Black in Love

Black in Love
Chapter 6



Jam masih menunjukkan pukul 07:30, tapi jalan raya dari pemukiman menuju ke pasar sudah sedemikian padat. Tidak hanya mobil-mobil yang bergerak lambat merajai dua alur berlawanan dari pusat pertokoan Itaewon, motor-motor yang selalu menyelip di antara kendaraan besar pun turut meramaikan jalanan pagi ini.


"Hati-hati saat beraksi. Awasi sekeliling kalian sebelum menjarah barang mangsa. Pilih target yang tepat, dan jangan pernah menjadikan wanita apalagi ibu-ibu sebagai sasaran kalian!" Jack memperingatkan sambil menepuk bahu Son. "Kalian mengerti?"


"Mengerti, Kak!"


"Nah, pergilah!"


Son dan Nil berbelok dari arah jalan raya, berlalu dari pandangan Jack dan Lexa. Kemudian, Jack mengangkat dagu singkat untuk mengajak Lexa berbelok ke arah sebaliknya.


Seperti biasa, Jack dan Lexa meninggalkan kabin untuk beroperasi. Sedangkan Son dan Nil beraksi di zona mereka sendiri yakni terminal ataupun stasiun kereta. Kedua bocah itu masih belum terlalu banyak pengalaman. Mereka tidak akan mudah menaklukkan jalan-jalan besar dan pasar yang sangat ramai, karena itu Jack tidak mau memberi risiko. Kedua anak muda itu pun tidak selalu hidup menumpang di rumah Jack. Terkadang mereka tidak pulang sebab melewatkan malam dengan mabuk-mabukan di sebuah klub hiburan, lalu tidur di sembarang tempat. Mereka akan datang pada Jack jika benar-benar kesulitan mendapatkan peluang.


Jack dan Lexa menyusuri aspal, menerjang sinar matahari yang mulai terik hanya dengan berjalan kaki, melewati jejeran toko dan para pejalan.


"Woaaaah!"


Langkah Jack sontak terhenti begitu mendengar seruan takjub Lexa. Jack berbalik ke belakang dan mendapati wanita itu menempel di kaca etalase besar sebuah tokoh pakaian, persis seperti cicak.


"Ini benar-benar indah!" Dia berdecak kagum, tercengang-cengang melihat apa yang terpajang di balik kaca.


Jack mengikuti arah pandang mata Lexa pada gaun hitam mewah di hadapannya. Sebuah dress pendek tanpa lengan yang dihiasi renda-renda elegan, gaun itu memang tampak begitu anggun dan mahal. Jack tersenyum geli memperhatikan sang kekasih mendadak berubah norak. Jack pun menghampiri ketika Lexa menegakkan badan—memposisikan dirinya setepat mungkin di depan gaun tersebut, dan menempatkan wajahnya lurus ke arah kepala maneken—seolah-olah membayangkan tengah memakainya. Dia terlihat senang.


Jack memperhatikan bayangan samar Lexa di kaca transparan itu. "Cantik," gumamnya beralih memandang wajah sang kekasih.


Lexa tersenyum, menatap Jack sambil tersipu. Dia menjadi malu-malu, seraya menyiratkan rona merah padam di wajahnya. Ya, Lexa memang cantik. Dia memiliki mata besar yang bening dan kebiru-biruan, dengan bola mata berwarna cokelat yang tampak transparan ketika disorot cahaya. Eyeliner dan celak yang kerap dipakainya pun menambah kesan tajam. Hidung yang panjang, juga bibir yang penuh. Tubuh yang ideal dan kulit putih porselen-nya pun terlihat amat terawat, kendati Lexa tak pernah melakukan perawatan khusus. Dia tidak pernah memakai gaun pesta. Seluruh pakaiannya hampir berjenis blouse yang dipadu hotpants ketika mengenakannya, ataupun t-shirt yang dipasangkan dengan celana jins sobek-sobek di bagian paha dan lutut. Jack belum pernah membelikan Lexa sebuah gaun mahal karena ia memang tidak punya uang sebanyak itu, dan karena mereka memang tidak pernah pergi ke suatu acara yang mengharuskan keduanya berpakaian bagus.


"Lihatlah harganya, Jack, kita harus merampok rumah pejabat dulu baru bisa membelinya." Lexa menunjuk papan kecil yang diletakkan di depan kaki maneken gaun. Nominal besar tertulis di situ dan rasanya Jack ketakutan hanya dengan melihat angkanya. Untuk mendapatkan uang sebanyak itu, Jack harus mencuri setiap hari dan mengumpulkannya selama beberapa bulan.


"Untuk apa kita harus merampok rumah pejabat dulu? Kita bisa rampok toko ini langsung nanti malam," gurau Jack seketika melepaskan tawa Lexa.


"Hanya untuk mengambil gaun ini? Lalu, aku akan memakainya di dalam bui, begitu?" Lexa kembali tergelak. "Ini toko yang besar, banyak pengawasan di dalamnya. Ayolah, sebaiknya kita pikirkan mau makan apa hari ini."


Lexa berlalu dan pandangan Jack meluluh. Ia memandang gaun hitam itu dengan suatu keyakinan sebelum pergi.


Di tepian jalan pasar tradisional, Jack menelisik setiap orang yang berlalu lalang dari kejauhan. Penglihatannya menjadi tajam, mencoba memperkuat instingnya. Ia bertengger di salah satu toko yang sedang tutup dan mulai mengawasi satu per satu orang yang dianggapnya berpeluang. Tak hanya bising di malam hari, pada siang hari Itaewon juga diramaikan oleh suara dari aktivitas di pasar global ini. Di sana penjual kaki lima sibuk melayani pelanggan. Beberapa toko besar yang menjual kebutuhan sehari-hari dan juga perabotan memadatkan suasana dengan papan-papan reklame di atasnya. Itaewon yang berbatasan dengan garnisun militer Amerika Yongsan memang memiliki pesona di tengah-tengah utara Seoul. Meski dulu dikenal sebagai daerah pelacuran, Itaewon menutupi masa lampaunya yang suram dengan gaya hidup yang modern. Namun kendati begitu, klub-klub hiburan malam bahkan klub gay pun masih disediakan. Di sini, begitu bebas di pagi hari, dan gemerlap kala malam hari.


Jack mulai mengawasi sekelilingnya, lalu akan menjinakkan situasi begitu mendapatkan sasaran yang tepat. Namun untuk kali ini Jack tidak bisa langsung bergerak. Ia terdiam menunggu Lexa yang pergi meninggalkannya sejak lima menit yang lalu. Wanita itu kembali dari toilet umum yang terletak tak jauh dari lokasi, saat Jack menyalakan rokok di mulutnya dengan korek api zippo—hadiah dari Lexa beberapa tahun lalu dan Jack selalu membawanya ke mana-mana.


"Jack."


"Hm?"


Lexa tidak meneruskan kalimatnya. Dia menatap Jack ragu-ragu dan cemas, lantas mendekatkan bibirnya ke telinga Jack dan berbisik, memberi tahu bahwa saat ini dirinya sedang menstruasi.


"Oh? Di saat seperti ini?" Jack terkejut.


"Ini sangat tiba-tiba." Lexa tampak menyayangkan.


Jack mengangguk, "Baiklah, pakai ini." Ia memberikan selembar uang dari saku jaket kulitnya kepada Lexa, satu-satunya uang yang ia punya. "Malam ini aku akan tidur cepat," sindirnya.


Sambil tergelak-gelak, Lexa mengambilnya, lalu kembali meninggalkan Jack menuju ke salah satu toko yang menjual kebutuhan sehari-hari. Dia akan membeli apa yang diperlukannya lalu kembali ke toilet umum. Itu akan memakan waktu lama, Jack benci penantian seperti ini.


Beberapa menit kemudian ....


"Tolonglah, aku hanya butuh itu!" Suara Lexa yang santer terdengar, menarik pandangan Jack seketika ke arah samping. Dia keluar dari toko dengan wajah memelas. "Aku membayarnya!"


"Sana, pergi! Kami tidak melayani orang sepertimu, dasar wanita jalang! Kau itu gongli! Kau hanya akan mencemari tokoku saja. Pelangganku bisa kabur karenamu!"


Sang pemilik toko tampak mengusir Lexa dari sana dan ... jika tidak salah dengar, dia juga mengatakan satu kata kasar padanya. Badan Jack menegak. Merasa sesuatu yang tidak menyenangkan sedang terjadi, buru-buru Jack mendatangi Lexa yang tercampak di depan toko. Lexa termangu dengan wajah sendu tanpa membawa barang apa pun.


Lexa memang berpaling padanya, tetapi wanita itu tidak ingin memandang Jack—mungkin untuk menyembunyikan genangan di pelupuk matanya. Lexa menggeleng lemas, kemudian memilih pergi melewati Jack. Dia bersedih, Jack tahu itu. Pemilik toko itu! Dia berani mengusir Lexa dan mengatai Lexa dengan sebutan hina hanya karena menilai Lexa dari penampilannya. Dia berani melukai hati Lexa setelah selama ini Jack begitu menjaganya.


Merasa tidak mendapatkan perlakuan yang adil, Jack memasuki toko itu dan langsung mengibaskan tangannya ke arah tumpukan makanan ringan yang terpajang di dekat meja kasir, hingga seluruh barang dagangan itu terlempar jauh—terempas semburatan ke segala arah. Sontak saja serangan Jack itu mengagetkan sang kasir dan sang pemilik toko yang sedang melayani pembeli.


Wanita paruh baya yang telah mengusir Lexa itu mendekat gusar, tapi juga terlihat ketakutan. "Hey, siapa kau? Kenapa mengacaukan tokoku?" Dia mencermati penampilan Jack dan tampak waswas.


Jack maju dengan langkahnya yang tegap dan bahu sedikit terangkat. Matanya menatap lurus sepasang mata keriput itu diiringi dendam.


"Hey, apa maumu?" Bibi tua itu mulai panik, perlahan melangkah mundur untuk menjauhkan diri dari ancaman yang Jack pancarkan lewat mata. "Jika kau macam-macam, aku akan memanggil polisi!"


"Dengar!" pekik Jack menyela berang. Ia mengangkat telunjuknya di depan mata wanita itu dengan penuh kebencian. "Jika bukan karena kau seorang wanita, aku pasti sudah menghajarmu, nenek tua!" cetus Jack garang. Dia menghadapi wanita itu tanpa segan-segan.


Jack melanjutkan, "Jika aku saja bisa menghormati wanita, maka sebaiknya kau pun bisa menghargai setiap pembelimu!" sambungnya berapi-api.


Mata Jack melototinya, wanita itu pun terlihat gemetar. Beberapa pengunjung di dalam toko berkumpul ketakutan mencari perlindungan pada sesama. Setelah itu Jack pergi. Ia keluar dari sana meski masih mendengar si pemilik toko memakinya.


"Dasar begundal!"


Kemarahan Jack tak langsung surut saat itu juga. Ketika keluar dari toko—hendak kembali menemui Lexa—di kejauhan sana, Jack mendapati seorang pria berbadan besar tengah menggoda wanita itu. Pria yang usianya terlihat sekitar 35 tahunan itu berpenampilan biasa, malah terkesan lusuh. Namun pria berkepala botak dengan bekas jahitan di pelipis bawah matanya itu tampak garang, meski tidak terlihat satu pun tato di lengannya. Dia mencoba memaksa Lexa, mencolek-colek lengan Lexa dengan tatapan merayu yang amat menjijikkan. Lexa menghindar dengan raut resah, tetapi laki-laki berkulit hitam itu terus mendekati, mendesak sang istri untuk sesuatu yang seolah menyenangkan di otaknya. Sialan!


Darah Jack mendidih. Ia berlari cepat dan begitu berhenti di tempat Lexa, pukulan penuh tenaga ia layangkan langsung ke arah hidung pria tak sopan itu.


"Oh!" Bersamaan, Lexa memekik kaget.


Si pria hidung belang terpental jauh, terempas ke belakang, lalu jatuh tersungkur sebab hilang keseimbangan.


"Jack!"


"Lexa, kau tidak apa?" Kecemasan Jack tak mampu dibendung lagi. Terlebih saat Lexa memeluknya dengan wajah ketakutan, Jack sangat mengkhawatirkannya. "Tenanglah, ada aku."


Pria yang diserang Jack berbalik menatapnya penuh amarah. Setetes darah mengalir lancar dari satu lubang hidungnya. Jack meninjunya dengan sangat kencang, tapi Jack tidak merasa menyesal. Itu adalah akibat yang harus diterima setiap pria jika mencoba mengganggu istrinya.


Setelah melampiaskan kemarahannya, Jack selalu bisa merasa tenang. Ya, setidaknya sampai tiba-tiba sekelompok bandit berdatangan ke arahnya. Ketenangan itu lenyap seketika berubah menjadi ancaman. Mereka ada empat orang dan keseluruhan berbadan tinggi besar bak pegulat. Salah seorang membawa alat pukul berupa kayu, salah seorang lagi mengeluarkan pisau lipat dari balik jaketnya. Jack menatap pria yang telah dibuatnya terkulai di tanah, mendapati mata pria itu memancarkan suatu peringatan.


Sial, mereka adalah penguasa wilayah ini. Jack tidak pernah tahu itu dan sekarang ia tahu, ia telah membuat dirinya sendiri dalam masalah. Mereka terlalu banyak untuk Jack yang seorang diri. Perkelahian tidak akan adil bila harus terjadi. Mungkin Jack bisa menghadapi mereka dengan tangan kosong, tapi Jack tidak bisa melibatkan Lexa dalam situasi ini. Ini sangat berbahaya. Jack tidak ingin mempertaruhkan kekasihnya.


Maka, "Lari!" Jack berbisik, mengajak Lexa untuk meloloskan diri.


Mereka berbalik arah lalu berlari sekencang mungkin. Melihat Jack kabur, orang-orang itu tidak membiarkannya. Mereka pun bergegas mengejar. Sial! Jack menggenggam tangan Lexa, teguh tidak akan melepaskannya. Setiap keadaan menjadi berantakan, yang bisa mereka lakukan hanyalah berpegangan tangan. Melewati pasar, menerobos para pengunjung yang tengah sibuk berbelanja. Kejadian itu sontak saja membuat warga kaget dan panik. Mereka semua terkesiap saat Jack dan Lexa menerjang jalur, hingga mereka semua memilih untuk menepi karena ketakutan.


Orang-orang berbadan besar itu pun terus berlari mengikutinya, memotong jalan, menciptakan keonaran. Jack membawa Lexa memasuki gang-gang sempit tempat pemukiman warga sambil terus berlari cepat. Mereka cemas, mereka panik. Otak menjadi sangat sulit untuk diajak berkompromi mencari jalan yang benar untuk menyelamatkan diri. Padatnya penduduk serta banyaknya jalur yang berkelok, membuat Jack dan Lexa kebingungan dalam menentukan arah. Mereka dituntut untuk tidak lengah agar orang-orang itu tidak bisa menangkapnya. Namun satu yang pasti, Jack tidak akan membiarkan Lexa terlepas dari genggamannya. Jack tidak akan pernah melepas sang kekasih dan membuat dirinya sendiri kehilangan.


Di sebuah gang sempit, seorang nenek tua membuntu jalan. Wanita renta itu berjalan pelan-pelan sambil membungkuk, meringkuk-ringkuk, menghambat aksi Jack dan Lexa dalam meloloskan diri. Jalan itu terlalu sempit untuk dilewati dua orang. Jack khawatir nenek tua dengan jalannya yang tertatih-tatih itu akan terserobot dan jatuh jika Jack menyerobot. Namun jika harus menunggunya hingga sampai ke ujung gang, akan memakan waktu dan para bandit itu bisa saja menemukannya. Tak sabar, Jack bertindak membopong nenek tua itu, membawanya keluar dari gang. Nenek itu berteriak-teriak, tapi Jack tak peduli. Ia dan Lexa harus segera menyelamatkan diri.


Di salah satu tikungan jalan yang buntu, Jack menarik tangan Lexa untuk memasukinya. Di sebuah bangunan tua dengan bentuk pintu menjorok ke dalam, Jack dan Lexa menyembunyikan fisik. Jack mendekap tubuh Lexa yang tersandar di pintu kayu itu, melindunginya, mendesaknya, berusaha untuk tidak memperlihatkan sedikit pun bagian dari dirinya agar tidak menarik perhatian orang-orang itu.


Ya, orang-orang itu melintasi gang buntu yang sama. Jack dan Lexa semakin waspada, berusaha untuk tidak bergerak dalam ruang sesempit itu, bahkan hanya untuk sekadar bernapas. Beberapa detik kemudian, seakan yakin Jack telah menghilang dari area ini, orang-orang itu memutuskan untuk menjelajahi wilayah lain.


Napas Jack berembus lega. Mereka lolos. Tubuhnya melemas setelah sempat dihadapkan pada situasi tegang. Ia menarik wajah, mengalihkan pandangan pada Lexa yang masih dipeluknya, dan tiba-tiba cairan bening meluncur lancar dari mata wanita itu.


"Lexa?" Jack memegang sebelah pipi wanita itu, mempertanyakan arti dari air matanya. Mendadak kekhawatiran lain pun melingkupinya.


Lexa tak mau memandangnya. Bibirnya bergetar, dia menangis. "Aku mau pulang." Dia mendorong tubuh Jack dengan pelan untuk meminta jalan, lalu pergi begitu saja.


Jack termenung sesaat mempelajari kesedihannya, dan Jack merasa tahu itu kenapa.