Black in Love

Black in Love
Chapter 11



"Hey, hey, lepaskan dia!" Jack dan Lexa menghampiri seorang wanita di depan klub karena tak tahan melihatnya dipaksa oleh seorang pria.


Lexa dan Jack tidak mengenalnya, tapi menilai dari caranya berpenampilan, sepertinya wanita itu adalah wanita penghibur yang biasa memperdagangkan dirinya di depan klub bersama kawan-kawannya saat malam tiba. Lexa tidak mencegah ketika Jack ingin menolongnya terlepas dari seorang pria berusia sekitar 27 tahunan yang terus memaksanya untuk ikut. Ia tahu Jack tidak pernah tega melihat ada perempuan yang ditindas. Dia tidak bisa membiarkan ketidakadilan terhadap wanita terjadi di depan matanya. Dia akan membela siapa pun itu sekalipun seorang wanita penggoda.


"Siapa kau? Beraninya ikut campur! Aku akan membayarnya!"


"Jika dia bilang tidak mau, maka jangan memaksanya!"


"Kau berani mengaturku?"


"Jika kau masih tidak pergi juga, kuhajar kau!"


Setelah menatap Jack dengan tatapan menilai, pria mabuk itu memutuskan untuk pergi. Wajah cemas wanita itu pun langsung berubah tenang.


"Terima kasih," ucapnya.


"Ya."


Dia memandang Lexa dan mereka pun saling melemparkan senyuman. Kemudian Lexa dan Jack pun berlalu meninggalkannya.


Malam ini Jack mengajak Lexa pergi ke sebuah klub malam. Mereka akan bersenang-senang untuk melepas penat. Turun ke lantai dansa diirigi hentaman alunan beat dari sang DJ yang ahli dalam memadukan lagu. Semua menari, mengentak-entakkan kepala menikmati musik yang seakan berdentam-dentam di telinga. Mereka semua meresapi irama, menyamakan ritme dari lantunan nada.


Cukup banyak orang yang memenuhi basement dalam ruangan gelap itu. Sinar dari lampu laser berputar memberikan cahaya yang semakin menambah animo para pengunjung yang candu akan dunia gemerlap ini. Beberapa pengunjung memilih duduk di bar dan membiarkan sang bartender meracik minumannya. Masing-masing sibuk mencari hiburan dengan caranya sendiri. Namun semua pasti sependapat bahwa segala masalah seolah sirna begitu masuk ke tempat ini.


Sebenarnya, Jack tidak begitu suka. Namun dia tahu, hanya di sini—di tempat seperti ini, Lexa bisa bertemu dengan teman-temannya. Setelah menemaninya berdansa sebentar, Jack memilih untuk meninggalkan lantai dasar dan duduk di kursi bar, menjauh dari gema bass yang serasa memukul-mukul dada. Dia membiarkan Lexa bersuka cita bersama teman-teman perempuannya. Sambil menyesap minuman beralkohol yang baru disajikan bartender, Jack terus mengawasi tawa Lexa.


Lexa dan teman-teman perempuannya bertemu di tempat ini dan mulai berteman baik. Mereka hanya akan bertemu di tempat ini saja, dan tidak berkomunikasi lagi setelah keluar dari klub lantaran Lexa tahu diri untuk menunjukkan bagaimana kehidupannya yang sebenarnya. Jadi ini semua hanya sementara dan Jack tidak pernah keberatan selama tidak ada pria lain di dekat Lexa. Di rumah, Lexa tidak memiliki tetangga. Ia tidak mempunyai teman sama sekali sejak mereka masih kecil dan hanya bertemankan Jack. Untuk dapat mengenal seseorang pun ia kesulitan karena sebagian besar orang memandang mereka dengan sebelah mata.


Jack tampak meneguk minumannya sampai habis, hanya menyisakan es batunya saja, kemudian beranjak dari kursi untuk mendatangi Lexa. Tiba-tiba menarik tangan Lexa, Jack membawa Lexa menjauh dari teman-temannya. Lexa terheran-heran sampai mereka masuk ke toilet khusus untuk wanita.


"Jack, kenapa kita kemari? Masuk ke toilet wanita, ini pelanggaran untukmu! Jack? Kau mabuk, ya?"


Jack tak menjawab. Dia terus menarik tangan Lexa mencari toilet kosong, dia berhasil menemukannya dengan cepat karena kebetulan toilet sedang sepi pengunjung. Jack membawa Lexa masuk ke salah satu toilet dan begitu mengunci pintunya, Lexa menangkap kode ketika pria itu melucuti ikat pinggangnya sendiri. Lexa tersenyum heran memperhatikan gairah yang berkobar di mata pria itu. Lexa tidak percaya mendadak Jack akan mengajaknya bercinta di ruang sesempit ini. Dia memang sulit ditebak dan mudah berubah selera, tapi Lexa tahu semua itu karena dirinya, karena berawal darinya.


Kebebasan mereka dalam berhubungan seks bukan berarti tanpa komitmen dan cinta. Karena itulah Lexa sangat percaya pada Jack dan tidak pernah ingin mengecewakannya. Selain itu, tidak ada lagi yang bisa Lexa berikan untuk membalas semua kebaikan Jack selain hanya dirinya saja.


Beberapa menit kemudian, tawa dan kemesraan menggiring langkah Jack dan Lexa menuju keluar dari klub dengan membawa pengalaman tak terlupakan.


"Lain kali kau harus sewakan hotel untukku!"


Jack tertawa lepas. "Di mana pun sama saja, kan!"


"Kau ini!"


Tawa itu sekejap lenyap saat tiba-tiba sekelompok orang berbadan kekar menghadang jalan keduanya. Mereka tertegun dengan perasaan tak lagi tenang. Sempat bingung sebelum akhirnya wajah salah seorang dari mereka membantu Lexa dan Jack menemukan ingatannya. Rasanya mereka tak perlu lagi menanyakan apa yang sedang terjadi kini, saat melihat pria berkepala plontos dengan bekas jahitan di pelipis bawah matanya itu tersenyum sinis. Dia adalah bandit di pasar yang kala itu menggoda Lexa, lalu Jack menyerangnya. Dia dan beberapa temannya mengejar Jack untuk memberikan balasan, tapi sayangnya Lexa dan Jack berhasil meloloskan diri. Jadi, kini mereka berencana untuk membalas dendam?


Rangkulan tangan Lexa di pinggang Jack sontak merenggang. Tak hanya Lexa, Jack pun sepertinya mulai menyadari ancaman ini. Mereka bertiga—termasuk dengan sang pimpinan yang membawa mereka menemui Jack—memang tidak membawa alat pukul atau semacamnya, tapi orang-orang itu punya rencana jahat di masing-masing tatapan. Entah dari mana dan bagaimana orang-orang itu bisa tahu Jack dan Lexa ada di tempat ini, tampaknya tinju Jack hari itu berbuntut panjang.


Menyadari bahaya ini, Jack menyingkirkan badan Lexa untuk disembunyikan di belakangnya. Jack akan menghadapi mereka? Tidak, dalam hati Lexa tidak setuju.


"Jack," Lexa berbisik cemas.


Jack tak mau mendengarkannya. Dia maju selangkah dengan gagah berani dan menantang. Lexa sungguh mengkhawatirkannya. Ia merasa keberanian Jack itu tidak akan baik untuk saat ini karena Jack dalam pengaruh alkohol, dan tenaga yang tak stabil usai bercinta. Orang-orang itu sangat menyeramkan seperti pegulat yang handal dalam melumpuhkan lawan. Sampai sang ketua memberikan isyarat mata, orang-orang itu mulai maju, Lexa pun perlahan mundur.


Salah satu dari mereka langsung melayangkan pukulan ke arah Jack, Lexa dan pengunjung yang berada di luar klub pun memekik. Dengan sigap Jack menangkisnya lalu dengan cepat membalas serangan yang sama di wajah tukang pukul itu. Orang itu tergampar, wajahnya berubah geram seketika.


Yang lain maju dan mulai menyerang Jack satu per satu, lalu secara bersamaan. Tidak, Lexa membatin resah. Bagaimana Jack akan menang melawan bandit-bandit bertubuh besar itu? Walaupun Jack sangat pandai berkelahi dan memiliki tubuh berotot, tapi mereka semua terlihat lebih kuat sedangkan Jack seorang diri. Mereka terus bergantian menyerang, mendaratkan hantaman tak terlatih dari tangan mereka yang besar ke arah rahang dan perut Jack. Meski beberapa kali Jack berhasil mengelak dan membalas, Jack tetap tak bisa menduga akan ada serangan berupa tinju dari arah lain di wajahnya ketika lengah.


Perkelahian sengit terjadi tanpa banyak kata. Baku hantam terus memenuhi area parkir klub. Beberapa orang yang melintas memperhatikan keributan ini. Lexa berharap ada dari mereka yang mau menolong atau setidaknya menghentikan. Ia sangat cemas. Lexa tak dapat menutupi kepanikannya saat melihat Jack harus menerima perlawanan dan itu melumpuhkannya dalam sesaat. Lexa menjerit, akan tetapi tak banyak yang bisa ia lakukan untuk membantu. Entah sampai kapan perkelahian ini akan berlangsung. Mereka berempat saling beradu kekuatan dan tak mau mengalah. Lexa tidak mengerti kenapa Jack tidak memilih untuk melarikan diri. Sepertinya dia berpikir saat ini tidak memiliki kesempatan untuk itu.


Tiba saatnya salah satu dari bandit itu memenjarakan kedua tangan Jack dari belakang dan yang lain menyerang dengan pukulan di perutnya. Jack tersentak. Sekali lagi pukulan hendak bandit itu layangkan, tapi kali ini Jack mampu menggagalkannya dengan mengangkat satu kakinya tinggi-tinggi untuk menendang rahang lawannya. Jack membungkuk lalu membanting badan bandit yang menahan tangannya di belakang hingga terpelanting lalu terkapar di tanah. Dia mengeluarkan beberapa jurus, mempertunjukkan keahliannya dalam bertarung. Itu sedikit membuat orang-orang yang menyaksikannya terkagum-kagum.


Namun keberuntungan Jack tak bertahan lama setelah berhasil melumpuhkan kedua musuhnya. Dia berbalik hendak menghabisi satu bandit lagi, tapi sang pimpinan bandit itu memepetnya dengan cepat. Tiba-tiba tertegun dan tak bergerak sama sekali, napas Lexa tersumbat beberapa saat mempertanyakan keheningan suasana yang mendadak terjadi. Dada Jack dan bandit itu saling bertabrakan, mematung hingga beberapa detik. Lexa melihat mata Jack terpaku ke arahnya, dari arah pundak si bandit. Jack membelalak tak berkutik, sehingga membuat Lexa merasa ada yang tidak beres.


Si bandit itu menjauhkan diri, lalu mengajak kawan-kawannya untuk pergi, akan tetapi Jack masih mematung di tempat yang sama tanpa berkedip sama sekali. Buru-buru Lexa menghampirinya cemas.


"Jack! Jack, ada apa denganmu?" Lexa panik karena Jack mengembuskan napasnya dengan tersendat-sendat.


Pandangan Lexa menurun ke arah satu tangan Jack yang terus memegangi perutnya, dan Lexa langsung dikejutkan oleh darah yang keluar dari sana.


Jack melumpuh, dia terempas ke pelukan Lexa tanpa bisa menopang dirinya lagi dengan kedua lutut. Bandit itu menikam Jack, menusuk perutnya dengan senjata tajam. Lexa melihat banyak darah yang dikeluarkan Jack dari perutnya, dan Lexa hanya bisa meneriakkan tangisan saja.


*****/////


Beruntung wanita penghibur yang sempat ditolong Jack sebelum mereka masuk ke klub, datang membantu Lexa untuk memanggil ambulans. Jack dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapat pertolongan. Saat dibaringkan di atas brankar pasien, Jack sudah dalam keadaan lemas. Wajahnya memucat karena terus mengeluarkan darah. Matanya layu. Dia merintih memanggil-manggil nama Lexa dengan suara lemah. Lexa menggenggam tangannya, mengikuti para perawat yang membawa kekasihnya menuju ke ruang darurat. Air mata itu kian mengalir deras semakin kaki membawanya mendekat ke ruang di mana Jack akan ditangani. Namun sebelum Lexa sempat melangkah masuk, salah satu suster menahannya.


"Dokter akan memeriksa seberapa dalam lukanya. Anda tidak diizinkan untuk masuk. Operasi akan segera dilakukan untuk menghentikan aliran darahnya. Pihak rumah sakit meminta Anda untuk melengkapi data dan menandatangani surat persetujuan. Anda juga diharuskan untuk membayar uang muka sebagai jaminan."


"Tapi ... aku tidak membawa uang sama sekali. Bisakah aku membayarnya setelah operasi dilakukan?"


"Operasi akan tetap dilakukan. Tetapi Anda tetap harus memenuhi prosedur rumah sakit. Ada beberapa obat yang harus diberikan setelah operasi. Anda harus membayar sebagian biaya untuk bisa menebusnya. Kami tidak bisa membantu Anda karena obat itu didatangkan dari luar kota."


"Tapi aku tidak punya uang, Suster!"


"Kalau begitu, kami hanya akan membantu menghentikan aliran darahnya saja tanpa melakukan operasi."


"Apa? Suster, tolonglah aku! Suamiku sedang dalam bahaya! Bagaimana bisa kau membiarkan nyawanya dipertaruhkan hanya karena aku tidak bisa memberikan uang jaminan? Sementara selama ini suamiku yang harus bekerja mencari uang untukku!" Lexa berteriak-teriak dengan wajah penuh air mata. "Tolong, bisakah aku menyerahkan kartu identitasku saja sebagai jaminan?"


Sang suster menatapnya bingung dan iba. Namun seolah tertahan karena peraturan atau entah karena penampilan Lexa kurang meyakinkan, dia tidak berani memutuskan.


"Aku berjanji, Suster, aku janji aku akan melunasi semua biayanya setelah operasi. Percayalah padaku, aku tidak mungkin membawa suamiku pergi setelah operasi. Aku tidak mungkin membawa suamiku pergi dalam keadaan seperti ini. Jadi tolong lakukan operasi dan berikan apa pun untuk menyelamatkan nyawanya!" Lexa memegang tangan sang suster, memohon pengertiannya.


"Nyonya, mungkin sebaiknya Anda menemui direktur rumah sakit dan cobalah bicara padanya, siapa tahu Direktur akan memberikan Anda keringanan. Saya hanya bertugas di sini, tidak bisa membantumu lebih banyak lagi."


Lexa menyapu seluruh rambutnya ke belakang sambil terus meneteskan air matanya. Lexa kalut. Ia tidak bisa memikirkan harus bagaimana dengan pikiran sekacau ini. Ia tidak memiliki uang simpanan. Untuk membayar seluruh biaya operasinya, Lexa hanya mengandalkan uang curian nanti. Itu pun jika ia berhasil. Ya Tuhan, Lexa bingung. Ia takut. Ia cemas, tapi tak satu pun jalan keluar yang bisa ia temukan dalam waktu semendesak ini. Pikirannya buntu. Yang ada di pikirannya hanya Jack dan Jack saja.


"Baiklah, tunjukkan aku di mana ruangannya."


Sebelum suster membawa Lexa menuju ke tempat pimpinan rumah sakit, seorang pria menahan mereka dengan suara tegasnya ....


"Aku yang akan menjaminnya!"


Oh? Kepala Lexa dan suster berputar cepat ke arah sang pemilik suara di belakang Lexa, dan pria tampan bermantel hitam telah berdiri dengan wajah maskulinnya. Lexa tercengang, entah karena kebaikannya atau justru terpesona oleh ketampanannya itu. Oh! Dia ... bukankah dia yang hari itu menabrak pikap-nya? Dia yang menjadi salah satu korban petasan atas kejahilan Son dan Nil beberapa waktu lalu.


Pria itu melangkah maju ke arah Suster. "Berapa uang jaminannya?" Dia mengeluarkan dompetnya dari saku mantel, tapi Lexa masih termangu tak mampu melibatkan diri dalam situasi ini. Ia seakan tertahan di bawah alam sadar, antara bingung dan pasrah, membuatnya sulit menolak atau sekadar berbasa-basi.


Setelah Suster menunjukkan catatan dalam berkas yang sedari tadi dibawanya, pria itu memberikan ATM-nya secara cuma-cuma, tanpa meminta syarat atau perjanjian apa pun kepada Lexa.


"Baiklah, mari."


Begitu suster mempersilakan keduanya untuk mengurus tahap selanjutnya dengan mengajak mereka menuju ke meja administrasi, Lexa bersama pria berkulit putih pucat dengan rambut klimis itu berjalan bersama mengikuti sang suster. Lexa dan pria bertubuh tinggi tegap itu diminta untuk mengisi beberapa berkas. Lexa mengisinya dengan data diri dari kartu identitas palsu, yang didapatkannya dari dompet hasil mencuri. Sedangkan pria itu, dia mengisi semua pertanyaan dalam kertas itu dengan santai dan tenang.


"Baiklah, terima kasih." Petugas mengembalikan ATM milik pria itu setelah menarik uang tagihan sesuai yang ditulis dalam surat.


Kemudian, pria itu langsung berbalik, beranjak pergi dari sisi Lexa yang menggeragap tiba-tiba akibat masih kesulitan berkata-kata. Cepat-cepat ia berbalik dan berteriak menahannya.


"Tunggu!"


Langkahnya terhenti. Pria itu berbalik sambil menaikkan kedua alis, dan bibirnya, bibirnya yang merah seperti stroberi itu selalu melengkungkan setitik senyuman di setiap sudut, yang membuat Lexa percaya bahwa dia adalah pria baik-baik. Dia terlihat sangat ramah dan peduli.


"Terima kasih." Lexa mengucap apa yang seharusnya. "Aku ... aku tidak punya apa pun untuk menjamin uangmu saat ini."


Seulas senyuman tipis diberikannya pada Lexa. "Kau tidak perlu memberikan apa pun sebagai jaminan. Seperti saat kau membiarkanku pergi setelah menabrak kendaraanmu."


Oh! Dia ingat itu. Jadi benar, dia pria yang sama, dan masih selalu saja berhasil membuat Lexa terpesona.


"Aku akan mengembalikan uangmu secepatnya."


Pria itu mesem. "Tidak masalah. Semoga dia cepat sembuh," katanya, dengan suara yang begitu lemah lembut. Setelah itu berbalik dan berlalu.


Lexa mengembuskan napasnya yang sempat tertahan tanpa ia sadari saat pria itu bicara padanya, dan Lexa merasa terkesima. Dia sangat klimis dan modis. Dia begitu manis, membuat naluri Lexa sebagai perempuan normal meleleh, juga ingin berteriak histeris. Lexa tidak menyangka, akan ada balasan serupa akibat kebaikan kecil darinya hari itu dan pria itu akan sangat menghargainya. Bahkan dia membalas kebaikan iseng Lexa itu dengan hal yang lebih besar. Payah, kenapa Lexa tidak mencoba menanyakan namanya atau meminta alamat rumahnya? Bagaimana Lexa akan mengembalikan uangnya nanti?


 


.. Haaai, Reader 🤗 Suka dengan cerita BIL ini? Saya lihat, sudah lebih dari 100 pengguna yang memfavoritkan cerita ini di hari ke-4 saya publis. Jika masih ingin tahu kelanjutan kisah Jack dan Lexa, saya mau dengar komentarnya, dong 😊. Pada antusias gak, ya? Jangan lupa like dan beri bintang yaa ❤ Perjalanan Jack & Lexa baru dimulai, dan masih panjaaaaang. Selamat membaca, dan semoga suka 😘 Salam, Melyuchan ...