
Hingga malam menjelang pagi, pertanyaan itu terus berputar-putar di benaknya. Tentang apa yang membuatnya harus bertahan di tempat ini. Lexa punya banyak kesempatan untuk pergi. Ia juga tidak punya ancaman lagi. Namun karena janji, ia merasa takut sendiri. Ya, hanya karena janji. Takut kenapa? Apa yang harus ia takuti? Selama ini Lexa tidak pernah mempedulikan sesuatu hingga seresah ini. Ia hanya peduli pada Jack saja, tapi ia tidak percaya akan menolak untuk ikut dengan Jack hanya karena telah berjanji pada Junho. Ini amat membingungkan. Lexa termenung di halaman belakang. Bertugas menemani Eunbi bermain, Lexa malah sibuk melamun.
Terlebih apa yang telah dikatakan si duda itu semalam untuk menilai dirinya, semakin menguatkan kegelisahan ini. Lexa tidak mengerti kenapa dirinya bisa selemah ini hanya karena pujian. Mungkin, itu karena ia memang tidak pernah dipuji oleh orang lain.
"Kau merindukan suamimu?" Junho datang dari dalam, sontak menegur Lexa.
Lexa menoleh dan keresahannya kian menjadi-jadi melihat mata pria itu. Ia mendadak grogi mengingat semalam dirinya begitu lancang mengecup bibir si duda. Semoga dia tidak ingat apa pun soal kejadian semalam, harapnya.
"Itu ...."
"Pergilah."
Oh? Apa baru saja Junho membebaskannya? Lexa bangkit dari kursinya untuk menatap dekat pria itu, memasang pendengaran baik-baik.
"Ya, aku membebaskanmu. Pergilah, sepertinya suamimu sedang mencemaskanmu."
Lexa tepekur. Terdiam, merasa ada yang aneh. Bukankah itu adalah kalimat yang Lexa tunggu-tunggu?
Junho meneruskan, "Aku berjanji padamu, aku tidak akan melaporkanmu ke polisi. Aku tidak akan pernah mengungkit perkara ini lagi. Aku akan melupakan kau pernah masuk untuk merampok di rumah ini. Kau tahu, kan, aku tidak pernah bermain-main dengan janjiku? Jadi kau bisa percaya ini."
Bagus sekali, tapi mengapa Lexa tidak merasa senang? Ini sangat aneh. Lebih aneh lagi dengan getaran yang ia rasakan dalam dadanya. Keadaan membingungkan ini telah mengacaukan pikirannya.
"Pergilah." Sekali lagi Junho memperjelas, dan Lexa pun tersadar ia tidak memiliki alasan lain.
Alasan untuk apa? Apakah untuk tetap tinggal di sini, di rumah ini? Tidak, tidak, itu tidak mungkin benar.
"Tapi ingatlah satu hal, Lexa." Junho kembali berkata. "Cinta itu tidak membenarkan segala cara untuk bisa merasakan kebaikannya. Cinta seharusnya menunjukkan mana yang salah dan mengajari hal-hal dengan cara yang benar. Karena setiap hal akan menjadi baik jika dilakukan dengan benar. Kau dan suamimu, seharusnya mengerti itu."
Suami? Ia tidak tahu mengapa saat pria itu bertutur melibatkan suami Lexa, Lexa merasa tidak suka—padahal sebelumnya panggilan sayang untuk Jack itu adalah sesuatu yang istimewa. Pandangan Lexa pun melemah, tercenung membenamkannya. Junho berusaha memberi tahu Lexa, menasihatinya. Lexa tidak sakit hati atau merasa tersudut. Itu artinya Junho begitu percaya Lexa mampu berubah, atau mungkin juga berharap Lexa berubah. Maka Lexa mengangguk, sekali lagi berjanji padanya.
Lexa melangkah dengan berat hati, mulai berjalan melewati si duda. Melintas di sisinya, Lexa seakan berada di tempat yang aman. Sedangkan ketika kakinya kian menjauh, kenyamanan itu goyah. Ia berhenti sejenak mengartikannya, berbalik ke belakang, akan tetapi ayah Eunbi itu tidak berbalik untuk memandangnya. Akhirnya pun, Lexa meneruskan jalannya.
Usai mengganti pakaian dari Junho dengan pakaian miliknya sendiri saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah besar ini, Lexa mulai keluar dari kediaman. Di setiap langkah yang ia tapaki, membawanya kian dekat dengan dunia luar, membuatnya merasa tidak rela.
"Lexa!"
Di teras depan, Junho menahan. Lexa berbalik, merasa senang sejenak, dan dilihatnya pria itu memandangnya dengan tatapan sendu. Namun, tanpa bersuara, pria itu tiba-tiba menundukkan kepalanya di hadapan Lexa. Dia ... memberikan penghormatan yang sama seperti tadi malam.
Tuhan, apa yang terjadi? Apa yang ingin dia tunjukkan dengan memperlakukan Lexa seistimewa ini? Hanya beberapa jam saja, beberapa saat saja, Lexa kehilangan kendali atas dirinya. Lexa telah kehilangan dirinya seutuhnya. Apakah dia tidak sadar? Ini adalah hukuman terberat yang dia berikan kepada Lexa. Lexa bingung mengartikannya, Lexa sakit mengabaikannya.
Tak mau berlarut-larut dalam keadaan ini, terjebak dalam keragu-raguan ini, Lexa pun memutuskan untuk benar-benar pergi di saat pria itu masih tertunduk padanya.
"Kakak!"
Ketika melintasi gerbang utama, terdengar suara Eunbi memanggilnya. Lexa langsung berputar arah ke belakang, mendapati kesedihan di wajah sang gadis kecil. Namun Junho menahan putrinya untuk menghampiri Lexa. Pria itu menggendong Eunbi dan membawanya masuk. Saat itu, Lexa benar-benar tak lagi menemukan ketenangan dalam hatinya.
*****/////
Ada yang salah.
Ya, Jack yakin ada yang salah dengan Lexa. Sejak kapan dia terikat janji dengan orang lain? Mungkin bisa dibenarkan, jika dia menyepakati hal itu untuk menyelamatkan Jack. Jack juga tidak keberatan jika Lexa harus menjaga seorang anak. Namun untuk yang pertama kalinya, Jack kecewa Lexa menolak ikut dengannya.
Jack merenung di ruang tamu kabin. Ia duduk di lantai sambil menyandarkan kepalanya di dinding. Jack menatap langit-langit ruangan, mencoba mengartikan kepenatan yang ia rasakan. Tidak pernah ia berpisah dari Lexa walau hanya sebentar saja. Kini beberapa hari tak bertemu dengan istrinya, ia menggelandang seperti orang gila. Jack mencoba menanti, tapi sulit sekali meredam gejolak rasa menggelisahkan dalam hati. Jack sangat membutuhkannya, ia sangat merindukannya.
"Kak Jack, Kak Lexa pulang!" Son yang sedari tadi duduk memperhatikannya dengan serba salah di ruangan yang sama pun berseru, memberi tahu.
Sontak saja Jack terkejut. Ia melempar pandangan ke arah pintu dan Lexa pun masuk dengan wajah layunya. "Lexa!"
Jack berdiri, bergegas menghampiri. Wanita itu menatapnya dengan pandangan datar. Segeralah Jack memeluknya, melebur gelisah dalam hati.
"Istri! Aku terus memikirkanmu sejak kau menolak ikut denganku. Aku sangat mencemaskanmu, Bodoh!" Jack melepas dekapannya untuk menatap mata kekasihnya, memeriksa keadaan fisiknya. "Kau baik-baik saja, kan? Pemilik rumah itu tidak mengancammu, kan?"
"Semuanya baik-baik saja, Jack," jawab Lexa dengan suara lirih.
"Kau kembali lebih awal."
"Dia membiarkanku pergi."
"Baguslah. Aku sangat merindukanmu!" Jack kembali merengkuh Lexa erat-erat, berharap tidak akan terpisah lagi darinya.
Sementara, Son tersenyum haru menyaksikannya.
*****/////
Akhirnya hari-hari Jack pun kembali. Lexa telah menemaninya lagi. Malam hari dia merawat Jack, mengompres luka operasi di bagian kanan perut Jack yang masih belum pulih. Darah masih seringkali keluar dari cela jahitan, membuatnya lama untuk mengering. Mungkin jika Jack masih melakukan pengobatan di rumah sakit, luka tusuknya itu akan sembuh lebih cepat. Namun Jack tak merasa itu menjadi masalah, selama Lexa bersamanya.
Ia terbaring di kasur lantai sambil terus mengawasi Lexa yang masih sibuk merawat lukanya, juga memberikan krim khusus untuk mengeringkannya. Jack tidak tahu apa yang harus Lexa alami selama Jack tak di sisinya. Melihatnya baik-baik saja, Jack lega.
Lexa tepekur begitu Jack menggenggam tangan Lexa di perutnya. Wanita itu beralih memandangnya, lalu mengulas senyuman tipis. Senyuman yang layu, tapi Jack amat senang mendapatkannya.
Beberapa saat setelahnya, Lexa pergi ke dapur untuk membuang air bekas membersihkan luka. Jack mendatanginya, dan tak sabar ingin meluapkan kerinduannya yang membukit. Jack mendekapnya dari belakang, menegun sang istri.
"Apa kau tidak merindukanku?" tanyanya berbisik di dekat telinga sang kekasih.
Namun, Lexa menyingkirkan tangan Jack tanpa sekadar menanggapi ataupun tersenyum seperti kebiasaannya. Dia berputar arah, menatap Jack dengan enggan.
"Aku sangat lelah. Aku ingin bisa segera beristirahat."
Oh. Senyuman yang tersungging di sudut bibir Jack pun melemah. Seperti itu, gairah yang sempat memercik dalam dirinya pun meluruh seketika. Memang, Jack melihat wanita itu tidak seceria biasanya. Wajahnya yang lemah, seakan memendam masalah. Bahkan acap kali wanita itu bersikap manja dan kerap menggoda. Kali ini Jack benar-benar menemukan kejenuhan dalam matanya. Mungkin ya, benar, Lexa sedang lelah. Dia mengasuh anak orang lain selama ditahan demi bebas dari hukuman. Tentulah itu sangat menjemukan. Karena itu Jack mengangguk, dan Lexa pun benar-benar berlalu dari pandangannya tanpa memberikan sebuah penenang berupa ciuman.
*****/////
Dengan luka yang masih dibebat perban melingkari perutnya, Jack memaksakan jalannya untuk bisa sampai ke meja makan. Pagi-pagi benar ketika Jack terbangun dari tidurnya, Lexa sudah tidak ada di sampingnya. Ia tertegun mendapati sang istri tengah menyiapkan hidangan untuk sarapan. Jack mendekat, semakin dibuat heran oleh menu yang dimasak Lexa pagi ini. Hanya telur ceplok dan nasi saja, tapi dia tampak sangat bersemangat.
"Ah, Jack. Duduklah, aku membuatkanmu teh hangat. Kau bisa minum obatmu setelah makan."
Jack menduduki salah satu kursi, sementara Lexa masih sibuk menuang teh dari teko ke dalam cangkir.
Lexa hanya tersenyum sesaat. Dia beranjak duduk di kursi sebelah Jack. Mereka mulai menyantap makanan.
"Katakan padaku, apa saja yang kau lakukan di dalam rumah besar itu?"
"Tidak banyak. Aku hanya mengawasi Eunbi."
"Eunbi? Itu nama anaknya?"
"Benar. Kau tahu? Eunbi gadis yang sangat cerdas, Jack. Dia juga sangat cantik. Dia sangat pandai bermain piano walaupun usianya masih enam tahun. Sayang sekali dia tidak punya banyak teman di sana, jadi dia selalu bermain sendirian."
"Oya? Memangnya ke mana ibunya?"
"Orang tuanya sudah bercerai. Eunbi tinggal bersama ayahnya. Dia pria yang telah membantu kita, Jack. Eunbi pernah diperlakukan tidak baik oleh pengasuhnya, karena itulah ayahnya ingin aku menjaganya selama dia sibuk dengan urusan bisnisnya. Aku pikir itu akan sangat membosankan, tapi ternyata Eunbi gadis yang menyenangkan. Dia juga suka bicara. Dia dan ayahnya itu sangat lucu. Mereka suka menggoda satu sama lain—"
Lexa terus bercerita tentang Eunbi, tentang kehidupan yang menyenangkan. Dia menjalani waktunya selama beberapa hari dengan sesuatu yang berbeda dari kebiasaan mereka di kabin. Jack melihat Lexa sangat antusias. Dia terlihat bahagia. Dia tertawa hanya dengan kembali membayangkan kebersamaannya yang singkat bersama orang lain di rumah asing. Aneh, mengapa Jack tidak suka dengan kebahagiaan yang ditunjukkan Lexa itu? Jack tak menemukan tawa itu untuknya. Tawa Lexa itu ... tiba-tiba menggelisahkan Jack.
Siang itu pun, Jack mendapati sang kekasih melamun di tepi telaga. Lexa bersandar di pohon sembari menerawang langit. Apa yang terjadi padanya? Wanita itu tersenyum-senyum sendiri seolah-olah membayangkan sesuatu yang menyenangkan. Mungkinkah Lexa tengah mengingat kembali kebersamaannya dengan Eunbi? Dugaan-dugaan mencemaskan mulai mengitari otak Jack. Ia resah menerka-nerkanya. Lexa tinggal bersama seorang pria selama beberapa hari, bagaimana mungkin Jack tidak curiga? Namun ia mencoba untuk berpikir positif saja, akan tetapi ... semakin Jack berusaha meredam-redam kecurigaannya, dadanya terasa semakin sakit.
Son menegur Lexa dengan memperhatikan wanita itu dari dekat. Tentulah pemuda itu pun sama terheran-herannya melihat keanehan Lexa. Dia seperti orang gila, lalu mendorong kesal dahi Son yang coba menggodanya.
Saat Lexa beranjak masuk, Jack menahan tangannya di ambang pintu. Bermaksud untuk melesatkan ciuman di bibirnya, Lexa malah berpaling dan ciuman yang hendak Jack berikan pun menguap di udara. Lexa memandangnya, lalu menggeleng memberikan sebuah penolakan. Setelah itu dia masuk ke dalam, meninggalkan Jack dalam ketercengangan.
*****/////
Ketika Jack menyusulnya ke kamar malam harinya, Lexa telah bersiap untuk tidur di kasur. Jack merebahkan diri di sebelahnya, tapi Lexa tetap memunggunginya, tidak berbalik sama sekali. Berpikir untuk mencoba memastikannya sekali lagi dengan memberinya suatu hiburan, Jack bertindak nakal dengan memeluknya dari belakang.
"Rasanya sudah lama kita tidak bersenang-senang." Jack menyandarkan sisi kepalanya di kepala Lexa. "Bagaimana kalau kita pergi sebentar? Atau kau ingin makan sesuatu di luar, hm?"
Jack mengangkat kepala untuk menengok wajah istrinya. Mata Lexa memang terbuka, akan tetapi tidak ada suara apa pun yang Jack dengar dari mulutnya. Wanita itu hanya menatap lurus di depannya tanpa ekspresi.
"Ah iya, baiklah. Kalau kau ingin di rumah saja, tidak apa." Jack mengalihkan, seraya kembali mengempaskan pipinya di pipi Lexa.
Wanita itu tiba-tiba melepas lengan Jack yang melingkar rapat di perutnya. Lexa berbalik dan mendorong dada Jack hingga Jack terempas menjauh. Dia tampak gerah. Eh? Jack tertegun.
"Jack, jangan menggangguku. Aku sedang tidak ingin melakukan apa pun," katanya dengan tatapan enggan.
Jack tercenung mencerna sikap anehnya. Setelah memastikan Jack tidak akan mengganggunya lagi, Lexa pun memejamkan mata. Ada apa dengannya? Tidak pernah seperti ini sebelumnya. Biasanya, dia yang selalu bersemangat. Selelah apa pun Lexa, Jack selalu bisa meluluhkannya dengan rayuan. Kali ini dia bahkan tidak tersenyum sama sekali.
Sambil terus bertanya-tanya dalam hatinya, Jack membelai wajah Lexa. Coba-coba ia mencari-cari apa kiranya yang telah membuat Lexa jadi agak mengabaikannya. Apakah Jack melakukan kesalahan? Mata Lexa terbuka, belaian Jack terhenti seketika di pipi wanita itu, dan Jack tidak pernah merasa setakut ini melihatnya. Tatapannya sangat tajam, bagai memendam kekesalan. Seakan tak berkenan.
Buru-buru Jack menarik tangannya kembali. "Ma-maaf," ucapnya, lalu memutuskan untuk menyingkur darinya, membiarkan Lexa sendiri.
Mereka baru saja bertemu kembali setelah beberapa hari berpisah. Sebelum masuk ke ruang operasi, Jack ingat betul bagaimana Lexa menangisi keadaannya. Son juga bercerita bahwa Lexa terus menangisinya kendati Jack telah lolos dari keadaan kritis. Sekarang seharusnya Jack bisa melihat senyum itu di wajah kekasihnya, pelukannya, keluh manjanya, tapi Lexa tidak menjawab harapannya. Dia bersikap sebaliknya. Dia ... tidak sama lagi.
Malam kian larut. Jack meninggalkan Lexa yang telah tertidur pulas. Ia pergi ke tepi telaga dan merenung seorang diri di sana. Ia lempari air tenang itu dengan bebatuan kecil yang ada di sekitarnya. Melempar kejenuhan yang dirasakannya akibat sikap sang istri. Berharap bisa melebur kerinduan, malah kecewa yang ia dapatkan.
Ketika Son mendatanginya, duduk di sampingnya menawarkan sebatang rokok, Jack menolaknya.
"Pergilah," katanya, tiba-tiba kesal.
"Kenapa Kakak masih di sini? Bukankah Kak Lexa sudah kembali?"
Jack tidak ingin menjawab pertanyaan Son. Ia membisu, merasakan dadanya kian terbakar—terlebih pemuda itu tertawa geli seolah-olah tengah memikirkan hal yang menyenangkan. Membayangkan kembali bagaimana tatapan marah Lexa saat Jack mencoba menyentuh wajahnya, hati Jack tak tenang.
"Hey, Son. Kau tahu kenapa tiba-tiba wanita menghindari pria yang sangat dicintainya?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Jack. Ia tak lagi mampu menahan dugaan-dugaan buruk yang mendera otaknya akibat terlalu kecewa dengan sikap Lexa. Akhirnya pun, satu prasangka menetap di benaknya dan ia yakin dengan perasaannya itu. Ya, Lexa menghindarinya.
"Umm ...? Mungkin tidak sadar si pria telah menyinggung perasaannya. Yang aku tahu, wanita sangat sensitif dan malu untuk berterus terang," jawab Son.
"Tapi aku tidak pernah mengatakan apa pun."
"Oh? Apa yang Kakak bicarakan itu Kak Lexa?" Pendapat Son itu seakan menepuk Jack dan sontak mengembalikan kesadaran Jack sepenuhnya.
Eh, apa baru saja Jack mengungkapkan apa yang dirasakannya pada Son? "Ngg?" Kini Jack tergugu tak mampu menampiknya. Ia telah lepas kendali.
"Tapi, Kak, tadi siang aku melihatnya tersenyum-senyum terus. Kak Lexa terlihat sangat bahagia."
"Ya, dia tersenyum sendiri. Dia tidak tersenyum untukku."
"Oh? Mungkin Kak Lexa sedang lelah saat bersamamu, eh, maksudku ... dia sedang menjaga kondisimu, Kak! Kakak kan sedang sakit, pasti Kak Lexa berpikir untuk tidak mengganggumu dulu sampai kau sembuh."
"Tapi seharusnya dia bisa, kan, bersikap lebih baik untuk membuatku tenang?"
"Apa ... dia bosan?" Son bicara lancang.
"Apa katamu?"
"Eh, tidak, Kak! Tidak, tidak, aku hanya sedang berpikir saja." Melihat Jack terkejut, tentu saja Son panik.
"Bosan, kau bilang? Jadi menurutmu aku ini membosankan?" Jack menceletuk, merasa tersinggung.
"Bu-bukan begitu! Jika seorang wanita bosan, tidak berarti juga sang pria membosankan. Itu hanya dinilai dari cara pandang dan cara berpikir wanita itu saja!"
Jack mengerutkan kening, mempelajari pendapat pemuda itu.
"Ta-tapi Kakak bisa saja melakukan suatu perubahan untuk membuat Kak Lexa semangat lagi."
Kali ini kalimat Son berhasil menyita kerja otak Jack.
"Perubahan? Seperti apa itu?"
Son mengembuskan napas besar. Tampaknya dia lega Jack tak jadi marah. "Kakak bisa membawanya ke tempat istimewa, atau berikan sebuah hadiah. Bisa juga melakukan perubahan pada diri sendiri jika memang semua cara itu tidak berhasil."
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Jack dengan polosnya.
Son malah serius berpikir sambil memperhatikan penampilan Jack. Entah dia sedang mencari apa yang harusnya Jack ubah, atau malah berpikir Jack mendadak jadi aneh, Jack tak bisa menyembunyikan harapan itu di matanya dari Son. Harapan untuk bisa membuat Lexa kembali seperti Lexa yang dulu.