Cause I'M Yours

Cause I'M Yours
Permainan Steve



Ruangan serba gothic itu sangat sepi saat siang hari. Steve duduk di meja bar dengan setumpuk kertas. Steve tersenyum melihat foto-foto di genggaman tangannya. Wajah Javier, Jo serta Ivy terlihat bahagia dalam foto itu.


"Hah! Happy family!" ucap Steve sambil cekikikan.


Dia menatap pria kurus bertopi di depannya lalu memberikan amplop tebal berisi dolar.


Pria kurus itu menerimanya lalu mengintip dolar yang berada di dalamnya. "Terima kasih Bos!"


"Kerja bagus. Lanjutkan. Berikan aku foto yang lebih bagus nanti!" ucap Steve.


"Siap Bos!" pria itu lalu pergi.


"Brenda!" Steve memanggil bartender berambut pirang yang merangkap sebagai asistennya.


Wanita yang di panggil mendekat. "Ya?"


"Bagaimana kalau kita mengadakan pesta?"


Brenda tersenyum. "Pesta seperti apa yang kau mau?"


"Bagaimana kalau kita membuat pesta dansa?"


"Pesta dansa seperti apa?"


"Pesta dansa dengan para tamu dari kalangan pejabat dan sosialita. Gaun, tuxedo dan topeng," ucap Steve sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya layaknya seseorang yang berdansa.


"Tidak ada DJ?" tanya Brenda yang merasa heran dengan keinginan tuannya itu.


Steve menggeleng. "Bawakan aku orchestra kali ini."


"Baiklah."


***


Mary duduk di meja kerjanya di kantor Yayasan Sosial miliknya dengan laptop yang menyala.


TOK TOK


"Masuk!" sahut Mary.


Seorang sekertaris muncul dari balik pintu. "Nyonya, ada tamu untuk Anda."


"Baiklah, suruh dia masuk."


Tak lama, Steve dengan stelan formalnya masuk dan sekertaris yang mengantarnya pergi. Mary turun dari meja kerjanya dan menghampiri tamu yang terasa asing baginya.


"Selamat siang, Nyonya Mary Thompson! Perkenalkan saya Steve, pemilik club Lux." sapa Steve, mengulurkan tangannya.


Mary tersenyum lalu membalas jabatan tangan Steve. "Selamat datang Tuan Steve. Silahkan duduk!"


Steve pun duduk di sofa berwarna abu di ruangan itu. Mary duduk di sofa di hadapannya.


"Bagaimana ada yang bisa saya bantu?" tanya Mary.


"Nyonya Mary, saya tertarik sekali dengan yayasan sosial yang Anda dirikan. Saya merasa terpanggil untuk menjadi salah satu donatur di yayasan sosial ini. Bagaimana? Apakah seorang pemilik hiburan malam sepertiku berhak untuk beramal?" ucap Steve, sesuai dengan skenario yang dia rancang sebelum datang ke tempat ini.


Mary terkekeh mendengarnya. "Tentu. Tidak ada batasan untuk menjadi donatur di yayasan ini."


"Baiklah, mari kita awali ini dengan ini," Steve merogoh sakunya dan mengeluarkan cek dengan nominal seribu US Dolar. Cek itu dia simpan di atas meja lalu menggesernya ke hadapan Mary.


Mary tersenyum mendapat cek itu, lalu dia berdiri dan memanggil sekertarisnya.


"Ya? Nyonya?" tanya sekertarisnya saat masuk ke dalam ruangannya.


"Bawakan Tuan Steve minum," jawab Mary. "Apa yang kau inginkan? Kopi atau Teh?" tanya Mary pada Steve.


"Teh saja," jawab Steve.


Sekertarisnya pun keluar untuk membawakan minuman yang diminta. Mary memberikan formulir untuk Steve isi.


"Silahkan isi formulir ini."


Steve menerima formulir itu dan mengisinya sambil meminum teh yang telah disajikan di atas meja lima menit kemudian.


"Suami Anda sepertinya sangat mendukung Anda bergerak di bidang sosial ya?" kata Steve memulai obrolan lain.


Mary mengangguk meski aneh dengan pertanyaan yang personal seperti itu. "Ya. Dia sangat mendukung.


"Ya, dia senator dari Philadelphia. Sudah menjabat dalam dua periode."


"Kalian berdua pasti sangat sibuk. Apakah tidak mengganggu quality time kalian?"


Mary sudah merasa tidak enak dengan pertanyaannya. "Maksudnya?"


"Sesibuk apapun kalian, kalian harus tetap meluangkan waktu untuk berdua," kata Steve lalu merogoh sakunya lagi dan mengeluarkan selembar kartu undangan. "Malam Sabtu ini, sayamengadakan acara di Lux. Datanglah bersama suami Anda."


Mary menerima undangan itu. "Pesta dansa di club malam?"


"Ya. Khusus untuk acara itu, tidak ada Dj. Hanya ada orchestra. Jangan lupa, gunakan topeng agar lebih seruh!"


Mary terkekeh mendengarnya. "Baiklah. Aku akan datang."


"Good!" Steve berdiri.


Mary ikut berdiri. Sekali lagi, Steve menjabat tangan Mary. "Saya senang menjadi donatur di yayasan ini."


"Terima kasih sudah mempercayakan dana sosial Anda pada yayasan kami!" balas Mary.


Steve pun pergi dari sana dengan senyuman devilnya.


***


"Brenda, sayuran dan bahan makanan yang dibutuhkan sudah selesai diangkut oleh crew dapurmu," ucap Jo sambil duduk di meja bar.


"Bagus," kata Brenda.


"Sebenarnya ada acara apa? Kenapa Steve memesan bahan makanan lebih banyak dari hari biasanya?" tanya Jo penasaran.


"Oh ya! Hampir saja lupa!" seru Brenda lalu mengambil sesuatu dari laci mejanya dan menyodorkannya pada Jo.


"Akan ada pesta dansa malam Sabtu nanti. Kau harus datang!" kata Brenda.


"Pesta?" Jo langsung menggeleng keras mengingat kejadian di pesta terakhir yang dia hadiri. "Aku tidak mau mabuk lagi!"


"No! Jo, ini pesta dansa. Tidak akan ada DJ dan minuman keras. Yah, paling hanya wine. Kau harus memakai gaun dan topeng. Pasti seru!" bujuk Brenda.


Jo meraih kartu undangan itu dan membacanya dengan teliti. "Apa aku harus membawa pasangan?"


Brenda tersenyum. "Kalau punya, bawa saja."


Javier tentu tidak masuk dalam kategori yang harus diajak oleh Jo. "Kalau tidak punya?"


"Datang sendiri saja," Brenda mendekat dan mulai berbisik. "Aku pun sudah mengundang para lelaki lajang. Kau akan mendapatkan pasangan dansa di sini. Tenang saja!" Brenda mengedipkan kelopak sebelah matanya dengan nakal.


Jo tertawa melihatnya. "Hahah.. Baiklah, aku akan datang!"


"Good!"


Setelah mengantarkan sayuran, Jo segera pergi ke rumah Elena untuk meminjam gaun pesta yang cocok di acara seperti itu. Elena membongkar lemarinya dan mengeluarkan berbagai gaun koleksinya untuk dicoba oleh Jo.


"Wah, Elena! Ternyata kau punya banyak koleksi gaun?" Jo geleng-geleng melihat gaun-gaun itu di atas kasur.


"Aku sangat suka mengoleksi gaun! Meskipun aku jarang sekali ikut acara yang harus memakai gaun," kata Elena membanggakan dirinya.


Mendengar itu, Jo segera merogoh saku celananya dan membaca kembali kartu undangan yang diberikan Brenda tadi siang.


"Elena, bagaimana kalau kau ikut denganku?" tawar Jo. "Di undangan ini tercantum untuk dua orang!"


Elena mendekat dan ikut membaca kartu undangan di tangan Jo. "Kau yakin?"


"Tentu. Kata Brenda, mereka juga mengundang para lelaki lajang. Siapa tahu kau bertemu jodohmu di sana!" Jo cekikikan.


"Helloo.. kau sendiri? Kau juga lajang kan!" balas Elena.


Jo langsung menutup mulutnya dan tak memperpanjang soal itu. Elena tidak boleh tahu soal Javier. "So? Kau ikut?"


"Well... dari pada malam Sabtuku terasa sepi seperti malam-malam sebelumnya, ayo kita coba ke pesta dansa!"


"Yeesss!!" Jo teriak kegirangan.


Malam Sabtu nanti akan menjadi malam Sabtu yang seru untuk mereka berdua. Sudah lama Jo tidak merasakan hangout dengan sahabat wanitanya. Dia merindukan masa-masa liarnya sebagai seorang wanita sexy, free and single.


♧♧♧