
Jack mengajak Lexa makan di salah satu stan kaki lima yang berada di seputaran pasar pagi itu. Walau dalam lahan yang terbatas, mereka menyediakan berbagai olahan yang lezat sebagai pilihan, tentunya dengan harga yang lebih murah. Mereka duduk di bangku panjang yang berhadapan langsung dengan meja—yang dipenuhi bermacam-macam menu siap saji. Para pembeli akan menunjuk sendiri mana makanan yang mereka inginkan, dan si penjual akan langsung mengambilkannya tanpa perlu memasaknya lagi. Sementara para pengunjung pasar hilir mudik di belakang mereka, sibuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.
Jack begitu lahap menyantap makanannya. Makannya memang sangat banyak, tapi dia bisa menghabiskan dua piring lebih dulu dari Lexa. Lexa terkekeh, tak dapat menahan tawanya lagi melihat pria itu memaksakan makanan untuk masuk ke dalam mulutnya yang masih penuh. Dia tidak berubah, dia masih seperti Jack kecil yang Lexa kenal dulu. Dia sangat berantakan.
"Jack, pelan-pelan."
"Kita harus cepat. Membuang-buang waktu, bisa melewatkan kesempatan."
Ya, mereka akan mencuri setelah ini. Untuk bertahan hidup, apa lagi yang bisa mereka lakukan? Lexa pun kembali menghabiskan makanannya.
"Tunggulah di sini, aku akan ke toilet sebentar."
Lexa mengangguk singkat. Jack menaikkan satu kakinya melewati bangku—untuk bisa keluar dari tempat duduk—karena di sisi satunya, pembeli lain menempati dan menghalangi jalan keluar. Tiba-tiba, terdengar bunyi robekan kain sebelum Jack sempat mengeluarkan kaki yang lainnya.
"Aish!" Jack memperhatikan bagian tengah kedua pahanya. Celananya robek tepat di bagian itu, dan Lexa pun tak dapat menahan tawa melihat robekan yang cukup lebar itu.
Jack bergumam, "Sial." Dia menutupinya dengan kedua tangan, akan tetapi tak dapat menyembunyikan semburat merah di wajahnya akibat menahan malu mendapati bibi si pemilik kios menertawakannya diam-diam.
"Jangan tertawa saja!" Jack menceletuk pelan pada Lexa.
"Maaf."
"Bagaimana ini?"
"Bukankah kau suka yang seperti itu?" ledek Lexa langsung disambut sorotan tajam dari mata pria itu.
Jack melototinya. Namun Lexa tetap saja tak mampu menahan tawanya.
"Baik, baik, aku akan menjahitnya sebentar."
"Cepatlah."
Lexa berencana untuk kembali ke pikap yang mereka parkir di depan jalan utama pasar. Ia akan menjahit robekan pada celana Jack itu di sana. Untuk bisa sampai ke mobil, mereka harus berjalan kaki. Lagi-lagi, Lexa tak kuasa melengkingkan tawanya di sepanjang perjalanan. Pria itu harus berjalan pelan-pelan dan merapatkan kedua kakinya, agar bagian yang koyak tak semakin melebar sehingga terlihat oleh pengunjung di sekitarnya.
"Lexa, berhentilah tertawa! Mereka semua jadi melihatku!"
Lexa tergelak, tak tahan lagi.
Akhirnya di dalam pikap, Jack melucuti celananya untuk Lexa jahit. Dia menunggu di dalam mobil tanpa bawahan, dan Lexa duduk di jok sebelahnya.
"Bisa, tidak?" Jack lebih mendekat, memperhatikan gerak tangan Lexa yang memang ragu-ragu ketika hendak menyatukan dua belahan kain dengan jarum yang baru ia beli di toko terdekat.
"Aku sedang melakukannya!" Lexa memang tidak pernah menjahit sebelumnya. Saat pakaian atau celana yang dimilikinya robek, maka ia akan membiarkannya begitu saja. Namun kali ini Jack membuat celananya robek di bagian yang tidak mungkin diabaikan. Terpaksa Lexa harus membiasakan diri untuk menjahitnya, meski dengan gerakan yang kaku.
"Aakh, lama sekali. Membuang-buang waktu saja."
"Cerewet sekali kau ini!"
"Saat kau selesai menjahit celanaku, pasarnya sudah tutup dan kita tidak akan bisa mendapatkan uang hari ini."
Lexa beralih memandang sang kekasih. "Kau ini, bicara terus! Kalau tidak sabar, jahit saja sendiri!" Ia menyerahkan celana itu kepada Jack.
"Kenapa kau jadi marah?"
"Kau membuatku kesal!"
"Eeh, kalau malam saja merayu-rayu." Jack malah meledek sambil mencibir-cibir.
Lexa sontak membeliak. "Kenapa jadi membahas itu?"
"Iya, itu karena kau—"
Sebelum Jack balas merecokinya, sebuah mobil menabrak pikap-nya dari belakang. Suara tabrakan itu terdengar sangat keras, bahkan mengakibatkan Lexa dan Jack terpental ke depan. Lexa sempat memekik, sedangkan Jack tercengang-cengang karena kaget. Setelah sadar keadaan masih terkendali, mereka menegakkan badan serentak, lalu menengok ke belakang, melihat apa yang terjadi.
"Beraninya menabrak kita," cetus Jack geram, mendapati sang pengemudi mobil pribadi di belakang pikap mereka keluar untuk memeriksa kondisi mobilnya sendiri.
Lexa mencegah saat Jack hendak turun. "Eh, eh! Kau mau keluar tanpa celana?"
Seakan baru tersadar, Jack menunduk dan langsung mendengus kesal.
"Biar aku saja," putus Lexa bertindak cekatan.
Ia turun dari mobil, langsung menemui pengemudi MPV hitam yang sedang berjongkok memeriksa bak pikap Lexa di bagian belakang. Sekali berdeham, badan pria itu menegak, langsung berbalik ke arah Lexa. Dia pria bermantel panjang dan berkacamata hitam. Tinggi, dengan rambut cepaknya.
"Kau pemilik kendaraan ini?"
Lexa mengangguk sinis. Dijulurkan satu tangannya guna memeriksa goresan di pikap-nya yang memang telah usang, sebagian cat pun tampak mengelupas, juga berkarat.
"Maaf, aku menabraknya. Aku kesulitan mengeluarkan mobilku." Memang ada kendaraan lain di belakang mobil pria itu, dan mereka cukup berhimpitan. Lantaran di bahu jalan, para mobil diparkir dengan posisi melintang.
Lexa kembali menegakkan badan. "Ya, tapi walaupun kendaraan ini sudah tua dan jelek, tadinya goresan itu tidak ada di sana. Kau benar-benar membuatnya lecet." Mata Lexa terus tertuju pada goresan yang ia maksud sembari berkacak pinggang, bersikap songong.
Pria itu membuka kacamata hitamnya dengan berkata, "Aku akan mengganti kerugiannya."
Merasa beruntung, Lexa mengangguk mengalihkan pandangannya kepada wajah si pengemudi mobil mewah itu, dan tiba-tiba saja napasnya tertahan sesaat menyadari betapa rupawannya dia. O-ow! Kedua pundak Lexa mendadak melemah, juga napasnya. Meluruhlah keangkuhan itu, dan tiba-tiba menyelinap perasaan ingin pasrah dalam dirinya. Mata yang bening, alis yang tebal, juga bibir ber-volume yang berpadu dengan dagu terbelah. Sungguh perpaduan yang indah. Lexa terkesima menatap kesejukan itu. Astaga ... betapa tampannya dia!
"Aku akan membawanya ke bengkel."
"O-oh, ti-tidak usah!"
"Heh?"
Pria itu malah bengong. Lexa sendiri tidak mengerti kenapa begitu melihat wajah pria itu, ia jadi berubah pikiran. Seluruh pemikiran dalam otak yang sempat terserap akibat terpesona melihat bagian-bagian wajah sempurna itu, malah membuatnya kehilangan konsentrasi.
"Ini hanya lecet sedikit, tidak apa."
"Sungguh?" Ketika pria itu bengong, mendadak Lexa menjadi semakin tak berdaya.
Lexa memaksakan senyumnya yang terasa kaku. "Ya, kendaraan ini memang sudah jelek."
Ah, ya Tuhan, ada apa dengan dirinya? Tidak pernah ia menjadi selemah ini hanya karena terkesima melihat ketampanan seseorang. Kali ini ada yang lain dari pria itu, sehingga Lexa langsung merasa damai dan lupa akan kemarahannya. Apakah itu, Lexa kesulitan menjelaskannya.
"Aku akan bertanggung jawab."
"Tidak usah." Suara Lexa menjadi amat manja, dalam hati ia mengaku terpikat.
Jack tiba-tiba keluar dari dalam mobil, sontak mengembalikan kesadaran Lexa yang nyaris melayang.
"Kau bisa pergi sekarang."
"Oh?"
"Iya, cepatlah! Aku tidak akan mempermasalahkan ini lagi." Lexa memintanya untuk lekas-lekas hengkang.
Jack mulai berjalan mendatangi mereka. Si pria tampan bermata sayu itu masih saja terdiam keheranan, mungkin karena perubahan sikap Lexa. Namun Jack tidak akan mengabaikan masalah apa pun. Dia akan melibatkan kemarahannya dalam setiap hal. Lexa merasa kasihan jika pria itu harus bermasalah dengan Jack. Dia terlihat terlalu baik dan manis.
"Tapi bagaimana dengan mobilmu?"
"Sudah, jangan dipikirkan. Pergilah!"
"Baiklah. Terima kasih," ucapnya meski masih terlihat tidak yakin.
Jack sampai ke tempat Lexa saat pria kalem itu masuk ke dalam mobilnya. "Bagaimana?" tanyanya.
Lexa menoleh. "Tidak, tidak terjadi apa-apa. Dia hanya tidak sengaja. Biarkan saja."
Jack terus mengawasi mobil asing itu sedang berusaha melaju pelan-pelan untuk keluar dari bahu jalan. Teringat suatu hal, Lexa beralih perhatian pada celana pendek yang Jack pakai, lalu tawanya terlepas begitu saja menyadari apa yang dikenakan sang suami. Celana dalam sebatas paha dengan gambar micky mouse yang lucu.
"Dari mana kau dapatkan itu?"
"Aku menemukannya di dalam. Sepertinya milik Son."
Lexa kembali terpingkal-pingkal.
"Berhenti menertawakanku. Tawamu itu menyakitkan!" celetuk Jack sambil berlalu.
*****/////
Jack dan Lexa tergelak-gelak malam harinya. Suara tawa mereka memecahkan jalanan sepi di sekitar mini market dan beberapa pertokoan yang telah tutup, di seputaran gelanggang umum. Lexa duduk di atas pagar pembatas tanaman, merangkul Jack yang lebih memilih berdiri di depannya. Tak hanya kedua tangannya, Lexa juga melingkarkan kedua kakinya di badan Jack dari belakang. Memeluknya, menemukan posisi ternyaman. Mereka selalu bersama, mereka selalu mesra.
Tak banyak yang ingin mereka lakukan sambil menunggu larut malam. Hanya mengawasi ulah Son dan Nil di seberang sana. Kedua pemuda itu bersembunyi di balik tembok mini market sambil siaga. Begitu salah seorang pengunjung keluar dari mini market, kedua pemuda itu akan melempar petasan di depan pintu, sontak membuat si pengunjung meloncat kaget.
"Woooi!" Begitu menyadari kejahilan Son dan Nil, sang korban berteriak geram.
Kedua anak buah Jack itu pun lari terbirit-birit. Bodohnya, hal itu seolah menjadi tontonan yang lucu bagi Jack dan Lexa. Mereka tertawa keras menyaksikan kekonyolan kedua bocah itu. Jack sampai terpingkal-pingkal membuka mulutnya lebar-lebar. Lexa melihatnya begitu bahagia. Sudah pukul 23:00. Jika sedang tidak ingin pergi ke klub malam, mereka akan bermain-main seperti itu.
Seakan tak merasa jera sebelum polisi menangkapnya, Son dan Nil masih saja melakukan hal yang sama berulang kali, dan Jack pun terus melengkingkan tawanya.
"Dasar bodoh!" cetusnya lalu memandang ke arah Lexa yang menyandarkan dagu di pundaknya. Tatapannya berubah lemah, dia menatap mata Lexa dengan penuh kasih—lalu seolah tak tahan lagi, diluncurkannya sebuah kecupan manis di sebelah pipi Lexa. Ketika Jack beralih mengelus-elus kepala Lexa, Lexa merasa Jack telah memberikan segalanya.
Bagaimana Lexa tidak meleleh? Jack selalu punya banyak cara untuk menunjukkan kekagumannya pada Lexa, meskipun lewat perhatian-perhatian kecil yang dia berikan secara tak terduga. Dia selalu bisa membuat Lexa merasa sangat berharga. Setelah saling melempar senyuman berarti, yang juga mampu mendamaikan hati, Lexa dan Jack kembali mengawasi Son dan Nil. Kedua pemuda itu kembali berbuat jahil dengan melempar satu petasan lagi hingga membuat pengunjung yang keluar dari mini market saat itu terperanjat mendengar suara ledakannya.
"Wooi!"
Lagi-lagi Son dan Nil melarikan diri saat korbannya menemukan mereka sebagai biang keladi. Sang kasir toko pun keluar. Setelah mendapat laporan dari pelanggannya, dia berlari mengejar Son dan Nil yang amat badung. Pengunjung pria itu terlihat sangat geram. Terlebih saat Jack memecahkan tawanya keras-keras. Pria itu melempar pandangan ke arah Jack, saat itu tawa Lexa pun sekejap mereda menyadari sesuatu. Oh? Dia adalah pria yang tadi pagi menabrak pikap-nya. Iya, dia pria tampan yang sempat membuat Lexa terpesona.
"Jack, Jack, diamlah!" bisiknya seraya menepuk pundak sang suami.
Jack meredakan tawanya. Dia mengikuti arah pandang mata Lexa ke mini market. Pria asing itu masih berdiri di sana, melempar tatapan penuh kemarahan. Tampaknya Son dan Nil telah salah memilih korban. Sebelum sang korban mendatangi mereka karena menduga bersekongkol dengan Son dan Nil, Lexa buru-buru mengajak Jack pergi.
"Ayo kita pergi."
Jack mengangguk menyetujui gagasannya. Sepertinya dia pun merasakan kemarahan pria di sana.
*****/////
Bukannya pergi pulang, Jack mengajak Lexa kembali ke pasar. Pasar tradisional itu memang sudah tutup dan tidak ada satu pun pedagang yang bermalam di sana. Namun justru itulah, menjadi saat yang baik bagi para pejudi untuk memuaskan hasrat mereka terhadap permainan gambling. Mereka menggelarnya di salah satu lorong pasar, di bagian paling belakang. Jack akan mencari uang di sana untuk jatah makan besok. Karena insiden celana robek dan tabrakan kecil tadi pagi, mereka kehilangan banyak waktu hari ini. Untuk mencuri di tempat lain, Jack dan Lexa tidak bisa. Mereka harus memberi waktu pada setiap lokasi yang baru mereka jadikan target operasi, agar orang yang menjadi korban di sana melupakan kehilangannya.
"Tunggu di sini, ya."
"Aku mau ikut!"
"Istri, di sana sangat berbahaya. Mereka semua memiliki penjaga dan bersenjata. Lagi pula, mereka semua itu hidung belang, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu."
"Tapi di sini sangat sepi."
"Ini akan lebih baik untukmu." Jack menanggalkan jaket kulitnya, memakaikannya ke badan Lexa. "Tetaplah di dalam mobil dan waspada. Jika kau melihatku berlari, maka cepat bukakan pintunya untukku. Kau mengerti?"
Lexa mengangguk meski tampak gelisah. "Berhati-hatilah."
"Kau tenang saja."
Ia meninggalkan wanita itu di depan pintu utama pasar yang tak seorang pun terlihat di sekitarnya, lantaran lokasinya juga jauh dari pusat hiburan malam. Untuk bisa sampai ke tempat perjudian, Jack masih harus menempuh jarak yang panjang. Ia melewati lorong-lorong pasar, dan bisa masuk ke wilayah permainan setelah lolos dari penjagaan orang-orang berbadan kekar yang berjaga di ujung lorong pertokoan.
Di sana berjejer meja-meja yang dipenuhi oleh para mafia besar. Meja-meja yang biasa digunakan para pedagang kaki lima menjajakan barang dagangannya pada pagi hari. Mereka bermain kartu, berjudi dan mempertaruhkan harta secara gila-gilaan. Setiap orang didampingi satu wanita penghibur. Jack tidak tertarik sama sekali untuk ikut dalam permainan. Selain karena memang tidak punya uang dan untuk makan saja ia masih kesulitan, ia juga memiliki tanggung jawab yang besar dengan tetap menjaga Lexa. Ia tahu setiap hal akan memiliki risiko, pun sama halnya dengan permainan orang-orang itu yang memiliki risiko buruk lebih besar. Jack ingin tetap aman demi Lexa. Jika ia mati atau dipenjara bertahun-tahun, Jack tidak akan rela berpisah dari sang istri.
Suasananya cukup tenang karena tidak ada musik. Namun keseruan permainan membuat para pejudi itu bersorak riuh di bawah penerangan sekadarnya.
"Tuan Tan," sapanya di salah satu meja. Jack membungkuk berbisik pada salah seorang ketua gengster. "Apa ada pekerjaan untukku?"
"Eh, Jack! Kebetulan sekali kau datang. Tapi sekarang aku sedang sibuk. Besok saja kau temui aku di tempat biasanya."
Pria paruh baya berjenggot itu beberapa kali membayar Jack untuk menyerang seseorang. Ya, Tuan Tan tidak melakukannya untuk dirinya sendiri. Pengusaha kaya raya di kota ini membayar Tuan Tan untuk itu, untuk menghajar pesaingnya di dunia bisnis, lalu Tuan Tan akan menyerahkan tugas itu kepada Jack. Jack selalu sukses membuat pria 45 tahun itu puas dengan hasil kerjanya. Namun Jack tidak selalu menyetujui tawarannya, terlebih jika ia harus diperintahkan membunuh targetnya. Jack pernah menceritakan ini pada Lexa di awal ia mendapat tawaran dari Tuan Tan, wanita itu pun sangat marah. Lexa menangis karena mengkhawatirkannya, membuat Jack sangat ketakutan. Ia berjanji tidak akan melakukannya lagi, tapi Jack terdesak mengingkari jika sudah tidak memiliki uang sama sekali.
"Ah iya, baiklah." Jack melempar pandangan ke meja yang dipenuhi kartu dan tumpukan uang.
Ia tidak mengerti kenapa orang-orang itu harus menghamburkan uang untuk hal tidak berguna semacam ini, sementara di luar sana begitu banyak yang membutuhkannya untuk bisa makan, termasuk Jack sendiri. Alasan itu membuatnya semakin tega menghukum mereka.
Beralih pada pria yang menjadi salah satu lawan main Tuan Tan di sebelahnya, Jack menyandarkan satu siku lengannya ke pundak pria itu, memulai aksinya.
"Woah, kartumu sangat rumit!" serunya sambil diam-diam menyelinapkan tangan yang satunya ke bawah meja untuk mengambil dompet si pejudi itu. Jack melihat benda itu sedikit muncul dari saku belakang celana sang target. Memudahkan Jack untuk mengambil alih ke saku belakang celananya sendiri.
"Hey, siapa kau? Diamlah!" Pria itu menceletuk, menangkupkan seluruh kartu di tangannya agar Jack tidak bisa melihatnya lagi.
"Aku sarankan padamu, supaya membuang kartu paling kanan. Itu terlihat jelek. Aku tidak suka." Jack menepuk pundak pria itu seraya menegakkan badan kembali, lalu pergi.
"Kenapa aku harus mendengarkannya?" pikir orang itu sendiri.
Usai mengelabui pikiran korbannya, Jack mengawasi meja itu sambil berjalan meninggalkan lokasi. Sepintas, ia melihat wanita yang mendampingi korbannya memberi tahu bahwa Jack telah mencuri dompetnya. Gawat! Buru-buru Jack mempercepat langkah kakinya. Setelah berhasil melewati penjagaan, Jack berlari cepat karena ia mulai mendengar sang korban meneriakinya pencuri. Sial!
Tak lama kemudian, pengawal berbadan besar muncul dari tikungan lorong dan meneriakinya pula. Mereka mengejar Jack dengan gesit, tapi Jack tak mau lengah. Ia semakin memperkencang larinya, sesekali melompati kayu-kayu yang menghalangi jalan dengan sangat ahli. Jack terus menerjang lorong-lorong pasar yang berkelok-kelok. Penerangan di area itu memang tidak ada, hanya mendapat pencahayaan dari alam, dari sinar bulan dan bintang. Hal itu membuat Jack sempat menabrak sudut dinding toko saat berbelok arah dan sesuatu yang tajam terasa menyayat kulit lengannya. Namun ia tidak mau berhenti.
Mendapati Jack datang dengan berlari kencang, Lexa yang masih tertahan di dalam mobil segera membukakan pintu dengan wajah cemasnya seraya menyalakan mesin di belakang setir. Dia mengerti keadaan genting Jack. Napas Jack sendiri terengah-engah. Ia merasakan kedua kakinya mulai melemah dan peluh bercucuran membasahi kaus yang dipakainya. Sampai Jack melejit masuk ke dalam pikap, Lexa pun gegas meluncurkan kendaraannya meninggalkan tempat parkir.
Lexa tak membuka suara, memberi Jack waktu guna mengatur penapasannya yang naik turun. Mereka telah jauh dari lokasi pasar. Lexa membawa pikapnya melaju sampai ke jalanan besar. Setelah merasa semuanya terkendali, Jack mengambil dompet yang ia dapatkan di saku belakang celananya, dan mengeluarkan banyak lembaran uang dari sana. Karena usahanya itu, Jack mendapat senyuman berarti dari sang kekasih.
"Agrh!" Jack mengerang memegangi lengan kirinya, mendadak merasakan perih di bagian itu.
"Kenapa, Jack?"
Terdapat goresan luka yang menyebabkan darah terus mengalir dari situ. Sepertinya benda tajam telah melukainya. Mungkin potongan kayu atau paku yang menempel di dinding toko.
"Astaga!" Lexa terbelalak saat Jack menyingsing lengan bajunya.
Setibanya di kabin, hal yang pertama kali Lexa lakukan adalah mengobati luka Jack. Lukanya cukup dalam, bahkan Jack kehilangan secuil daging di bagian itu. Lexa membungkuk di hadapan Jack yang terduduk di tepian bak pikapnya, yang terparkir di depan telaga. Lexa membebat luka Jack dengan perban. Dia terlihat kesal, atau mungkin juga bosan. Jack terus memperhatikan wajah murung istrinya, dan ia tidak suka.
"Kenapa wajahmu begitu?"
Lexa tidak langsung menjawab. Setelah menyelesaikan pengobatan, Lexa berdiri tegak. "Jack, aku berpikir," ucapnya sembari meletakkan satu tangannya di pundak Jack, sebelah tangannya lagi mengelus berewok tipis Jack. Dia menjadi sangat manja, dia pintar mengalihkan suasana hati Jack yang semula keki karena ekspresinya. "Setiap kita melakukan hal ini, mencuri, kau selalu mengorbankan dirimu. Belum lagi jika kau cemburu. Aku khawatir, suatu saat tidak akan ada yang tersisa darimu."
Kecemasan Lexa itu sontak menyunggingkan senyuman Jack secara singkat. "Heey, kau ini bicara apa?" cetusnya. Ia lantas menarik pinggang wanita itu agar semakin dekat dengannya, dan Lexa pun otomatis melingkarkan kedua lengannya ke leher Jack. "Lihatlah aku. Kaki dan tanganku masih ada, kan! Aku masih memiliki semuanya. Tidak ada yang berkurang dariku. Luka-luka ini akan sembuh seiring waktu."
Bersitatap sejenak, Jack kembali bersuara, "Kecuali, jika kau yang pergi dariku, maka aku tidak akan punya apa-apa lagi. Aku tidak akan bisa sembuh meski tidak ada luka di badanku."
Pengakuan puitis Jack malah mendapat tawa dari sang kekasih. "Omong kosong!" Dengan satu tangannya, Lexa memegang kedua pipi Jack dan memaksanya untuk mendongakkan dagu tinggi-tinggi. "Anak kecil ini sudah pandai merayu, ya!" Seolah gemas, Lexa menundukkan wajah dan menekankan ciuman di bibir Jack sejenak. "Kau sudah besar sekarang!" Kembali, Lexa menekankan ciuman yang sama, masih sambil menahan kedua pipi Jack yang tercengang senang.
Ketagihan, Jack semakin meninggikan dagunya sambil menekuk mulutnya keluar. Sontak saja leluconnya itu mengundang gelak tawa istrinya.
"Tapi tetap saja bodoh!" celetuk Lexa menepuk kening Jack dengan gerakan ringan.
Tak mau kehilangan saat-saat mesra ini, Jack menarik pinggang wanita itu kuat-kuat ke arahnya sembari mengempaskan punggung ke belakang. Wanita itu pun menjerit ketika tak dapat mempertahankan diri hingga akhirnya turut terjatuh di atas badan Jack. Jack tergelak-gelak begitu sang kekasih memukuli dadanya.