
Demi membuat suatu perubahan untuk bisa mengembalikan keceriaan Lexa, Jack harus mengikuti saran konyol dari Son. Pagi-pagi ia telah mempersiapkan sebuah rencana dengan harapan itu akan berhasil. Jack keluar dari kamar mandi setelah hampir satu jam lamanya. Ia berjalan ke arah ruang makan dan Lexa yang tengah duduk di sana pun langsung tersedak minumannya saat menyadari Jack tanpa kumis dan berewoknya.
Ya, gila memang. Jack sendiri tidak percaya akan melakukannya. Mencukur habis kumis dan berewok yang selama ini menutupi sebagian wajahnya dan selalu menjadi kebanggaannya. Namun apa yang dikatakan Son semalam, bisa jadi ada benarnya. Jack memikirkannya hingga fajar, ragu tapi juga yakin.
"Ka-Kakak, ke mana jenggot dan kumismu?" Son tercengang-cengang.
Tak lain halnya dengan Lexa. Wanita itu melongo menatapnya terheran-heran. Jack berdiri di ujung meja, mengelus-elus dagunya yang terasa lebih mulus dan sedikit aneh. Semalam Son memang tidak mengusulkan pada Jack untuk mencukur bulu-bulu itu dari rahangnya, tapi selain itu, apa lagi pada diri Jack yang harus ia ubah? Segalanya baik-baik saja, menurutnya. Rasa bosan yang ia simpulkan bersama Son semalam, ia pikir itu karena penampilan Jack saja. Karena itulah Jack nekat mempertaruhkan bagian dari keperkasaannya.
"Aku mencukurnya. Apa aku tampak berbeda?" jawabnya, malu.
"I-iya, Kak Jack jadi lebih imut." Son meringis. Dia terkesima. Reaksinya begitu menggelikan.
Selama tinggal bersama, pemuda itu memang belum pernah melihat Jack tampil tanpa kumis dan berewoknya. Semenjak memutuskan untuk menjadi pria yang ditakuti saat beranjak remaja, sejak saat itu Jack selalu menumbuhkan berewoknya. Ia hanya akan mencukurnya sesekali, dan meninggalkannya tipis-tipis. Lalu, bagaimana pendapat Lexa setelah melihat perubahan ini? Jack melirik wanita itu dan mendapatinya tertunduk malu-malu tanpa bersuara. Jack pun berjalan mendekati Son sambil terus mengawasi wanita itu.
"Kak Jack, ternyata kau tampan juga, ya!"
"Apa maksudmu ternyata? Aku memang sudah tampan sejak lahir!" celetuk Jack, nyaris menepak kepala Son yang beringsut ketakutan.
Namun, diilihatnya Lexa berpaling melepaskan tawanya tanpa suara. Eh? Dia tertawa? Sepertinya ini berhasil. Ya, walaupun tidak membuatnya langsung terpesona, atau mungkin dia malu mengakuinya, setidaknya usaha memalukan Jack ini berhasil mengundang tawanya kembali.
*****/////
Lexa mendatangi Jack di tepi telaga. Pria itu terlihat kesal entah kenapa. Jack tidak ikut sarapan, malah pergi tanpa bicara sepatah kata pun kepada Lexa sejak terbangun dari tidur pagi ini. Perubahan pada diri pria itu pun sungguh mengejutkan Lexa. Dia tiba-tiba melicinkan wajahnya yang semula lebat dengan bulu-bulu pendek yang kasar. Lexa duduk di sebelahnya, tapi Jack tidak berpaling padanya. Lexa terus memperhatikannya dari samping, sengaja. Dia memang terlihat lebih tampan dan segar. Meski agak aneh sebab tidak terbiasa, Lexa selalu ingin tertawa memikirkannya.
"Jangan melihatku seperti itu."
Lexa mengerjapkan mata, menahan senyum di bibirnya. "Kau kehilangan berewok dan kumismu."
"Ya, aku memang sengaja." Nada bicara Jack sangat sinis, seakan tengah merajuk.
"Kenapa kau menghilangkannya? Kau tahu aku sangat suka itu. Itu juga yang menjadi kebanggaanmu, kan?"
Jack akhirnya menoleh. "Aku pikir kau bosan."
Lexa menaikkan kedua alis. "Bosan?" Lexa tertawa kecil. "Rasanya itu sudah terlambat."
Jack tersenyum remeh. "Kau menjadi aneh akhir-akhir ini. Kau tidak lagi memikirkanku."
Dugaan Jack itu seketika melenyapkan senyuman Lexa, menyudutkannya. Lexa tercenung saat Jack kembali melempar pandangan ke depan telaga.
"Kau berubah sejak kembali dari rumah itu. Apa terjadi sesuatu selama kau ditahan di sana?"
Tampaknya Jack sudah menyadarinya. Kegundahan yang dirasakan Lexa sejak kemarin, sejak ia tidak lagi menjadi tahanan di rumah Eunbi. Seharian kemarin setelah pergi dari rumah si duda muda itu, Lexa resah tak keruan. Perasaannya sendiri membuatnya bingung. Terkadang, ia ingin tertawa mengingat saat-saat lucu yang terjadi di rumah Junho. Lalu, tiba-tiba saja ia bersedih mengingat kembali perjalanan hidupnya bersama Jack. Di satu sisi, ia tidak mengerti kenapa ia merasa seakan menyesali itu semua.
"Aku bosan dengan kehidupan kita ini, Jack." Akhirnya Lexa tak sanggup membohongi dirinya sendiri.
Jack menoleh. "Bukankah itu juga sudah terlambat?"
"Tidak ada yang terlambat untuk suatu kebaikan. Kita masih bisa memperbaikinya."
Jack mengernyit. "Kau ingin kita bagaimana? Memangnya apa ada pilihan untuk kita?" Dia mengingatkan Lexa bahwa mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Ada, jika kita mau memulainya." Maka Lexa pun benar-benar akan memberinya pilihan.
Jack membuang napas besar, kemudian menimpali, "Lexa, tidak ada yang bisa kita lakukan. Seluruh dunia telah menolak kita. Kita akan tetap seperti ini terus."
"Bukan dunia yang menolak kita, tapi kita yang menjauh dari dunia, Jack." Itulah yang Lexa sadari sejak ia mempelajari kegundahan yang ia bawa dari rumah Junho.
Jack menatapnya bingung. "Aku tidak mengerti apa yang sedang kita bicarakan ini. Bukankah ini memang dunia kita sendiri?"
"Jika benar-benar ada pilihan untuk kita berubah, apa kau bersedia melakukannya?"
Jack memikirkan ucapan Lexa dengan serius, mungkin mencerna perubahan aneh pada pola pikir Lexa.
"Kita harus berhenti mencuri dan merampok." Lexa takut mengatakannya, tapi ia merasa sakit menahannya di dada. Setelah mengungkapkannya, Lexa akhirnya merasa lega, seolah itulah yang membebaninya selama beberapa hari terakhir. Tidak, tidak, tapi selama bertahun-tahun.
"Apa?" Tak ayal, Jack pun terkejut. Kemudian, dia tertawa heran. "Berhenti mencuri? Aku ingatkan padamu, karena sepertinya kau lupa. Istri, selama ini kita hidup berkat mencuri!"
Lexa menemukan amarah dalam kalimat yang Jack tegaskan dengan nada pelan itu.
"Jika kita tidak mencuri, kita pasti sudah mati sejak kita masih kecil, Lexa!"
"Itu semua hanya tergantung dari usaha kita, Jack." Lexa memiliki penilaian yang berbeda dari cara berpikir Jack, dan itu lagi-lagi mencengangkan Jack. "Apa pun perbuatannya, semua akan berhasil dari usaha kita. Kita hanya tinggal memilih, mau berusaha untuk sesuatu yang baik, atau sebaliknya."
Jack mengernyit sambil menggelengkan kepala. Dia tentu terheran-heran dengan arah pikir Lexa kali ini. Lexa telah berbelok arah dari tumpuan yang justru menguatkan mereka dalam menjalani hidup selama ini. Sebelumnya ia tidak pernah peduli pada risiko ataupun akibat yang harus ia tanggung dengan mencuri, bahkan yang harus ditanggung para korbannya. Kecepercayaan yang Junho berikan padanya kala itu, Lexa sendiri tak menyangka akan sedahsyat ini memengaruhinya.
"Aku ingin keluar dari kegilaan ini, Jack. Aku ingin hidup normal. Jika kau tahu rasanya dihormati dan dihargai dunia, kau pun akan mulai berpikir sama. Menaklukkan dunia, memberi kita ketenangan. Dan hanya berbuat baik satu-satunya cara."
Senyuman sinis tersungging singkat di bibir Jack. "Kau berubah, Lexa. Kau bukan Lexa-ku yang kukenal dulu," cetus Jack beranjak pergi. Dia marah.
Ya, Lexa tahu itu. Itulah kenapa Lexa ragu dan gelisah ketika akan mengajak Jack membicarakannya. Ia sudah menduga Jack tidak akan suka. Namun Lexa sendiri tidak bisa menahan diri. Ia terus kepikiran. Setiap hari, semakin lama ia memendam, semakin ia kesakitan. Ia begitu takut kehilangan. Kehilangan kepercayaan dari Junho. Iya, akhirnya ia menyadari itulah alasan mengapa Lexa berat untuk meninggalkan rumah Eunbi. Kepercayaan itu. Ketika ayah Eunbi itu memberinya suatu kepercayaan, tak sadar dia telah membuat Lexa merasa sangat berarti. Terlebih Lexa pun telah berjanji pada pria itu akan berhenti mencuri. Janji itu, adalah alasan terkuatnya untuk berubah.
Kebanggaan sebagai pemilik cinta yang begitu besar dari Jack, mengalahkan rasa tenang yang Lexa rasakan ketika Junho memberinya sebuah kepercayaan. Mungkin Jack sangat memujanya, tapi Lexa merasa menjadi wanita yang sangat berharga setelah Junho memandangnya dengan begitu berbeda dari semua orang. Setelah bertahun-tahun hidup terhina, baru kali ini Lexa merasa sangat dihormati seolah-olah ia memiliki tempat di mata dunia, dan itu hanya Junho yang mampu memberikannya.
*****/////
Yakin hanya Junho yang bisa memberinya tempat sebagai manusia baik, Lexa pergi menemuinya. Awalnya Lexa tidak yakin, tapi hatinya begitu ingin. Ketika Jack sedang beristirahat di kamar—siang itu, sedangkan Son pergi untuk mencuri, diam-diam Lexa meninggalkannya.
Ia tidak percaya dirinya benar-benar akan datang ke rumah itu lagi. Hatinya berdebar-debar, akan tetapi bukan karena ketakutan. Debaran itu terasa baik, sebab ia datang bukan untuk mencuri, bukan sebagai pencuri. Justru Lexa merasa, ia harus mengambil sesuatu yang tertinggal di rumah itu. Ia mengintai dari balik jeruji pagar. Tak lama kemudian Junho keluar dari dalam dan menyadari keberadaannya.
Pria itu menghampirinya. "Lexa? Kau di sini? Kenapa tidak masuk?"
"Ngg?"
Pria itu begitu menyambutnya. Sungguh Lexa tersanjung merasa diperlakukan seperti seorang tamu. Lagi-lagi, ia merasa sangat dihargai.
"Kakak!"
Teriakan Eunbi sontak menarik pandangan Lexa dan Junho secara bersamaan. Gadis itu berlari dari arah pintu rumahnya dengan wajah ceria.
"Yeaay, Kakak datang lagi!" Dia meloncat kegirangan. "Kenapa Kakak tiba-tiba pergi? Aku tidak punya teman lagi!"
Lexa tersenyum kaku. Ia senang bisa bertemu dengan gadis itu lagi, terlebih sangat jelas gadis itu menyukainya, tapi Lexa merasa tidak enak sendiri pada pria di hadapannya. Ia sudah berani datang lagi ke tempat ini untuk menemui Eunbi di luar kesepakatan.
"Kakak, aku akan belanja perlengkapan sekolah untuk bulan depan. Ayo ikutlah bersama kami!" Eunbi menarik-narik tangan Lexa dengan rasa tak sabar.
Lexa memandang Junho, ingin tahu apa pendapat sang ayah, dan pria itu hanya mengulaskan senyuman sambil mengangguk mantap.
Mereka berada dalam satu mobil menuju ke toko khusus perlengkapan sekolah. Eunbi ingin Lexa menemaninya memilihkan apa pun yang akan diperlukannya nanti, seperti buku dan pensil. Sementara Junho mengikutinya dari belakang, membiarkan mereka meramaikan toko dengan canda dan tawa. Gadis itu akan memasuki sekolah dasar pada awal bulan nanti. Tentu itu adalah sesuatu yang baik. Dia akan memiliki banyak teman nantinya. Lexa berharap itu saja sudah cukup untuk memberi waktu ayahnya bekerja, tidak perlu sampai harus menitipkan Eunbi kepada pengasuh ataupun ibunya yang galak.
Ini sangat menyenangkan, meski Lexa merasa berkecil hati ketika ia dapati para pelayan toko berbisik-bisik membicarakannya. Ya, Lexa pun sadar diri. Tentu terlihat tidak pantas ketika ia berjalan di sisi Junho dan Eunbi. Mereka tampak rapi dan terpandang. Eunbi yang modis, dan Junho yang berkelas. Sedangkan Lexa, ia hanya berkaus dan celana hitam dengan sepatu kets yang lusuh. Begitu dengan kalung-kalung rantai juga gelang-gelang talinya, ia tampil dengan sangat tomboy bahkan bisa jadi sangat menyeramkan dengan celak dan eyeliner di matanya. Mungkin ia akan terlihat keren di kalangannya, tapi di tempat Junho, Lexa menyadari ini sangat norak. Bodoh, tak terpikirkan untuk berpenampilan yang layak. Setidaknya ia bisa, kan, menyesuaikan diri sebelum pergi menemui pria itu. Namun ... itu, kan, karena Lexa tidak mengira Junho akan mengajaknya pergi.
Lantaran pria itu terlihat biasa saja, tidak merasa risi berjalan bersama Lexa, itulah yang akhirnya membuat Lexa tetap percaya diri. Lain kali, mungkin Lexa akan mempersiapkan diri lebih baik lagi, pikirnya malah berharap akan ada pertemuan selanjutnya. Payah.
Di toko berikutnya, Junho berencana membeli sepatu sekolah untuk Eunbi. Itu toko yang besar dan terkenal. Junho mengernyit ketika Lexa lebih memilih menunggu mereka di depan toko. Ia sadar diri. Lexa tidak ingin mempermalukan pria itu lagi dengan ikut masuk ke dalam toko mewah itu. Namun seolah mengerti, pria itu menggandeng tangan Lexa dan mengajaknya untuk masuk bersama.
Pegawai toko memberikan salam yang ramah padanya. Mereka semua menyambutnya dengan senyuman, dan memberikan pelayanan yang terbaik saat Junho memerintahkan salah satu dari mereka untuk membantu Lexa memilihkan sepatu yang bagus. Dia ingin membelikan Lexa sepatu juga. Lexa sudah menolaknya karena sungkan, tapi pria itu tidak mau tahu. Lexa didudukkan di salah satu kursi. Seorang pelayan mencarikan beberapa model sepatu untuk menggantikan sepatu kets Lexa yang telah usang, dan pelayan yang lain berlutut memakaikannya di kaki Lexa.
Tuhan, Lexa diperlakukan seperti seorang ratu setelah selama ini dirinya hanya dianggap sampah oleh mereka. Hanya untuk sekadar membeli pembalut pun mereka tidak mau menjualnya pada Lexa, meskipun Lexa membayarnya. Lexa diusir dan dihina-hina. Junho, dia begitu mudah membalikkan keadaan itu. Dia tahu Lexa seorang perampok, tapi dia membuat Lexa diperlakukan selayaknya manusia terhormat, bahkan dengan sangat istimewa. Lexa terharu, ingin sekali mempertahankan keadaan seperti ini. Apakah ia bisa?
Di restoran, Junho sengaja mampir untuk mengajak Eunbi dan Lexa makan bersama. Lagi-lagi dan lagi, orang-orang di situ memandangnya sinis. Namun perlakuan Junho yang amat sopan terhadapnya, berangsur meningkatkan kepercayaan dalam diri Lexa. Ia bangga bisa berjalan di samping pria itu.
"Apa yang kau lakukan di sana tadi?" Tiba-tiba Junho bertanya.
"Eh?"
"Kau ingin menemui Eunbi? Atau, apa ada barang milikmu yang tertinggal di rumahku?"
Lexa bengong, memikirkan harus menjawab apa. Jika ia katakan ingin menemui Eunbi, apakah pria itu akan menanyakan alasannya? Apakah Lexa harus berkata bahwa ia rindu? Ah, itu terlalu cepat. Namun jika ia harus menjelaskan bahwa sesuatu miliknya memang tertinggal di rumahnya, apakah Lexa akan menjawab apa itu? Sedangkan Lexa pun tak tahu. Sesuatu darinya memang tertinggal di sana, sesuatu yang tak pasti, dan Lexa ragu.
"Aku ... aku hanya kebetulan lewat." Akhirnya alasan lain terlepas dari mulutnya.
"Memangnya kau dari mana?"
"Aku pergi untuk suatu urusan."
"Oh. Bagaimana suamimu? Apa dia sudah membaik?"
"Ya, sudah lebih baik." Untuk jawaban kali ini, Lexa bersyukur tak harus berbohong lagi.
"Apa dia tidak mencarimu?"
Lexa menggeleng, tidak tahu. Khawatir dengan perbincangan yang menjebak, Lexa mengalihkan, "Terima kasih sudah membantu kami. Aku berhutang budi padamu. Begitu mendapat pekerjaan, aku akan mengganti uangmu."
Junho membulatkan mata menatapnya.
Junho tertawa kecil. "Itu bagus."
Dia duduk berhadapan dengan Lexa, sehingga terpampang jelas parasnya yang selalu segar dan cerah. Dia pria yang berkarisma dan suka mengumbar senyuman. Lexa bergetar mengawasinya.
"Aku sudah berjanji padamu."
"Berjanji untukku?"
Lexa mengangguk. Junho tercenung oleh pengakuan Lexa. Dia menyelami mata Lexa dan membuat Lexa berdebar-debar. Tuhan, apakah dia akan menyadarinya? Lexa berharap dalam hati pria itu mengerti kenapa Lexa melakukannya. Kendati ia sendiri tidak mengerti kenapa harus berjanji pada pria itu, pria yang bukan siapa-siapa baginya, tetapi Lexa berharap dia akan tetap memandang Lexa sama. Memandangnya sebagai wanita baik-baik.
"Kau wanita yang hebat, Lexa. Kau harus pertahankan itu," ujarnya kemudian, dengan nada bersemangat.
Senyuman tulus pun tersungging di bibir keduanya. Junho membuatnya semakin yakin untuk berubah. Tuhan, Lexa tidak mengerti kenapa semua masalahnya terasa hilang saat bersama pria itu. Lexa merasa ada sesuatu yang salah tanpa dia. Dia begitu indah. Sungguh Lexa takjub karena cara berpikirnya. Dia menjadi segalanya saat Lexa memandangnya dan semua bidadari seakan duduk bersamanya, menatap pria itu bersama-sama. Sayangnya, tidak untuk setiap hari. Tuhan, mengapa ada takdir seperti ini?
"Kak Lexa, ayo temani aku!"
"Eh, baiklah."
*****/////
Mereka pulang pada pukul sekitar lima sore, menjelang senja. Setelah makan siang di restoran, Eunbi mengajak Lexa untuk bermain-main di zona game yang masih ada dalam satu mal. Mereka bersenang-senang sehingga Lexa melupakan Jack di rumah. Dalam perjalanan pulang, ia berharap sang suami belum terbangun meski kemungkinannya sangat kecil. Selain tidak ingin kebersamaan ini cepat berlalu dengan pulang terburu-buru, bersama Junho ... Lexa tenang.
Lexa menoleh ke jok belakang dan melihat Eunbi tertidur lelap. "Dia pasti sangat kelelahan."
"Ya, kau terus bemain dengannya."
Lexa terkekeh. "Dia gadis yang periang. Nanti saat di sekolah, Eunbi akan mudah berteman dengan siapa pun."
Junho mengangguk sambil terus mengemudikan mobilnya. "Benar."
Setelah itu tak ada lagi kata yang terucap dari bibir keduanya. Pusat pertokoan Itaewon semakin ramai menjelang malam, tak mampu mencairkan kecanggungan yang mendadak menyelimuti situasi di dalam mobil. Lampu-lampu kota menyala-nyala, menyemarakkan gemerlap jalanan. Seperti itu, semakin terasa kecanggungan ini, semakin meletup-letup getaran di dalam dada Lexa. Ia merasa ... harus menyudahi getaran ini.
"Aishiteru yo ...."
Tiba-tiba terdengar suara, sebuah kalimat terlantun dengan irama samar dari seorang pria pun sontak menegun Lexa. Ragu-ragu ia memutar kepala untuk memastikan apa benar Junho yang baru saja bicara. Karena sepertinya, Lexa mendengar kata cinta dari mulut pria itu dalam bahasa Jepang.
Sampai Junho meneruskan sambil terus mengawasi jalanan, "Futari wa hitotsu ni ... Tonight, tonight ... I just to say ...."
Dia menyanyi. Ya, sebuah lagu yang tidak asing di telinga Lexa. Lexa yakin, sebab lirik dan irama yang dilantunkannya terasa begitu akrab bagi Lexa. Itu adalah lagu dari band favoritnya, One Ok Rock. Astaga, Lexa tidak percaya ini. Junho bisa menyanyikannya. Suranya memang tidak bagus, tapi Lexa senang mendengarnya.
"Wherever you are, i'll always make you smile ...." Pada lirik itu, Lexa ikut bernyanyi, sontak menarik pandangan Junho padanya.
Tak lantas berhenti bersenandung, Junho malah terlihat antusias mengajak Lexa menyanyikan lagu romantis itu bersama-sama dengan memberi kode dari matanya.
"Wherever you are, i'm always by your side ... Whatever you say, kimi wo omou kimochi ... I promise you forever right now ...."
Setelah menyelesaikan bait reff itu, keduanya serentak tergelak.
"Kau tahu lagu itu?" Lexa tercengang-cengang dan mendadak bersemangat.
"Ya, tentu saja. Aku pernah tinggal di Jepang dan selalu mendengarkan lagu-lagu mereka dari radio," jawab Junho antusias.
"Wah, hebat sekali!" Lexa berubah norak seketika.
"Kau juga terdengar sangat baik saat menyanyikannya."
"Mereka adalah band favoritku! Beberapa waktu lalu mereka datang ke sini untuk menggelar konser, dan aku ada di barisan paling depan!"
"Ooh, ya, ya, aku dengar kedatangan mereka. Wah, selera musikmu sangat keren. Mereka adalah grup band beraliran rock, tapi mampu menarik peminat dari semua kalangan."
"Aku setuju denganmu!"
"Suara vokalnya begitu merdu. Dia menyanyikan semua jenis musik dengan baik."
"Kau benar! Oh ya, bagaimana dengan lagu berjudul 'The Beginning'? Apa kau juga suka itu? Itu juga lagu favoritku."
"Aku tidak begitu hafal. Kebetulan aku suka dengan lagu yang barusan kita nyanyikan saja."
"Wah, kau harus dengarkan yang itu juga!"
"Kau tahu banyak tentang mereka. Kau benar-benar penggemar sejati."
"Tentu saja!"
Sempat mengira pria itu menyatakan cinta yang disenandungkannya pertama kali dalam bahasa Jepang, tak membuat Lexa kecewa. Rupanya Junho sedang bernyanyi. Selain terlalu cepat, pastinya itu juga akan terdengar aneh. Setelah tahu Junho memiliki lagu favorit yang sama, lenyap sudah kecanggungan yang ada. Mereka mengobrolkan band asal Jepang itu, mencairkan suasana di dalam mobil.
"Eh, eh, aku turun di sini saja!" Sayang sekali obrolan tidak berlangsung lama.
Lexa sampai di jalan lokasi tempat tinggalnya. Junho pun menghentikan laju mobilnya di sudut gang depan jalan raya, di pusat pertokoan Itaewon, menepikannya di sana.
"Di mana rumahmu?"
"Rumahku masih masuk ke dalam."
"Aku bisa mengantarmu sampai depan rumah."
"Ti-tidak, tidak usah. Itu sangat jauh. Mobilmu juga tidak akan muat memasuki gang. Untuk bisa masuk membawa mobil, harus melewati jalan lain."
"Oh, begitu, ya. Sayang sekali, padahal aku ingin sekali bisa melihat kondisi suamimu."
Oh? Melihat Jack? Lexa memaksakan senyumnya, tapi malah terlihat kaku. Itu ide yang buruk, pikirnya. Ia ingin turun di sini karena khawatir Jack melihat kebersamaan mereka, Junho malah ingin berkenalan dengan Jack. Seandainya dia tahu Jack sangat mengerikan, bisa jadi ini adalah hari terakhir Junho bisa menikmati hidupnya.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih sudah menemani Eunbi jalan-jalan."
Lexa tertawa kecil. "Aku pergi."
"Ah iya, Lexa!" Junho mencegah ketika Lexa hendak membuka pintu mobilnya. "Ini, untukmu." Dia memberikan bingkisan dari mal. Sebuah paper bag.
"Apa ini?"
"Hanya topi. Eunbi yang memilihnya saat kau pergi ke toilet. Dia berpikir untuk memberimu hadiah."
"Oh? Tapi kau sudah membelikanku sepatu." Lexa menuding sepatu baru yang dikenakannya.
"Ini dari Eunbi. Sepatu itu adalah hadiah dariku. Aku berharap, sepatu itu bisa membawamu ke tempat-tempat yang benar."
Tepekur sejenak, tiba-tiba tersanjung, Lexa pun melemparkan senyuman simpul. "Lalu, apa artinya topi ini?" Ia malah menggoda.
Junho malah serius memikirkannya. "Mungkin Eunbi ingin supaya topi itu selalu menjaga otakmu dari pikiran-pikiran yang buruk."
Lexa tergelak mendengar jawaban si duda, disusul tawa lirih dari pria itu.
"Baiklah."
Lexa membuka isi bingkisan dan tercengang melihat topi baseball berwarna hitam dengan inisial 'L'. Lexa, Lee Eun-Bi, ataukah ini inisial dari ... Lee Jun-Ho? Lexa berseri-seri memikirkannya.
"Pilihan yang bagus," gumam Lexa lantas tak sabar untuk memakainya di kepala. "Bagaimana?" Ia memperlihatkannya kepada Junho dengan sedikit gaya centil.
"Itu sangat cocok denganmu!"
Lexa menyeringai. "Terima kasih."
"Terima kasih juga dari kami."
Lexa bergerak membuka pintu mobil, ia akan turun, tapi tiba-tiba sesuatu yang mengganjal hatinya selama mereka pergi bersama, mengurungkan niat Lexa. Ia kembali berbalik memandang Junho.
"Bolehkah aku bertanya satu hal padamu?"
"Oh? Tentu saja."
Lexa membasahi tenggorokannya dengan menelan ludah sebelum akhirnya mengungkap sesuatu yang mengganggu pikirannya. "Kenapa kau begitu percaya padaku? Kau sangat menghargaiku."
Tercenung sesaat mencerna pertanyaan Lexa, pria itu menjawab, "Kau tahu? Janji itu adalah harga diri seseorang. Ketika kau berjanji padaku, harga dirimu kala itu adalah sebuah jaminan untuk membuatku tetap percaya padamu. Saat itu, tidak ada yang paling pantas untuk diberikan selain kehormatan. Bukan dari penampilan, ataupun latar kehidupan, kehormatan itu milik orang-orang yang bisa dipercaya. Jadi, tetaplah seperti itu."
Lexa turun dari mobil setelah beberapa saat termangu-mangu membenamkan jawaban mantap yang Junho berikan dengan suara kalemnya. Ia lambaikan tangan sambil melempar senyuman semanis mungkin, dan pria itu pun membalasnya. Lexa mulai berjalan memasuki perkampungan usai memastikan mobil yang dikendarai Junho berlalu dan menghilang dari pandangannya. Ia berdendang lirih di ujung bibirnya. Terlepas sebuah kata cinta yang membuat bibirnya terus mengembang bahagia.
Apa yang harus ia tanyakan lagi? Apa yang harus ia katakan lagi? Semuanya sudah cukup jelas menjadi alasan Lexa untuk membiarkan perasaan menyenangkan ini berkembang.
Hey, senja! Lexa ingin bicara.
Di bawah sini, ada gadis yang sedang gila. Ia meloncat-loncat, menari-nari mengikuti irama hati, menyusuri jalanan seorang diri. Ia melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat. Ia mendengar sesuatu yang seharusnya tidak ia dengar. Ia mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak ia katakan. Apakah itu cinta? Lexa memang tidak yakin dengan apa yang ia rasakan ini. Namun ini begitu menyenangkan. Bukankah cinta seperti itu? Yang ia tahu memang begitu. Lexa tahu seharusnya ini tidak boleh terjadi, tapi kenapa tidak? Ini telah terjadi dan Lexa merasa lebih baik.