Cause I'M Yours

Cause I'M Yours
Kemenangan Mary



Keesokan harinya, Javier bangun dengan perasaan bahagia. Meskipun Mary bersamanya, tapi dia tidak kehilangan Jo. Kegilaannya semalam seakan menjadi pelepasan segala tekanan batinnya yang terpendam sedari kemarin.


Perselingkuhan sangat tidak disarankan untuk siapapun terutama bagi mereka yang tidak kuat secara mental. Jika dia dapat memilih, dia pun tidak ingin melakukannya.


Dia ingin hidup dalam pernikahan yang bahagia dengan wanita yang dicintainya. Akan tetapi, tak ada pilihan bagi Javier. Menceraikan Mary dan mengorbankan Ivy bukanlah sebuah pilihan.


"Daddy! Ayo kita memancing!" teriak Ivy yang berlari dari luar kamar.


"Oke," Javier beranjak dari tempat tidurnya kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap.


Setelah selesai, dia keluar dari kamar dan melihat Mary sedang mempersiapkan perbekalan untuk memancing. Sementara Ivy duduk di meja makan sedang menikmati sarapan paginya.


Javier duduk di samping putrinya dan mulai menikmati sarapannya.


"Kau sudah sarapan?" tanya Javier pada Mary.


"Ya, aku sudah sarapan tadi," jawab Mary seraya menyimpan tumpukan box berisi makanan di atas meja makan. "Ini untuk perbekalan kita memancing nanti," tambahnya.


"Daddy bolehkah kita mengajak Amy?" tanya Ivy.


Javier mengusap rambut putrinya penuh kasih. "Tentu honey."


"Oh ya, bagaimana kalau tidak sekalian ajak Joana juga?" usul Mary.


Javier melirik Mary heran, sedangkan Ivy mengangguk keras tanda setuju.


"Kenapa mengajak dia? Ini acara keluarga kita saja," kata Javier.


Cukup. Aku tidak ingin pusing lagi berada di antara dua wanita!


"Aaaaa. Daddy! Ajak Jo juga!" rengek Ivy.


Nak, kamu tidak tahu bagaimana menderitanya ayahmu ini.


"Kenapa kau ingin mengajaknya?" tanya Javier pada Mary.


Mary mengangkat bahunya. "Kenapa tidak? Dia orang yang kukenal di desa ini. Lagi pula dia kekasih donaturku, bisa dibilang kita berteman. Ivy juga sepertinya ingin dia ikut."


"Kau saja yang mengajaknya," kata Javier, memutuskan. Apakah dia mau atau tidak, tergantung padanya. Aku tidak ingin menambah masalah.


"Baiklah, kita ajak dia sambil menjemput Amy. Bagaimana?" kata Mary pada putrinya.


Ivy mengangguk keras. Betapa senang hatinya saat ini karena orang-orang yang disayanginya berkumpul, kecuali Nany.


Mary tersenyum. Namun jauh di balik senyumnya itu, tersimpan sebuah rencana. Dia ingin menunjukkan pada Jo keharmonisan keluarganya. Dia akan memberi pernyataan secara halus pada wanita itu bahwa, "Jangan ganggu keutuhan rumah tanggaku. Pergi sana!"


***


Mary menggandeng tangan Ivy sementara Ivy menggendeng tangan Amy dengan ceria. Mereka berjalan menuju area festival yang sudah selesai.


Terlihat beberapa orang tengah membongkar tenda dan panggung. Mary mencari-cari Jo namun tak terlihat. Akhirnya dia memutuskan bertanya pada salah seorang yang berkalung ID card panitia.


"Maaf, Joana ada di mana ya?" tanya Mary.


Lelaki yang ditanya malah mengernyitkan dahi. "Joana?"


"Oh mungkin di sini orang memanggilnya dengan nama Jo," ralat Mary.


"Oh Jo!" wajah lelaki itu bersinar, kemudian menunjuk sekumpulan orang-orang. "Itu dia!"


Mary melihat seorang wanita berambut cokelat bergelombang yang tengah berdiri membelakangi. Dia pun segera mendekati orang itu bersama Ivy dan Amy.


"Baiklah terima kasih untuk tahun ini. Semoga tahun depan kita sukses lagi!" ucap Jo, membubarkan awak panitia.


Mereka bubar jalan setelah bertepuk tangan bersama.


"Joana?" ucap Mary.


Jo berbalik dan melihat Mary bersama Ivy dan Amy. Jo merasa kikuk dan tidak nyaman apabila bertemu Mary, terlebih setelah kejadian semalam.


"Hai, Jo!" sapa Ivy sambil melambaikan kelima jarinya.


Jo mengusap kepala Ivy. "Hai Princess!"


"Apa kau tidak sibuk?" tanya Mary ramah. Dia memang pandai berakting.


"Well, aku sudah selesai. Ada apa Nyonya?" kata Jo.


Mary tertawa renyah. "Ahhaha.. Panggil saja aku Mary."


Jo mengangguk meski dia agak ragu untuk memanggil namanya.


"Begini, kami berencana untuk pergi memancing. Ivy merengek ingin mengajakmu. Apa kau bisa ikut?" jelas Mary.


"Ayo Jo! Ikutlah!" rengek Ivy.


Begitu menatap Ivy yang manis memintanya untuk ikut, akhirnya Jo mengalah.


"Baiklah," Jo mengangguk.


Mary tersenyum. Good. Rencanaku akan berhasil.


Javier sudah mempersiapkan peralatan memancingnya beserta seember kecil umpan untuk ikan. Dari kejauhan, terlihat Ivy dan Amy berjalan setengah berlari dan di belakangnya Mary dan Jo yang berjalan sambil mengobrol.


Ah.. indahnya pemandangan.


Javier menepis pikiran nakalnya sebagai lelaki serakah. Kini dia harus bersiap untuk menghadapi turbulensi lain setelah ini.


Ivy dan Amy segera meraih alat pancingan dan ember kecil miliknya, lalu berlarian menuju sungai yang jaraknya tak lebih dari sepuluh meter dari villa.


"Hati-hati, jangan berlarian!" teriak Mary pada Ivy.


"Okay mommy!" sahut Ivy yang mulai menjauh.


Mary dan Jo berdiri berhadapan dengan Javier. Sebuah pertemuan yang epic. Jika telinga mereka dapat mendengar isi hatinya satu sama lain, pasti akan lebih menarik.


Aku harus bagaimana di hadapan dua orang ini? Javier.


Aku akan buktikan bahwa aku adalah istri dan ibu yang baik. Mary.


Bagaimana bisa aku berada di antara kalian? Jo.


"Kau tidak sibuk?" tanya Javier pada Jo memulai pembicaraan.


"Aku sudah selesai. Ivy memintaku, so ya. Here we are," jawabnya.


Jo hanya dapat menatap Javier beberapa detik. Jika dia menatapnya lama, Mary akan segera mengetahui kalau tatapannya pada suaminya adalah tatapan cinta.


"Baiklah kalau begitu, let's go!" seru Mary, kemudian mengambil tas makanan.


"Biar kubantu," Jo membantu Mary membawakan tas itu.


Mereka pun berjalan menuju sungai. Javier segera mendekati putrinya untuk memasang alat pancing. Menjauh dari kedua wanita itu adalah pilihan yang tepat saat ini.


Mary dan Jo memasang meja dan kursi lipat yang dibawakan Javier kemudian menata makanan di atasnya. Mary menyodorkan segelas bir untuk Jo dan dirinya.


"Kita di sini saja," kata Mary sambil menunjuk kursi lipat yang berjejer.


Jo sebenarnya tidak nyaman berada di samping Mary. Tapi apa boleh buat, dia tidak bisa menolaknya. Perasaan tidak nyamannya dikarenakan dia merasa dirinya sangat bersalah pada Mary.


Mary dan Jo duduk di kursi lipat sambil memandang punggung Javier, Ivy dan Amy yang asyik dengan aktivitas memancingnya.


Mary meneguk birnya. "Kau lihat, Javier sangat mencintai Ivy. Baginya Ivy adalah kado terindah yang aku berikan padanya."


"Ivy adalah anak yang manis. Siapapun pasti mencintainya," kata Jo.


"Javier sangat menyukai anak-anak. Tahun depan kita akan berencana untuk menambah anak lagi."


Deg.


Jo meneguk birnya. "Selamat."


"Oh ya, bagaimana dengan Steve? Apa kalian berencana untuk menikah?" Mary menoleh dan terlihat Jo dengan muka datarnya. Dia merasakan kemenangan akan tiba.


Jo menatap air sungai dengan tatapan menerawang. "Entahlah. Bagaimana rasanya menikah?"


"Well, pernikahan adalah impian setiap wanita yang memiliki kekasih. Menjadi seseorang yang selalu ada di sampingnya saat bangun tidur, memberikannya kepuasaan di tempat tidur, memberikannya kebahagiaan dengan hadirnya seorang anak. Semua kebahagiaanmu akan lengkap saat melihat kekasihmu bahagia apalagi sampai sukses. Di samping lelaki sukses ada wanita hebat yang selalu mendukungnya."


Sementara ini Mary baru menyimpulkan bahwa Jo selingkuh dengan Javier dari Steve.


Jo tertohok mendengar kata-kata Mary barusan.


Kemana sosok Mary yang selalu sibuk dan menelantarkan Ivy pada Nany seperti yang pernah dikatakanmu Javier? Apa itu hanya akal-akalanmu saja agar aku merasa iba dan terjerat cintamu?


"Bagaimana kalau terjadi perselisihan yang membuat salah satunya berpaling?" tanya Jo dengan pertanyaan yang menjurus.


Mary tertawa renyah melihat Jo semakin terpancing. "Oh haha.. Perselisihan itu hal yang wajar dalam suatu hubungan kan? Jika Javier berselingkuh, aku percaya bahwa dia akan kembali pada kami, padaku dan Ivy. Dan aku akan memaafkannya."


Mary berdiri, lalu menyimpan botol birnya di meja kemudian berlari kecil menghampiri suami dan anaknya. Sesaat setelah Mary pergi dari sisinya, air mata Jo mengalir begitu saja.


Maafkan aku Mary, aku mencintai suamimu. Aku akan mulai menjauh darinya. Akan kukembalikan Javier pada pemiliknya yang sah.


♤♤♤