Black in Love

Black in Love
Chapter 17



Lexa kira, Jack adalah satu-satunya orang yang baik padanya. Yang memandangnya dengan begitu berbeda. Namun pertemuannya dengan Junho dalam waktu yang singkat, membuatnya tersadar selama ini ia telah salah memandang dunia. Seolah memandang dengan mata yang terpejam. Tidak semua dari mereka itu sama, akhirnya Lexa mempelajari itu. Ya, ia tahu ada orang baik dan orang jahat di dunia ini. Dalam dunia Lexa, semuanya tidak ada yang bisa dipercaya. Mereka semua memandang Lexa sama. Itu kenapa ketika Junho bersikap sebaliknya, segalanya terasa berbeda.


Satu yang membuatnya tidak mengerti, apa yang ia rasakan ketika si duda itu menilainya wanita baik-baik, membuatnya merasa lebih dari seorang yang istimewa. Ia merasa lebih hebat dalam arti yang baik. Lebih hebat dari seorang perampok yang berhasil menjarah barang korban. Lebih hebat dari sang penakluk yang berhasil membuat para pria bertekuk lutut. Sebuah rasa yang membuatnya tenang. Walaupun ia selalu lolos dalam tindak pencurian, akan tetapi ia tidak pernah merasa setenang ini. Benar-benar tenang. Tidak pernah ia bertemu dengan orang seperti Junho, yang mampu memberi pengaruh. Apalagi sampai memikirkannya, dan itu pria selain Jack. Lexa tidak percaya ini. Apa yang terjadi padaku? Aneh sekali. Terlebih ketika Lexa menyadari tumbuh harapan dalam hatinya untuk bisa dipandang sama oleh seluruh isi dunia, sama seperti cara pria itu memandangnya.


Pandangan Lexa berputar ke luar jendela kamar yang ditempatinya di lantai atas, untuk mengalihkan kegelisahan di hatinya. Tak sengaja, dilihatnya sosok pria yang dikenalnya di balik pagar rumah ini, sama menatap ke arahnya. Itu Jack, dan pria itu juga terkejut melihat ke arahnya. Kendati hari mulai gelap, tak mengurangi fungsi penglihatan Lexa. Ia yakin itu Jack, pria berjaket kulit dengan potongan kain yang mengikat kepalanya.


"Jack?"


Keterkejutan Lexa langsung berubah panik melihat kakasihnya itu berusaha membobol pagar dengan menyelinapkan tangannya di celah-celah jeruji besi. Beruntungnya, pagar itu tak digembok. Jack hanya perlu menggeser slot. Dengan mudahnya dia masuk, disusul Son. Lexa melihat amarah di matanya. Lexa bisa merasakan dada pria itu menahan emosi. Astaga, dia sangat nekat. Ini sangat berbahaya!


"Apa yang kau lakukan di sini?" Lexa tak dapat mencekat tanya itu lagi di mulutnya saat Jack telah sampai di bawah jendela kamar yang ditempati Lexa.


"Tenanglah. Aku akan membawamu pulang!" Jack mendongak, agak mengeraskan suaranya.


"Tapi kau seharusnya ada di rumah sakit!"


"Jangan pikirkan yang lain. Sekarang melompatlah, aku akan menangkapmu!" Jack menengadahkan kedua tangannya ke atas, bermaksud untuk menjadi penadah.


"Apa?"


"Ayo, Lexa, melompatlah!" Jack mendesak, juga tampak waswas. "Tunggu apa lagi?"


"Jack, aku tidak bisa!" Penolakan tak terduga itu terlontar begitu saja dari mulut Lexa.


"Kenapa tidak bisa? Jangan takut, Sayang, aku akan menangkapmu! Aku tidak akan meleset! Ini tidak terlalu tinggi!"


Ya, jarak ketinggian lantai dua ini hanya berkisar tiga sampai empat meter saja. Lexa dan Jack pernah melompat lebih tinggi dari ini demi meloloskan diri usai merampok salah satu rumah. Namun mendadak Lexa sangat takut. Antara cemas dan gelisah. Kendati ia percaya Jack selalu bisa menyelamatkannya, kali ini Lexa terancam kehilangan segalanya. Apa itu, ia tidak tahu.


"Kau tidak mengerti!"


"Mengerti apa? Kau bisa melakukannya!"


Lexa terkesiap kaget begitu seseorang mengetuk pintu kamarnya dari luar.


"Lexa? Kau bicara dengan seseorang? Apa terjadi sesuatu di dalam?"


Gawat, Junho datang!


Bagaimana ini? Jika sampai dia melihat Jack, tak terbantahkan sesuatu yang buruk akan terjadi. Entah akan adanya perkelahian yang Jack mulai demi membebaskan Lexa, atau justru batalnya kesepakatan dari Junho. Lexa bingung dan panik, sesekali memandang pintu kamarnya yang tertutup rapat, lalu melempar pandangan ke bawah untuk melihat Jack yang masih saja memaksanya melompat.


"Jack, pergilah!"


"Aku datang untuk menyelamatkanmu!"


"Tapi ...."


"Ayo, cepatlah!"


Sebuah kalimat hendak Lexa ucapkan, tapi tertahan saat pintu kamarnya terbuka dan Junho berusaha masuk.


"Lexa?"


Kaget, buru-buru Lexa menutup pintu jendelanya.


"Lexa, aku mendengar kau bicara."


Berusaha bersikap tenang, Lexa menahan kecemasan dalam dadanya. "Ah? Ti-tidak." Jantungnya berdegup amat kencang.


Junho melangkah mendekat sambil mengerutkan kening memperhatikan Lexa. "Apa kau baik-baik saja?"


"Aku ...."


"Turunlah," sela Junho sebelum ada bantahan dari Lexa.


Lantaran Junho masih menantinya untuk ikut, Lexa tak memiliki kesempatan lagi untuk menemui Jack dan bicara pada sang suami sekadar menyuruhnya pergi. Ia turun ke bawah bersama ayah Eunbi itu dengan keresahan-keresahan tak pasti.


"Aku sudah siapkan makan malam, kau bisa temani Eunbi. Aku akan pergi sebentar."


Kecemasan akan kedatangan Jack yang tiba-tiba itu masih Lexa rasakan, sehingga ia kesulitan mengendalikan kepanikan di wajahnya.


"Apa kau baik-baik saja?" Sepertinya Junho menyadari itu.


Ragu-ragu, Junho masuk ke kamarnya begitu mendapat anggukan dari Lexa. Tampaknya dia tidak yakin Lexa berkata jujur. Kali ini Lexa memang telah berbohong. Selain karena ingin terbebas dari jeratan hukum, dan juga berhutang budi pada Junho yang telah membayar seluruh biaya perawatan Jack selama di rumah sakit, Lexa merasa ada hal lain yang menahannya di rumah ini. Apa itu, ia meragu.


"Kakak, ayo kita makan!"


Lexa beranjak mendekat saat Eunbi bersemangat di meja makan. Ia mengambil makanan yang diminta gadis itu sambil sesekali mengawasi belakangnya, bertanya-tanya resah dalam hati apakah Jack dan Son masih ada di sana. Jika mereka masih belum pergi juga, dan Junho melihat mereka saat keluar rumah nanti, bisa dibayangkan sesuatu yang buruk akan terjadi.


"Eunbi, Ayah akan kembali satu jam lagi. Saat itu Ayah ingin kau sudah menggosok gigimu," pesan si duda begitu keluar dari kamarnya.


"Mengerti, Yah!"


"Bagus."


Junho berlalu menuju pintu utama, dan Lexa masih terduduk di kursi makan sambil setengah melamun.


"Ayah," panggil Eunbi akhirnya sedikit menegur lamunan Lexa.


"Iya?"


"Ayah melupakan sesuatu."


"Ah, iya." Junho mendekat, meninggalkan kecupan di kening putrinya. "Habiskan makananmu, ya!" ujarnya, lalu dia kembali hengkang.


"Ayah ...." Sekali lagi Eunbi mencegah.


Lexa memutar badan ke belakang, ke arah si duda, karena sedikit terganggu.


"Ada apa lagi?"


"Ayah lupa sesuatu!" Eunbi kembali memberi tahu.


Junho mengernyit, kemudian beralih menatap Lexa. Beberapa detik memikirkan apa itu yang dimaksud Eunbi, Junho tampak terkejut menemukan sebuah pendapat. Mungkin dia mengira Eunbi inginkan dirinya juga meninggalkan ciuman di kening Lexa, sama seperti yang ada di otak Lexa kini. Jika itu benar, o-ow! Kedua mata Lexa dan Junho membulat seakan memikirkan hal yang sama.


"Dia?" gumam pria itu terlihat tak yakin sembari menuding Lexa.


Lexa menelan ludah, salah tingkah.


Eunbi pun mendengus pelan. "Ayah lupa memakai celana!"


Oh!


Lexa dan Junho tersentak dan membelalak begitu menyadari ucapan Eunbi. Mereka serentak beralih ke arah kaki Junho yang masih bertelanjang. Astaga! Dia benar-benar tidak memakai celana! Kaget, serta merta ayah Eunbi itu terkesiap merapatkan kedua kakinya yang hanya mengenakan celana pendek, sambil menutupinya dengan kedua tangan. Dia salah tingkah. Sementara Lexa langsung berputar arah ke depan, berpaling dari pemandangan menggelikan itu.


"Oh, ini ...." Junho belingsatan.


Suara tawa Eunbi pun akhirnya turut memecahkan gelak tawa Lexa.


"Ini adalah model baru, iya, kau baru tahu, ya?" cetus si duda beringsut pelan-pelan menuju ke kamarnya.


Lexa tak mampu menahan suara tawanya lagi saat menoleh sepintas ke belakang dan melihat ayah Eunbi itu terbirit-birit masuk ke kamarnya sambil menarik-narik ujung jasnya ke bawah. Ia tergelak-gelak bersama Eunbi di meja makan. Suara tawa mereka menggema memenuhi ruang. High five pun mereka lakukan untuk kesuksesan bersama telah mempermalukan pria itu.


"Ayah selalu melakukan itu." Eunbi membocorkan satu hal kebiasaan jelek ayahnya di tengah lengkingan tawanya.


"Oya?" Lexa terpingkal-pingkal menahan kaku di perutnya.


Sampai Junho kembali dari kamarnya ....


"Sepertinya malam ini sangat dingin," katanya dengan semburat merah di wajah. "Kuputuskan untuk memakai celana saja."


"Ayah pergi dulu, ya." Junho melambaikan tangannya. "Bye!"


"Dah, Ayah!"


Si duda berlalu, Lexa dan Eunbi pun kembali melepaskan tawa. Pria itu lucu juga, pikir Lexa.


"Ayo kita makan," ujarnya kemudian.


"Kakak, aku tidak suka wortelnya."


"Ah, baiklah, berikan itu padaku."


Lexa dan Eunbi makan malam bersama. Lexa tidak mengerti, mereka baru saja saling mengenal akan tetapi Lexa merasa sudah cukup akrab dengan hubungan baru ini. Ia merasa hangat dengan keadaan ini. Selain gadis yang periang, mungkin karena selama ini Eunbi kesepian dan jarang berteman, jadi kedatangan Lexa pun menjadi sesuatu yang bisa disambutnya dengan baik sebagai teman.


Tiba-tiba, suara gaduh di dalam sebuah ruang mengagetkan Lexa dan Eunbi. Mereka terjungkat kecil, saling bersitatap waspada. Namun tak sama halnya dengan tatapan takut yang Eunbi tunjukan, Lexa justru menduga itu adalah ulah Jack dan Son.


"Kakak, suara apa itu?"


"Ngg, aku akan melihatnya. Kau tunggulah di sini, ya!"


"Aku ikut! Aku takut, Kak."


"Tidak, tidak, kau tetaplah di sini saja. Aku tidak akan lama. Tidak usah takut, mungkin itu hanya tikus."


Eunbi mengangguk setelah bergeming sesaat.


"Sebentar, ya."


Lexa beranjak dari kursinya dengan waspada, menuju ke salah satu ruang di sudut rumah. Ia buka pintu dan langsung melempar pandangan ke sekelilingnya. Terdapat meja kerja dan buku-buku yang tertata rapi dalam rak. Itu adalah ruang kerja Junho. Tidak salah lagi. Lexa terbelalak saat memutar pandangan ke satu arah dan ia dapati Jack membobol kunci jendela ruangan. Dia mencoba masuk dari sana bersama Son.


"Jack!"


Jack berbalik dan matanya pun langsung berubah cerah.


"Lexa!"


Cepat-cepat Lexa masuk lalu menutup pintu. Mereka sigap mendekat, bertemu di tengah ruangan. Jack memeluknya erat-erat, membuat Lexa terkesiap seketika merasakan sesak di dadanya.


"Kenapa kau masih di sini?" Ia tak dapat menahan pertanyaan itu di mulutnya. "Aku sangat mencemaskan kondisimu!"


Jack pun melepas dekapannya untuk dapat menatap mata Lexa. "Aku akan membawamu pulang, Istri!"


"Tapi, Jack—"


"Ayo, Lexa, kita pergi dari sini! Kau sudah salah memasuki rumah." Pria itu menarik tangan Lexa ke arah jendela. Sementara Son sibuk menjelajahi barang-barang antik di ruangan yang sama.


"Apa?" Lexa menahan tangannya mendengar pengakuan Jack di akhir kalimat.


Jack menoleh. "Ya, ini bukanlah rumah yang sudah kita incar."


"Maksudmu, pemilik rumah ini bukan yang telah menggusur ...."


"Ya, karena itu aku sangat mencemaskanmu! Kita harus cepat pergi dari sini. Aku khawatir pemilik rumah ini bisa lebih kejam atau malah seorang aparat!"


Astaga! Jadi selama ini Lexa telah salah menilai si duda itu? Lexa tercenung dengan mata membulat.


"Ayo, Lexa!" Jack menarik tangan Lexa untuk dibawanya pergi.


"Jack, aku tidak bisa!"


Jack menoleh karena Lexa menahan langkahnya. "Apa maksudmu tidak bisa? Aku di sini untuk menyelamatkanmu!"


"Jack, justru aku tertahan di sini untuk menyelamatkanmu!"


"Apa? Bagaimana bisa?"


"Pemilik rumah ini, dia akan membebaskanku dari tuntutan hukum jika aku mau berjanji untuk menjaga putrinya selama lima hari."


"Apa?" Jack mengernyit. "Putrinya?"


"Dia menangkapku saat aku berusaha mencuri di rumah ini." Lexa sangat cemas ketika harus menyampaikannya, tapi ia rasa Jack perlu tahu itu. "Jack, dia juga yang telah membayar seluruh biaya perawatanmu di rumah sakit. Hanya tinggal tiga hari, Jack. Biarkan aku melunasi hutangku. Aku akan kembali setelah tiga hari berakhir."


"Apa-apaan ini, Lexa?" Jack maju, wajahnya tampak berang. "Sejak kapan kita pernah berhutang? Aku sangat membutuhkanmu. Aku ingin membawamu pulang! Kita tidak pernah meminta siapa pun untuk membantu kita. Kita tidak butuh bantuan orang lain!" Dia meninggi.


"Tidak, Jack. Kali ini aku mohon dengarkan aku. Dia telah menyelamatkanmu. Biarkan aku menepati janjiku."


"Lexa, sejak kapan kita pernah berjanji pada orang lain? Kau hanya berjanji untukku!" Jack masih saja ngotot.


"Jack ...."


"Bagaimana jika dia tidak menepati janjinya? Bagaimana jika dia hanya mengulur waktu saja untuk menyerahkanmu pada aparat?"


Lexa terdiam sejenak memikirkan ucapan Jack. Ia tidak punya jawaban untuk pertanyaan Jack itu. Namun anehnya, tidak membersit juga dalam hatinya sebuah keragu-raguan untuk tetap bertahan. Lalu, dengan sangat yakin Lexa mengatakan, "Aku percaya dia tidak akan mengingkari janjinya."


Kedua alis Jack saling merapat. Dia menatap Lexa seperti orang asing. "Kenapa kau begitu yakin, Lexa?"


"Karena dia juga percaya padaku. Dia menyerahkan hidupnya padaku. Putrinya."


"Apa?" Lexa membuat Jack tercengang-cengang dalam sekejap.


Dada Lexa bergetar menahan keresahan melihat sepercik amarah di mata Jack. Namun ia merasa harus membuat Jack mengerti ada kalanya mereka membalas budi.


"Jack, pergilah."


Ya, mereka memang tidak pernah percaya pada orang lain sejak orang-orang itu mengusir mereka dan menolak untuk menolong mereka yang masih kecil, tapi Lexa tidak bisa mengabaikan orang yang telah percaya dan membantunya. Aneh memang, Jack tentu tidak percaya Lexa akan bersikap seperti ini. Dia masih termangu-mangu menatap mata Lexa, mencerna perubahan ini, sikap keras kepalanya dalam hal yang justru mereka abaikan selama ini. Lexa sendiri tidak mengerti kenapa. Menurutnya, itu hanya karena dirinya terbebani dengan kepercayaan yang berlebih dari seorang Junho.


"Kakak?"


Suara Eunbi terdengar mendekat, menegur keterdiaman keduanya. Panik, Lexa buru-buru mendorong Jack untuk keluar melalui jendela.


"Jack, pergilah. Jangan sampai gadis itu melihatmu di sini!"


"Aku akan pulang bersamamu!" Jack bersikeras.


"Tidak sekarang, Jack. Kau bisa kembali tiga hari lagi jika aku masih tertahan di sini."


"Lexa!"


"Son, cepat pergilah! Jaga Jack-ku baik-baik!"


"Ah, i-iya, Kak!"


"Tidak, Lexa!"


"Jack, cepat pergi! Aku mohon!"


Dilihatnya sang kekasih seakan rela tidak rela keluar melewati jendela. Lexa segera menutupnya rapat-rapat sebelum Eunbi berderap semakin dekat. Gadis itu membuka pintu, Lexa pun tersentak menegakkan badan, berusaha bersikap tenang.


"Kakak, ada apa?" tanyanya sembari berjalan masuk.


"Oh, tidak. Tidak ada apa-apa."


"Kakak lama sekali."


"Aku hanya memastikan saja," timpal Lexa gugup sendiri. "Ayo, kita kembali ke meja makan."


Lexa menggiring gadis itu keluar. Sebelum melewati pintu, ia menoleh ke belakang dan melihat dari kaca jendela itu, Jack masih berdiam diri di sana mengawasinya dengan tatapan yang menyeramkan. Dalam hati, Lexa meminta maaf padanya berulang kali. Namun ia meyakini, ini adalah jalan damai terbaik untuk saat ini.