Black in Love

Black in Love
Chapter 30



"Halo, Sayang ...! Iya, aku sangat merindukanmu. Uuh ... tunggu, ya. Sebentar lagi aku akan sampai dan segera memelukmu!"


Senyuman yang terulas bebas di bibir Lexa lenyap saat wanita itu memutar pandangan ke arah samping, dan menyadari keberadaan Jack di jarak dua meter—dari tempatnya berdiri di depan halte bus. Jack mengawasinya terang-terangan. Ia terus menatapnya lurus-lurus tanpa ingin berpaling sama sekali ke pemandangan lain, meski begitu banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya beberapa meter dari hotel tempat wanita itu bekerja. Keceriaan di wajahnya memudar. Dia terlihat malas meneruskan obrolannya di telepon setelah sebelumnya Jack melihatnya begitu antusias dan manja. Sepertinya—besar kemungkinan, dia sangat bahagia hidup bersama si duda. Senyuman itu, tawa itu, membuat Jack sakit hati melihatnya.


Tampak tak berselera lagi, Lexa menurunkan ponselnya dari sisi telinga dan memasukkannya ke dalam tas yang menggantung di pundak. Dia kembali memandang ke depan, dan Jack semakin mendendam melihat sikap abainya itu. Beberapa jam yang lalu, Jack sempat berpikir wanita itu sedang mencemaskan keadaannya dengan mengantar obat. Namun kemarahan Jack, sepertinya tidak membuat mantan kekasihnya itu menyesal sama sekali. Sial, kenapa wanita itu tidak terbebani atau setidaknya merasa bersalah telah meninggalkan Jack? Apa itu lantaran Lexa terlalu bahagia bersama pria lain?


Anehnya, Jack tidak bisa membawa kakinya pergi dari hadapan wanita itu. Sesuatu menahannya. Wajah itu, kenangan itu, membuat Jack ingin terus melihatnya meskipun itu melukai hati. Bahkan setelah ketegangan singkat beberapa saat lalu di depan kamar hotel, Jack masih saja ingin menemuinya. Ia sengaja menunggu wanita itu pulang dari hotel dan mengikutinya sampai ke halte ini. Jack tidak mengerti kenapa. Perasaannya sendiri membuatnya bingung. Kendati tahu wanita itu telah bersuami, Jack tetap saja tak rela membiarkannya.


Bus datang. Lexa naik bersamaan dengan para penumpang yang telah memenuhi halte, dan Jack pun menyusulnya belakangan. Semua kursi di dalam bus berkoridor itu telah penuh. Beberapa penumpang pun harus berdiri. Jack menyerobot untuk bisa sampai ke tempat Lexa. Ia tidak tahu kenapa harus melakukannya. Hanya ingin saja. Ia merasa ... belum puas melampiaskan kekecewaannya selama ini, selama wanita itu pergi dan tak mau kembali.


Di belakang Lexa, Jack menempatkan diri sebaik mungkin. Ia berpegangan pada handle grip yang menggantung di langit-langit bus, tepat di sisi Lexa. Wanita itu menoleh, dan langsung tersentak kaget begitu menyadarinya.


"Kau?"


Jack mengembangkan senyuman sinis di ujung bibirnya. Wanita itu lantas membuang muka dengan berang sambil mengempaskan napas penuh kekesalan.


"Mau apa lagi dia?" gumamnya heran.


"Kau ingat, apa yang kita lakukan dulu setiap masuk bus?" bisik Jack tidak ingin berhenti menghantui wanita itu dengan semua kenangan-kenangan yang pernah mereka lalui.


Jika tidak bisa membuat wanita itu mau mengakui perasaannya, Jack berpikir untuk terus membuat wanita itu menyesal dengan pergi meninggalkannya. Namun Jack tidak mengira, ia sendiri yang malah tersiksa. Payah, tapi Jack tetap mengulanginya.


"Kenapa kau mengikutiku?" celetuk Lexa dengan nada rendah, masih tak sudi memandang Jack.


"Aku hanya ingin mengingatkanmu saja. Hati-hati ada pencuri yang bersiap mencuri sesuatu darimu."


"Apa yang kau maksud itu dirimu sendiri? Turunlah, dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku."


"Memangnya bus ini milikmu saja?"


Lexa tampak mendengus geram. "Bukankah kau sudah punya kendaraan pribadi?"


"Aku suka naik bus. Aku suka hal-hal yang sederhana. Tapi sayangnya ... kau tidak suka itu." Pada kalimat terakhir, Jack mendekatkan suaranya ke telinga Lexa sambil mendesah-desah.


Wanita itu terkesiap geli karena deru napas Jack yang bertiup lirih, lantas berpaling menatap Jack dengan mata melotot. Tak ingin berhenti mengganggunya, Jack menggoda dengan berpura-pura menjatuhkan diri ke punggung sang mantan kekasih.


"Oh!"


Lexa limbung ke depan, dan Jack sigap menangkap dengan melingkarkan satu tangannya ke perut wanita itu.


"Ikh!" Lexa memberontak mendorong dada Jack dengan siku. Mendapati penumpang lain memperhatikannya karena mungkin merasa terganggu, Lexa pun menundukkan kepala. "Maaf."


Jack cekikikan tanpa suara.


Lexa meliriknya sinis. "Jangan pernah muncul lagi di depanku. Kau sudah terlalu sering membuat ulah. Dan karena itu, aku terancam dikeluarkan dari pekerjaanku. Mereka semua mengira ada hubungan di antara kita."


"Oya? Bukankah itu memang benar?" Jack tak jera menggodanya. "Lagi pula, bukankah tadi kau sendiri yang datang mencariku?" Ia tak ingin berhenti meski wanita itu melototinya. "Apa kau takut, kabar ini sampai ke suamimu?" Kedua alisnya dinaikkan, sengaja ingin membuat wanita itu marah.


"Dasar bodoh."


"Kau bilang apa? Coba ulangi sekali lagi. Sudah lama tidak ada yang menyebutku begitu."


"Kau gila."


"Bukankah dulu kau suka gila bersamaku?"


Seolah mengerti tujuan Jack mengikutinya kini, Lexa berpaling ke depan seakan memutuskan untuk tidak meladeninya.


Akan tetapi, bukan Jack jika ia berhenti. Pertemuan ini menjadi kesempatan Jack untuk bisa meneror wanita itu lagi. Jack sampai harus menyewa kamar di hotel tempat Lexa bekerja dan meninggalkan tanggung jawabnya untuk restoran. Sampai berapa lama, mungkin sampai Jack puas dan benar-benar membencinya.


"Omong-omong, kenapa dia tidak menjemputmu? Kenapa kau dibiarkan naik bus begini? Bukankah dia sangat kaya? Jika satu mobilnya bermasalah, dia masih punya mobil yang lainnya, kan? Apakah setelah tinggal bersamanya, kau ingin perubahan yang lebih baik dengan menjadi sederhana? Atau ... kau ingin coba naik pikap?"


"Enyahlah," celetuk Lexa dengan ketus. Dia beranjak dari tempatnya menuju ke bagian depan. "Berhenti! Aku mau turun di sini."


*****/////


Sebenarnya masih beberapa meter lagi untuk bisa sampai ke rumahnya. Lexa sengaja turun di tengah jalan sebab merasa tidak tahan lagi mendengar teroran Jack yang sudah sangat jelas bertujuan untuk menyudutkannya. Lexa juga berpikir, sebaiknya tidak turun di depan gang rumah untuk menghindari pria itu sampai ke tempat tinggalnya. Atau kalau tidak, pria itu akan terus mengikutinya sampai ke apartemen. Dengan menerobos jalan-jalan tertentu di area gelanggang yang biasa dijadikan tempat anak muda maupun orang tua bersantai menikmati suasana pusat Hannam-dong, Lexa akan sampai ke tempat tinggalnya meski harus lelah karena berjalan kaki.


Dia ingin membalaskan sakit hatinya dengan mempermalukan Lexa, dengan membunuh Lexa menggunakan kata-kata yang tercipta dari kekecewaannya. Namun sungguh Lexa tidak mengerti, apa yang bisa dia dapatkan dari semua ini? Bukankah dia sudah mendapatkan kehidupannya yang baru?


Lexa berhenti di salah satu tenda pinggir jalan yang menjual jajanan khas, bungeoppang. Memasuki musim dingin, kue berbentuk ikan yang diisi dengan pasta kacang merah dengan olahan manis itu mulai ramai diproduksi. Selain karena memang enak, ada seseorang di rumahnya yang begitu menyukainya. Lexa akan membelinya beberapa untuk dibawa pulang. Biasanya Lexa akan membuatnya sendiri ketika waktu libur kerja tiba, dengan olahan yang sama tanpa isian.


Sambil menunggu sang penjual membungkuskan kue panggang itu untuknya, Lexa mengedarkan pandangannya ke arah lain dan tiba-tiba saja kebedaraan Jack di sebelahnya mengagetkan Lexa. Oh! Lexa terperanjat mundur. Jantungnya nyaris saja terlempar keluar dari dadanya.


"Astaga!"


Pria itu malah meringis singkat memperlihatkan barisan giginya yang rapi—juga gusinya, kemudian memandang ke arah si pemilik stan. Lexa mengembuskan napas yang sempat tertahan akibat kejutan ini. Ia berpaling sambil tercengang-cengang tak percaya dengan apa yang dilihatnya ini, sembari memegangi dahinya yang mulai terasa berdenyut-denyut. Ia sangat pusing memikirkan apa yang ada di otak pria itu.


"Kenapa kau selalu mengikutiku?" Lexa menceletuk seraya berpaling pada pria itu.


"Tidak, aku ingin membeli ini juga." Jack mengambil satu kue dan langsung memakannya di tempat. "Woah, ini sangat enak!"


Lexa mengempaskan napas kesal secara terang-terangan. Ia busungkan dada, bersiap memberikan peringatan lagi. "Sekarang kau mau apa lagi? Apa kau belum puas menghinaku, mempermalukanku dan membuatku dalam masalah?"


Sambil terus mengunyah makanan berbahan dasar tepung itu, Jack menoleh memandangnya. "Kenapa kau harus dalam masalah? Seharusnya kau punya sesuatu untuk menjagamu, kan? Kau punya suami, kau punya harga diri sekarang ini. Kau punya hidup yang lebih baik. Kau punya sesuatu untuk diandalkan, tapi kenapa kau masih bisa dipermalukan?"


Lexa ternganga, tak percaya pria itu akan benar-benar membuatnya kembali kesal dengan jawaban yang terus saja menyudutkannya.


Jack menambahkan, "Kau wanita terhormat, kan, sekarang ini?" Dia mengambil sekumpulan rambut Lexa yang terurai sepanjang bahu dengan lancang, dengan wajah yang sangat bertele-tele.


Muak, Lexa pun menampik tangan pria itu. "Ini sama sekali tidak lucu!" Lexa menggeram.


"Kau ingat dulu, bagaimana aku menjagamu? Walaupun kita hidup dengan mencuri, aku tidak pernah membiarkan orang lain merendahkanmu."


Lexa mengalihkan bola matanya dari dada Jack untuk melihat mata sayu itu. Lexa pun tersenyum sinis karena akhirnya ia memahami sesuatu dari tujuan pria itu menerornya seperti ini.


"Inikah kebencian yang kau bilang itu? Aku rasa, kau hanya belum rela melepaskanku." Lexa berpikir untuk membuat pria itu jera, dengan balas menyudutkannya.


Jack menggeleng santai. "Mungkin hanya belum terbiasa saja. Bertahun-tahun aku selalu memanggilmu. Aku tidak peduli dengan perkataan mereka. Tapi kau, kau pergi hanya sekali mendengarkan perkataan orang yang baru kau kenal. Kau adalah penjahat yang sesungguhnya.


"Caramu meninggalkanku begitu sempurna, sehingga kau berhasil membuatku sulit membaca rencana di baliknya. Kau pasti sengaja melakukannya, karena kau tidak menemukan sesuatu dariku yang kau anggap layak untuk dijadikan alasanmu meninggalkanku. Jika kau tidak bisa bertanggung jawab atas semua ini, masih bisakah kau disebut manusia baik-baik?"


"Berhentilah membicarakan yang tidak penting." Lexa mengambil makanan yang dibelinya, kemudian cepat-cepat berlalu.


"Kau pengkhianat!!" Jack berteriak, melengkingkan kecaman itu, sontak menghentikan langkah Lexa dan menarik seluruh perhatian orang-orang yang ada di sekitarnya. "Kau pergi dengan pria itu di saat aku sangat mencintaimu!" Sekali lagi dia berteriak. Kali ini Lexa bisa mendengar dia sangat marah.


Beberapa orang memilih berhenti dan menyaksikan Jack menggila. Mereka berbisik-bisik, menatap Lexa dengan rasa tak percaya. Mereka mengasihani Jack karena berpikir ucapannya itu benar.


Segera Lexa berbalik ke belakang. Ia panik, sebab bisa merasakan kali ini cara Jack mempermalukannya akan benar-benar membuatnya bermasalah. "Jack, tutup mulutmu!"


"Lihatlah si pengkhianat ini!" Dia malah beteriak lebih keras.


Astaga, Tuhan! Dia sudah tidak waras.


"Dia telah menghancurkan hidupku demi bisa hidup enak bersama pria lain!" Jack membabi buta, bicara kepada seluruh orang yang berdiri mengelilinginya.


"Aah, kasihan sekali dia."


"Iya, wanita itu sangat tega, ya."


Pandangan Lexa mendadak berkabut mendengar orang-orang itu berbisik membicarakannya dengan penilaian yang buruk. Mereka memandang hina Lexa, seakan-akan ingin sekali mengutuknya.


"Dia berkata tidak akan pernah meninggalkanku, tapi diam-diam dia pergi sampai selama ini. Dia mencampakkan aku! Aku, yang bertahun-tahun bekerja keras untuk bisa memberinya sesuap nasi!" Jack terus melantangkan suaranya dengan mata berapi-api.


"Teganya ...."


"Ya, keterlaluan."


"Malang sekali pria ini."


Melihat orang-orang itu merutukinya, Lexa menggeram. Seluruh jemarinya terasa dingin menyengat, merambat hingga ke dada, menyesakkannya. Mendidihlah darah yang mengalir dalam diri Lexa. Sebuah amarah meletup dan kini membuatnya lepas kendali. Lexa berjalan cepat mendekati pria itu dengan pasti. Tamparan keras pun langsung ia daratkan ke salah satu pipi Jack yang masih saja berusaha menjatuhkan Lexa di depan semua orang. Suara tamparan dari tangannya begitu keras, mampu mengakibatkan wajah Jack terlempar ke udara, mengejutkan semua mata di sekelilingnya.


Jack tertegun beberapa saat. Dia tercengang-cengang seolah tak percaya Lexa akan benar-benar melakukannya, sebelum akhirnya dia memalingkan wajahnya untuk menatap kemarahan yang membara di mata Lexa. Dia juga terlihat marah, tapi Lexa tidak peduli. Lexa akan membuatnya jera terus menerornya seperti ini.


"Mungkin aku memang tidak pantas untuk dihargai sebagai wanita baik-baik dan terpandang." Lexa mulai menegaskan. "Tapi sebagai seorang ibu, aku berhak menjaga kehormatanku."


Pria itu termangu-mangu mencerna kalimat Lexa.


"Kau sudah melewati batasanmu, Jack. Jadi aku merasa perlu membela diri untuk menjaga kehormatan putriku, untuk keluargaku. Aku tidak akan membiarkanmu menjatuhkanku terus menerus setelah aku memperjuangan hidupku selama ini!


"Aku rasa, keputusanku dengan meninggalkanmu ini memang sudah benar. Junho berkata benar meski dia tidak pernah mengenalmu. Dari dulu hingga sekarang, yang kau punya untuk diriku hanyalah ambisi. Kau tidak pernah benar-benar cemburu karena mencintaiku! Selama bersamaku, kau selalu mengikatku dan tak memberiku kepercayaan yang seharusnya diberikan oleh cinta. Kau memberikan segalanya, tapi tidak dengan itu. Jika itu yang kau sebut cinta, maka aku merasa lebih baik tidak usah dicintai!


"Lihatlah dirimu yang sekarang! Kau punya segalanya, tapi kau masih saja tidak puas dan masih saja ingin menghancurkan kehormatanku!"


Setelah mengungkapkan semua isi hatinya, sebuah alasan yang mengharuskannya untuk meninggalkan pria itu diam-diam, Lexa pun beranjak pergi. Ia merasa lega meski ia tahu ini sangat kejam. Namun ia berharap pria itu akan menyadari kesalahannya dan berhenti berpikir bahwa Lexa telah mencampakkannya karena pria lain. Dia harus tahu, bahwa semua ini bukan hanya tentang cinta dan kehormatan, tapi juga kenyamanan. Jika suatu hubungan tak bisa memberikan rasa nyaman, untuk apa dipertahankan? Dunia pun menjadi sangat sempit karena prasangka-prasangka dan kekangan yang dilakukan, sama seperti yang Jack lakukan selama mereka tinggal bersama. Yang ia lihat hanya Jack dan segala kemarahannya. Itulah kenapa Lexa seringkali merasa bosan dan lelah. Itu sangat menyiksanya.


*****/////


Jack masih tak percaya wanita itu akan menamparnya di depan semua orang. Ya, walaupun Jack-lah yang bersalah sebab membuatnya marah. Jack sama sekali tidak mengira wanita itu begitu yakin ingin Jack benar-benar pergi dari kehidupannya. Setelah menunjukkan perubahannya kini, Lexa masih tidak terpengaruh sama sekali.


Saat Jack mempermalukannya dengan sengaja—demi menantang kehormatan yang dianggap Lexa bisa membuatnya bertahan dalam kehidupan yang baik seperti yang pernah dikatakannya dulu—Lexa mengatakan, dia membela diri untuk menjaga kehormatan putrinya. Saat itu, Jack terjatuh. Benar-benar terjatuh.


Lexa telah mendapatkan apa yang diinginkannya. Keluarga, ya, seperti yang selalu dia impi-impikan sejak dulu. Jadi, itulah yang membuat Lexa begitu kukuh pada kehidupannya saat ini kendati tidak banyak yang bisa diperlihatkannya sebagai wanita yang memiliki kehidupan menjamin.


Dia hanya inginkan sebuah kepercayaan, tapi Jack memberinya tekanan. Bodoh, kenapa Jack tidak pernah menyadari itu selama ini? Ia begitu menyayangi wanita itu, begitu menginginkannya, dan yakin untuk memilikinya sampai mati, sehingga Jack lupa caranya mencintai dengan baik. Yang ia lakukan selama ini, yang ia pikirkan selama ini, hanyalah bagaimana caranya ia bisa terus mempertahankan Lexa agar tetap bersamanya. Lantaran merasa tak memiliki banyak pilihan, Jack membenarkan segala cara untuk menjaganya. Lexa sudah memberinya pilihan untuk berubah, tapi Jack tidak mengindahkannya.


Terbayang senyuman Lexa kecil yang membuat Jack tak kuasa melupakannya. Gadis itu menari-nari di depan telaga, mengajari Jack kecil bagaimana rasanya jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Lamanya waktu kebersamaan mereka, perjalanan sulit yang mereka tempuh bersama, rupanya tak mampu menjamin cinta. Apakah jangan-jangan, ini memang bukan cinta? Jack tidak sependapat. Bagaimana pun itu, apa pun caranya dan akan menjadi apa, itu tetap cinta awalnya. Ya, mungkin benar cinta yang hitam.


Namun, sekarang ini semua itu tidak berarti lagi. Jack pasrah. Pria itu, si duda dan putrinya itu telah berhasil memberikan apa yang tidak bisa Jack berikan kepada Lexa. Ia telah kalah oleh hatinya.


Jack memutuskan untuk meninggalkan kamar hotel—yang ia sewa hanya karena supaya ia bisa bertemu dengan Lexa dengan mudah—pada pagi harinya. Ia berpikir untuk berhenti mengganggu wanita itu dengan terus menerornya. Wanita itu sama sekali tidak peduli dengan kebencian Jack. Kini Lexa sudah bahagia dengan keluarga yang dimilikinya. Jack tidak akan pernah bisa membuat wanita itu kembali, sebab Jack tidak memiliki apa yang diinginkannya.


Jack menarik koper kecilnya usai menyerahkan kunci kamar ke meja resepsionis. Ia berbalik dan mulai berjalan lemas menuju pintu utama. Lexa di sana, berjalan ke arahnya. Mereka bertemu pandang, dan waktu pun berjalan sangat pelan seolah tak rela berlalu. Namun Jack tak mau lagi menggali harapannya yang telah ia kubur semalam. Harapan untuk bisa memiliki wanita itu lagi. Sampai kapan pun, mustahil bagi mereka untuk kembali bersama. Jack pun memalingkan pandangan, tak mau melihatnya terlalu lama. Mereka bersimpangan, sebisa mungkin Jack tak menatap matanya meski wanita itu memandangnya terang-terangan. Ia terus berjalan lurus, tak ingin lagi tunduk oleh kenangan itu.


Mungkin sudah saatnya Jack mendengarkan Yejin dan mulai membangun keluarga untuk dirinya sendiri. Sama seperti Lexa, Jack pun ingin memiliki sesuatu yang bisa membuatnya dipercaya bahwa ia layak mencintai dan dicintai. Ia akan menemukan itu dari orang lain meski ia tahu sulit baginya untuk bisa memulai hubungan baru.


*****/////


Pagi-pagi, Lexa melihat pria itu pergi dari hotel dengan membawa kopernya. Setelah ia mencari tahu, rupanya pria itu telah memutuskan check-out padahal menurut informasi yang diberikan petugas resepsionis, Jack masih punya sisa tiga hari lagi untuk menempati kamarnya. Dia pergi lebih cepat. Mengapa? Apakah karena kejadian kemarin membuatnya tidak betah? Apa itu artinya dia menyerah dan berpikir untuk merelakan Lexa?


Pria itu pergi tanpa memandangnya atau sekadar berkata-kata padahal mereka bertemu di lobi dan berjalan bersimpangan. Lexa berhenti dan terus mengikutinya dengan pandangan, tapi Jack tidak berbalik sama sekali. Dia terlihat begitu yakin untuk tidak mengganggu Lexa lagi.


Di satu sisi, Lexa merasa senang untuk suatu hasil. Ya, akhirnya Lexa menemukan apa yang ingin ia lihat dari pria itu selama ini. Ketika Jack benar-benar pergi tanpa ingin meninggalkan pesan yang mungkin saja bisa membuat Lexa menyesal mencampakannya, di situlah Lexa bisa melihat akhirnya pria itu mampu menaklukkan dirinya sendiri. Setelah selama ini Jack tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, pria itu akhirnya sanggup merelakan Lexa, tentu membiarkannya bahagia dengan kehidupan yang baru. Dia tidak lagi ingin Lexa melihat kebencian di matanya, meskipun Lexa memang tidak benar-benar melihatnya. Sungguh, Lexa benar-benar bangga untuk perubahannya kali ini. Baru kali ini Lexa mendapatkan kepercayaan dari pria itu. Ya, dia percaya Lexa akan hidup bahagia tanpa dirinya.


Tujuannya pergi meninggalkan pria itu, telah membawa hasil berarti. Karena menurutnya—sama seperti yang pernah Junho perkirakan terakhir kali—jika Jack telah mampu mengendalikan dirinya sendiri, maka dia akan lebih berhati-hati dalam mencintai. Dia akan lebih mampu mengontrol emosi, dan juga berpikir secara baik untuk melakukan semua hal termasuk urusan hati.


Sayangnya, Lexa tetap tidak bisa kembali padanya. Keadaan telah berubah. Pria itu telah memiliki tanggung jawab baru yang harus dijaganya sebagai seorang pimpinan. Biarlah, biarkanlah seperti ini saja. Mereka akan menjalani kehidupan masing-masing tanpa harus saling bergantung. Setidaknya, Jack tidak akan mengulang kesalahan yang sama, mencintai seseorang dengan cara salah.


___________________________________________