Black in Love

Black in Love
Chapter 28



Lexa menghela napas dalam-dalam, mengembuskannya secara tenang, usai menyepakati keputusan yang ada di otaknya bahwa ia tidak mau lagi memikirkan Jack. Pertemuan semalam telah mengganggu pikirannya dan nyaris membuat aktivitasnya di rumah tertunda-tunda. Ia tidak mau nantinya hal itu juga mengacaukan pikirannya di tempat kerja. Ia anggap pertemuannya dengan Jack tadi malam hanya kebetulan saja, dan ia berdoa supaya tidak lagi bertemu dengan pria itu demi kebaikannya. Meskipun harus Lexa akui, ia merasa sedikit lega.


"Yoori, antar makanan itu ke kamar nomor 70, ya!" Minna datang memberikan perintah.


"Oh, tapi aku harus mengantar pesanan ini dulu."


"Itu biar aku saja yang gantikan."


"Eh, bukannya sama saja?"


"Sudah, kerjakan saja!" Minna menggiring Lexa keluar dari dapur.


Wanita bawel dan suka sekali membicarakan orang lain itu memang hanyalah pramusaji seperti Lexa, akan tetapi dia telah lama bekerja di hotel ini sehingga Lexa merasa perlu mentaati peraturannya dalam urusan pekerjaan.


Lexa pun naik ke lantai enam menggunakan lift. Didorongnya troli khusus yang menampung beberapa menu lengkap makan siang sesuai pesanan tamu hotel. Di depan kamar nomor 70 itu, Lexa merapikan penampilannya dan memastikan pakaiannya rapi sebelum mengetuk pintunya sebanyak tiga kali.


"Room service!" ucapnya dengan nada keras. "Kami datang mengantar makanan!"


Tak lama dari itu, pintunya terbuka.


"Selamat siang, saya membawa pesanan—" Salam yang selalu Lexa ucapkan untuk menyapa tamu hotel sambil membungkukkan badan, tertahan saat ia mengangkat pandangan dan dilihatnya Jack telah berdiri di hadapannya.


Astaga, dia lagi!


Lexa berpaling dari wajah angkuh itu dengan malas, sembari mengempaskan napas kesal lewat mulutnya. Tiba-tiba saja semangat kerjanya menguap. Rencananya untuk menyingkirkan pria itu dari pikirannya pun gagal. Sepertinya Jack sengaja datang ke hotel ini untuk menemuinya. Apa yang ingin dia tunjukkan lagi? Lexa merasa pertemuan mereka ini tidak akan baik.


Usai memperhatikan Lexa dengan tatapan datarnya, pria itu berlalu ke dalam. Walaupun Lexa menghindari pertemuan ini, ia merasa tidak bisa berbuat banyak di jam kerjanya saat ini. Jack tetaplah tamu yang harus ia hormati. Maka, Lexa pun masuk ke kamar itu sambil mendorong troli makanannya. Ia berhenti tepat di sisi pria itu duduk, di kursi menghadap balkon. Ketika Lexa memindahkan dan menata semua makanan ke meja, tanpa menjelaskan satu per satu nama menunya seperti aturan yang seharusnyakarena malas, pria itu masih terdiam tak mengangkat pandangan. Dia duduk sambil menyilangkan kaki, menatap lurus pemandangan luar tanpa berkutik sama sekali.


Lexa meliriknya, membatin. Dia jauh lebih rapi. Dia sangat bersih dan wangi. Dia terlihat lebih elegan, ya ... meski sedikit arogan. Diam-diam, Lexa senang melihat perubahan baiknya itu sebab ia pun yakin Jack akan hidup lebih baik dan lebih bertanggung jawab atas apa yang dimilikinya kini. Wanita berkursi roda itu, entah siapa dia dan bagaimana Jack bisa mengenalnya, bagaimana Jack mampu merebut hatinya—hingga membuat Jack seperti ini, dia pasti wanita baik-baik. Bisa jadi, semua yang didapatkan Jack ini adalah milik wanita itu. Lexa harap Jack benar-benar mencintai wanita itu, bukan untuk pelampiasan saja apalagi sekadar memanfaatkannya. Karena sepertinya, wanita itu begitu percaya padanya. Itu bagus.


Namun, di sisi rasa senang dan tenang atas perubahan mantan kekasihnya itu, sebuah rasa menyakitkan menggerogoti organ dalam dada Lexa. Jack tidak tahu, Lexa juga berkorban dalam hal ini. Benar, Lexa rela bila harus mengorbankan perasaannya sendiri. Ia rela, sebab menurutnya Jack masih terlalu muda untuk menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam dunia gelap. Dia harus mengentaskan diri dari pergaulan bebas. Dia layak mencapai kesuksesannya, walau hanya sekadar hidup dengan benar.


Satu hal yang terus menghantui Lexa sejak ia kembali ke Hannam-dong, dan memulai hidupnya yang baru di kawasan ini, saat muncul satu pertanyaan sejauh mana ia sanggup bertahan hidup tanpa pria itu dan menanggung semuanya sendiri. Kehadiran Jack kembali, tak Lexa pungkiri memperkuat kegelisahannya untuk suatu kejujuran.


Di piring terakhir yang Lexa letakkan di atas meja depan kursi Jack, dia tiba-tiba memegang tangan Lexa itu, menegun Lexa sesaat.


"Jadi, kau masih menyimpan namaku?" katanya menatap lurus pada tato bertuliskan namanya yang masih terukir lekat di punggung telapak tangan Lexa.


Terkesiap menyadari itu, Lexa langsung menarik tangannya dan menyembunyikannya di belakang pinggang.


"Apa itu tidak hanya akan membuatmu terus teringat padaku?" tanyanya, sekali lagi menyudutkan Lexa, sembari menaikkan bola matanya ke atas untuk dapat menatap mata Lexa.


"Silakan tanda tangani bill-nya," cetus Lexa tak ingin balas memandangnya. Ia memberikan catatan harga seluruh makanan yang dipesan dan total yang harus dibayar ke sisi minuman.


"Bagaimana reaksi dia saat melihat nama pria lain di tanganmu, hm? Apa dia adalah tipe pria yang pecemburu?" Sekali lagi Jack membuat Lexa muak dengan kalimat-kalimat sindiran itu. Dia terus membicarakan Junho. "Apa kau bisa menjadi ibu tiri yang baik untuk putrinya?"


Lexa berpaling darinya, muak.


Jack melepas punggungnya dari sandaran. "Ayo duduklah, dan makan bersamaku. Aku sengaja memesan semua ini agar kau mau menemaniku, karena aku tahu kau tidak akan mau makan jika aku hanya memberimu nasi dan telur saja."


Dia menyinggung lagi. Semakin lama, sikap bertele-telenya membuat Lexa menggeram.


"Ah! Apa kau ingin bisa makan di Restoran Kim Ji? Kau sangat suka makanan di sana, kan?"


"Hentikan!" sela Lexa akhirnya tak tahan lagi disudutkan terus menerus. Ia berusaha mengendalikan emosinya melihat tatapan remeh itu untuknya. "Jika tujuanmu datang kemari hanya untuk mendebat dan merendahkanku saja, sebaiknya kau pergi dari sini dan jangan pernah lagi menemuiku."


Jack sigap berdiri, menghadapi amarah Lexa dengan badan yang tegak. "Aku hanya ingin tahu, apa yang sebenarnya paling kau inginkan. Apa kau benar-benar sudah mendapatkan apa yang kau inginkan?"


"Itu bukan urusanmu lagi." Lexa menegaskan dengan geram.


"Kau meninggalkanku setelah lima belas tahun kita hidup bersama. Begitu mudahnya kau mengorbankan semua itu demi keinginanmu saja."


"Aku melakukannya untuk kebaikanmu juga!"


"Kebaikan apa yang kau maksud?" Jack meninggikan suara. Dia tampak tak terima dengan alasan yang Lexa berikan. "Setelah melihatku seperti ini, kau mengatakan ini karena kepergianmu? Lalu, bagaimana dengan rasa sakit yang harus aku rasakan karena perbuatanmu itu? Aku sangat membencimu! Aku sangat membencimu!"


Lexa tertegun begitu saat Jack mengucapkan kalimat terakhir yang dia ulangi dengan sangat yakin. Lexa melihat kemarahan lagi di matanya. Lexa mendengar kekecewaan dari suaranya, membuatnya sulit percaya bahwa pria itu telah berubah sepenuhnya. Kata-katanya mengakibatkan sekujur badan Lexa terasa bergetar ketakutan. Ia tidak pernah merasa setakut ini melihat pria itu marah. Segala angan-angan yang sempat ada, seolah terancam kerena kebencian yang diungkapkannya.


"Haruskah aku katakan padamu selama ini aku sedang berjuang untukmu? Ya, benar. Semua yang aku dapatkan ini karena dirimu, Lexa. Hanya untuk dirimu. Tapi itu saat kau masih bersamaku!"


Dia sangat ngotot.


"Kau tidak pernah melihat itu. Yang kau lihat dariku hanya sisi gelapku saja. Kau tidak mau bersabar sedikit lagi untukku. Kau tidak bisa setia padaku. Mungkin aku bisa mengerti jika kau ingin suatu perubahan. Tapi meragukan apa yang telah aku jaga selama bertahun-tahun untukmu, sama saja kau tidak percaya pada janji dan kesetiaanku padamu. Lalu, siapa yang tidak benar-benar mencintai? Aku, atau kau?" Jack menuding dan menekankan telunjuknya ke dada Lexa.


Barisan kalimat itu membungkam segala alasan maupun bantahan di mulut Lexa. Jack menusuk hatinya dengan kata-kata itu. Lexa tersentak ke depan kemudian, saat Jack menarik satu lengannya dengan kasar, nyaris terempas dalam dekapan pria itu. Dia menatap dekat mata Lexa, dan Lexa sungguh gemetar.


"Aku benar-benar membencimu karena itu. Dan aku akan terus membuatmu melihat kebencian itu di mataku!" Jack memberikan ancaman. Dia melepas lengan Lexa dari cengkeramannya dengan dorongan keras, hingga Lexa terentak ke belakang.


Tuhan, Lexa tidak percaya dampak yang harus dialami pria itu akibat kepergian Lexa sangatlah mengerikan, tapi Lexa tidak takut. Ia justru sedih karena suatu alasan yang akhirnya kini Lexa putuskan dalam hati untuk ia simpan sendiri. Jika Jack begitu yakin untuk membencinya, bagaimana Lexa akan berterus terang tentang keadaannya kini? Tidak, Lexa tidak bisa. Ia tidak mau Jack semakin menilainya buruk dengan berpikir bahwa Lexa inginkan semua yang dia miliki sekarang. Ia tidak mau melibatkan diri dalam kehidupan baru Jack, karena Lexa tahu itu akan menghancurkan semua yang telah dimilikinya, segala perubahan dan tanggung jawabnya.


Ia begitu ingin menepati janjinya pada orang lain untuk berubah menjadi lebih baik, karena merasa begitu dipercaya. Namun, ia lupa bahwa Jack pun telah menjaga janjinya selama ini, sejak mereka memutuskan untuk menjadi suami istri. Dia pria yang penuh dengan tanggung jawab dan harga diri, akan tetapi dia rela menanggalkan semua itu demi membahagiakan Lexa dengan caranya yang salah. Kini, pria itu berubah menjadi lebih dewasa. Rasa sakit yang Lexa beri telah memberinya pelajaran berharga. Sayangnya dia menilai cinta dari sudut pandangnya saja. Saat Jack berkata bahwa dia sangat membencinya, saat itu, saat dia benar-benar memperlihatkan kebencian di matanya ... Lexa telah kalah. Ia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Yoori, kau baru kembali dari kamar nomor 70 itu?"


Lexa disambut pertanyaan itu oleh Kak Lin begitu kembali ke dapur. Lexa mengangguk lemas, berusaha tidak memperlihatkan kesedihannya, akan tetapi sulit sekali. Ia masih ingin menangis. Menangisi kebodohannya.


"Minna bilang, tamu yang menempati kamar itu adalah Presdir Kim Ji. Dia meminta Minna agar kau yang mengantarkan makanan untuknya. Tadinya dia terus menyebut-nyebut nama Lexa. Saat Minna menjelaskan bahwa di sini tidak ada perempuan bernama Lexa, presdir itu mengingatkan pada kejadian semalam saat kau menumpahkan minuman. Dia bersikeras ingin kau yang datang. Dia bahkan memberi Minna upah untuk itu."


"Apa?" Lexa mengernyit mendengar Kak Lin menceritakan pengakuan Minna.


"Kenapa dia begitu ingin kau yang datang ke sana? Yoori, apa dia masih marah padamu atas kejadian semalam, dan dia inginkan ganti rugi?" Kak Lin terlihat penasaran bercampur cemas. "Sekarang ini, semua karyawan di sini sudah mendengar itu dari mulut Minna dan mereka semua sedang membicarakanmu!"


Lexa tergagap, panik seketika. "A-apa Minna mengatakan sesuatu? Apakah pria itu berkata sesuatu padanya?" Menurutnya itu bisa menjadi masalah serius yang mengancam pekerjaannya.


"Tidak, dia juga bertanya-tanya. Tapi kau baik-baik saja, kan? Apa pria itu mencoba berbuat macam-macam padamu?" Kak Lin memegang pundak Lexa. Lexa tahu wanita itu sangat mengkhawatirkannya.


"Oh, tidak, Kak. Aku hanya sebentar di sana, hanya mengantar makanan saja. Tidak terjadi apa-apa."


Kak Lin mendesah lega. "Ah, syukurlah. Mereka semua mengira pria itu memintamu melayaninya di ranjang!"


"Apa? I-itu tidak benar! Sama sekali tidak benar!"


"Aku percaya padamu. Sudahlah, sebaiknya kau berhati-hatilah. Kau harus bisa menjaga dirimu."


Astaga, apa yang harus Lexa lakukan? Jika Jack terus menerus menerornya, semakin lama semua orang akan mempertanyakan hubungan mereka. Lalu Lexa akan kehilangan pekerjaan. Tuhan, Lexa bingung sekali.


*****/////


Berusaha untuk tetap fokus pada pekerjaannya ketika Lexa dan salah seorang teman mendapat tugas untuk membersihkan kamar yang telah ditinggal check-out penghuninya. Ia baru akan pergi menuju lift melewati area pertengahan lobi, tapi seseorang berteriak.


"Hey! Hey, tunggu!"


Oh? Lexa berbalik ke belakang bersama temannya. Dilihatnya Jack berlari kecil ke arahnya sambil mengeraskan suara memanggil-manggilnya tanpa nama. Ya ampun, dia datang lagi.


"Yoori, dia memanggilmu." Patner kerja Lexa itu berbisik.


Lexa tahu. Ia merasa cemas mendadak. Jack berteriak, menyita seluruh perhatian yang ada di lobi utama.


Di hadapan Lexa, pria itu menyunggingkan senyuman lega di sela napasnya yang naik turun. "Ini, tip untukmu."


Eh? Jack mengulurkan sejumlah uang padanya.


"Tidak perlu."


"Kenapa? Ambillah. Kau sudah melayaniku dengan baik tadi di kamar," katanya mengulas senyuman kemudian.


Sontak saja mengejutkan Lexa dan temannya, juga beberapa staf yang berseliweran di sekitarnya, karena pria itu bicara dengan suara yang cukup keras untuk didengar oleh seluruh area lobi. Mereka yang sedang berjalan pun terhenti. Mereka yang sedang beraktivitas pun serius untuk menyimaknya.


"Terima saja! Aku dapatkan uang ini dari bekerja keras, bukan dari hasil mencuri!" Jack menarik tangan Lexa, memaksa Lexa untuk menerima uang itu. Dia berseru lagi, "Aaakh, aku sangat puas dengan pelayanan di hotel ini. Hotel ini harus mempertahankan pekerja sepertimu yang bisa memberikan servis lebih pada tamunya!"


Astaga! Dasar. Sepertinya Jack sengaja ingin mempermalukan Lexa di depan semua orang. Akibat bualannya itu, kini Lexa menjadi pusat perhatian. Semua mata di situ memperhatikannya dengan tatapan menilai seakan-akan Lexa ini begitu menjijikkan.


"Eh, bisakah kita bertemu di luar hotel? Ke suatu tempat, begitu?"


Dia terus bicara sembarangan sambil menyunggingkan senyuman yang semakin memicu amarah Lexa. Dia membuat Lexa sangat muak.


Memaksakan diri untuk terlihat ceria, Jack lantas mengeluarkan kartu nama dari dompetnya dan memberikannya ke tangan Lexa.


"Nanti hubungi aku, ya!" Matanya membulat, sok akrab. Dari jari kelingking dan jempol tangannya, Jack membuat gambaran telepon yang dia angkat di dekat telinganya. "Aku tunggu telepon darimu, oke?" Dikedipkannya sebelah mata dengan begitu genit.


Jack berlalu setelah sukses mempermalukan Lexa dan membuat beberapa orang di sana berbisik-bisik membicarakannya. Astaga ....


"Yoori, apa itu benar?"


"Jangan dengarkan dia."


"Woah, tapi apa kau tahu siapa dia? Jika kau bisa berkencan dengannya"


"Sudah kubilang itu tidak benar!" Lexa memekik, menggelagapkan teman kerjanya itu. "Aku sama sekali tidak peduli dengannya!"


"Oh? Kenapa kau marah? Dia itu lumayan juga."


"Tapi aku tidak suka padanya!" Lexa menggeram, memberikan uang dari Jack di tangannya pada gadis itu.


Walaupun Lexa sudah membantahnya, kabar itu sampai juga ke manajer hotel. Lexa mendapat panggilan ke ruang atasan. Semua para pekerja, tak hanya yang bertugas di bagian dapur, para staf di kantor pun telah mendengarnya. Sang manajer marah, mengira Lexa benar-benar melakukan prostitusi dengan presdir dari Restoran Kim Ji itu. Ia mendapat teguran keras, dan terancam akan dikeluarkan dari pekerjaannya jika sekali lagi mereka menemukan bukti. Astaga, Jack telah membuatnya dalam masalah.