Black in Love

Black in Love
Chapter 5



"Istri, apa yang kau lihat?" Jack masuk ke dalam pikap dan terheran-heran mendapati Lexa yang menantinya di dalam, tengah bengong memandang lurus ke arah jalan raya sambil berpangku tangan di jendela mobil.


"Aku sedang melihat restoran itu!" Dagu Lexa terangkat menunjuk ke salah satu bangunan besar dan tinggi di seberang jalan. Restoran elit yang berdiri megah di antara hotel-hotel berkelas. Sebuah rumah makan yang menyediakan menu khusus ikan laut. "Kim Ji." Lexa membaca nama itu di papan reklame, nama sang restoran. "Nama yang bagus. Pasti nama pemiliknya," pikirnya mengimbuhkan.


Jack langsung menoleh ke arah yang dilihat Lexa. Mereka memarkirkan pikap di depan toko kecil karena Jack harus membeli rokok. Mereka dalam perjalanan pulang sore itu. Jalan itu menjadi jalur yang biasa mereka tempuh untuk bisa sampai ke kabin setiap kali usai beraksi membawa pikap.


"Sepertinya restoran itu hanya untuk para bangsawan saja. Lihatlah mobil-mobil yang keluar masuk dari sana, semuanya mobil mewah. Walaupun kita punya banyak uang, apa kita bisa masuk ke sana dengan pikap ini?"


Jack tergelak lirih begitu Lexa mulai berangan-angan. "Jika aku mau, aku bisa membawamu masuk ke sana sekarang juga."


Pandangan Lexa berputar cepat ke arah Jack. "Sungguh?"


Jack mengangguk mantap. "Tapi sayangnya, aku tidak tertarik sama sekali untuk pergi ke sana."


"Oh? Kenapa, Jack? Tempat sebagus itu, apa kau tidak ingin melihat seperti apa isinya dan mencicipi makanannya?"


Jack menggeleng dengan amat yakin.


Lexa menegak, memohon, "Bawa aku ke sana, ya? Aku janji tidak akan membuatmu malu. Aku hanya akan memesan satu menu saja, aku janji! Di sana juga pasti akan ada banyak orang-orang yang berkantong tebal."


Jack tertawa tanpa suara. "Malam ini aku ingin bisa makan masakanmu saja." Dia bersiap menyalakan mesin setelah mengusap-usap puncak kepala Lexa.


Lexa tersenyum kecut. "Bilang saja kau tidak punya uang," celetuknya memberikan cibiran.


"Aku kan sudah katakan, aku tidak tertarik masuk ke sana. Aku tidak suka makan di tempat ramai. Aku lebih suka makan berdua bersamamu di kabin, sambil memandangi wajahmu." Jack merayu di akhir kalimat.


"Dan sambil berkhayal?" ledek Lexa langsung disambut lengkingan tawa dari mulut Jack.


Ya, Lexa memang kerap memasak di rumah saat malam tiba. Ia memang tidak pandai dalam mengolah bahan untuk dijadikan makanan yang lezat, tapi setidaknya Lexa bisa menyalakan kompor dan membuat makanan instan yang mereka beli matang. Mie dan telur selalu menjadi menu andalannya. Namun seperti biasa, sambil berkhayal bersama, dalam bayangan mereka makanan itu serasa olahan restoran bintang lima. Mereka selalu berhasil menghabiskannya karena rasa lapar itu sendiri tak dapat menahannya. Terkadang Lexa pun harus memasak untuk Son dan Nil juga, tapi tak jarang ia melewati makan malamnya yang sangat sederhana hanya berdua saja—karena Son dan Nil tak selalu pulang ke tempatnya.


Hidup mereka memang sangat menyedihkan, tetapi Lexa dan Jack bahkan tidak pernah menyadari itu. Mungkin karena selain sudah terbiasa, Lexa dan Jack selalu bersama-sama menghadapinya, sehingga semua terasa ringan untuk dijalani. Mereka terus bersama, setiap hari, setiap pagi, hingga malam datang ....


"Jack ...."


"Hm?"


Lexa menggantungkan suaranya. Ia hanya suka memanggilnya saja karena Lexa-lah yang memberikan nama itu. Ya, Jack bukanlah nama asli Jack. Siapa nama aslinya, Lexa tidak pernah tahu, tidak pernah menanyakannya. Begitu pun dengan Lexa, adalah nama ganti yang diberikan Jack sejak mereka memutuskan untuk memulai hidup baru dengan meninggalkan semua kenangan di masa lalu, termasuk jati diri. Sejak Lexa bersama Jack dan Jack bersama Lexa, semuanya menjadi baru dan pertama kalinya.


Jack sibuk menikmati dunianya. Sementara Lexa terbaring malas di sisi Jack yang telanjang dada. Lexa sendiri hanya mengenakan kaus longgar yang sebelumnya dipakai Jack. Ia mengelus-elus bulu-bulu kasar yang tumbuh di sekitar dagu dan rahang sang kekasih sebagai kebiasaan manjanya. Jack membiarkannya dan terus mengisap rokoknya sambil berbaring. Di sisi lehernya, Jack menato nama Lexa. Sementara tato bergambar malaikat bersayap dengan ekor naga yang sangat panjang, menghiasi dada sebelah kiri Jack hingga terukir sampai ke bagian lengan dan pundak. Jack memiliki banyak tato di tubuhnya. Termasuk di kaki dan tangannya. Dia sangat menyeramkan, tapi memiliki sisi yang lemah ketika bersama Lexa.


"Jack, kapan kita akan membuat kartu identitas asli? Dengan nama kita sendiri, Jack dan Lexa." Lexa melontarkan sebuah tanya yang selama ini kerap membayanginya. "Kita sudah setua ini, masih saja tidak punya kartu pengenal. Pemerintah tidak akan pernah mengakui keberadaan kita!"


Jack yang menyandarkan kepalanya di tumpukan bantal pun menoleh, "Kalau kita sudah punya rumah sendiri."


Lexa tersenyum simpul, merasa jawaban Jack itu hanyalah omong kosong. "Di surga?" sindirnya menurunkan tangan.


Jack tersenyum lepas. "Memangnya surga menerima orang seperti kita?" timpalnya melucu.


Lexa merengut. "Mungkin saja." Lexa menyematkan jemarinya ke jari-jari kasar Jack, meletakkannya di atas perut Jack yang penuh dengan enam bongkahan berbentuk kotak, lalu kembali bersuara, "Mungkin ... suatu hari nanti kita akan berubah."


Jack mendengarkan masih sambil menghabiskan rokoknya.


"Seseorang akan memberikan pekerjaan yang bagus untukmu, lalu hidup kita berubah. Kita tidak perlu mencuri lagi. Aku akan di rumah saja dan membesarkan anak-anakmu."


Jack tersedak dan langsung memecahkan tawanya seakan Lexa tengah membual, membuat Lexa mengernyit geram.


"Bekerja? Punya anak? Hey, Istri! Bangunlah, dan jangan terlalu tinggi berkhayal! Sekarang saja kita tidak tahu apa besok kita bisa makan atau tidak," cetusnya mengacak-acak rambut Lexa, dan Lexa benci Jack melakukannya.


Lexa pun memberontak jengkel. "Apa salahnya kita bermimpi? Bukankah itu tujuan kita sejak dulu? Punya rumah, mobil mewah, makan enak, memiliki anak, apa salah jika aku memimpikan semua itu? Aku bukan malaikat, Jack, yang bisa tahan hidup seperti ini terus! Aku juga tidak mau menjadi iblis terus menerus. Sama seperti lainnya, aku juga wanita biasa yang ingin hidup dengan normal."


Melihat Lexa murung, Jack mematikan rokok lalu memilih untuk menjatuhkan tubuh, membungkuk di atasnya. Setengah badannya yang berat menindihi bahu Lexa. Jack menatap mata Lexa lekat-lekat, menyelami manik cokelatnya, dan Lexa pun melakukan hal yang sama.


"Aku akan melakukan apa pun jika itu untukmu. Tapi ketahuilah, kau tidak akan bisa hidup normal selama bersamaku, karena aku akan terus membuatmu tergila-gila padaku!" Nada Jack berubah canda di akhir kalimat, kemudian ditelusupkan dagunya ke sisi leher Lexa, menggelitik Lexa dengan berewok tipisnya.


Sontak saja Lexa tergelak, "Jack, hentikan!"


*****/////


Malam itu mereka berkumpul.


Jack bersama yang lainnya telah mengatur sebuah rencana dalam waktu dekat. Ia bersama Lexa, Son dan Nil akan merampok sebuah rumah. Mereka akan melakukan misi besar itu jika memang dalam keadaan terdesak, peluang mencopet sempit, dan kebutuhan melonjak. Walau hanya merampok, dibutuhkan strategi yang matang. Jack harus memikirkan cara yang aman untuk bisa keluar dari rumah target dengan selamat. Meninjau lokasi dan mencari tahu tata letak ruang dalam rumah pun menjadi hal yang terpenting sebelum beraksi.


"Aku sudah siapkan!" Nil mengeluarkan selembar kertas yang dilipat menjadi beberapa bagian dari saku celana jinsnya.


Jack membukanya, menjabarnya di atas meja kayu kotak dan mereka berempat duduk lesehan mengelilinginya. Lantas, Jack dibuat tepekur ketika hanya melihat gambar kotak-kotak yang disusun dengan garis yang melekuk-lekuk.


"Apa ini? Kenapa jelek sekali? Ini denah atau isi otakmu? Kau bisa menggambar tidak, sih?" celetuknya menatap berang Nil.


"A-aku sudah katakan padanya kalau tulisanku jelek, tapi Son memaksaku!" gerutu Nil malah menyalahkan Son.


"Hey! Jika aku biarkan kau yang memeriksa listriknya dan mengajak pelayan rumah itu mengobrol, tidak lama orang itu pasti akan mulai curiga!" Son membela diri. "Kau itu, kan, tidak pandai berakting!"


Beberapa hari kemarin Jack memang meminta mereka untuk menyelidiki salah satu rumah yang akan mereka rampok. Rumah yang sudah ia incar sebelumnya. Dengan menyamar sebagai petugas dari pusat listrik, mereka masuk ke sana dengan modus untuk memeriksa instalasi listrik. Sementara Son bertugas mengecek meteran sambil mengalihkan perhatian sang penunggu rumah, Nil diam-diam menjelajahi isi rumah dan mulai menggambarnya.


"Aaah, sudahlah! Bagaimana ini? Mana bagian depannya?" Jack menengahi. "Mana ada rumah orang kaya seperti ini," pikirnya.


Nil memutar-mutar setiap sisi kertas, mencoba menemukan bagian depan denah rumah yang dibuatnya sendiri sambil berpikir keras. "Ngg ... aku juga bingung."


"Dasar kau ini!" Jack menepak kepala Nil yang tersentak memberengut.


"Sini, coba kulihat!" Lexa mengambil kertas itu dan mencoba membantu. Namun, "Apa ini?" Dia malah terkejut. "Anak kecil saja bahkan bisa menggambar lebih baik dari ini!"


"Jangan melihatnya, nanti kau bisa pusing!" ujar Jack segera mengambil alih kertas seukuran buku gambar itu dari tangan Lexa dan memberikannya kepada Nil untuk meminta pertanggungjawaban.


Pemuda itu kembali menyimak hasil gambarnya yang kacau. Lalu beberapa detik kemudian wajahnya berseri. "Ini, ini, ini pintu utamanya! Iya, betul! Aku ingat ini garis pertama yang aku buat!"


"Kau yakin? Jika kita salah, di sana kita hanya akan berputar-putar semalaman!"


"Aku yakin, Kak! Saat menggambarnya, tinta penaku habis, jadi aku meminjam pensil dari pelayan rumah itu."


Jack melirik Nil, berusaha percaya pada ucapannya. Entah terlalu polos atau memang bodoh, Jack tidak pernah merasa puas dengan hasil kerjanya. "Baiklah, sebelum kita atur strategi, kalian harus tahu kenapa aku memilih rumah ini," ujarnya.


"Apa itu penting?" Nil melempar pertanyaan polos itu.


Jack menyahutinya dengan galak, "Tentu saja!" Ketiga pasang mata itu mulai serius menyimaknya. "Kita tidak sembarang merampok rumah orang. Ini, pemilik rumah ini, dia adalah manusia yang tidak punya nurani! Dia menggusur lahan pemukiman warga untuk dijadikan tempat wisata tanpa memberi ganti rugi atau tempat tinggal baru kepada warga di sana.


"Setiap hari dia tidur di kamar yang mewah, tapi dia sama sekali tidak memikirkan ke mana orang-orang itu akan tinggal. Aku melihat mereka telantar di jalanan. Kita harus memberinya pelajaran dan mengambil seluruh barang berharganya. Kita akan membagikannya sebagian pada mereka."


"Ouh, kau baik sekali!" Lexa mencubit gemas pipi Jack.


Jack mesem, tapi ..., "Istri, sebaiknya kau menunggu di mobil saja," putusnya pada Lexa yang duduk di sebelahnya, melenyapkan senyuman di bibir wanita itu seketika.


"Kenapa? Aku ingin masuk juga. Aku ingin melihat semewah apa rumah itu, Jack!"


"Kita ini akan merampok, bukan akan menawar rumahnya atau menghadiri pameran barang antik!" sela Jack tak habis pikir, dan Lexa pun langsung terdiam cemberut. "Sudahlah, jangan kesal begitu!" Jack mengusap-usap kepala Lexa, khawatir wanita itu akan merajuk.


Strategi mulai diatur. Dari pembagian tugas, barang apa saja yang akan mereka curi, perlengkapan untuk bisa membobol rumah itu, sampai mengatur kode keamanan. Son serius menyimak segala penuturan Jack yang duduk di hadapannya. Dia pemuda yang cermat dan cekatan, berbeda dari Nil yang lambat.


"Ingat, segenting apa pun situasinya nanti, pantang bagi kita untuk membunuh korban. Jika kita tertangkap, atau mereka melawan, buat pingsan saja!" Jack mengakhiri konsepnya. "Mengerti?"


Son mengangguk mantap, "Mengerti, Kak!"


Jack beralih pandang ke arah Nil, tapi pemuda itu malah berpangku tangan menatap ke arah Lexa yang tengah menatapi kuku-kuku tangannya, dengan mata yang berkilatan.


Merasa tahu apa yang ada di otaknya, sontak saja membuat Jack geram. "Apa yang sedang kau lakukan?" Nil gelagapan begitu Jack menepak kepalanya. "Perhatikan ini!" Ia meninggi.


Ia sangat tahu pemuda itu sedang labil. Hasratnya kepada wanita saat ini sedang bergejolak daripada keinginannya untuk bisa makan enak. Jack kerap menangkap pemuda itu tengah mengawasi Lexa dengan penuh gairah dari matanya. Dia tertarik dan Jack berusaha untuk membiarkannya selama bocah itu masih dalam batasan.


"I-iya, Kak!"


"Dasar menjijikkan!" celetuk Jack tak tahan ingin memberinya pelajaran. "Lexa, masuklah!" pintanya dengan tegas.


"O-oh? Ah, iya."