenyataan.”


Jo terdiam.


***


Tom bergerak sangat cepat dalam penyelidikannya. Dia sudah dapat melacak jadwal pertemuan Mary dengan Alfonso di salah satu hotel terbesar di Philadelphia. Tom masuk ke dalam ruang sekuriti hotel itu dengan memperlihatkan lencana kepolisian yang dia dapatkan dari salah satu rekan detektifnya.


“Ada yang bisa saya bantu Tuan?” tanya salah seorang sekuriti.


“Saya ingin meminta rekaman CCTV untuk kepentingan penyelidikan,” jawab Tom.


Sekuriti itu pun mengiyakan permintaan Tom berkat lencana itu. Dia sudah mengantongi bukti perselingkuhan Mary melalui rekaman CCTV, termasuk rekaman yang ada di gedung kantornya saat Tom memergoki mereka di basement. Saatnya mencari waktu yang tepat untuk melaporkannya pada Javier.


***


“Apa kau pernah pergi ke Jerman?” tanya Daniel pada Jo di salah satu café di pusat kota Sydney.


Hari ini adalah hari tenang. Banyak para volunteer yang memanfaatkan waktu tenangnya untuk jalan-jalan atau untuk apapun itu, termasuk kencan seperti ini. Jo berdandan sefeminim mungkin, diluar kebiasaannya yang selalu tampil casual.


Jo menggeleng. “Aku belum pernah menginjakkan kakiku di daratan Eropa.”


“Kau pasti suka! Suatu hari nanti, aku ingin mengajakmu ke sana,” kata Daniel.


Jo mengangguk. “Aku tidak sabar menunggu hari itu tiba.”


Daniel tersenyum lebar, kemudian menggenggam tangan kanan Jo. “Apa kau mencintaiku?”


Jo tidak siap dengan pertanyaan itu. “Kenapa kau bertanya hal itu?”


Jo menjawab dengan logikanya. “Aku tidak mungkin menerimamu, jika aku tidak mencintaimu.”


Daniel menarik tangan kanan Jo yang berada di genggamannya itu, kemudian mencium jari jemarinya. “Entah kenapa, aku masih belum yakin kalau kau memiliki perasaan yang sama denganku.”


Shit!


“Daniel, maafkan aku. Sejujurnya, aku masih mencoba untuk mencintaimu,” akhirnya Jo berkata jujur.


Daniel masih tersenyum meski mendengar hal yang sebenarnya menyakitkan baginya. “Baiklah, aku akan membuatmu mencintaiku.”


“Bagaimana jika aku menyakitimu?”


“Asalkan kau bahagia, aku tidak keberatan disakiti olehmu.”


Mendengar itu, melihat wajah itu, membuat Jo semakin tidak tega terhadap Daniel. Jo memalas genggaman tangan Daniel. Dia berharap dapat mencintai lelaki di hadapannya itu dan melangkah menuju masa depan bersama. Jo sudah menata hati dan pikirannya untuk membiarkan Javier bahagia bersama keluarganya.


***


Tom sudah mengopi soft file dari rekaman CCTV yang merupakan bukti perselingkuhan Mary ke dalam sebuah CD. Dalam hatinya, dia mulai ragu dengan apa yang akan dilakukannya ini. Membongkar perselingkuhan itu sama dengan memporak-porandakan rumah tangga tuannya. Namun kebenaran harus tetap ditegakkan.


Tom masuk ke dalam ruangan Javier kemudian menyimpan CD dalam amplop cokelat di tangannya di atas meja. Saat ini, Javier sedang tidak ada di tempat. Dia sedang menghadiri undangan dari rekan politiknya untuk mendulang dukungan.  Tom pun keluar dari kantornya dan pergi menemui Elena di coffee shop di lantai 1 yang masih ada di dalam gedung kantornya.


Elena melambaikan tangannya saat Tom masuk ke dalam coffee shop dan terlihat mencarinya. Tom pun tersenyum saat melihat Elena, kemudian menghampirinya di meja dekat kaca jendela besar yang menghadap ke pemandangan luar coffee shop.


“Apa kabarmu?” tanya Tom setelah duduk di hadapan Elena.


Elena tersenyum. “Baik. Kau?”


“Well, perasaanku saat ini sedang tidak terlalu baik.”


Elena mengernyitkan dahinya. “Kenapa?”


“Aku sudah mendapatkan bukti-bukti soal perselingkuhan Nyonya Mary dan aku sudah menyimpannya di atas meja Tuan Javier.”


“Lalu, apa yang membuat perasaanmu tidak enak?”


“Meskipun tujuanku adalah mengungkap kebenaran, bukankah dampaknya rumah tangga mereka akan berantakan?”


Elena mengangguk dan mengerti akan perasaan Tom saat ini. “Kemarin malam aku menelepon Jo.”


“Bagaimana?”


“Sepertinya Jo pun tidak akan kembali pada Javier.”


“Kenapa? Bukankah mereka saling mencintai?”


“Ya. Itu sudah positif seratus persen. Tapi, Jo bilang dia tidak akan kembali pada Javier dengan mencari pembenaran dari kesalahan Mary.”


Tom mengangguk, kemudian menelaah kalimat yang diucapkan Elena barusan.


“Kita mulai memesan?” tanya Elena kemudian memanggil pelayan.


Pelayan itu pun datang dengan kertas dan ballpoint.


“Aku ingin Latte dan satu slice red velvet cake,” kata Elena.


“Anda Tuan?” tanya pelayan itu.


“Americano double shots,” jawab Tom.


Tak lama setelah pelayan itu pergi, Tom berdiri. Elena mendongak dan bingung dengan apa yang dilakukan Tom.


“Elena, apa yang dikatakan Jo benar. Tunggu dulu sebentar!” Tom keluar dari coffee shop dan masuk ke dalam lift dan menekan tombol angka 4.


Sesaat setelah pintu lift terbuka, Tom segera berlari menuju ruangan Javier. Dia akan mengambil kembali CD itu dan tidak akan mengungkapkan kebenaran itu pada Javier. Mengetahui kebenaran itu, hanya akan membuat Javier semakin hancur. Tom membuka pintu ruangan Javier dan matanya terbelalak begitu melihat Javier duduk di meja kerjanya, dengan laptop yang menyala dan amplop coklat berisi CD bukti perselingkuhan Mary terbuka.


***