Black in Love

Black in Love
Chapter 14



"Lexa ...."


Itulah kata pertama yang mampu keluar dari mulut Jack saat ia terbangun dari tidurnya. Wajah sang pemilik nama yang selalu muncul dalam pejaman matanya. Matanya terbuka perlahan, mengerjap pelan, mencoba memperjelas penglihatan. Tak butuh waktu lama untuk dapat mengembalikan kesadaran. Begitu melihat sekelilingnya, Jack menemukan ingatannya akan kejadian malam itu, yang membuatnya harus masuk ke kamar beraroma kimia. Nyeri di bagian perutnya pun masih sangat terasa.


"Kau sudah sadar. Syukurlah." Seorang pria berjas putih berdiri di sisi ranjang tempat Jack terbaring.


"Lexa." Jack mengulang kata yang sama, lalu meringis nyeri memegangi luka di perutnya.


"Siapa Lexa?"


Son tiba-tiba muncul dan mendekat. "Ngg, dia ... wanita yang membawanya kemari. Lexa adalah istrinya," timpalnya.


"Oh. Di mana dia sekarang? Suruh dia datang, sepertinya pasien akan merasa lebih tenang."


"Ah iya, Dok."


Sang dokter pergi.


Jack pun tak mampu lagi menahan pertanyaan di mulutnya, "Son, di mana Lexa?"


"Kak Lexa .... Dia pulang ke kabin sebentar untuk mengambil beberapa keperluan, nanti juga pasti kembali. Kak Jack tenanglah, sebaiknya jangan pikirkan apa pun dulu."


"Aku tanya, di mana Lexa?"


"Ngg? Kak Lexa .... Bukankah sudah aku katakan, Kak Lexa pulang ke kabin."


"Dia tidak akan mungkin meninggalkanku, apalagi dalam keadaan seperti ini."


Son tepekur. Dia terlihat tak memiliki jawaban lagi untuk apa yang Jack yakini. "Kak Jack ...."


"Apa dia mencari uang?" Jack menyela, curiga.


Son tertegun dan terlihat jelas dia kaget, semakin menguatkan dugaan Jack.


"Jawab! Apa dia pergi mencari uang sendiri?" Memastikan itu, Jack merasa sebagian tenaganya terserap.


Son tergugu, juga gemetaran. "I-iya, Kak Lexa pergi merampok ke rumah itu seorang diri." Akhirnya dia mengakui, takut-takut.


"Apa?" pekik Jack dengan mata membelalak.


"A-aku sudah mencegahnya, Kak! Tapi Kak Lexa memaksa."


"Dasar bodoh!" sela Jack geram. "Bagaimana kau bisa biarkan itu? Di mana dia sekarang? Apa dia sudah kembali?"


Son menggeleng dengan mata berembun. "Aku juga sedang menunggunya. Aku tidak tahu kenapa sampai saat ini Kak Lexa belum juga kembali."


Membuat Lexa sedih adalah hal yang paling Jack cemaskan. Namun ia tak menyangka, saat Son menyatakan kalimat itu, Jack merasa ketakutan lebih dari sekadar dikepung oleh ribuan polisi.


Seakan tahu Jack mulai terbakar amarah, Son lekas menambahkan, "Kak, dia pergi untuk membayar semua biaya operasimu."


"Harusnya kau mencegahnya!" sela Jack akhirnya lepas kendali. Ia berteriak, membuat Son gelagapan.


"A-aku sudah—"


"Aku akan menyusulnya." Jack memaksakan diri untuk bangun. Ia melepas semua selang-selang yang terhubung di hidung dan pergelangan tangannya.


"Kak, Kak, jangan! Keadaanmu masih belum pulih benar!"


"Lalu, apa aku harus tidur santai di sini sementara istriku dalam bahaya?" Jack mencoba menapakkan kaki ke lantai, menahan rasa sakit yang amat di bagian lukanya.


"Kak Lexa begitu yakin, kita berdoa saja—"


"Berdoa katamu? Apa Tuhan menerima doa penjahat seperti kita, hah?" Son terdiam sekejap begitu Jack melototinya. "Bagaimana jika istriku tertangkap dan sekarang ada dalam penjara? Kau mau bertanggung jawab? Dasar tidak berguna!"


Jack mencari pakaiannya dan menemukan kaus juga jaketnya di sudut ruang. Jack memakainya dengan sangat hati-hati.


"Kak! Kak Jack!"


"Ayo pergi." Jack mulai berjalan menuju pintu.


"Tapi, Kak!"


Jack tidak peduli. Saat ini keadaan Lexa lebih gawat. Kendati Jack geram mengapa wanita itu sangat bodoh dan keras kepala, tetap saja perasaan itu tak mampu mengalahkan kecemasannya kini. Ia mengawasi situasi sekitar koridor. Setelah memastikan luput dari penjagaan, Jack meninggalkan kamar rawatnya. Ia berjalan ke tepian sambil menyembunyikan wajah agar tak dikenali sebagai pasien, dan Son terus mengikutinya waswas. Walaupun harus tertatih, secepat mungkin Jack ingin bisa segera keluar dari rumah sakit.


Sesampainya di kabin ....


Jack masih tak bisa meredakan kecemasannya yang berlebih. Pikirannya semakin kacau karena tak mendapati Lexa ada di sana.


"Lexa? Lexa!"


"Kakak, tenanglah. Lukamu belum kering. Kau belum pulih benar!"


"Bagaimana aku bisa tenang? Istriku pergi merampok seorang diri, bagaimana jika sesuatu terjadi padanya, hah?"


Son tertunduk takut-takut.


Panik, Jack memasuki kamar dan hatinya semakin tak tenang. "Apa dia membawa mobil?"


"Sepertinya iya."


"Dia pergi ke rumah itu, kan?"


"Ya, benar."


"Aku akan menyusulnya."


Jack berjalan cepat menuju pintu utama. Namun sebelum ia sempat keluar, langkahnya tertahan tiba-tiba merasakan sakit pada luka di perutnya.


"Agh!"


"Kakak!" Son melejit ke arahnya.


Jack meringis memegangi bekas jahitannya. Kesakitan yang amat di bagian itu, membuat penglihatannya sekilas memudar.


"Kakak, lukamu berdarah!" Son memberi tahu, terkejut.


Ya, Jack bisa melihat itu di kausnya. Rasa melilit dan nyeri seakan mencengkeram sampai ke bagian uratnya. Jack akhirnya tak bisa menolak lagi ketika Son memapahnya, membawanya berbaring ke kamar.


"Tunggulah, Kak. Aku akan membersihkan darahnya."


Setelah mengambil handuk kecil yang telah dibasahi, Son membersihkan darah di sekitar luka Jack.


"Ayo kita kembali ke rumah sakit saja, Kak! Pihak rumah sakit pasti sedang mencari kita. Bisa saja mereka akan melaporkan kita karena kabur dari sana."


"Tidak. Setelah aku membaik, aku akan pergi mencari Lexa."


Jack menghela napas dalam-dalam, kemudian memejamkan mata sambil mengembuskannya lewat mulut. Ia tidak tahu kenapa ia bisa menjadi selemah ini. Sungguh Jack menyesali keadaannya kini.


*****/////


Perlahan, matanya terbuka dan seorang gadis bermata cokelat sudah duduk di depannya. Lexa tidak yakin dirinya ada di surga, tapi gadis itu tampak sangat cantik bak bidadari kecil dengan rambut panjangnya.


"Ayah, dia bangun!"


"Ah, iya."


Begitu mendengar sahutan seorang pria, Lexa tersentak menemukan kesadarannya. Badannya menegak seiring pandangannya yang teralih ke arah dapur dan pria itu, si pemilik rumah yang Lexa masuki semalam tengah sibuk di sana.


"Kenapa matamu hitam?" Gadis itu bertanya, kembali menarik pandangan Lexa padanya. Dia memperhatikan mata Lexa dengan matanya yang bulat.


Lexa meraba matanya, mendapati coretan di jarinya. Sepertinya celak dan eyeliner di matanya mulai luntur.


"Ayah, Ayah, apa aku bisa memakai penghitam mata sepertinya?"


"Tidak, Sayang, itu hanya dipakai untuk orang dewasa." Dia adalah ayahnya.


Eh? Kenapa Lexa masih di sini? Lexa tersadar sepenuhnya.


"Jack," bisiknya, teringat tujuannya datang merampok di rumah ini. "Jack!" Teringat pula kondisinya, Lexa langsung bangkit dan berjalan cepat menuju pintu utama.


"Aku akan memanggil polisi jika kau berani keluar dari rumah ini!"


Langkah Lexa sontak tertahan begitu si pemilik rumah mengancamnya dengan suara yang keras.


Lexa berbalik sambil mengernyit. "Apa?"


Pria itu berlalu dari meja dapur. Dia berjalan dengan sangat santai menghampiri Lexa. "Ya. Aku membiarkanmu tidur, bukan berarti kau bebas dari tersangka."


"Bukankah kau sudah menghubungi polisi?"


Pria itu menggumam sambil berpikir. "Aku urungkan niatku."


"Apa? Kenapa? Kau sudah menahanku semalaman, sebenarnya apa yang kau inginkan?"


"Aku memintamu menunggu, tetapi kau malah tertidur."


Lexa mendengus. "Aku tidak mengambil apa pun darimu, tapi jika kau menganggap urusan ini belum selesai, maka katakan apa maumu?"


"Seorang pembunuh yang gagal membunuh pun, tetap saja dia tersangka dan harus dihakimi. Jika aku memilih untuk menahanmu di sini, itu adalah caraku menghukummu." Pria itu membuat Lexa tersudut.


Lexa tidak langsung menjawab, sebab memang tidak memiliki alasan yang kuat. Dia benar. Pria itu menatapnya dengan seulas senyum di sudut bibirnya. Wajahnya yang cerah dan berkarismatik, entah mengapa semakin membuat Lexa menaruh curiga. Ia tak tenang mengartikannya.


"Aku harus pergi ke rumah sakit. Bisakah kita lanjutkan ini nanti?"


Pria itu menggeleng. "Aku tahu itu, tapi bagaimana aku bisa percaya kau akan kembali?"


"Aku akan mengembalikan uang jaminan yang kau berikan hari itu!"


"Sayangnya aku tidak mau menerima uang curian," sahut dia.


Lexa membelalak. "Kau—"


Baru satu kata terlontar sebagai bantahan, ponsel di saku celana pria itu berdering. Pria itu mengangkat tangannya untuk menahan kalimat Lexa.


Dia lantas menjawab panggilan itu. "Ah iya, baiklah. Aku akan segera ke sana."


"Ayah, apa Ayah akan pergi? Bisakah aku ikut dengan Ayah?" Gadis setinggi pinggang Lexa itu mendekati ayahnya dengan wajah sedih. Mungkin usianya sekitar enam tahun.


"Tidak, Sayang. Ayah akan sangat sibuk."


"Tapi aku tidak mau pergi ke rumah Ibu," katanya dengan suaranya yang lucu.


Pria itu termangu sejenak menatap putrinya dengan tatapan iba. "Mmm, kau akan tetap di sini. Kakak ini yang akan menemanimu."


Membelalak cerah, mendadak gadis mungil itu bersorak gembira, "Yeaay, asyiiikk!"


"Baiklah, rapikan dulu kamarmu dan bersiap untuk sarapan."


"Baik, Yah!"


Lexa bisa melihat keantusiasan di wajah gadis bermata besar itu ketika berlalu ke dalam.


"Apa-apaan ini?" Lexa memprotes, inginkan kejelasan.


"Kau perampok, tapi bukan penculik, kan?"


"Apa?" Terkejut, tapi juga tersinggung.


Tiba-tiba menghadapkan punggung ponselnya lurus ke wajah Lexa sampai terdengar suara kamera, pria itu kemudian menggoyang ponselnya sambil menyeringai.


Dia memberi tahu, "Aku dapatkan fotomu. Kali ini, aku ingin ini sebagai jaminan karena aku menyerahkan hidupku padamu, maksudku putriku. Dia adalah hidupku. Jika sesuatu terjadi pada putriku ataupun kau berniat melarikan diri, maka bersiaplah untuk menjadi terkenal di media massa. Khususnya halaman kriminal."


Astaga! Sungguh Lexa tidak tahu bagaimana ia bisa terjebak dalam keadaan ini. Pria itu lebih licik darinya. Lexa kesal, karena pria itu sangat pandai memenjarakannya. Dia tidak memberi Lexa pilihan.


"Dasar penjilat!" celetuk Lexa teringat sesuatu tentang pria itu. Ia sungguh geram.


Dia mengernyit dalam. "Apa kau bilang?"


"Ya, kau itu penjilat! Kau sama sekali tidak ingin rugi, bahkan mencoba mengambil keuntungan dari kesulitan orang lain!"


"Hey, keuntungan apa yang kau maksud?"


"Kau menggusur rumah warga dan sekarang kau coba memerasku yang bahkan tidak mengambil apa pun darimu!"


"Menggusur? Memeras? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Aku hanya ingin kau menjaga putriku, tidak meminta sesuatu darimu!"


Lexa tersenyum sinis, cukup muak dengan sikap lugunya. Jack pernah menceritakan kenapa mereka harus mencuri di rumah ini. Tadinya, setelah melihat pria itu begitu manis, Lexa sempat tidak percaya bahwa info yang diberikan Jack itu benar, tapi sekarang Lexa telah membuktikannya sendiri. Ya, mungkin saat ini dia ingin Lexa hanya menjaga putrinya, tapi setelah itu bisa saja rencana lain sedang dipersiapkannya.


"Aku harus pergi ke rumah sakit!" Lexa memekik ketika pria itu beranjak menuju dapur untuk menata hidangan di meja makan.


"Aku tidak bisa meninggalkan putriku sendirian di sini."


Lexa mendekat, cemas. "Kenapa bukan ibunya saja yang menjaganya?"


"Kami sudah bercerai setahun yang lalu."


"Hah? Oh, oke, baiklah. Kau bisa, kan, bawa dia ke tempat penitipan anak? Atau bawa saja dia bersamamu!" Ia akan terus memberi pilihan sampai pria itu tak punya alasan lagi untuk menahan Lexa.


"Dia mengalami trauma. Beberapa pengasuh tidak memperlakukannya dengan baik. Aku akan sibuk hari ini. Bagaimana jika kau jaga anakku, dan aku akan melihat kondisi suamimu saat aku pulang nanti?"


Napas Lexa tersumbat sejenak membenamkan penawaran itu. Dia benar-benar memberikan pilihan, tapi itu sangat sulit untuk Lexa setujui.


"Kita buat kesepakatan. Jika kau mau tetap di sini menjaga putriku sampai lima hari ke depan, maka aku akan membebaskanmu setelah itu. Karena selama itu, aku sibuk dengan beberapa pertemuan bisnis. Jika kau bersedia, aku janji tidak akan melaporkanmu kepada polisi."


Hingga lima hari ke depan? Lexa mengernyit tak mengerti kenapa semua ini membuatnya seolah tak berdaya. Meskipun itu bagus, sebab Lexa terbebas dari jeratan hukum, tapi Lexa tidak mungkin bisa tenang sebelum melihat perkembangan kondisi Jack.


"Ayah, aku sudah selesai!"


Suara manja itu serentak menarik pandangan Lexa dan ayah si gadis. Gadis itu tampak ceria dalam balutan mini dress berbahan kaus.


"Bagaimana? Kau mau berjanji?" Suara pria itu kembali menyita perhatian Lexa.


"Kau yakin, setelah itu aku benar-benar bebas?"


"Ya, aku tidak pernah main-main dengan janjiku."


Lexa mencermati setiap bagian dari diri pria itu dengan penuh pertimbangan, berusaha percaya padanya. "Kau tidak akan menuntut sesuatu lagi dariku?"


"Menuntut apa? Maksudku, tentu saja tidak!"


"Sungguh?"


"Ya! Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau berpikir aku akan memanfaatkanmu dan memerasmu?"


"Mungkin saja," gumam Lexa keki.


Pria itu tersenyum sinis, seolah tak habis pikir dengan kecurigaan yang justru Lexa tunjukkan. "Terserah padamu."


Meski ragu dan tak sepenuhnya mengerti dengan kesepakatan ini, pertimbangan di satu sisi membuat Lexa tak ingin menolak. Terbebas dari hukum, itu yang utama.


"Baiklah, awas saja jika kau tidak menepati janjimu!"


"Kita lihat saja nanti," timpalnya enteng. "Baiklah, ayo kita makan dulu." Dia duduk di salah satu kursi, disusul putrinya.


"Kenapa Kakak diam saja? Kenapa Kakak tidak makan bersama kami?"


Lexa mendapati pria itu melirik kursi di depannya, meminta Lexa untuk duduk bersama. Anehnya, Lexa menurut saja. Seakan terhipnotis oleh tatapan tajam itu, Lexa berjalan dengan langkah yang berat tanpa kendali. Dengan terpaksa Lexa duduk, lalu pria itu pun melebarkan senyum. Dia sangat manis. Dia pria yang matang. Dia seorang ayah yang masih muda.


"Ayo, makanlah bersamaku." Si kecil memerintah.


Lexa masih bingung dengan keadaan ini. Melihat begitu banyak makanan lezat yang terhidang di depan matanya, perut Lexa keberatan menolaknya. Semuanya terlihat menggiurkan. Lexa mendadak merasa sangat lapar. Akhirnya ia pun tak mampu menahan diri. Lexa mengambil porsi, mulai menyantapnya ragu-ragu dan juga malu, karena pria di hadapannya itu masih memperhatikannya sesekali.


Beberapa menit usai menuntaskan sarapan, pria itu berpamitan pada putrinya ....


"Ayah sudah terlambat. Jangan buat masalah di rumah, ya! Jadilah anak yang baik." Dia mengusap kepala anaknya, bersiap sambil menjinjing tas kerjanya. "Ayah akan menghubungimu setiap satu jam sekali," sambungnya sambil melirik Lexa.


Cibiran kecil Lexa berikan untuk sindiran itu.


"Baik, Yah."


"Oh ya, siapa namamu?" Pria itu bertanya pada Lexa.


Terdiam sejenak, Lexa menjawab dengan dingin, "Lexa."


"Lexa? Itu nama yang tidak umum di sini. Apa kau mencoba mengelabuiku?"


Lexa mendengus. "Aku memang pencuri, tapi aku bukan pembohong!"


"Oh. Aku pikir mereka itu satu paket," katanya seketika membuat Lexa terbelalak. Dia berlalu meninggalkan senyuman remeh.


Sangat menyebalkan.


"Kakak, ayo kita bermain!"


"Eh?"


Gadis dengan semu merah di pipinya itu menarik tangan Lexa, membawanya ke ruang tengah. Dia mengeluarkan seluruh mainannya dari box besar yang ada di sudut ruangan dengan amat antusias.


"Lihat, aku punya banyak mainan!" Dia begitu polos, melihat Lexa seolah-olah seperti seorang malaikat.


"Mmm, siapa namamu?" Lexa bertanya, asal saja.


"Aku Lee Eun-Bi." Dia gadis yang cukup supel.


"Eun-Bi. Berapa usiamu? Kenapa tidak sekolah?"


"Bulan depan aku baru mau masuk sekolah."


"Oh. Lalu, siapa nama ayahmu?"


"Lee Jun-Ho."


"Oh ..., Junho. Lalu, siapa saja yang tinggal di rumah ini?"


"Hanya aku dan Ayah."


Lexa terdiam sejenak. Berpikir, rumah sebesar ini hanya mereka tinggali berdua saja? Pria itu—si duda itu—Junho, sepertinya dia adalah seorang pengusaha sukses. Bagaimana bisa dia mempercayakan putrinya kepada Lexa setelah tahu Lexa berniat merampok di rumahnya? Aneh sekali.


"Mm ... Eunbi, apakah di rumahmu ini terpasang kamera pengintai?" tanya Lexa berhati-hati. "CCTV, iya itu!"


Gadis itu terlihat berpikir. "Tidak. Apa Kakak ingin merekam sesuatu?"


"Ah, tidak. Ngg? Temanku, dia sedang dirawat di rumah sakit. Jika aku pergi ke sana sebentar, kau tidak akan menghubungi ayahmu, kan?"


Kedua alis Eunbi terangkat tinggi. "Apa aku boleh ikut? Aku takut sendirian. Kalau Kakak pergi, Ayah akan mengantarku ke rumah ibuku. Lalu aku akan dicubit lagi."


"Apa? Dicubit? Siapa yang mencubitmu?"


"Ibu."


"Kenapa dia melakukannya?"


"Ibu selalu sibuk dengan teman-temannya. Aku hanya ingin bicara dengannya, tapi Ibu mencubit lenganku. Lihat ini." Eunbi menunjukkan tanda biru di lengan kirinya. Memar itu tampak masih baru.


Keterkejutan Lexa pun berubah simpati seketika. "Apa ayahmu tahu itu?"


Gadis itu menggeleng.


"Kenapa kau tidak menceritakannya pada ayahmu?"


"Ibu melarangku."


Lexa mendesah panjang, terselip juga rasa simpati. "Pasti itu kenapa ayah dan ibumu bercerai."


Gadis yang malang, pikirnya.


"Kakak, bisakah kau pasangkan ini ke bonekaku?"


"Apa ini?"


"Ini topi."


"Oh, aku bahkan tidak pernah memainkan mainan seperti ini."


"Oh, ya? Tapi Kakak pernah kecil, kan?"


"Tentu saja, memangnya aku lahir sudah sebesar ini?"


"Apa ibu Kakak pernah mencubit Kakak?"


"Eh? Ngg ...?"


Lexa kebingungan saat Eunbi bertanya mengenai ibunya. Apa yang harus Lexa jawab? Ia dibesarkan di panti asuhan. Pengurus panti bilang, Lexa ditemukan di depan gerbang panti saat masih bayi. Jika setiap ibu bersikap kasar pada putrinya, Lexa merasa lebih baik tidak mengenal ibunya. Lebam di lengan gadis itu, sudah jelas akibat cubitan yang sangat menyakitkan. Namun, Eunbi adalah gadis yang kuat. Lexa bisa tahu itu dari keceriaan yang terpancar di wajahnya. Kendati mendapat perlakuan kasar dari sang ibu seperti yang diakuinya, Eunbi masih bisa percaya pada orang lain dan bersemangat untuk bermain. Ya, meskipun bisa jadi itu karena dia masih terlalu polos untuk mengerti artinya balas dendam.