Black in Love

Black in Love
Chapter 27



Pesta berakhir pada pukul 22:00.


Semua tamu telah meninggalkan restoran. Satu jam setelah membersihkan seluruh lokasi dari piring-piring kotor dan juga sampah-sampah, Lexa dan pekerja yang lainnya diperbolehkan pulang. Mereka mengosongkan gedung dengan wajah senang, karena sang atasan membagikan upah bonus untuk kerja keras mereka hari ini.


Hari yang melelahkan. Sembari menjinjing kantong plastik berisi sekotak susu, Lexa keluar dari mini market sambil melamun. Lexa berjalan lemas menyusuri jalanan yang sepi. Ia ingin cepat sampai di rumah, akan tetapi merasa kakinya sudah tak bertenaga. Ia akan menuju ke halte untuk menunggu bus yang biasa ia jadikan tumpangan sampai ke rumah. Separuh ingatannya kembali ke beberapa menit lalu saat dirinya harus dihadapkan kembali dengan pria yang selama ini ingin Lexa lupakan.


Bunyi klakson yang tiba-tiba melengking di belakangnya, sontak mengagetkan Lexa. Ia terperanjat ke tepian tanpa sadar melempar kantong plastik dari tangannya. Ia menoleh ke belakang dan sebuah mobil mewah sudah terparkir di depannya. Lexa mengernyit, mencoba menembus kaca mobil itu dengan pandangannya, menyelidiki siapa pengemudi tak tahu sopan itu dengan mata menyipit, sebab sorot lampu mobil itu menyilaukan matanya.


Beberapa detik saja, si pengendara keluar dan Lexa langsung terbelalak melihat gaya angkuhnya. Itu Jack. Ya Tuhan, kenapa dia ke sini? Perasaan Lexa sekejap berubah panik. Lokasi ini sudah cukup jauh dari hotel tempatnya bekerja, bagaimana dia bisa sampai ke sini? Apakah dia sengaja menunggu dan mengikuti Lexa? Dia seorang diri. Jack berjalan menghampirinya, kian mencemaskan Lexa.


Di hadapan Lexa, dia berhenti sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Apa kabar? Bagaimana keadaanmu ... setelah hidup tanpaku?"


Kembali, pria itu melontarkan kalimat yang terasa mencekik leher Lexa dan ia menjadi sesak ketika menghela napas. Begitu dengan setitik senyuman sinis di sudut bibirnya, Lexa melihat ada maksud tak baik di otak pria itu.


"Sungguh pertemuan yang sangat mengejutkan," imbuhnya, dengan nada remeh.


Lexa berpaling, tak tahu harus merasa senang atau tidak, karena rasa-rasanya ia menahan sakit dalam dadanya.


"Kau berkata padaku hari itu, sebelum kau pergi meninggalkanku dan membuatku gila." Jack akhirnya benar-benar mengungkap kekecewaannya, dan Lexa ingin sekali pergi dari hadapannya sebelum mendengarkan kata-kata yang justru tak ingin ia dengar.


Jack terus menatap Lexa, memperhatikan penampilan Lexa sesekali. "Kau mengatakan hubungan kita selama itu salah. Kau menganggapku hitam dalam menilai cinta. Dan waktu itu kau juga bertanya, adakah hal benar yang pernah aku lakukan untuk membuktikan cintaku."


Lexa menelan sekumpulan ludah sebagai cara ia mengembalikan fungsi paru-parunya secara normal. Tak tahu mengapa, rasa sakit dalam dadanya semakin membuatnya kesulitan bernapas. Tatapan Jack, suaranya, semua itu membuat Lexa sakit.


"Hari ini aku akan menjawab semua itu, Lexa," sambung Jack, masih dengan nada yang dingin.


Lexa pun memandangnya, berusaha kuat dari rasa yang menyiksanya diam-diam. Tuhan, Lexa ingin sekali beranjak dan pergi, akan tetapi kakinya terasa berat untuk melangkah. Keangkuhan pria itu membuatnya ingin menjauh.


"Inilah buktinya. Aku berdiri di sini sebagai bukti cintaku." Jack menunjukkan dirinya sendiri, menyombongkan perubahan pada dirinya.


Lexa mengedarkan pandangannya sejenak untuk menilai penampilan Jack yang ia akui memang berhasil membuatnya terkejut. Dia berubah drastis menjadi pengusaha kaya dari seorang pencuri. Jack bicara cinta, tapi sebenarnya Lexa tidak ingin mendengar apa pun dari mulut pria itu. Ia tidak ingin melihat apa pun lagi dari pria itu.


"Aku telah memperjuangan ini untukmu, tapi kau tidak pernah tahu. Kau terlalu terburu-buru pergi, seolah aku tidak bisa memberimu pilihan lagi. Sekarang ini, aku juga bisa memberikan kehormatan untukmu, jika memang itu yang menurutmu akan membuat hidupmu lebih tenang. Aku bisa memberimu harga diri agar bisa dilihat baik oleh semua orang. Jadi, apakah ini sudah bisa disebut dengan cinta? Apakah sekarang ini aku sudah bisa dibandingkan dengan pria itu?"


Lexa bergeming mengawasi matanya. Terselip kesedihan saat pria itu mulai membicarakan apa yang sebenarnya tidak dia ketahui.


"Masalahnya, dengan memiliki semua itu, apakah mereka akan memandangmu dengan tulus? Setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk mempertahankan sesuatu. Semua orang akan melakukan yang terbaik untuk yang dicintainya. Tapi, apakah ada yang mau melakukan suatu keburukan untuk membuatnya tetap mencintai dan dicintai? Itu hanya aku, dan selama ini kau selalu bisa menerima itu."


Jack menertawakannya kemudian.


Dia pun melanjutkan, "Kau membawaku dan mengubah segalanya dariku. Kau selalu berkata lelah, padahal aku selalu tertunduk di hadapanmu. Aku tetap memandangmu dengan penuh kekaguman meski yang kau lakukan bersamaku tidak pernah dengan cara yang benar. Ternyata ... itu belum cukup bagimu. Di sini hanya aku yang kau salahkan. Hanya aku yang kesakitan. Ini sungguh tidak adil.


"Sekarang jika aku katakan ini semua, apa pandanganmu terhadap cinta? Meninggalkan orang yang begitu setia padamu hanya demi pria lain, yang hanya mampu memberimu kehormatan saja, setelah bertahun-tahun aku menjagamu. Aku rasa itu lebih buruk. Itu penipuan. Itu lebih kejam."


Dada Lexa bergetar hebat saat Jack berhasil membalikkan kesalahan padanya. Dia sudah jauh lebih pintar rupanya, tapi bukan, bukan itu yang membuat Lexa merasa sakit hati. Karena kebencian dan dendam yang ada di mata Jack itu, Lexa belum bisa menemukan apa yang ingin ia lihat selama ini dengan memutuskan pergi.


"Lihatlah dirimu sekarang!" Jack mengeraskan suaranya, menunjuk Lexa dari atas kepala hingga ke ujung kaki. "Inikah yang kau dapatkan dari hidup dengan pria itu? Hanya ini? Pria itu membiarkanmu bekerja sebagai pelayan setelah lima belas tahun aku begitu khawatir membuatmu lelah. Inikah perubahan yang kau inginkan?"


Jack tersenyum sinis. Dia sedang menghina Lexa, Lexa tidak percaya ini. Segalanya dari Jack telah berubah.


"Jika saja kau mau bersabar, Lexa. Jika saja kau mau sedikit bersabar, aku pasti akan menepati janjiku untuk mengubah hidup kita dan membuatmu jauh lebih bahagia."


Lexa mencoba mencari penyegaran dengan mengerjap-ngerjapkan mata.


Tak mau semakin mendengar omongan Jack yang merawang tak tahu arah, Lexa memungut kantong plastik yang tadi ia jatuhkan. Namun sebelum Lexa sempat menyentuh barang belanjaannya itu, kaki Jack dengan cepat menginjaknya. Oh! Jack menginjaknya dengan entakan keras hingga kotaknya penyok, bahkan kemasan di dalamnya meledak dan susu bubuk yang menjadi isinya pun mencurat keluar.


"Kenapa diam saja? Apa kau sudah tidak bisa bicara? Apa kau tidak bisa mengatakan sesuatu yang benar?" Jack membentak.


Geram, Lexa menegakkan badan kembali, menghadapi pria itu dengan benci.


"Pergilah!" pekiknya menyentak Jack seketika. "Kenapa kau muncul lagi? Lihatlah yang kau lakukan ini! Aku bekerja keras untuk bisa membelinya, dan kau menghancurkannya begitu saja!" Lexa meneriakkan kegeramannya atas sikap semena-mena pria itu.


Sekali lagi, "Apa kau tidak tahu? Saat aku meninggalkanmu, maka semuanya, antara aku dan kau telah berakhir! Apa pun yang terjadi padamu, semua yang kau katakan, sudah bukan urusanku lagi."


Tercenung sesaat memikirkan kecaman Lexa yang terlantun dengan nada halus—akan tetapi Lexa yakin akan memberikan peringatan keras pada pria itu, Jack malah tersenyum sinis.


"Ketika aku melakukan sesuatu untukmu, kau anggap itu tidak benar. Sekarang, aku membuktikan penilaianku terhadap cinta, kau tidak mau dengar. Cinta seperti apa yang diberikan pria itu untukmu? Pakaian mewah? Rumah mewah? Mobil mewah?"


"Tutup mulutmu!" bentak Lexa. Kemarahannya, rasa-rasanya sudah berada di puncak dan tak tahan untuk meledak. "Aku tidak menyangka, kau akan berubah menjadi seperti ini. Setelah kau dapatkan semuanya, kau menjadi sangat angkuh. Jadi, sebenarnya inikah tujuanmu menjadi seperti ini? Ini cinta, atau dendam? Kau pikir dengan berdiri di hadapanku dan menyombongkan dirimu seperti ini, aku akan menyesal? Tidak! Aku tidak menyesal telah meninggalkanmu! Aku tidak menyesal sama sekali!" Lexa berteriak, lalu berlari pergi menyetop taksi.


Ya, Lexa tidak menyesal sebab melihat Jack mengalami kemajuan. Setidaknya, pria itu tampak lebih baik daripada saat Lexa masih bersamanya. Ternyata, terlalu menyayanginya memang tidak baik. Menyerahkan seluruh hidupnya kepada seseorang, tidak selalu memberinya ketenangan pada akhirnya. Dengan mencampakkannya, Lexa telah berhasil membuat pria itu mencapai kejayaan yang mengundang decak kagum.


Keangkuhannya, Lexa mengerti kenapa Jack harus bersikap demikian kepadanya. Lexa tidak sakit hati sama sekali. Ia tahu Jack mendendam padanya, pada perbuatannya yang telah meninggalkannya diam-diam. Namun, bukanlah itu tujuan Lexa meninggalkannya. Rasa sakit yang harus Lexa derita dalam dadanya, karena ia menyadari bahwa ia sangat merindukan pria itu.


*****/////


Benar, Jack sangat terkejut saat dipertemukan kembali dengan Lexa di acara pesta itu. Terlebih Lexa sangat berbeda dari yang pernah ia miliki dulu. Dia berdiri dengan mengenakan seragam hitam putih lengkap dengan rompi, juga rambut yang telah dihitamkan dan disanggul rapi ke belakang. Dia berdiri sebagai seorang pelayan di sana.


Ia marah. Jack sangat marah mengetahuinya. Bagaimana bisa Lexa meninggalkan Jack hanya demi menjadi seorang pelayan? Jack mungkin bisa menerima, jika Lexa hidup bahagia dengan berpisah darinya, tapi kenyataannya sama saja. Pria itu, Junho, dia tidak benar-benar mampu menjaga Lexa. Dia membiarkan Lexa bekerja keras. Jika itulah yang dimaksud Lexa sebagai perubahan yang baik, maka terus terang saja, Jack keberatan.


Dengan menunjukkan bahwa kini dirinya telah berhasil menjadi orang yang berjaya, Jack ingin membuat wanita itu mengerti bahwa apa yang pernah ia janjikan telah tercapai. Jika saja Lexa masih setia bersamanya dan mau menunggu dirinya, Jack tentu tidak akan sendiri menikmati semua ini. Seandainya dia tahu, kekayaan ini, keberhasilan ini, Jack lakukan hanya demi Lexa saja.


Hanya dia yang mengisi hati Jack, dan dia pergi. Walaupun kini Jack dikelilingi banyak orang baik, Jack tetap merasa tak ada yang pantas menempati hatinya. Walaupun ia telah memiliki segalanya, tetap merasa tidak ada apa pun lagi dalam dirinya. Sangat sulit untuk dilupakan. Kenangan itu mengikatnya erat, sangat erat.


Mereka berkata bahwa waktu akan menghapuskan rasa sakit, tapi Jack masihlah sama. Mereka bilang, bahwa dirinya akan menemukan orang lain, itu tidaklah benar. Mengapa Jack berbohong di depannya? Di depan semua orang, juga pada dirinya sendiri. Berkata bahwa dirinya bisa, padahal sebenarnya ia tidak mampu. Kepergian Lexa kala itu menjadi hal yang paling menyakitkan bagi Jack. Ia menjadi tidak percaya lagi pada kebenaran. Dunia terlihat palsu belaka di matanya. Akibat yang harus ditanggungnya pun begitu menyiksa. Setiap hari, setiap saat, Jack menanti-nantikan wanita itu kembali, tapi tetap saja tidak terbukti.


Ia sangat berharap bisa melakukannya lagi, membalikkan waktu. Kembali ke saat di mana wanita itu menjadi miliknya. Karena setiap kali bertekad melupakannya, hatinya tak rela.


"Kim Ji-Hwan!"


Jack gelagapan begitu Yejin memekik di dekat telinganya. Ia menoleh dan baru sadar wanita berkursi roda itu sudah berada di dekatnya.


"Ada apa denganmu? Aku sudah memanggilmu berulang kali, tapi kau terus saja melamun!"


"Ngg, aku ...." Jack bingung harus menampiknya dengan jawaban apa, ataukah ia malah harus membuat pengakuan. Bola matanya berputar-putar, akan tetapi hatinya sibuk mengendalikan kegelisahan dalam dadanya yang terus saja menerjang.


"Apa yang kau pikirkan?"


Jack terpaku pada satu pertanyaan yang dilontarkan wanita penderita lumpuh pada kedua kakinya itu. Tak ada kata yang mampu Jack ucapkan untuk sekadar berkelit ataupun menepis kegelisahan dalam dirinya sendiri. Entah mengapa ia seringkali lambat dalam merespon panggilan untuknya. Selain karena pikirannya yang selalu melambung tak tentu arah, ia juga merasa tidak terbiasa dengan nama aslinya itu.


Reader 😁🤗


Novel-novel karya @melyuchan yang sudah terbit, sekarang ini tersedia versi digital dan tayang di platform "waktu seru".


Yang tertarik ingin baca, bisa download aplikasinya di Google Play, sertakan tanda kutipnya untuk pencarian aplikasi 😉 Terima kasih ❤