Black in Love

Black in Love
Chapter 13



Lexa telah memantapkan hati. Ia tidak ingin terlalu memikirkan risikonya lagi. Semakin sering memikirkannya, akan timbul berbagai pertimbangan dalam otaknya dan keraguan itu sudah pasti ada. Sementara tidak ada jalan lain lagi, tidak ada pilihan lagi. Lexa menatap Jack yang masih terbaring lemah di ranjang kamar rawatnya dengan bisikan-bisikan penuh keyakinan dari hati. Jack belum tersadar sama sekali, mungkin selain karena pengaruh obat, kondisi ruang pun membuatnya amat nyaman. Tidak apa, pikir Lexa. Meski telah melewati masa kritisnya, Jack masih membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisinya setelah mengeluarkan banyak darah. Perlu sesekali baginya untuk beristirahat panjang di ruangan yang tenang. Infus dan selang oksigen yang tersambung di tangan dan hidungnya akan membantunya bertahan lebih baik.


Lexa dan Jack memang sudah tidak ingin percaya dan meminta lagi pada manusia sejak orang-orang itu mengusirnya, menolaknya untuk memberi makan pada mereka yang masih kecil dan sebatangkara. Itulah alasan yang membuat Jack dan Lexa terpaksa harus mengambil sesuatu dari orang-orang itu. Namun, dengan tangan yang selalu digunakannya untuk mencuri ini, Lexa tetap meminta yang terbaik dari Tuhan untuk kesembuhan suaminya. Seperti Jack yang pernah berkata bahwa Tuhan pasti akan mengerti kenapa mereka harus mencuri, seperti itu Lexa yakin Tuhan pun tahu kenapa Lexa yang hina ini masih berani meminta pada-Nya. Lexa percaya, Tuhan tidak akan mengambil satu-satunya alasan seseorang bertahan hidup.


Lexa membungkuk, menekankan sebuah ciuman di kening Jack. Ia akan pergi malam ini. Son sempat mencegahnya dan bahkan ingin menemaninya pergi, tapi Lexa tidak membiarkannya sebab harus ada seseorang yang bertugas berjaga di sisi Jack. Jika Lexa membiarkan Son yang pergi, maka itu juga tidak menjamin keselamatannya. Lexa lebih berpengalaman, jadi Son tidak akan bisa menggantikannya, itu menurut Lexa.


Ia memakai celana jins dan jaket hitamnya. Kenapa setiap pencuri memakai pakaian hitam, ya, tentu itu karena agar tak mudah dikenali dalam kegelapan, itu yang pernah dikatakan Jack. Lexa mengenakan sepatu kets dan menyanggul rambutnya. Dulu, setiap mereka akan merampok tengah malam, Jack yang selalu membantu merapikan penampilan Lexa seakan-akan hendak tampil di atas pentas. Jack yang akan memasangkan jaket di badan Lexa dan juga kupluknya. Jack mempersiapkan segalanya untuk kenyamanan dan keamanan kekasihnya ini. Jack akan menatap mata Lexa dan menciumi wajah Lexa dengan kekhawatiran-kekhawatiran tak beralasan, seolah-olah malam itu menjadi yang terakhir mereka bertemu.


Walau sadar yang mereka lakukan itu adalah suatu kejahatan, tapi bersama-sama mereka akan berdoa kepada Tuhan untuk memohon kelancaran usaha mereka dalam perampokan setiap malamnya. Konyol memang, tapi bagaimana pun juga, keberhasilan mereka tidak lain karena campur tangan dari Tuhan. Entah karena Tuhan merasa kasihan, atau memang telah mempersiapkan untuk mereka suatu hukuman, apa yang ada hari itu akan Jack dan Lexa jalani seperti itu adanya.


Kali ini Lexa seorang diri. Ia mengendarai pikap kunonya menyusuri jalan-jalan temaram. Sudah lewat tengah malam. Berbekal selembar kertas bertuliskan nama alamat beserta gambar denah rumah incarannya, Lexa sampai di kawasan kompleks perumahan yang dituju. Lexa menepikan mobil reyotnya di sisi bangunan. Ia tidak bisa masuk karena di sana, di depan gerbang utama, petugas keamanan sedang berjaga. Ia telah mematikan mesin pikap-nya, serius mengawasi situasi sekelilingnya. Sepi dan gelap. Tentu di jam-jam seperti ini para manusia tengah sibuk bermimpi. Usai memastikan situasinya aman, Lexa memakai masker untuk menutupi hidung dan mulutnya sebelum turun dan mulai beraksi.


Seolah tak terbebani—atau merasa kesulitan sedikit pun—dari ranting tanaman pendek, kakinya berpijak lalu dengan cepat melompat meraih ujung pagar beton yang mengelilingi pemukiman. Lexa memanjatnya dengan ringan. Ia telah terbiasa. Melompat turun dari pagar setinggi badannya itu pun menjadi hal yang sangat mudah baginya. Dalam hitungan detik, Lexa telah memasuki area. Ia masih harus menyelinap sembunyi-sembunyi dari pohon ke pohon untuk bisa menemukan alamat rumah yang menjadi targetnya. Berupaya luput dari penjagaan scurity, Lexa mengendap-endap.


Semua rumah di situ hampir memiliki desain bangunan yang sama. Mereka semua besar dan megah. Ketika sampai di kompleks dengan nama yang sama dengan yang ditulis Jack di kertas, Lexa tidak langsung memasuki pekarangan rumah tergetnya. Ia sempat kebingungan ketika mengawasi plat rumah yang tertera di depan jeruji pagar, ia mengintai dari balik pohon yang tumbuh di rumah seberang. Ya, rumah dengan nomor 86 memang menjadi targetnya, tapi bagaimana bisa rumah di sebelah bangunan itu memiliki nomor yang jauh dari urutan? 97. Aneh, apakah nomor setiap rumah di kompleks ini memang sengaja dibuat acak? Lexa kurang mengerti. Jack yang memilih rumah itu untuk dijadikan target perampokan. Jack sendiri yang meninjau dan memantau lokasi ini seorang diri.


Tak mau ambil pusing, Lexa pun meremas lembar denah di tangannya, lalu membuangnya dan mulai bergerak mendekati sang rumah. Rumah siapa pun itu, Lexa berpikir sudah tidak penting lagi. Bisa membawa hasil dan pulang dengan selamat adalah tujuannya. Semua rumah tampak mewah, tentu setiap rumah pun memiliki benda berharga di dalamnya. Sambil mengendap-endap menyembunyikan diri dalam kegelapan, Lexa mulai memanjat pagar besi yang mengelilingi rumah. Ia berlari kecil melewati halaman depan yang cukup luas mengarah ke tepian teras, merapat ke dinding-dinding menuju ke pintu utama.


Lexa terus waspada sesekali memantau sekelilingnya. Ia menjadi sangat jeli dan peka terhadap suara apa pun di sekitarnya. Walaupun ini bukanlah yang pertama kalinya Lexa merampok, tapi ini adalah pengalaman pertamanya merampok seorang diri. Biasanya pun, Lexa hanya bertugas berjaga di dalam mobil guna mengontrol situasi. Terlalu berani memang, tapi Lexa harus melakukannya demi Jack.


Dari balik kaca jendela yang hanya tertutupi gorden transparan, Lexa mengintai kondisi dalam rumah. Tidak ada seorang pun di dalam sana, ruangan pun tampak gelap. Seperti yang telah diprediksi, si pemilik rumah selalu pulang pagi dan tidak jarang pulang ke rumah yang lainnya. Jack telah menyelidikinya selama beberapa hari. Mungkin saat ini hanya ada para pelayan yang telah terlelap di dalamnya.


Lexa merasa ujung-ujung jemari tangannya tersengat dingin kendati berbalutkan sarung tangan yang tebal. Ia gemetar ketika melepas dua jepit rambut berbahan kawat yang menyangkut di atas kepalanya. Lexa harus meluruskan jepit rambut yang pertama agar menjadi kawat yang panjang dan rata. Maka, ia membuka lekukan jepit rambut untuk mendapatkan kawat besi yang lurus—dengan sangat ahli. Jack telah mengajarinya hal ini sejak pertama kali mereka beroperasi. Membuat alat pencungkil kunci pintu dan juga cara menggunakannya.


Untuk membuat jepit menjadi sebuah kait, Lexa memasukkan ujung kawat ke dalam lubang kunci sejauh kira-kira satu senti. Pelan-pelan ia dorong kawat ke arah kiri, dan membengkokkan sedikit ujungnya sambil mendorongnya ke atas dengan mengingat kembali semua teori-teori yang pernah Jack ajari. Lexa pernah mempraktikkannya di kabin dan itu berhasil. Semoga kali ini juga, harapnya.


Dengan gerakan cepat, Lexa mengambil ujung kawat yang satunya dan membengkokkan setengahnya agar berputar dan melingkar. Gagang dibuat agar kawat mudah dipegang dan didorong, itu kata Jack. Ia juga masih harus membuat tuas pada jepit rambut yang kedua, di sudut yang tersambung, kali ini dengan mengerahkan seluruh tenaga sebab Lexa harus membengkokkan kedua bagian kawat secara bersamaan. Jack mengatakan, tuas itu berfungsi seperti kunci, yang akan memutar bagian dalam ruang kunci dengan menggerakkan setiap pin keluar.


Lexa mulai memasukkan alat pencungkil dan langkah-langkah berikutnya sesuai yang pernah Jack ajarkan. Kemudian—masih dengan waswas, Lexa mendorong masing-masing pin dengan menggerakkan naik turun pencungkil untuk dapat menjangkau semua pin, memastikan tidak ada satu pun pin yang masih tersangkut sampai terdengar bunyi 'klik' pada setiap pin, dan akhirnya, pintu pun berhasil terbuka.


Lexa masuk dengan langkah yang pasti. Kembali menutup pintunya secara perlahan, meredam timbulnya bunyi yang bisa saja menarik perhatian si penghuni rumah. Ia mengendap-endap mencari kamar utama. Rumah yang sangat besar dengan perabotan-perabotan yang mewah, berupa guci dan hiasan dinding. Lexa bisa tahu kendati seluruh ruangan di rumah ini gelap, karena semua benda itu berkilauan.


Tak lama dari itu, tiba-tiba terdengar bunyi ayunan pintu. Suara berdengik yang menegur Lexa kemudian. Sebelum ia sempat mengenali tanda bahaya itu, suara seorang pria berhasil mengejutkannya.


"Hey, siapa kau?"


Gawat! Lexa terbelalak sambil ternganga. Seseorang tengah memergokinya, segala rencana yang telah tersusun lenyap sekejap dari otaknya.


"Kau pencuri?" Kaget, pria di belakang Lexa itu berteriak.


Tak ingin semakin memperparah situasi, Lexa tidak berbalik badan dan langsung berpikir untuk melarikan diri. Namun tangan kasar itu dengan sigap meraih kupluk yang dikenakan Lexa. Dia menjambaknya, membuat Lexa tersentak mundur. Ia merasa sedikit kesakitan sebab pria itu juga menarik sebagian rambutnya. Sebisa mungkin ia menahan diri ke arah berlawanan. Lexa berhasil lolos dengan melepaskan kupluknya, mengurai rambutnya seketika, akan tetapi ia tidak menduga pria itu mampu mengejarnya dalam keadaan gelap. Pria itu melingkarkan lengannya ke dada Lexa erat-erat hingga Lexa pun merasa sesak. Semakin ia memberontak, pria itu semakin mengunci pergerakannya. Lexa mengerang, berusaha sebisa mungkin untuk tidak berteriak.


"Tertangkap kau, Pencuri!"


Pria itu menggiring Lexa yang terus berusaha menarik dirinya sendiri. Ia tak mampu menemukan cara terbaik untuk meloloskan diri di waktu segenting ini. Dalam kedipan mata, sekelebat bayang sang kekasih muncul beberapa kali. Lexa hanya berdoa dalam kecemasannya kini. Ia tidak ingin menyerah melumpuhkan dekapan menyakitkan sang penghuni rumah yang teramat kuat. Namun Lexa pasrah bila hari ini akan menjadi hari terakhirnya melihat dunia luar.


Di dekat dinding, pria itu menekan sakelar, sesaat penglihatan Lexa pun langsung memudar akibat kilatan cahaya lampu yang menyala. Lexa menyipit memalingkan wajah. Ketika ia kembali membuka mata, pria yang masih mendekapnya dari belakang itu menoleh. Mereka bertemu pandang, lalu saling terkejut menyadari sesuatu.


"Kau?"


Satu kata itu keluar secara bersamaan dari mulut Lexa dan si tuan rumah.


"Kau yang waktu itu, kan?" Pria itu kembali mendesak ketika menemukan ingatannya dengan sangat yakin, dan Lexa merasakan tangan pria itu mulai merenggang.


Ya, itu juga yang ada di batin Lexa. Lexa mengenalinya dan pria itu pun sama. Dia yang telah membantu Lexa membayar jaminan pada pihak rumah sakit demi menolong Jack. Mereka saling bersitatap dan sama seperti Lexa, pria itu pun tercengang menyadari kenyataan ini.


Sampai sesuatu jatuh ke lantai dan menimpa kakinya, menegur ketercengangan keduanya. Lexa dan pria itu secara kompak menunduk ke bawah. Mendapati itu sebuah handuk, Lexa melirik ke arah pinggang pria itu, kemudian langsung berteriak histeris menyadari pria itu sedang tak berbusana.


"Huaaaaaargh!"


Tak kalah kagetnya, pria itu pun berteriak kencang, sontak melepaskan dekapannya. Sementara Lexa berputar arah sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan—berpaling dari pemandangan menggelikan, pria itu buru-buru mengambil handuknya dan kembali membalutkannya ke pinggang.


Lexa merasa malu sendiri. Sungguh ia tidak menyadari jika pria yang tengah menangkapnya sedang dalam keadaan telanjang dan hanya mengenakan celana dalam. Sementara, handuk saja yang membalutnya. Mungkin, dia baru saja selesai mandi. Tetap saja, Lexa merasa begitu geli.


*****/////


Setelah hampir lima menit lamanya, pria itu keluar dari ruangan. Lexa berbalik ke belakang setelah sibuk menjelajahi kemewahan perabotan rumah dengan pandangan, ke arah di mana pria itu tertegun begitu menatapnya.


"Eh, kau masih di sini?"


Kedua alis Lexa terangkat. "Kau sendiri yang memintaku untuk tetap di sini, kan?" jawabnya lugu.


Pria itu malah berpikir, mungkin juga merasa heran kenapa bukannya kabur, Lexa malah benar-benar menunggunya. Lexa sendiri juga tidak mengerti kenapa ia masih tertahan, sedangkan kesempatan untuk meloloskan diri ada di depan matanya.


"Baiklah, aku akan mengajukan beberapa pertanyaan padamu."


Lexa melongo sesaat, kemudian mengangguk saja dengan polosnya. "Duduklah," pintanya menuding sofa.


Mereka berdua serentak berjalan menghampiri sofa-sofa di tengah ruangan. Beberapa detik sebelum sampai, seolah tersadar akan suatu hal, pria itu tertegun menghentikan langkahnya.


"Ini adalah rumahku, kenapa kau yang menyuruhku duduk?" celetuknya menyentak Lexa seketika. "Harusnya aku yang memerintahmu!"


Gelagapan, Lexa mengangguk gugup sambil merengut. Pria dengan kaus berkerah dan celana trining-nya itu mencibir, mendekati sofa sambil menggerutu sendiri. Setelah dirinya duduk, pria itu pun meminta Lexa duduk di kursi yang ada di depannya hanya dengan ayunan tangan. Jadi, ini adalah rumahnya.


Menghela napas dalam-dalam, pria dengan tampilan yang segar itu membuat Lexa tegang. Dia menatap Lexa, terus mengamati Lexa dengan tatapan waswas. "Apa ... kau mencuri untuk membayar biaya rumah sakit?"


Kedua mata Lexa membulat. Ia bergeming sesaat memikirkan apakah ia harus mengelak sedangkan semuanya sudah sangat jelas. Maka, Lexa mengangguk dengan percaya dirinya.


Lexa mendapati pria itu menyatukan kedua alis. "Apa?" Dia terkejut sekaligus tampak heran. "Kenapa kau seberani ini? Memangnya kau tidak bisa mencari pekerjaan lain?"


Lexa mengangkat alis tinggi-tinggi mencerna pertanyaannya. "Apa kau pernah tahu, ada orang yang mempekerjakan orang tidak berpendidikan? Aku hanyalah apa, orang bodoh," jawab Lexa apa adanya.


Sang pemilik rumah menyipitkan mata, menatap Lexa dengan curiga. Namun dengan ekspresi seperti itu, dia malah terlihat imut dan entah ke mana perginya ketakutan itu dalam diri Lexa. Ia mencari-cari, tetapi hanya menemukan setitik kekaguman. "Tapi dari caramu masuk ke rumah ini, kau seperti sudah sangat berpengalaman. Apa ... ini bukan yang pertama kalinya bagimu?"


Lexa menekuk mulut ke depan sambil berpikir keras. Sebelum ia sempat menjawab, pria itu kembali melempar pertanyaan yang lebih mengarah kepada dugaan.


"Apa ... kau berniat mengganti uangku waktu itu dengan uang yang akan kau curi di sini?"


Lexa langsung tergugu, merasa terperangkap oleh satu pertanyaan itu. "A-apa hakmu bertanya terus padaku?" Akhirnya ia pun buru-buru mengalihkan. "Jika kau berencana menyerahkanku kepada polisi, lakukan saja! Bukan tugasmu untuk menyelidiki motifku!"


"Oh? Kau cukup berani juga, ya!" celetuknya kaget, sekejap menciutkan nyali Lexa. "Baiklah, aku akan segera menghubungi polisi karena sepertinya kau sudah tidak sabar ingin bertemu mereka!" Pria itu berdiri, menghampiri meja tempat telepon rumah dipajang.


Tertegun, Lexa menggeragap bangkit. "Kau harus punya bukti untuk bisa melaporkanku!"


"Kau sudah ada di rumahku, itu sudah cukup." Pria itu mengangkat gagang telepon.


"Ta-tapi aku tidak mengambil apa pun dari rumah ini!"


"Masih belum. Aku menangkapmu sebelum kau mengambilnya!" Dia akan menekan tombol angka.


"Polisi tidak akan percaya!"


Pria itu pun menoleh. "Kenapa? Apa karena kau itu terlalu cantik untuk seorang perampok?"


Lexa terdiam sekejap begitu sang pemilik rumah menyudutkannya. Kini Lexa tidak punya alasan lagi untuk membela diri. Dadanya berdebar dalam arti ketakutan yang luar biasa. Saat pria itu begitu yakin untuk menekan beberapa tombol pada papan angka telepon mejanya, Lexa gemetaran.


"Ah, iya. Aku ingin melaporkan tindakan kejahatan. Beberapa menit yang lalu rumahku ...."


Lexa tak bisa lagi mendengar apa yang dikatakan pria itu ketika berbicara melalui telepon di sisi telinganya, merasa tak lagi tenang. Dia benar-benar menghubungi pihak polisi. Dia benar-benar melaporkan Lexa dan setelah ini tamatlah Lexa. Lexa terduduk dengan lemas, juga pasrah. Ia memang terlalu nekat. Ia tidak pernah membayangkan dirinya akan tertangkap, kemungkinan sebentar lagi mendekam di penjara. Ia hanya memikirkan Jack. Sampai sang tuan rumah berlalu masuk ke dalam ruangan yang sama, mungkin kamarnya, Lexa masih tak bisa meredakan ancaman dalam dirinya.