Black in Love

Black in Love
Chapter 1



Lexa menahan diri dari setiap rayuan yang berlenggang kepadanya. Para pria hidung belang yang diharapkan kedatangannya oleh para wanita-wanita liar di situ mulai mendekatinya, dan menawarkan kesenangan yang menjanjikan. Namun Lexa tidak tertarik sama sekali. Ia muak. Ia ingin segera hengkang, apa daya tercekat menantikan sebuah penghasilan. Ia bukanlah salah satu dari sekian banyak wanita penggoda di sekitarnya. Keberaniannya datang ke tempat hiburan malam hanya demi dapat mengisi kekosongan perutnya, akan tetapi bukan dengan cara yang sama.


Ia berjalan ragu-ragu dan risi ketika setiap mata pria di sana memandangnya dengan mata berhasrat. Lexa tertahan di sudut jalan temaram sebuah gang, dan hanya mendapat pencahayaan dari lampu kerlap-kerlip yang terpajang di papan reklame atas pintu bar, tanpa tahu apa yang harus ia lakukan untuk memulai rencananya. Lexa melihat semua wanita di sekelilingnya berlomba-lomba menjajakan dirinya kepada setiap pria yang keluar masuk bar. Menjadi seperti mereka bukanlah keinginan Lexa. Namun cara ini menjadi satu-satunya jalan untuk bisa bertahan hidup, dan hanya dirinya yang bisa melakukannya.


Pria paruh baya dengan setelan jas rapi berjalan menghampiri. Lexa menegakkan badan berpura-pura memasang wajah sensual, berpura-pura nyaman dengan rok mini ketat yang dikenakannya, berpura-pura begitu percaya diri. Dengan tangannya, Lexa menyapu rambut panjangnya—rambut yang disemir belang-belang coklat dan pirang—ke belakang untuk mengasah gairah dan tampaknya itu berhasil memancing ketertarikan pria di sana.


"Kau baru di sini?" tanya si paman dengan mata berkilauan.


Lexa bergumam sejenak, merasa bibirnya lembap akibat lipstik berminyak yang teroles di bibirnya, lalu mengangguk keki.


"Siapa namamu?"


"Panggil saja aku ... Rose."


Kemudian ia mendapati pria tua itu memperhatikan dirinya dengan tatapan menerawang, seakan sedang menilai apakah Lexa masuk ke dalam kriterianya atau tidak. Ya, Lexa sadar, seharusnya ia bisa mempersiapkan dirinya lebih baik lagi agar tak diragukan. Mungkin setidaknya dengan memakai mini dress ketat yang bisa membuatnya tampak lebih seksi. Ia memang setengah hati melakukan aksi ini. Ada seseorang yang tak setuju jika Lexa benar-benar berdandan berani. Beginilah Lexa, menghitamkan kuku dan memakai celak mata, juga eyeliner yang tebal adalah ciri khas dari dirinya. Ia penyuka musik rock dan menjadi wanita penghibur bukanlah keahliannya. Namun di depan, beberapa kawan menanti, mengharapkan hasil darinya.


"Kita bisa minum dulu."


"Eits!" Lexa mencegah, ia memegang lengan pria yang tampak seorang pengusaha kaya itu sebelum berlalu membawanya masuk ke dalam bar. "Tidak perlu. Aku ... aku sedang tidak ingin minum." Kali ini ia berkata jujur.


Memulai aksinya, Lexa melangkah pendek. Ia mendekati paman itu dengan tatapan merayu. "Aku sangat kedinginan." Lexa memaksakan diri untuk melingkarkan kedua lengannya ke pinggang si paman, memeluk pria tak dikenalnya itu sambil mengaduh.


"Ouh, gadis yang malang." Dia mulai tertipu, seraya balas memeluk Lexa.


"Aku sangat kesepian. Bisakah kau langsung bawa aku ke suatu tempat?" Sambil mendesah-desah, Lexa mengeluarkan kata-kata penuh dusta itu dari mulutnya.


"Tentu saja. Kau sungguh manis."


Masih sambil berusaha mengalihkan pikiran sang korban, Lexa menyelinapkan tangannya diam-diam ke dalam saku belakang celana formal yang dikenakan si paman—untuk dapat menemukan incarannya. Dompetnya begitu tebal, Lexa agak kesulitan mengeluarkannya dari sana. Si paman sempat menyadari pergerakan Lexa, buru-buru Lexa mengalihkan perhatian mangsanya dengan mengeluh manja.


"Buat aku melupakan malam ini, Paman." Ia bermain drama.


"Itu masalah mudah. Aku berjanji ini akan menjadi malam terindahmu. Ayo, kita bisa pergi sekarang juga." Dengan rasa tak sabar, pria yang lebih pantas menjadi ayah Lexa itu melepas pelukannya, lalu tergesa-gesa menggandeng tangan Lexa—ingin mengajaknya segera pergi ke suatu tempat yang menurutnya menyenangkan—dan itu menjadi kesempatan Lexa untuk mengalihkan dompet yang telah berhasil diambilnya ke belakang pinggang.


"Oh, tunggu!" Lexa sengaja menahan. "Ada telepon masuk."


Paman itu tersenyum memberinya waktu. Lexa melepaskan tangannya, lalu berbalik waswas dan menjauh dari pria berumur itu, sembari berpura-pura mengeluarkan ponselnya dari tas kecil yang ia gandeng di pundak. Sementara si paman memilih menunggunya di tengah jalan.


"Halo? Ah, iya." Sambil berpura-pura mengangkat telepon di sisi telinganya dan bicara omong kosong, dengan tangan satunya Lexa membuka dompet si paman hidung belang itu untuk memeriksa isinya. Benar saja, Lexa tercengang melihat lembaran-lembaran uang memenuhinya. Sungguh, Lexa tidak pernah melihat uang sebanyak itu.


"Oh? Dompetku?"


"Hey, kau! Kau mengambil dompetku!"


Lexa membelalak sambil meringis cemas. Paman itu berteriak sangat kencang sehingga seluruh perhatian orang-orang di sana tersita dan tertuju padanya. Tak mau ambil risiko atau menempatkan dirinya sendiri dalam bahaya, buru-buru Lexa memasukkan dompet beserta ponselnya ke dalam tas, lantas gegas membawa kakinya berlari.


"Pencuri!" Paman itu mulai meneriaki.


Gawat!


Lexa dikejar oleh beberapa orang, mereka para penjaga wanita liar di kawasan hiburan malam di sini. Ia pun membawa kedua kakinya berlari kian cepat menyusuri gang-gang sempit dan gelap untuk menyelamatkan diri—sambil mendekap tasnya. Kawasan hiburan ini memang masih berlokasi di pusat Itaewon-dong, lingkungan Yongsan-gu, Seoul, akan tetapi berada di dalam gang yang hampir seluruh bangunan di sekitarnya adalah bar dan klub hiburan malam. Berada di area terpencil yang sulit dilintasi kendaraan beroda empat. Jauh dari jalan raya dan hampir sebagian pengunjung adalah wisatawan. Orang-orang itu terus mengejarnya. Di tikungan jalan permukiman sempit yang telah sepi, Lexa berhenti sejenak guna menyempatkan diri melepas sepatu hak tingginya—agar tak menghalangi aksinya meloloskan diri. Kejadian seperti ini bukanlah yang pertama kalinya terjadi. Lexa kerap gagal dalam beraksi. Namun ia selalu lolos berkat keahliannya berlari.


Sesampainya di jalan besar diiringi pertokoan yang sebagian telah tutup, Lexa berteriak, "Go!"


Jack yang tengah menantinya santai di atas pikap hitam besar dengan tipe satu kabin pun tertegur. Pria itu menyadari keadaan genting Lexa dan mulai berdiri waspada bersama Nil.


"Go, go, go!" Nil menepuk kepala kabin pikap, memberi aba-aba pada Son—yang bertugas mengendalikan kemudi—agar gegas menyalakan mesin. Sementara Jack siaga menyambut Lexa.


Lexa berlari ke arah sang kekasih yang telah bersiap meraihnya di tepian bak pikap. Jack mengulurkan tangannya dengan panik. Mobil mulai berjalan pelan-pelan. Orang-orang itu tak mau berhenti dan derap langkahnya terdengar di ujung gang, hampir sampai di tempat Jack memarkirkan kendaraannya. Situasi benar-benar darurat. Sebelum mereka berhasil menemukan Lexa, Lexa berusaha secepat mungkin untuk sampai di kendaraan yang selalu menjadi penolong aksinya. Ia menggapai tangan Jack seraya menaikkan satu kakinya di tepian bak pikap. Oh! Lexa seolah melayang saat Jack menarik tangannya kuat-kuat hingga Lexa terempas ke depan, menindihi Jack yang jatuh tergeletak sembari menjaga dirinya. Dia berhasil membawa Lexa naik dan Son pun segera membawa pikap mereka melaju kencang.


"Hooooh!" Di atas badan Jack, Lexa tak bisa menahan napasnya yang terengah-engah.


Mereka sudah jauh dari massa yang nyaris menangkap Lexa dan mengeroyoknya. Lexa lega mampu melarikan diri dengan membawa hasil besar.


Jack menatap matanya sambil tersenyum bangga. Pria berberewok dan berkumis tipis itu menyapu rambut Lexa ke belakang dan bertanya, "Kau berhasil?"


Lexa mengangguk di sela usahanya mengatur napas kembali. Ia mengangkat tasnya, kemudian Nil mengambilnya untuk memeriksa apa yang telah Lexa dapatkan malam ini.


"Lain kali aku tidak mau memakai hak tinggi lagi. Ini membuat kakiku sakit!" Lexa mengeluh manja, masih membetahkan diri tengkurap di atas dada Jack yang memeluknya erat-erat.


Jack terkekeh. "Aku akan memberikan yang terbaik untukmu malam ini!" Dia menahan tengkuk serta memiringkan kepala Lexa sambil menaikkan dagunya sendiri, untuk membuktikan ucapannya. Kali ini Lexa suka mendengarnya.


"Wow! Kakak, Kakak, lihatlah ini banyak sek—" suara antusias Nil tertahan begitu mendapati Lexa dan Jack tengah menyatukan bibir. "O-ow!"


Begitulah.


Hidup ini pilihan, itu benar. Seperti Lexa yang memilih hidup bersama Jack. Mereka kabur dari sebuah panti asuhan sejak usia Lexa masih 12 tahun, dan memutuskan untuk menciptakan dunia mereka sendiri. Di sebuah bangunan tua yang telah lama terbengkalai, Jack membawa Lexa ke kabin kayu tua itu—yang terletak jauh dari pemukiman warga dan berada di dekat sebuah telaga, jauh dari jalanan ataupun keramaian kota. Mereka hidup bersama dan bertahan dalam keterbatasan dengan mencuri juga menipu. Apa pun mereka lakukan demi menyambung hidup tanpa sanak saudara. Minimnya pendidikan yang mereka tempuh pun menjadi faktor utama yang membuat keduanya sulit mendapatkan pekerjaan.


Di saat anak seusianya tengah gencar menuntut ilmu, Lexa dan Jack yang seharusnya masih mengecam pendidikan di bangku sekolah menengah pertama, malah sibuk berkeliaran di jalanan mencari mangsa. Lapar dan tuntutan kebutuhan lain akhirnya menjadi alasan yang memaksa keduanya untuk bertindak kriminal. Namun seiring bertambahnya usia serta kedewasaan, kemampuan pun kian meningkat melalui pengalaman-pengalaman yang membuat mereka belajar. Jack dan Lexa mampu memperbaiki bagian-bagian kabin tak berpenghuni itu dengan bahan material seadanya—yang mereka temukan di tempat pembuangan sampah—hingga layak untuk disinggahi dan menjadi tempat teduh yang nyaman.


Mereka tumbuh bersama dan sama seperti makhluk lainnya, Jack dan Lexa juga manusia normal yang memiliki ketertarikan pada lawan jenis. Perasaan keduanya berkembang dengan sangat baik. Perasaan saling suka yang tumbuh seiring berjalannya waktu. Kerasnya perjuangan hidup yang telah mereka jalani bersama-sama, pun menjadi salah satu penyebab yang membuat keduanya sulit berpisah. Terlebih mimpi-mimpi menjadi orang yang sukses, menguatkan keyakinan Jack dan Lexa untuk terus bersama mewujudkannya. Mereka berjanji akan selalu bersama-sama, dan memutuskan menjadi suami istri hingga delapan tahun berlalu sejak saat itu. Hingga detik ini, sudah lima belas tahun lamanya mereka hidup bersama ....