
Setelah beberapa jam, akhirnya tim dokter berhasil menyelamatkan Jack. Jack dipindahkan ke kamar rawat. Namun, Lexa masih harus memikirkan pelunasan seluruh sisa biaya untuk bisa menggunakan fasilitas rumah sakit secara maksimal. Jack belum sadarkan diri. Pengaruh obat bius membuatnya tertidur tenang. Lexa lega tak harus melihatnya kesakitan lagi. Luka-luka lebam di wajahnya pun telah diobati. Dadanya ditelanjangi guna memberi ruang pada bekas jahitan di sisi perutnya. Air mata itu tetap saja tak mau berhenti mengaliri pipi Lexa. Ia mengawasi tubuh terkulai sang kekasih dari balik kaca. Menatap tak berdaya.
"*Cepat masuk ke sini!"
Dalam situasi genting, Lexa harus dihadapkan pada pilihan yang sulit. Jack memaksanya untuk masuk ke dalam tempayan besar yang ada di sekitar tempat penampungan sampah. Walau ukurannya cukup besar dan bisa dipastikan mampu memuat seluruh tubuh kurus Lexa, tapi tempayan dari tanah liat itu hanya ada satu dan hanya cukup untuk menampung satu orang saja. Sedangkan sudah tidak ada jalan lagi untuk mereka melarikan diri. Sudah tidak ada tempat lain untuk mengamankan diri. Orang-orang dewasa itu masih mencarinya hingga semakin mendekat. Lexa bingung apakah dirinya harus bersembunyi, sementara Jack tidak bisa ikut dengannya.
Jack panik sesekali mengawasi kondisi di belakangnya. Suara orang-orang itu mulai terdengar jelas. Beberapa menit yang lalu orang-orang itu melihat Jack dan Lexa mengambil dompet salah seorang dari mereka dan berniat untuk menangkapnya. Jack dan Lexa berhasil meloloskan diri dari kejaran massa, tetapi keduanya terjebak saat memasuki kawasan pembuangan rongsokan yang hanya ada gunungan-gunungan sampah di sekelilingnya.
"Cepatlah, Lexa!"
*Dalam keadaan kalut, Lexa menurut saja begitu Jack berteriak membentaknya. Dia menenggelamkan kepala Lexa ke dalam tempayan sempit itu, lalu menutupinya dengan kardus-kardus bekas di sekitarnya.
"Itu dia*!"
Celaka! Jack tertangkap! Orang-orang itu tak lebih dari lima pria dewasa. Mereka berhasil menemukan Jack dan segera menghampirinya. Jack terperangkap tak dapat melarikan diri lagi karena orang-orang itu segera berpencar mengepungnya. Lexa melihatnya dari celah-celah kepala tempayan yang retak dan berlubang, ragu apakah ia harus keluar untuk menolong Jack atau tetap bergeming di dalamnya.
"*Dasar pencuri! Masih kecil sudah berani menjadi penjahat kau, ya!"
"Ayo kita hukum saja dia! Beri dia pelajaran supaya jera*!"
"Ya, setuju!"
Para warga mendekat, lalu menyeret Jack ke tengah lapangan. Mereka melempar Jack ke tanah hanya dengan sekali dorongan, lalu mulai menendanginya. Tidak! Lexa berteriak dalam hati melihat bocah itu dikeroyok. Mereka menghajar Jack yang masih berusia 14 tahun dengan tangan besar mereka. Lexa melihatnya disiksa tanpa mampu melakukan perlawanan apa pun. Lexa hanya bisa menangis menahan suaranya. Di setiap pukulan yang harus diterima Jack, Lexa pun merasakan kesakitan yang luar biasa dalam dadanya. Setelah orang-orang itu puas menghakimi lalu pergi, Lexa keluar dari persembunyiannya dan langsung berlari menolong teman satu-satunya.
"Jaaaack!" Lexa tak kuasa menahan tangis dan jeritan melihat wajah Jack penuh dengan luka. Tak hanya itu, orang-orang sadis itu menelanjangi Jack dan hanya meninggalkan celana dalamnya saja, menertawakannya. Mereka sangat kejam, melebihi penjahat itu sendiri.
Keadaan Jack perlahan membaik begitu Lexa membawanya pulang ke kabin dan mengobatinya. Beruntung orang-orang itu masih menyisakan nyawa untuk Jack. Namun trauma yang dialami Jack tampaknya menghasilkan dendam yang mendalam.
"Kita kembali saja ke panti," putus Lexa.
"Tidak," bantah Jack. "Kita sudah memilih untuk hidup seperti ini, jadi kita akan hadapi apa pun risikonya."
"Tapi, Jack ... ini sangat berbahaya, kita masih terlalu kecil untuk menghadapi situasi ini!"
"Ini pelajaran untuk kita, Lexa. Inilah yang akan membuat kita kuat nantinya. Mungkin saat ini aku hanya bisa menyembunyikanmu di tempat lain untuk melindungimu. Tapi nanti, kau hanya perlu bersembunyi di belakangku dan aku akan mengalahkan mereka semua! Lihatlah, setelah aku besar nanti, aku akan menjadi lebih kuat dari ini! Aku akan lebih hebat dari ini!"
"Jack, hidup bukan tentang siapa yang paling hebat, tapi bagaimana kita bisa bertahan menjaga diri kita sendiri!"
"Tidak, Lexa. Sejak aku memutuskan hidup bersamamu, maka segalanya tentang dirimu. Kau menjadi alasan dan tujuanku mulai detik itu. Ini bukan hanya janji seorang teman, tapi juga janji seorang pria! Aku telah berjanji untuk tetap bersamamu. Jadi sebagai seorang pria, aku akan buktikan itu!"
Lexa termangu menatap keyakinan yang kuat di mata Jack. Entah apa yang dikatakannya, Lexa agak tak paham, tapi ia merasa diistimewakan, tak menyangka pemuda itu bisa berkata demikian dan Lexa senang. Lexa tak pernah merasa dirinya seberarti ini untuk orang lain. Jack terlalu serius, tapi malah membuat Lexa merasa sangat malu.
"Kau berkata begitu seperti seorang pria saja!" ledeknya.
"*Aku memang pria!"
"Pria yang belum dewasa!"
"Memangnya kedewasaan diukur dari sudut pandang mana? Apa kau bisa jelaskan itu padaku?" Jack tak terima*.
"Setidaknya kau harus memiliki badan yang besar, lebih besar dari orang-orang itu!"
"Begitukah menurutmu? Baik, lihat saja nanti! Aku akan membentuk ototku. Aku akan menato tubuhku dan menumbuhkan berewokku. Aku akan membuat semua orang dewasa takut hanya dengan melihatku saja!"
Jack telah membuktikan ucapannya hari itu. Dia tumbuh menjadi pria dewasa yang ditakuti banyak orang. Dia melindungi Lexa di belakangnya, tapi Lexa tidak pernah mengira hal seperti ini akan terjadi. Ia tidak pernah menduga sumber kekuatannya akan melemah. Jika sudah seperti ini, Lexa tidak tahu apa yang mesti dilakukannya untuk tetap kuat. Ia tidak pernah memikirkan harus bertahan hidup tanpa Jack, karena selama ini Jack selalu ada bersamanya. Kini Lexa seorang diri. Bagaimana ia akan mencari uang tanpanya?
*****/////
Lexa harus kembali ke klub malam bersama Son demi menemukan Nil. Telah digenggamnya sebuah keputusan dari jalan keluar tanpa pilihan. Rencana perampokan mereka akan tetap berjalan. Ya, meski itu tanpa Jack. Namun, tujuan mereka semula untuk membagikan hasil dari rampokan itu kepada para korban penggusuran, agaknya sedikit melenceng. Lexa telah diberi tahu oleh pihak rumah sakit terkait rincian dan total biaya yang harus dibayarnya—untuk bisa merawat Jack dan membawanya pulang setelah dinyatakan pulih. Lexa membutuhkan banyak uang. Ia sudah membicarakan perihal itu dengan Son. Pemuda itulah yang akan membantu Lexa mencari temannya.
Tak butuh waktu lama untuk bisa menemukannya. Di klub ini, seolah menjadi rumah kedua Nil. Pemuda itu memang sedang gencar bermain perempuan. Dengan hanya bermodalkan wajah leceknya dan segudang rayuan, Nil berhasil membuat dirinya sendiri dikelilingi banyak wanita. Sejak Jack marah padanya dan mengusirnya, Son memberi tahu Lexa, Nil mencuri seorang diri. Kini demi melancarkan aksinya, Lexa akan meminta Nil untuk kembali bergabung. Setelah membicarakannya, Nil pun memutuskan ....
"Aku mau membantumu." Nil mendekati Lexa dengan tatapan pasti. "Tapi kau harus tidur denganku," sambungnya sontak mengejutkan Lexa.
"Hey, Nil, jaga batasanmu!" Son maju karena geram, tapi Lexa menahan dadanya, mencegahnya untuk membela.
Lexa menatap senyuman licik yang Nil sunggingkan di sudut bibirnya. Seolah tak menyesal dengan apa yang telah diucapkannya sebagai persyaratan, Nil menaikkan alis untuk mempertanyakan kesanggupan Lexa. Dia benar-benar sedang gila hasrat. Lexa tersenyum lembut dan berpikir untuk membuatnya mengerti bahwa tidak baik terus memelihara otak kotornya. Lexa berpaling menghela napas, sebelum akhirnya siap melayangkan tamparan ke wajah bocah itu. Wajah Nil pun sontak terpelanting ke satu sisi. Tamparan itu sekaligus membuat Nil tak dapat mengeluarkan suaranya lagi.
"Jack benar, kau memang tidak tahu diri!" cetus Lexa berang. "Jika Jack sampai tahu ini, dia akan benar-benar membunuhmu! Jadi sebaiknya jangan pernah datang lagi ke tempat kami!"
Menyesal sudah datang ke orang yang salah, Lexa pun memilih pergi. Lexa tidak akan pernah mendatanginya lagi, ia bersumpah!
Langit semakin gelap, semakin menambah kegundahan dalam hatinya. Ingin rasanya marah kepada Tuhan atas apa yang harus diterimanya selama ini, selama hidupnya. Kesulitan dan ketidakadilan yang tiada habisnya. Di satu sisi ada rasa ingin menyerah, dan menganggap mengakhiri hidupnya adalah jalan satu-satunya. Namun di sisi lain, Lexa merasa ini seperti sebuah hukuman atas keputusan hidup yang telah dipilihnya, dan ia pun hanya bisa pasrah. Sekeras apa pun ia berjuang, ia tidak akan pernah bisa keluar dari takdirnya ini.
"Aku ingin jadi orang kaya, yang punya segalanya. Ingin apa-apa, tinggal memerintah saja. Menjadi orang baik-baik, hidup bahagia, menikah, punya keluarga, lalu mati masuk surga." Lexa kecil berandai-andai setiap malam dan itulah mimpinya.
Jack terkekeh memperhatikannya. "Memangnya enak hidup seperti itu?"
"Oh? Apa tidak enaknya? Apa kau pernah tahu dan merasakannya?" celetuk Lexa yang saat itu masih berusia 17 tahun, dan itu artinya usia Jack masih dua tahun di bawah Lexa.
"Ayahku bilang, orang yang punya segalanya, itu berarti dia juga punya tanggung jawab yang besar. Dan hidup dengan tanggung jawab yang besar, akan semakin sulit mendapatkan kebahagiaan jika tidak benar-benar bisa menjaganya. Dia akan selalu sibuk dengan semua yang dia miliki, dan akhirnya lupa caranya menikmati hidupnya. Dia akan lupa pada keluarganya, pada orang-orang di sekitarnya. Setelah dia menyadari, semuanya sudah pergi."
"Jadi maksudmu ... kita akan lebih bahagia jika tidak punya apa-apa?"
Jack remaja mengangguk mantap. "Setiap hal kecil yang kita miliki akan menjadi sangat berarti. Kita akan benar-benar menjaganya karena tahu betapa sulit untuk bisa mendapatkannya. Kita akan bertanggung jawab untuk bisa mempertahankannya. Perjuangan itulah yang akan membuat kita merasa bangga dan bahagia!"
"Aaaargh!" Lexa meneriakkan frustrasinya. Di jembatan penyeberangan khusus para pejalan kaki, di dekat rumah sakit tempat Jack di rawat. Ia teringat akan penuturan Jack di masa lalu, itu membuatnya serba salah.
Mungkin benar yang dikatakan Jack saat itu. Itu juga yang menjadi alasan Lexa bertahan dalam keadaan ini. Namun Lexa mampu bertahan karena Jack ada bersamanya. Kini ia seorang diri. Tanpa Jack, apa Lexa bisa berjuang sendirian? Apakah ia akan aman?
"Kakak, tenangkan dirimu! Kita akan mencari cara lain untuk mendapatkan uangnya." Son yang sedari tadi berdiri di samping Lexa mencoba menegarkannya.
Lexa menoleh ke arah pemuda itu. "Tidak ada cara lain, selain mencuri dan mencuri! Selama ini hanya itu yang kita bisa! Hanya itu pilihan kita!"
"Ta-tapi, Kak, apa kita bisa tanpa Kak Jack?"
"Aku bahkan bisa melakukannya sendiri tanpamu!"
"Apa? Apa itu artinya Kakak akan pergi sendiri?"
Lexa menatap lurus keraguan di mata Son, kemudian seolah telah menjadi gila, seulas senyum tersungging simpul di bibirnya dengan penuh rencana.