Cause I'M Yours

Cause I'M Yours
Cahaya Bulan



Mary sudah tahu kalau Farmer Festival adalah acara Jo setelah mendengar Tom menjelaskan kalau festival ini diselenggarakan di Desa Forks. Dia sudah tahu betul mengenai rivalnya itu setelah dia membaca biodata di media sosial yang Jo miliki.


Kedatangannya ke sini memang disengaja untuk menghalangi pertemuan Javier dan kekasih gelapnya itu.


"Bukankah kau mempunyai villa di desa ini?" bisik Mary saat menonton Jacob membawakan sambutan pertama.


Javier heran dari mana dia tahu soal villa pribadinya.


"Ivy bilang kalian pernah menginap di sini tahun lalu kan?" tambah Mary seakan dapat membaca pikiran Javier.


Oh ya, Ivy. Anak-anak selalu berkata apa adanya apalagi jika ibunya sendiri yang bertanya.


"Setelah selesai sambutan, kita pulang saja," ucap Javier.


Mary tentu tidak mau. Dia masih ingin bersenang-senang mempermainkan Jo. "Kenapa secepat itu? Festival ini berlangsung dua hari kan? Ivy kelihatan senang dengan teman barunya di sini. Kita pulang besok saja."


Javier menghela nafas. Terserah.


Setelah Jacob selesai, pembawa acara mempersilahkan Javier untuk pidato sambutannya. Di atas panggung, tatapannya mencari-cari sosok yang dia cintai.


Dari kejauhan, terlihat Jo berdiri dengan melipat kedua lengannya di dada sambil bersandar di pohon pinus. Javier tersenyum meski Jo tidak membalasnya. Tentu saja, aku sudah merusak rencananya. Aku pantas mendapatkannya.


Setelah selesai melakukan pidato dan Mary terlihat dikerumuni para warga yang mengajaknya bercengkrama, Javier segera mencari-cari Jo untuk berbicara.


Apabila seorang panitia acara tidak ditemukan dimana-mana, sudah tentu dia sedang berada di ruang panitia. Javier pergi ke area backstage dan melihat sebuah tenda.


Orang-orang yang keluar dari tenda itu adalah para panitia. Terlihat dari ID card yang menggantung di leher dan walkie talkie di genggaman tangannya. Javier pun masuk ke dalam tenda itu dan melihat Jo sendiri.


"Sedang apa kau di sini? Bagaimana kalau orang-orang, istrimu melihatmu di sini?" tanya Jo dengan ekspresi was-was. Kata "istrimu" yang keluar dari mulut Jo sangat tidak enak didengar.


"Aku tak peduli!" kata Javier sambil terus mendekati Jo dan berusaha untuk meraihnya.


Jo menghela nafas lalu balik badan. Dia tidak akan konsisten dengan rasa kesalnya jika dia terus memandang lelaki yang dia cintai itu.


"Ini semua murni di luar kendaliku Jo. Ini semua salah Tom. Dia membicarakan soal undangan festival ini di saat Mary ada di kantor," kata Javier. Tom memang patut disalahkan untuk urusan ini.


"Sudahlah Javier, pergi. Jangan dekati aku dulu. Aku harus fokus untuk acara ini," ucap Jo, lelah.


"Aku tidak akan tenang jika kau seperti ini!"


Jo berbalik. "Lalu aku harus bagaimana?"


Javier segera mencium Jo sebagai jawaban dari pertanyaannya. Setelah ciumannya terbalas, barulah dia bisa tenang.


Anehnya, suasana hati Jo pun kembali pulih seiring dengan ciuman itu. Paling tidak, mereka berdua sama-sama tahu akan isi hatinya terhadap satu sama lain.


Ciuman itu berakhir setelah beberapa lama. Javier tersenyum dan Jo tersipu.


"Baiklah, sekarang aku akan pergi," kata Javier setelah lega melihat Jo kembali tersenyum malu-malu.


Jo terkekeh. "Pergilah."


"I love you."


"Me too."


Javier pun keluar dari tenda itu dan Jo tertawa. Terbukti bahwa ciuman Javier dapat mengembalikan suasana hatinya. Tiba-tiba Patrick masuk ke dalam tenda.


"Jo? Are you okay? Kenapa kau tertawa sendiri?" tanya Patrick saat melihat sahabatnya aneh seperti itu.


"Ya. I'm fine.," jawab Jo dan segera menghentikan tawanya.


***


Musik country bertalu-talu, iramanya membuat siapa saja yang mendengarkan pasti ingin menggerakkan badannya. Elena menepuk pundak Jo yang melamun.


"Apa yang kau lakukan di sini?" kata Elena lalu segera menarik kedua lengan Jo untuk maju ke area dansa. "Ayo kita bergembira!"


Jo tertawa lalu bergabung dengan pengunjung lainnya yang tengah berdansa sambil menikmati musik. Javier tersenyum sambil menatap Jo dari kejauhan. Mary tak membuntutinya malam ini. Dia dan Ivy sudah terlelap karena kelelahan.


"Tuan Javier! Kemarilah!" seru Elena sambil melambaikan tangannya bermaksud untuk mengajaknya berdansa.


Javier tersenyum sambil menggeleng pelan.


"Kau harus mengganti musiknya menjadi musik klasik untuk membuatnya berdansa Elena!" kata Jo.


"Oh ya?" balas Elena sambil terheran-heran dari mana Jo tahu selera musik Javier.


Jo menatap ke arah Javier sambil terus berjoget bersama Elena dan yang lainnya. Tatapan itu begitu menggoda bagi Javier. Dengan isyarat jemarinya, Javier menyuruh Jo untuk menghampirinya.


Jo yang mengerti akan isyarat itu segera mencari Elena. "Aku lelah, aku mau istirahat!"


"Baiklah!" jawab Elena yang masih ingin menikmati musik.


***


BRUK


Srek Srek


Jo terperosok ke dalam semak begitu Javier mendekap dan menciumnya di dalam hutan. Pencahayaan hanya dari terangnya bulan di musim gugur. Sayup-sayup terdengar suara musik dari panggung.


Tak ada tempat bagi mereka malam itu selain di dalam hutan. Suara dedaunan yang terinjak menjadi satu-satunya suara yang terdengar nyaring oleh keduanya. Tak ada kain yang terlepas tapi mereka dapat melakukan penyatuan.


Jo menahan mulutnya agar tak ada suara yang keluar sampai akhirnya mereka terkulai dalam pelukan. Mereka tertawa menyadari kegilaan yang telah mereka lakukan di dalam hutan.


Ya, cinta membuat mereka menjadi gila. Dua orang gila yang bercinta di tengah kegelapan hutan diterangi temaram cahaya bulan. Bagaimana jika ada ular atau hewan buas lainnya? Tak pernah terpikirkan sebelumnya.


Mereka berdua berdiri sambil merapikan pakaiannya. Javier menepuk tubuh bagian belakang Jo untuk membersihkannya dari dedaunan kering yang menempel.


"Aku harus pergi. Mereka pasti mencariku," kata Jo sambil tersenyum.


Javier memeluk Jo dan mencium keningnya dengan penuh cinta. "Ya."


Mereka berdua berpisah. Javier berjalan menuju villa del phia. Di perjalanan Javier terus menertawakan kegilaannya barusan. Dari mana ide gila itu berasal? Jo benar-benar membuatnya tak dapat berpikir jernih.


Sesampainya di villa, Javier kaget melihat Mary terjaga. Mary duduk di depan perapian dengan segelas minuman di tangannya.


"Kau dari mana?" tanya Mary saat Javier masuk.


"Aku dari rumah Jacob. Ada pembicaraan politik," dalih Javier.


Mary berdiri di hadapan suaminya dan menatap dengan penuh kecurigaan.


"Aku lelah, sebaiknya aku tidur. Kau juga," Javier bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan tidur.


Sementara Mary geram dengan tingkah Javier yang mencurigakan. Pasti dia habis bertemu Joana.


♤♤♤