Cause I'M Yours

Cause I'M Yours
Sorrow



Meg mengelus punggung Jo yang termenung di hadapan pusara Bibi Ema yang telah dimakamkan. Matanya sudah merah dan berat untuk sekedar berkedip. Dia masih ingin menangis, tapi air matanya sudah kering.


“Jo, Daniel sedang dalam perjalanan menuju ke sini,” bisik Meg.


Jo hanya terdiam. Elena, Patrick dan teman-teman yang dekat dengan Bibi Ema ikut merasa kehilangan sosok yang telah menjadi ibu semua orang di Desa Forks. Meg dan Chris beserta para pelayat yang lain mulai berangsur pergi. Hanya tinggal Jo di sana dan Javier yang menunggu di dalam mobilnya. Jo masih belum beranjak meski hari sudah semakin sore. Akhirnya Javier pun keluar dari mobilnya, mendekat dan merangkul Jo.


“Ayo kita pulang. Kau pasti sudah sangat lelah, kau butuh istirahat,” kata Javier.


Jo pun menurut pada Javier yang membawanya pulang. Sesampainya di rumah, Jo kemudian masuk ke dalam kamarnya lalu meringkuk di tempat tidurnya. Javier menatap kekasihnya dengan prihatin dan perasaan yang ikut merasakan apa yang Jo rasakan. Dia pun menyelimuti Jo lalu duduk di pinggiran tempat tidur.


“Aku tidak suka melihatmu seperti ini,” kata Javier.


“Ini semua salahku,” akhirnya Jo mulai membuka suaranya. “Bibi Ema pergi karenaku.”


Air matanya kembali mengalir. Javier mengelus rambut Jo dengan penuh kasih sayang.


“Kau jangan menyalahkan dirimu. Bibi Ema tidak akan menyukai itu,” tambah Javier.


Jo masih berduka atas kepergian bibinya. Bibi yang sudah membesarkannya sejak kedua orangtaunya tiada. Bibi Ema adalah pengganti kedua orangtua bagi Jo. Javier membuka jasnya dan segera berbaring di samping Jo, kemudian memeluknya, membiarkan wanita yang sangat dicintainya itu meluapkan segala kesedihannya hingga tertidur.


Javier mengecup dahi Jo dengan penuh kasih sayang. "Aku mencintaimu Jo, seandainya penderitaanmu bisa kau pindahkan padaku. Maka aku siap menanggung segalanya," gumamnya yang sudah pasti tidak akan didengar oleh Jo.


***


Jo terbangun keesokan harinya dengan rasa lelah yang luar biasa. Di sampingnya, Javier sudah tidak ada di sana. Rasanya masih seperti bermimpi.


Jglek!


Pintu kamarnya terbuka dan Daniel pun muncul. Daniel segera memeluk Jo dengan ekspresi wajah penuh kekhawatiran.


“Maafkan aku karena tidak ada di sisimu di saat kau bersedih, aku baru sampai ke sini,” kata Daniel.


Jo mengangguk dalam pelukan Daniel. "Tidak apa-apa, Daniel."


Perlahan, Daniel melepaskan pelukannya. “Bagaimana keadaanmu sekarang?”


“Aku sudah lebih baik,” kata Jo pelan diakhiri dengan seulas senyuman.


Daniel dan Jo pun akhirnya keluar dari kamar dan terlihat Elena sedang memasak di dapur membuatkan sarapan untuk sahabatnya itu.Setelah Bibi Ema tiada, rupanya dia masih memiliki orang-orang baik yang peduli padanya.


“Elena, kau tidak usah repot-repot!” kata Jo saat Elena mendekati meja makan dengan semangkuk sup ayam hangat dan secangkir teh melati.


Elena tersenyum. “Sudah, jangan sungkan-sungkan, aku tidak merasa direpotkan!” lalu Elena melirik Daniel. “Kau mau sup ayam?”


Daniel mengangguk sambil tersenyum. “Boleh, masakanmu kelihatannya enak!”


Elena tertawa kecil mendengarnya lalu mengambilkan satu porsi untuk Daniel. "Silahkan!"


Jo menikmati sup ayam yang Elena buat sambil sesekali menatap Daniel. Dia merasa ingin mengatakan kejujurannya pada Daniel saat ini juga, namun dia takut hal yang terjadi pada Bibi Ema akan terjadi pada Daniel. Ditambah batinnya sudah sangat lelah. Ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya.


Daniel menatap Jo yang begitu memprihatinkan. Hatinya sakit melihat keadaan Jo seperti ini. Di satu sisi, dia pun memikirkan Paula yang dia tinggalkan di Jerman. Dia khawatir Paula melakukan tindakan yang nekad seperti tempo hari. Dalam hatinya bagaikan terdapat sebuah timbangan dengan Jo dan Paula di kedua sisinya dan berat keduanya seimbang.


"Apa kau perlu sesuatu lagi?" tanya Elena pada Jo yang telah selesai menghabiskan sup ayam buatannya.


Jo menggeleng. "Tidak ada. Terima kasih Elena, kau boleh pergi jika ada sesuatu yang harus kau kerjakan."


"Ya, sekarang aku ada di sini untuk menggantikanmu menjaganya," tambah Daniel.


"Tentu," jawab Jo.


Elena pun pergi dari rumah itu dan membiarkan Jo dan Daniel berdua.


***


Ivy sedang asyik menggambar di kamarnya sepulang sekolah. Tak lama, Nany masuk dengan membawa segelas jus stroberi dan biskuit untuk camilan. Nany meletakkan makanan di samping meja belajar Ivy lalu melihat apa yang digambarkan oleh Ivy. Sebuah gambar semi abstrak berisi tiga orang bergandengan tangan dengan latar belakang taman bermain yang disimbolkan dengan bianglala besar.


“Wow, gambarmu bagus sekali. Apa itu Daddy, Mommy dan Ivy?” tanya Nany.


Ivy menggeleng sambil terus menggambar. “No.”


Nany mengernyitkan dahinya. “Lalu siapa?”


Ivy kemudian menunjuk gambar manusia satu per satu dengan crayonnya. “Ini Daddy, aku dan Jo. Ini sewaktu kami bermain bersama di taman bermain.”


Nany tersenyum mendengarnya. “Wow, nampaknya kau menyukai Jo.”


“Aku menyayangi Mommy, tapi aku juga suka Jo.”


Nany mengelus rambut Ivy yang panjang. “Oohh sayang, kau boleh menyukai siapapun yang baik padamu.”


Ivy mendongak. “Apa Daddy juga boleh menyukai Jo?”


Nany segera mencari-cari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Ivy. “Mmm.. Karena Mommy dan Daddy sudah tidak tinggal bersama, Daddy dan Mommy boleh menyukai siapapun yang menurut mereka akan menyayangi Ivy juga,” jawab Nany yang semoga dapat dimengerti oleh Ivy.


“Apa Jo menyayangiku Nany?”


“Menurut Nany, dia sangat menyayangimu,” jawab Nany dengan memberi penekanan saat mengucapkan  kata sangat.


Ivy tersenyum kemudian menghentikan kegiatannya sejenak untuk meminum jus stroberi favoritnya.


***


Seharian ini Daniel menemani Jo di rumah. Daniel membantu Jo mengepak barang-barang Bibi Ema untuk disumbangkan. Tanpa Jo ketahui sebelumnya, ternyata  rumah ini pun telah diwariskan Bibi Ema padanya.


“Apa yang akan kau rencanakan untuk rumah ini?” tany Daniel.


“Aku hanya akan menutup toko dan membiarkan yang lainnya seperti ini agar aku merasa bahwa Bibi Ema masih di sini,” jawab Jo.


Setelah selesai mengepak barang, mereka berdua duduk di sofa. Daniel melingkarkan lengannya pada bahu Jo sehingga membuat Jo bersandar di dadanya. Di saat seperti ini, Daniel memang selalu menjadi tempat paling nyaman untuk menenangkan diri. Jo menyayangi Daniel, begitu pun sebaliknya. Namun bagi Jo, Javier tentu satu-satunya laki-laki yang membuatnya bergairah.


“Jo,” ucap Daniel.


“Hm?” Jo mendongak.


Daniel mendekatkan wajahnya pada wajah Jo seraya menempelkan bibirnya pada bibir wanita di hadapannya itu. Jo tidak dapat mengelak karena secepat itu Daniel menguasai bibirnya. Di saat dia ingin mengatakan yang sejujurnya pada Daniel, dia malah terperangkap dengan rasa bersalah yang tidak masuk akal.


Daniel nampaknya begitu menikmati ciuman itu sampai akhirnya dia berhenti karena melihat seseorang muncul dari balik pintu.


“Hai, Javier! Sejak kapan kau ada di sana?” tanya Daniel.


Jo terkejut dan segera menoleh pada Javier yang tengah berdiri mematung di ambang pintu dengan tatapan nanar.


***