Black in Love

Black in Love
Chapter 18



Tengah malam, Junho baru pulang. Lexa sempat kaget ketika dirinya turun ke bawah berniat mengambil segelas air untuk membasahi tenggorokannya yang kering—usai memastikan Eunbi tertidur lelap—dan melihat seseorang tergeletak lemah di sofa dengan kedua kaki terbujur di lantai. Karena kondisi ruangan yang gelap, Lexa tidak yakin dia si duda sebelum menyalakan lampunya. Saat cahaya lampu menyorotnya, pria yang sedang terpejam itu mengernyit, lalu membuka matanya perlahan-lahan.


Ketika matanya menangkap keberadaan Lexa di hadapannya, ayah Eunbi itu tidak berkata apa-apa, malah terperangah seolah-olah melihat sesuatu yang mencengangkan. Tiba-tiba menegakkan badan, pria itu berdiri sambil terus menancapkan tatapannya kepada Lexa. Lexa merasakan ada yang aneh dari pria itu. Dia juga terlihat sangat kacau. Dasi dan beberapa kancing kemejanya dibiarkan terbuka padahal dia begitu rapi saat berangkat tadi. Dengan jalannya yang limbung, dia mendekati Lexa. Astaga, rupanya dia mabuk.


Mencondongkan wajahnya ke arah Lexa, sontak saja Lexa menjauhkan wajahnya dengan waswas. "Siapa kau?" Dia malah bertanya.


Bau alkohol dari mulut pria itu sungguh menyengat. Untungnya Lexa sudah terbiasa dengan aroma itu, karena itu ia hanya perlu menahan napas sejenak saat ayah Eunbi bersuara, tanpa harus menutupi hidungnya.


"Ya Tuhan, semua pria itu sama saja," pikir Lexa pada diri sendiri.


"Apa kau bilang?"


Lexa menggeleng geli. "Sebaiknya kau segera bersihkan dirimu. Jangan sampai Eunbi melihat ayahnya seperti ini. Sungguh memalukan!"


Senyuman sinis si duda itu sedikit demi sedikit berubah tawa, lalu memecah. Badannya telah kembali tegak. Sementara Lexa mengerutkan kening, menatap keki pria itu.


"Bagaimana kau bisa tahu bahwa semua pria itu sama saja? Apa kau melihatnya dari zodiak, atau sampel darahnya, huh?" Dampak yang selalu terjadi akibat menenggak minuman keras itu, membuat pria itu mulai bicara sembarangan.


Walaupun terlibat dalam pergaulan bebas, Lexa bukanlah tipe peminum. Ia masih tahu batasan dan mencuri hanya terdesak keadaan. Ia benci setiap kali Jack mabuk dan Lexa pun masih harus mengurusnya, bahkan di saat suaminya muntah. Setelah sadar keesokan harinya, barulah Lexa akan marah-marah. Untuk kali ini, ia tidak mau melakukannya pada si duda itu. Dia bukan siapa-siapa Lexa.


"Ya, mungkin kau benar. Semua pria itu sama saja, semuanya bisa dibodohi oleh rayuan dan wajah yang cantik. Iya, kan?"


Lexa berpaling dari wajah layu itu, enggan mendengarnya. Ucapan pria mabuk bisa sangat menyakitkan, sama seperti saat Jack mabuk dan mulai membicarakan hal-hal yang tidak pernah dia akui di depan Lexa, seperti kekesalannya pada Lexa yang suka mengatainya bodoh, atau kerap menolaknya saat bercinta. Walau pun itu jujur, Lexa tidak suka.


"Tapi wanita juga sama saja. Mereka itu lebih cinta harta!" cetus Junho menarik pandangan Lexa kembali padanya. "Mengaku cinta, tapi beberapa hari berpisah, sudah menemukan panggantinya. Setelah uangnya habis, dia pergi. Sedangkan pria ini, butuh waktu berapa lama, bahkan mungkin seumur hidup untuk bisa melupakannya." Dia menepuk dadanya sendiri.


Lexa menekuk satu tangannya ke pinggang, merasa keberatan dengan pendapat pria itu. "Siapa bilang? Kenyataannya, aku betah hidup dengan pria yang sama sekali tidak punya uang dan hanya mengandalkan hasil curian!" Lexa beralih melipat kedua tangan di perut. "Mungkin, kau saja yang harus keluar dari tipe wanita seperti itu dan mulai bergaul dengan wanita sederhana. Memangnya siapa dia? Apa kau sedang membicarakan mantan istrimu? Kau baru bertemu dengannya? Dan kau mabuk karena itu?"


Tatapan Junho melemah. Dia kembali terduduk lemas di sofa, tampak sekali bahwa dirinya sedang frustrasi.


"Bagaimana aku bisa keluar darinya? Setiap hari aku bersama Eunbi. Melihat Eunbi, sama seperti melihat ibunya."


Oh? Mendengar pengakuan menyedihkan itu, kedua tangan Lexa menurun. Jadi, Eunbi mirip ibunya? Jika benar, pasti wanita itu sangat cantik. Pantaslah bila mantan istrinya itu begitu mudah memikat pria dan mantan suaminya ini menjadi sulit merelakannya. Prihatin dengan masalah yang harus dihadapai Junho, Lexa beranjak duduk di sebelahnya.


Junho mengembuskan napas besar. "Dia ingin aku begini, dia ingin aku begitu. Aku sudah melakukan semuanya untuk dia, tapi masih saja salah."


Lexa melihat mata pria itu berkaca-kaca. Suaranya terdengar cengeng. Dia sedang mengungkapkan isi hatinya. Tak lama kemudian, sebutir air menetes dari pelupuk mata si duda. Lexa tepekur memperhatikan pria itu tercenung menatap lantai, seolah tengah menggali ingatannya akan kejadian yang membuatnya sakit hati.


Lexa tersentuh sekalipun ia tidak tahu permasalahan pastinya sehingga pria itu harus menceraikan istrinya. Namun dari sepenggal curahan hatinya itu, Lexa bisa menyimpulkan bahwa pria itulah yang terkhianati.


"Bagaimana pun juga, kau tidak akan pernah bisa melupakannya," ujar Lexa canggung. "Dia adalah ibunya Eunbi. Tapi, bukan berarti kau tidak bisa menggantikannya. Uang memang segalanya, tapi tidak semuanya wanita itu sama. Kau harus bisa membedakan mana wanita yang gila harta, dengan yang benar-benar membutuhkan harta."


Junho menoleh ke arah Lexa, tercenung beberapa saat, dan Lexa merasa grogi diperhatikan sedalam itu.


"Ya, aku sudah bisa membedakannya saat melihatmu."


"Oh? Aku?"


"Kau sangat baik meski awalnya tujuanmu untuk sesuatu yang merugikan. Tapi setelah apa yang aku alami, aku merasa lebih baik kau mencuri diam-diam untuk suatu hal kebaikan. Daripada meminta sesuatu dari seseorang, lalu menghancurkannya terang-terangan. Tidak hanya kerugian yang aku dapatkan, tapi kesakitan yang berkepanjangan. Kau menjaga putriku dengan sangat baik, dia hidupku, kau menepati janjimu. Sebagai wanita, kau telah mendapatkan kehormatanmu. Kau layak untuk dicintai dengan baik."


Astaga ... apa yang dia katakan? Lexa tidak mengerti sama sekali, akan tetapi ia merasa terpuji.


"Seandainya saja kita bertemu lebih awal ... aku akan mengeluarkanmu dari semua kesulitan dan membawamu ke duniaku ini. Terima kasih, sudah masuk ke dalam rumahku. Aku tidak keberatan jika kau benar-benar mencuri sesuatu dariku."


Setelah mengucap kalimat tak jelas itu, mendadak Junho beranjak dari tempat duduknya untuk berlutut di hadapan Lexa. Eh, lho?


"Terimalah penghormatan dariku ini." Dengan suara terseret dan kondisi badan yang loyo, pria itu menundukkan kepala di depan Lexa. Dia memberikan penghormatan seperti yang dia katakan.


Lantaran masih tidak bisa memercayai apa yang tengah terjadi, Lexa hanya sanggup menahan napas. Setelah beberapa saat tertunduk di hadapan Lexa, Junho terempas lemah ke arahnya.


"Eh, eh!" Lexa terkesiap menangkapnya sambil memekik spontan, dan pria itu telah terpejam di bahunya.


Astaga, apa yang dia katakan tadi? Lexa tidak mampu memahami dalam waktu secepat ini. Ingin ia mengerti, akan tetapi takut dalam hati. Ia takut salah menemukan arti.


Lexa menidurkan Junho di sofa yang sama tanpa harus repot-repot membopongnya, karena pria itu masih setengah sadar. Begitu seolah merasa nyaman, dia terlelap tak sadarkan diri. Lexa menaikkan kedua kaki pria itu. Saat ia mengangkat kepala si duda dan menyelipkan satu bantal di bawahnya, tiba-tiba tatapan Lexa terpaku pada paras rupawannya. Kembali ia membenamkan sekumpulan kalimat yang pria itu haturkan untuk menilai dirinya dan kini mengganggu pikirannya.


Bagaimana mungkin pria terpandang seperti dia bisa menilai seorang Lexa dengan begitu baik? Tidak pernah, tidak satu pun orang yang memandangnya baik-baik sebelum ini. Dia tahu tujuan Lexa masuk ke rumah ini untuk mencuri, tapi Junho tidak memanggilnya pencuri. Dia memandang Lexa lebih baik dari mantan istrinya sendiri yang tentunya pernah tampak sempurna di matanya. Entah dia mengatakannya hanya karena depresi, atau masih sakit hati, Lexa akui itu berhasil membuatnya berbangga diri. Rasa-rasanya semua mata tertuju padanya setelah bertahun-tahun Lexa tak pernah dilihat.


Ketika pria itu memujanya, memberikan penghormatan, Lexa merasa seakan-akan seluruh malaikat berlutut tunduk padanya. Sekali lagi ia merasakan keindahan ketika dipandang dengan penuh kehormatan. Hal lain yang membuatnya senang, adalah ketika ia tahu bahwa pria itu bukanlah si penggusur rumah warga. Entah mengapa, Lexa lega. Dipandang hormat oleh pria baik-baik, ini terasa nyata dan mampu dipercaya. Sebagai bentuk terima kasihnya, tiba-tiba Lexa ingin memberikan sesuatu untuk menghargai penghormatan yang telah pria itu beri, seiring tumbuhnya harapan semu dalam hati. Sebuah kecupan di bibirnya.


Ya, Lexa melakukannya diam-diam. Namun sesaat, seolah tersadar dari rasa yang membuatnya berbunga-bunga, Lexa menjauhi wajah tampan itu dengan perasaan bersalah. Apa yang aku lakukan? Lexa bangkit dan jantungnya mendadak berdebar sangat cepat. Tidak, ini tidak benar, ini tidak boleh! Lexa menggeleng dengan sendirinya. Ia berjalan mundur, mencoba menolak takdir ini sambil meremas dadanya, membuang debaran itu dari hatinya, tapi tak bisa. Apakah ini benar terjadi? Lexa ingin membantah, sayangnya perasaan ini tidak bisa sirna.


Harapan semu yang mulai terbentuk dalam hatinya sejak pria itu memandangnya dengan begitu berbeda, tiba-tiba berkembang menjadi keinginan yang nyata. Mengapa tiba-tiba Lexa benar-benar ingin bisa mencuri sesuatu dari pria itu? Apakah pria itu pun sama, ingin Lexa mencuri hatinya?