Black in Love

Black in Love
Chapter 25



Jack tidak menemukan firasat apa pun kemarin saat Lexa pulang dan mengajaknya untuk bercinta. Ia telah menanti-nantikan kesempatan itu karena ia memang sangat menginginkannya. Ia berpikir Lexa sudah mulai mengakui kesungguhan Jack ini. Ia pikir Lexa telah menyadari takdirnya bersama kekasihnya ini. Ia yakin Lexa pun sama merindukannya. Mereka melakukannya berkali-kali, sungguh semalam Jack sangat menikmatinya. Jack terus meminta, dan wanita itu diam saja. Namun semakin lama, Jack merasa wanita itu semakin terbius. Lexa merengkuhnya erat-erat. Setelah itu, di pelukannya, Jack pun tertidur lelap.


Saat Jack terbangun pagi harinya, ia sudah tidak menemukan Lexa di sisinya. Ia bangkit dan merenung sejenak untuk menggali kesadaran.


"Lexa?" panggilnya dengan suara lirih. Ia ingin kekasihnya itu mengambilkannya segelas minuman untuk memaksimalkan suaranya, akan tetapi tidak ada sahutan.


Kabin terasa hening. Hanya terdengar kicauan burung-burung dari luar. Udara pun begitu menusuk karena pintu dibiarkan terbuka. Sampai bola mata Jack beralih pada lemari pakaian setinggi pinggangnya di situ, otaknya pun bekerja dengan amat cepat. Pintu lemari pakaiannya terbuka dan Jack mendapati satu loker telah kosong. Jack mempertajam penglihatannya karena takut salah mengira. Benar saja, beberapa tumpuk pakaian tidak ada di sana. Pakaian Lexa. Di atas lemari pendek itu pun tergeletak aksesori yang selalu dikenakan Lexa dan juga ponsel miliknya.


Merasa ada yang aneh, Jack bangkit hanya dengan menggunakan celana saja di tubuhnya. Ia menyangkal kecemasannya kendati sebenarnya dugaan-dugaan itu mulai menetap di benaknya.


"Istri, kau di mana?" Jack meninggikan suaranya, berharap Lexa mendengar dan datang kepadanya.


Tidak ada tanda-tanda keberadaannya, kecemasan Jack tak terbendung lagi. Ia menghampiri kamar mandi, membukanya, tapi tetap tak mendapati Lexa di sana.


"Lexa? Lexa!"


Ke mana dia? Wanita itu tidak pernah pergi seorang diri. Lexa hanya akan keluar rumah bersama Jack saja. Lalu, di mana dia sekarang? Mengapa Jack merasa tak tenang? Jack menduga-duga dan itu cukup menimbulkan efek sesak di dadanya. Pikiran-pikiran buruk tebersit dalam benaknya tentang kepergian Lexa yang tiba-tiba.


Jack buru-buru keluar untuk memastikan. Ia mengelilingi kabin sambil terus meneriakkan nama kekasihnya, akan tetapi tak melihat seorang pun di sana. Wanita itu tidak muncul di hadapannya. Napasnya mulai memburu. Kedua mata Jack terus mencermati setiap sudut lokasi demi menemukannya. Di depan telaga, ketakutan dalam dirinya terus menyerang. Ia dihantui kenyataan buruk tentang kepergian Lexa ini. Ia berharap Lexa pergi sesaat, atau bercanda untuk menggodanya saja. Namun jika benar Lexa sengaja ingin bercanda dengannya, Jack bersumpah akan menghukumnya karena apa yang Jack rasakan kini sangat mengerikan. Ketakutan yang hebat melebihi apa pun.


Ya Tuhan, mungkinkah Lexa benar-benar pergi meninggalkannya dan tak mau kembali? Tidak, tidak. Semalam mereka baru saja memperbaiki hubungan dengan kemesraan. Lexa begitu menikmatinya. Apakah mungkin itu adalah bagian dari rencana kepergiannya ini? Jack berusaha menepis rasa takut yang membuat seluruh tubuhnya gemetar.


"Lexaaaa!"


Son datang dengan mobil pikap mereka. Cepat-cepat Jack menghampiri dengan harapan Lexa turun dari mobil yang sama, tapi malah Nil yang keluar dari sana.


"Son, kau tahu ke mana Lexa?"


Son tidak menjawab, malah melempar tatapan penuh arti ke arah Nil.


Ragu-ragu Nil menimpali, "Kak, tadi pagi-pagi aku melihat Kak Lexa datang ke terminal bus bersama seorang pria dan anak perempuan."


"Apa?"


Sudah. Setelah itu Jack tidak bisa mendengar apa-apa lagi. Telinganya mendadak tuli dan otaknya kehilangan konsentrasi. Sesuatu terasa memukul-mukul dadanya, membuatnya kesulitan bernapas lega. Lexa .... Jadi benar, beraninya dia meninggalkan Jack seperti ini. Dia pergi bersama pria itu dan anaknya. Jack tidak percaya, Lexa berani pergi setelah selama ini Jack menyerahkan seluruh hidupnya. Dasar wanita bodoh!


"Lexaaaaa!" Jack berteriak sekeras-kerasnya hingga suaranya menggema di kedalaman telaga, bahkan seluruh belantara yang mengelilinginya.


*****/////


Di dalam bus, Lexa terus meminta maaf pada pria itu dalam hati. Meninggalkannya, adalah satu-satunya cara terbaik untuk mereka berdua. Untuk melepas perasaan bersalah yang terus menghantuinya. Mengeluarkannya dari keadaan yang menjebak. Pria itu akan berubah seiring waktu tanpanya. Dia akan mulai mengerti perlahan-lahan tentang apa yang telah mereka jalani bersama selama ini.


Dengan menyerahkan dirinya untuk yang terakhir kali, sesungguhnya Lexa ingin benar-benar merasakan kesalahan itu sehingga ia menjadi yakin untuk pergi. Lagi pula hanya dengan cara itu ia bisa menenangkan Jack sementara waktu hingga pria itu tidak akan menyadari rencana Lexa ini. Lexa juga tidak mau meninggalkan pria itu dalam keadaan sedih. Ia ingin melihat senyum di bibir Jack meski itu teramat menyakitkan. Karena bagaimana pun juga, Lexa menyayanginya. Lexa mengkhawatirkannya.


Anehnya, ketenangan yang kerap Jack berikan di kala dia merengkuh Lexa semalam, tak lagi Lexa temukan. Semakin jauh Jack bertindak, semakin terenggut. Air itu menitik dari sudut matanya ketika Jack mulai menyatu dengannya. Lexa merasakan sakit, sakit dalam hatinya tanpa adanya rasa yang ia idamkan. Setelah menyadari kesalahan mereka, barulah kini terasa sudah kepalsuan dalam hatinya. Namun kebersamaan mereka selama belasan tahun menjadi alasan terberat Lexa tidak bisa merelakannya.


Bukan hanya untuk Jack saja, perpisahan ini juga untuk mereka berdua. Banyak hal yang Lexa pikirkan sebelum sampai pada keputusan ini. Benar, seiring waktu, perpisahan ini akan menjawab semua keresahannya. Semoga saja.


*****/////


Inikah rasanya patah hati? Jika Jack tahu semenyiksa ini, Jack pasti akan lebih berhati-hati dalam memiliki. Sepertinya Lexa mulai berpikir cinta yang Jack miliki ini tidak berarti. Wanita itu pergi, tanpa benar-benar memikirkan apa yang harus Jack alami. Bila ini bukan yang disebut cinta, mengapa bisa sesakit ini rasanya?


Di setiap napas yang ia embuskan, Jack selalu memikirkan wanita itu. Setiap perjalanan dan tatapannya hanya berakhir pada wanita itu saja. Semua yang harus ia katakan, telah Jack katakan. Tidak ada yang ia sembunyikan. Seluruh kata dalam bibir Jack telah menjadi milik Lexa seorang. Namun, setiap kali dia memikirkan tentang kemudahan, tidakkah dia menyadari itu hanya akan semakin menyusahkannya? Ini hanya masalah sepele. Seringkali mereka bertengkar, berteriak, dan saling menyalahkan tanpa tahu tujuan dari semua itu. Lalu pada akhirnya tidak ada yang bisa menghentikan Jack untuk mengalah, dan mereka pun kembali berpelukan mesra.


Hari itu Lexa melakukannya lagi. Mencari-cari sesuatu yang tak berbentuk dan tak pasti. Lagi-lagi, apa pun alasan yang dia beri, Jack selalu datang dan kembali padanya meski Jack sendiri tak suka. Dia selalu bisa menarik Jack kembali sekalipun dengan kemarahannya. Sekarang, pada siapa Jack akan kembali?


Seandainya dia mau menunggu sebentar lagi, Jack akan menepati janji. Ia akan menghentikan waktu hingga Lexa tak perlu terburu-buru pergi. Jack akan temukan cara dan tempat untuk membuatnya tetap di sini dengannya, menyadari cintanya.


Apakah dia tidak tahu, Jack melewati jalur di hatinya setiap hari, tapi dia pergi membuat Jack tersesat. Tidakkah dia menyadari, tidak akan ada yang mencintainya sama seperti yang dilakukan Jack ini? Mata Jack adalah miliknya, tapi Lexa tetap tak melihat itu. Kini, selalu, di hari ia tak melihat sosok itu, Jack terus menggelandang seperti orang bodoh.


Jack berpaling dari pemandangan hampa di depan telaga. Keberadaan Son dan Nil agak mengagetkannya, sebab mereka berdua bengong mengawasinya. Mereka memutar lagu patah hati lewat ponsel untuk membuat Jack semakin meresapi kekecewaannya. Geram dengan ulah konyol keduanya, Jack pun mendorong kepala mereka.


Di lain hari, kedua pemuda itu kompak membuat sandiwara. Entah untuk menghibur atau sengaja ingin menyindir Jack, mereka berperan sebagai sepasang kekasih yang penuh dengan drama. Son berpenampilan seperti orang gila, sementara Nil berdandan ala wanita. Mereka melakukan adegan perpisahan di hadapan Jack yang sedang patah hati. Sialan. Dua bantal pun melayang cepat menimpuk kepala keduanya dari tangan Jack. Dasar tidak berguna!


Jack masih menunggu sang kekasih, berharap dia kembali. Setiap hari, setiap malam, akan tetapi tidak berhasil. Sepertinya Lexa benar-benar yakin bisa hidup tanpa Jack. Pria lain ada bersamanya, sepertinya Lexa akan bahagia. Hari ini pun terjadi, bergantung padanya. Jack tak mau melakukan apa pun lagi karena Jack tak bisa lagi membuatnya gila. Maka ia biarkan saja, tidak akan lagi mencarinya.