Black in Love

Black in Love
Chapter 23



Sempat merasa tenang, kekhawatiran Lexa akan terjadinya sesuatu yang buruk—seperti Jack mendatangi Junho dan memberinya pelajaran—tidak terbukti, Jack justru semakin membuat Lexa resah dengan ulahnya yang lain. Lexa sengaja mengikutinya ke mana pria itu pergi, dan ia malah dikejutkan dengan aksi liarnya.


Benar, Jack tidak lagi mencuri, tapi Lexa malah mendapatinya memeras pemuda yang melintas di gang sepi. Jack tidak sendiri melakukannya. Dia menodong korbannya bersama beberapa anak buahnya yang lain, termasuk Son. Mereka meminta uang korban dengan memaksa dan mengancam. Dia melakukannya dalam keadaan sadar. Sepertinya, dia sengaja berlaku bengis di hadapan Lexa untuk meluapkan kemarahannya.


Selain untuk menyalakan listrik kabin, uang itu mereka gunakan untuk bersenang-senang di sebuah klub malam. Jack merusak dirinya sendiri. Entah apa yang ingin dia tunjukkan pada Lexa, yang pasti Lexa tidak menyukai tindakannya kali ini. Jack pun semakin berperilaku brutal dengan menepuk pantat salah seorang pelayan bar dan menjadikannya bahan lelucon.


Ini tidak bisa terus dibiarkan.


Tuhan, Lexa menyadari ini semua berawal dari kesalahannya bertahun-tahun yang lalu. Jika saja saat itu Lexa tidak mengajak Jack ikut bersamanya, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Pria itu menjadi sangat bergantung padanya. Lexa yang seharusnya bisa membimbingnya sebagai seorang kakak dengan membuatnya patuh, malah membuat bocah kecil itu begitu menguasainya. Namun, itu karena selama ini mereka selalu bersama, hidup bersama, dan melakukan semua hal bersama-sama. Jadi, mungkinkah selama Lexa masih bersamanya, Jack akan tetap seperti itu?


"Kita harus berpisah untuk sementara waktu."


Keesokan harinya, Jack baru kembali dari klub malam. Dia masuk dengan mata sembapnya, dengan penampilannya yang kacau. Langkahnya tertahan di sisi Lexa, saat Lexa benar-benar memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang ia pikir sebagai jalan keluar dari kegundahannya saat ini.


Urung masuk ke dalam kamar, Jack pun menoleh enggan. "Kau ingin membuatku marah?" pikirnya.


Lexa memandangnya. "Jack, kita tidak akan pernah bisa berubah jika masih tetap bersama. Kau benar, aku tidak akan bisa hidup normal selama masih bersamamu, karena kau akan terus membuatku gila."


"Ada apa denganmu?" sela Jack mulai terlihat tidak suka dengan obrolan ini, Lexa sudah menduganya. "Bukankah kau selalu senang gila bersamaku?"


"Ini hal yang lain, Jack."


"Kau tiba-tiba berubah," sela Jack lagi. "Kau menolakku, kau tidak mau mencuri lagi. Lihat, semua yang ada dalam dirimu juga berubah!" Dia menilai penampilan Lexa dengan matanya hanya karena Lexa tidak memakai aksesori dan berdandan polos. "Sekarang kau ingin kita berpisah? Apa yang ada di otakmu?"


"Aku mulai memikirkan kebaikan kita, Jack."


"Bukankah selama ini kita baik-baik saja?" Jack meninggi.


Lexa bergetar melihat kemarahan yang kembali muncul di mata pria itu. "Tidak, Jack. Kita mencuri, kita mengambil milik orang lain. Bagaimana bisa semua itu akan menjadi baik? Apa yang kita lakukan tidaklah benar. Ini tidak benar! Ingatlah setiap risiko dan hal buruk yang kita alami, itu semua karena ulah kita sendiri!" Ia merasa tetap harus membuat pria itu mengerti.


Jack malah mengernyit sambil tersenyum remeh. "Apa yang kau katakan? Dari mana kau belajar semua itu?"


Lexa menelan ludah, kemudian siap berkata, "Aku mulai menyadari, saat aku benar-benar mengerti cinta."


Jack tertawa sinis. Dia menertawakan pengakuan Lexa. "Selama ini kau mengerti cinta! Kita saling mencintai, Lexa!" Dia berteriak menghadapi Lexa. "Kau telah memberikan cinta yang terbaik untukku. Suka maupun duka, kita selalu bersama. Ke mana pun, kita selalu bersama-sama. Kita akan makan makanan yang sama. Kita melakukan banyak hal bersama, kita berciuman dan tidur bersama—"


"Itu dia masalahnya, Jack!" sela Lexa meninggikan suara, sontak menegun Jack dalam sekejap. "Saat aku mempelajari semua itu, saat aku mencoba melihat kita, akhirnya aku sadar ..., yang kita jalani ini bukan cinta, tapi kesalahan!"


"Kau bilang kesalahan?" Jack menatap garang. Dia mulai berang dengan pendapat Lexa. "Kita sudah sejauh ini bersama, tapi kau bilang ini kesalahan? Aku sangat mencintaimu, aku melakukan semuanya demi dirimu, kau bilang itu bukan cinta?"


"Kau tidak mengerti cinta, Jack! Cinta itu harusnya mengajari kita cara yang benar untuk setiap hal!"


"Jadi maksudmu, aku telah menyesatkanmu?"


"Jack, aku mohon mengertilah!"


"Aku mengerti!"


"Kau tidak mengerti!"


"Kau jatuh cinta, kan, pada pria itu?!"


"Jack, aku sedang membicarakan tentang kita!"


"Kenapa dengan kita? Ini hanya masalahmu saja, aku mengerti itu!"


"Kau tidak mengerti! Pengertianmu tentang cinta hanya sebatas memberi! Adakah hal yang benar, yang pernah kau lakukan selama ini untuk membuktikan cintamu itu? Tidak! Tapi kau membenarkan segala cara untuk mempertahankannya. Pengertianmu tentang cinta itu hitam! Hanya hitam!"


Mereka saling bersahutan, saling meninggikan suara, memecahkan suasana. Keduanya terus meneriakkan pendapat masing-masing hingga Lexa merasa tidak tahan lagi untuk memberontak.


"Aku ingin memiliki harga diri, Jack. Aku ingin hidup dengan terhormat. Aku ingin memiliki sesuatu agar bisa dipercaya, karena hanya itulah satu-satunya cara untuk membuat kita hidup lebih baik, hanya dengan berbuat benar! Bukan salah mereka jika kita terus direndahkan. Kitalah yang salah dalam bertindak!"


Melihat Lexa marah, Jack mendekatinya, memegang kedua lengan Lexa. "Istri—"


"Aku bukan istrimu!" Akhirnya Lexa memekik meletupkan amarah dan kekecewaannya dengan menampik tangan Jack itu, hingga pria itu tersentak kaget.


Jack terbelalak oleh keangkuhan Lexa sekaligus kecaman tentang kenyataan hubungan mereka selama ini.


"Kita tidak pernah menikah, Jack! Itulah kesalahan terbesar kita! Itulah awal yang sebenarnya membuat kita semakin tidak mempedulikan kebenaran! Perasaan yang kau anggap cinta, itu hanya kebutuhan saja!"


Jack tercengang-cengang olehnya. Namun Lexa begitu yakin untuk mengutarakannya, dan itulah yang sebenarnya. Jika dengan cara apa pun tidak bisa membuat Jack mau mengerti, maka dengan mengingatkannya akan hubungan mereka selama ini, Lexa telah memberikan tamparan keras pada pria itu.


"Aku tidak percaya kau akan benar-benar mengatakan ini!" Jack tercengang-cengang.


Kedua pundak Lexa berguncang. Ia telah menumpahkan air matanya. Ia biarkan lelah dan kejenuhan yang menderanya akhir-akhir ini turut meluruh bersama tangisannya.


"Kau pernah memintaku untuk tidak membohongi perasaanku sendiri. Maka kini, aku katakan padamu yang sebenarnya aku rasakan. Aku lelah, Jack. Aku ingin berubah."


Jack mengembuskan napas besar dari mulutnya seraya mendekati Lexa dengan tatapan melemah. "Kau ingin kita berubah seperti apa, Lexa?" tanyanya dengan nada rendah. Dia membendung air di matanya.


Lexa tahu, setiap kali Lexa menangis, Jack akan mulai ketakutan. Dia akan mengalah dan mulai merayu. Namun untuk kali ini Lexa tidak mau terpedaya. Keinginannya untuk bisa keluar dari keadaan ini sudah terlalu kuat.


Terisak-isak sesaat, Lexa mengambil napas dalam-dalam, kemudian ..., "Kau benar, kita tidak punya pilihan. Itu jika kita tetap bersama. Jadi, sebelum ada kesalahan-kesalahan yang lain, sebaiknya kita akhiri ini, Jack."


Lexa yakin dirinya sudah membuat Jack terkejut dengan keputusan di akhir kalimatnya. Selain itu, tidak ada lagi yang bisa Lexa temukan sebagai jalan keluar. Lexa pergi, meninggalkan Jack yang masih termangu-mangu di tempat.


*****/////


Kembali teringat kalimat Junho ketika terakhir kali Lexa meninggalkan rumahnya, kembali membuat Lexa gundah. Cinta seharusnya menunjukkan mana yang salah dan mengajari hal-hal dengan cara yang benar, itu kata si duda. Rangkaian kata-kata itu seolah menampar Lexa dan menyadarkannya bahwa selama ini ia hidup dalam kesalahan. Kasadaran itulah yang terus menghantuinya sejak ia keluar dari rumah Eunbi, hingga saat ini.


Sebuah rasa yang kerap kali membuatnya bahagia berada di dekat Junho, apakah benar itu cinta? Benarkah Lexa jatuh cinta kepada ayah Eunbi itu? Lexa selalu ingin berkelit, tapi hati menolak untuk menampik. Sudah terlalu banyak hal yang membuktikan kebenarannya. Lexa yang tidak pernah peduli pada sebuah janji, tiba-tiba berjanji pada Junho untuk berubah. Cara berpikir pria itu terhadapnya, membuat Lexa ingin mempertahankannya dengan berubah. Satu hal yang akhirnya ia sadari ketika seringkali merasa ada yang tertinggal di rumah si duda itu, adalah hatinya. Ya, Lexa yang berniat mencuri di rumah itu, kini malah tercuri hatinya. Junho berhasil mengajarinya sesuatu hal dengan cara yang benar.


Cinta itu tidak membenarkan segala cara untuk bisa merasakan kebaikannya. Jika Lexa merasa tidak nyaman dan selalu jenuh dengan kehidupannya bersama Jack, apakah itu artinya Lexa harus mencari persinggahan lain?


Merasa yakin hanya Junho yang akan mampu membuatnya merasa lebih baik, Lexa memutuskan untuk pergi menemui ayah Eunbi sore itu juga.


"Lexa?"


Lexa terengah-engah saat Junho membukakan gerbang rumahnya, otomatis mengejutkan Junho dengan kadatangannya yang tiba-tiba.


"Ada apa? Masuklah."


"Maukah ...." Lexa menyela. "Kau mengeluarkan aku dari duniaku, dan membawaku ke duniamu?" Di sela usahanya mengatur kembali pernapasannya, Lexa begitu siap untuk mengatakan itu. Sebuah kalimat yang sebenarnya Lexa sendiri tidak percaya dirinya akan benar-benar mengatakannya. Namun hatinya ingin.


Junho tercengang. "Apa? Lexa, apa kau sadar yang kau katakan itu? Kau sudah bersuami!"


"Dia bukan suamiku!" sahut Lexa segera. "Kami tidak pernah menikah," sambungnya sontak saja mengejutkan pria di hadapannya.


"Apa?"


"Kami tidak pernah menikah."


Ya, Lexa berkata benar. Itulah alasan kuat yang membuatnya terus dihantui rasa bersalah.


"Itu adalah kesalahan terbesarku. Aku tidak tahu harus bagaimana memperbaikinya. Aku kesulitan mengendalikannya. Aku merasa hanya kau yang bisa membantuku!" Lexa tak mampu menahan diri lagi. Ia lelah dengan segala yang ada. Ia bosan dengan sikap Jack, dengan semua kesalahan yang terus mereka jalani.


"Lexa, bagaimana mungkin? Kau tinggal bersamanya, kan?"


"Kau sadar dengan apa yang kau katakan ini?"


Lexa mengangguk mantap. Ia berharap pria itu segera mengambil keputusan, untuk menolong Lexa keluar dari keadaan ini atau justru memberinya sebuah penolakan. Karena semakin lama, perasaan bersalah ini semakin menyiksanya.


Kedua pundak Junho menurun lemas. "Lexa, aku senang kau menyadari ini. Tapi untuk tetap bersamanya—"


Junho menggantungkan kalimatnya saat matanya terarah ke belakang Lexa, melewati pundak Lexa. Merasa ada sesuatu yang tidak beres hingga menahan kalimat Junho, Lexa mengikuti ke mana arah pandang mata pria itu. Ia berbalik dan melihat Jack sudah berdiri di sana.


"Jack?" gumamnya terkejut.


Sorot matanya yang menikam ke arah Junho, menghentikan laju detak jantung Lexa seketika. Dia bergetar, memendam amarah di dadanya, memperburuk fungsi pernapasan Lexa. Akhirnya yang Lexa khawatirkan akan terjadi. Jack mengincar Junho, dan tentu akan melakukan sesuatu yang sangat fatal akibatnya. Mungkin juga, ini akan menjadi hari terakhir salah satu dari mereka.


Dilihatnya Jack menggenggam tangan dengan deru napas memburu. Dia mulai melangkah, sekejap memberikan efek ketakutan yang serasa mencekik Lexa. Langkahnya begitu pasti, seolah yakin untuk mengukir sejarah terburuk saat ini. Namun di depan Lexa, dia berhenti. Matanya tertancap lurus ke arah Junho. Kedua pria itu saling bersitatap, tersirat dengki dan dendam di tengah ketegangan situasi.


Lexa pastikan, dalam hitungan lima detik, baku hantam akan terjadi. Ia sudah sangat gemetar. Akal dan pikirannya mendadak buntu sekadar mencari cara untuk mencegah. Mereka sudah terlalu dekat satu sama lain. Jika Lexa bertindak, itu hanya akan mempercepat perkelahian. Sungguh Lexa ketakutan, tapi Jack memilih untuk beralih menatapnya.


Dia berbisik, "I love you."


Oh? Apa?


"I love you. I love you." Jack mengulang kalimat yang sama, sekejap meluruhkan ketakutan dalam diri Lexa.


Ketegangan yang memuncak pun surut seketika. Suara Jack bergetar. Mata pria itu berubah sendu, menyelami mata Lexa dengan sebuah harapan. Jack sedang meredam kecemburuannya dengan berkata i love you. Dia melakukan apa yang Lexa katakan. Tuhan, Lexa hampir tidak memercayai pendengarannya sendiri. Jack benar-benar melampiaskan kecemburuannya dengan sesuatu yang tak biasa. Dia tetap berdiri di hadapan Lexa, berkata-kata dari matanya. Sebuah permohonan yang Lexa baca dari sana.


"Pulanglah. Aku menunggumu."


Setelah itu, tidak ada lagi yang Lexa dengar dari mulut Jack. Dia berlalu pergi begitu saja meski Lexa sempat melihat mata pria itu berkaca-kaca dan tidak rela. Apa yang dia pikirkan? Lexa terus menatap punggung sang kekasih yang semakin menjauh. Apakah Jack berpikir untuk melepaskan Lexa? Dengan meminta Lexa pulang, mungkinkah dia ingin bicara serius dan setuju untuk berpisah? Namun, ada yang aneh. Ketika Jack berkata bahwa dia mencintai Lexa sebagai cara untuk meredam cemburu, untuk yang pertama kalinya ... Lexa merasakan perasaannya jauh lebih baik.


"Apakah dia sangat mencintaimu?" Junho menanyakan sesuatu yang justru Lexa ragukan belakangan ini.


Lexa berbalik ke arah Junho, memandang pria itu dengan kernyitan di dahi.


"Sekarang dia mengatakan cinta, tapi aku tidak melihat itu saat kemarin dia begitu ingin menghabisiku. Bagaimana dia akan menjagamu, jika dia sendiri tidak bisa mengendalikan dirinya? Sekalipun itu benar, aku yakin, dia tidak menyadari perasaannya telah berubah." Junho berujar.


Lexa bergeming mempelajari pendapat Junho, dan mulai merasakan kebenarannya.


"Kau tahu, Lexa? Cinta dan ambisi itu hampir sama, tapi mereka berbeda. Cemburu karena ambisi itu sangat berbahaya. Harus bisa dikendalikan sebelum menghancurkan dirinya sendiri."


Junho menjawab apa yang baru Lexa sadari akhir-akhir ini, yang membuatnya resah. Namun untuk mengendalikannya, akan sangat sulit bagi Jack. Pria itu bisa menghancurkan segalanya. Apa pun, dan siapa pun yang terlibat, termasuk Lexa.


"Kau tidak akan bisa membedakan itu jika kau masih bersamanya."


Dia benar. Sulit sekali membedakan antara cinta dan ambisi. Keduanya sama-sama ingin saling memiliki. Selama ini Jack terlalu mengikatnya erat, dan tak memberinya kepercayaan yang seharusnya diberikan oleh cinta. Jack memberikan segalanya, tapi tidak dengan itu.


"Junho, aku mohon padamu, bebaskan dia dari kasus penyerangan terhadapmu hari itu."


Air mata itu sudah tidak membanjiri pipi Lexa lagi. Kedatangan Jack baru saja, mendadak mengubah perasaannya menjadi lebih tenang. Junho bergeming menyelami mata Lexa dengan penuh simpati dari matanya.


Lexa meneruskan, "Maaf sudah melibatkanmu dalam masalah ini. Dalam hidupku, aku menyadari begitu banyak kesalahan yang aku lakukan, tapi satu kesalahan yang membuatku sangat beruntung melakukannya ... adalah ketika aku masuk ke rumahmu ini."


Lexa mendapati kerutan samar di kening si duda itu memudar.


"Aku berhasil membawa banyak dari rumahmu. Aku membawa sesuatu yang tidak pernah kutemukan di rumah lain. Aku berjanji akan menjaga itu."


Untuk mempertahankannya, Lexa harus meninggalkan semuanya. Masa lalu, termasuk cintanya.


"Walaupun kau begitu percaya padaku, aku tetap tidak akan bisa menjadi bagian darimu. Maafkan aku sudah terlalu lancang mendatangimu."


"Lexa, apa yang kau katakan? Kau tahu, kan, aku tidak keberatan jika kau benar-benar mengambil sesuatu dariku? Termasuk juga dengan hatiku!"


Junho membuat Lexa tercengang-cengang. Dia benar-benar mengatakan apa yang sempat Lexa harap-harapkan. Jadi, apakah dia menyukai Lexa? Bahkan setelah tahu Lexa tinggal bersama Jack tanpa ikatan?


Junho menundukkan kepalanya sejenak, tampak sebuah penyesalan dari wajahnya. "Aku tidak tahu. Aku sendiri terkejut menyadari ini. Tapi ketahuilah, apa yang aku katakan tentang dirimu malam itu saat aku mabuk, adalah benar."


"Apa?" Lexa mengernyit.


"Saat aku terbangun, aku tidak mengerti kenapa aku terus memikirkanmu. Aku merasa tenang saat Eunbi bersamamu. Aku ingin sekali kau bisa berjanji padaku untuk menjaga Eunbi seterusnya, dan aku pun ingin menjanjikan sesuatu padamu. Tapi ... Aku melihat kau terus memikirkan suamimu, aku merasa aku salah dengan menahanmu, maka kubiarkan kau pergi."


Begitukah? Lexa termangu-mangu mendengar pengakuan Junho yang selama ini pun ia harapkan. Apakah dia berkata jujur? Lexa tidak menyangka, akan tetapi mata pria itu begitu meyakinkan. Sungguh, Lexa tidak menduga akan ada darinya yang membuat si duda itu tertarik padanya.


Junho kembali mengatakan kalimat yang berhasil mengacaukan pikiran Lexa, "Sekarang, setelah tahu hubungan kalian, aku tidak akan membiarkanmu pergi dan kembali bersama orang yang tidak bisa menjagamu. Aku akan mengeluarkanmu dari duniamu, dan membawamu ke duniaku!"


Lexa sungguh dilema saat Junho benar-benar memutuskan untuk berani mengentas Lexa dari kehidupan yang salah. Saat pria itu mengakui perasaannya secara tidak langsung, saat itu pun Lexa tak berdaya.


*****/////


Apa yang Jack lakukan kali ini menunjukkan bahwa dia sedang berusaha untuk berubah. Dia meredam kecemburuannya dengan cara yang berbeda. Masalahnya, dia mau berubah ketika Lexa tidak di sisinya. Jadi untuk membuatnya mau berubah, mau memikirkan kebaikannya, dan juga masa depannya, Lexa tidak boleh tetap ada di depan matanya.


Sebuah keputusan telah Lexa genggam. Ia akan membuat Jack benar-benar menyadari bahwa cinta yang selama ini dia rasakan adalah salah. Rasa yang mengikat hubungan keduanya lebih mengarah pada hasrat semata. Berat memang, tapi Lexa tidak punya cara lain untuk memperbaiki keadaan ini. Semakin hari, Lexa semakin dihantui rasa bersalah. Terlebih ketika Junho bersedia menyerahkan hatinya, Lexa sadar itu akan membahayakan nyawa ayah Eunbi itu. Lantaran ia pun tidak ingin semakin membuat Jack berkecil hati dengan menerima Junho, Lexa berpikir untuk meninggalkan Jack pelan-pelan. Menurutnya, Jack juga layak mendapatkan kehormatannya. Dia berhak merasakan masa depan yang baik. Karena menyayanginya, Lexa harus bisa berusaha untuk pria itu juga.


Ia pulang ke kabin saat langit gelap menyelimuti kota. Didapatinya Jack duduk di ruang tamu sambil memetik gitar tuanya.


"My baby, sweet baby ...." Dia menyanyikan lagu dari band kesayangan mereka, One Oke Rock, dengan alunan musik akustik. "I see you smiling when i close my eyes ...."


Lexa melangkah masuk dan merasa semakin tersayat hatinya mendengar sebaris lirik puitis itu. Walaupun tidak berkecukupan ilmu, tetapi Jack begitu fasih melantunkan kata berbahasa Inggris akibat terlalu sering mendengar lagu-lagu asing.


"Cause i miss you ... I need you ... right now!"


Dia sangat menyedihkan. Lexa merasa kasihan. Namun, Lexa tidak ingin semakin membuatnya lebih menyedihkan dengan terus bersamanya.


"Jack ...."


Jack menghentikan petikan gitarnya, menoleh, menyadari kedatangan Lexa. Jack berdiri menatap Lexa seakan tidak percaya Lexa akan kembali padanya.


"Masuklah," pinta Lexa datar.


"Oh?"


Lexa berlalu ke dalam begitu saja. Sepintas, dilihatnya Jack tercengang lalu tersenyum senang, sepertinya dia pun mengerti apa yang Lexa inginkan dengan memintanya masuk ke dalam kamar.


Ya, Lexa akan memberikan sesuatu yang Jack inginkan. Ia ingin melakukan sesuatu yang pantas untuk membalas semua kebaikannya selama ini. Sebab walaupun mereka kerap berbuat kriminal, Jack melakukannya untuk Lexa, untuk membahagiakannya. Mereka mencuri untuk makan, untuk bertahan hidup. Selain itu, Lexa tidak punya cara lain untuk mengelabui pikiran pria itu. Lexa akan membuat Jack tenang dan tertidur lelap sebelum ia memulai rencananya esok pagi.


Jack masuk ke dalam kamar ketika Lexa menanggalkan jaketnya, menanggalkan rasa lelahnya sekalian. Seolah tahu apa yang ingin Lexa beri pada malam ini, pria itu tiba-tiba langsung memeluk Lexa dari belakang dengan penuh semangat. Oh!


Namun, hal itu nyatanya semakin membuat hati Lexa sedih. Perlahan, secara lembut dan erat, Jack meluncurkan kecupan-kecupan penuh arti di sisi-sisi kepala Lexa, lalu semakin menurun menjelajahi setiap inci permukaan pipinya. Dia menyalurkan kehangatan dari setiap embusan hawa di mulutnya. Lexa bergetar, mulai cemas tak beralasan. Sampai pria itu membalik badan Lexa ke arahnya, Lexa memasrahkan diri. Pelan-pelan, sambil terus menikmati bibir Lexa, pria itu membawa Lexa ke kasur lantai mereka dan menidurkannya di sana.


Jack melakukan apa yang dia inginkan akhir-akhir ini, dan Lexa membiarkannya.


Jack menjamah seluruh bagian wajah Lexa dengan kelembapan dari bibirnya. Setelah bertahun-tahun, setiap malam, setiap saat mereka melewati hari-hari dengan hubungan yang sama, Lexa tidak mengerti mengapa dirinya merasa tidak berselera pada penyatuan kali ini. Ia tidak bisa menggali gairah pada dirinya sendiri walaupun Jack melakukannya dengan sangat baik. Dia melumat bibir Lexa dengan begitu lembut. Memagutnya dengan terlatih. Lexa mencari-cari di mana hasrat itu, di mana rasa yang membius itu. Tampaknya, alasan yang melandasi niat Lexa kali ini, agaknya telah meredupkannya.


Maafkan aku, Jack ....


Tak sadar Lexa telah membuatnya kesepian. Ia tidak mengucapkan pulang, karena memang bukanlah itu tujuan Lexa mendatanginya kali ini. Lexa terlalu sering mengatakan bahwa dirinya lelah, akan tetapi Lexa tidak pernah tahu jika itu akan menjadi jauh lebih menyakitkan bagi Jack yang tengah menunggunya pulang. Lexa bisa merasakan itu karena dari setiap sentuhan yang Jack lakukan terhadapnya, dia memancarkan kesedihan pula di matanya seolah-olah terlalu bahagia melampiaskan segala kerinduannya selama ini. Lexa tidak ingin terlalu lama menatap matanya, meski Jack terus mengalihkan wajah Lexa ke arahnya. Lexa tidak mau terpengaruh meski hanya dialah satu-satunya orang yang selalu menyelubunginya mesra.