Black in Love

Black in Love
Chapter 9



Lexa menyelesaikan cucian terakhirnya. Dijemurnya bersama pakaian milik Jack yang lain—di tali yang menggantung setinggi badannya—yang diikat di dua batang pohon besar. Ia masuk lewat pintu belakang. Di satu titik, Lexa merasa tenaganya terkuras habis setelah bekerja mencuci piring juga membersihkan seluruh lantai. Ukuran bangunan kabin memang tidak terlalu luas, hanya ada satu kamar tidur, satu kamar mandi, dapur yang tergabung dengan tempat makan, juga ruang tamu yang sederhana. Namun semuanya amat berantakan. Piring-piring kotor ada di mana-mana. Sampah bekas makanan ringan dan kaleng-kaleng minuman teronggok di sudut ruangan. Cucian kotor pun menumpuk di depan kamar mandi. Kesibukan Lexa dan Jack di luar menjadi alasannya kurang bisa mengurus kabin. Apalagi begitu Son dan Nil pulang, kabin sudah seperti tempat pembuangan sampah. Ketika berkesempatan untuk membereskannya, tugas jadi berlipat-lipat dan Lexa harus total mengerjakannya.


Jack belum mampu membelikannya mesin cuci, jadi mengucek pakaian dengan tangan pun harus dilakoninya selama ini. Lexa tidak pernah mengeluh dan meminta. Semuanya teratasi karena Jack selalu mengerti dan membantunya, tapi siang ini Lexa tidak mengerti apa yang terjadi pada suaminya. Jack hanya tidur seharian dan membiarkannya bekerja sendirian. Dia merebah di ujung kasur lantainya, mengangkat kedua kakinya tinggi-tinggi, menggantung dan menyandarkan tumitnya ke dinding kayu jati. Jack terpejam sambil menutupi dahinya dengan satu tangan. Dia sangat nyenyak.


Begitu menyadari beberapa benda berserakan di sekitarnya, keletihan Lexa meluap, berubah menjadi sebentuk emosi. Pandangannya mengelilingi ruangan dari ambang pintu kamar, melihat beberapa pakaian yang telah terpakai kemarin tergeletak tak keruan di lantai dan kasurnya. Putung-putung rokok, asbak kotor, koran-koran juga aksesori lainnya, serasa meninju mata Lexa dan membuat penglihatannya berkunang-kunang. Ia tidak mengira akan ada lagi yang harus dikerjakannya setelah menyelesaikan semuanya dengan penuh usaha. Tujuannya masuk ke kamar untuk memperistirahatkan diri pun tampaknya harus tertunda.


Tak tahan lagi, Lexa meraih kaus kotor di atas meja dan melemparnya tepat ke wajah Jack. Pria itu sontak terperanjat kaget. Matanya langsung terbuka, lalu melebar ketika menemukan keberadaan Lexa.


"Kau belum puas tidur?" cetus Lexa ketus.


Jack menarik punggungnya untuk duduk. Matanya sembap dengan rambut yang berantakan. Tadi dia bangun hanya untuk makan, lalu tidur lagi tanpa ingin mandi. Lexa heran kenapa dirinya bisa tahan dengan pria seperti itu.


"Aku sangat lelah, tapi apa ini? Lihatlah kamar kita ini! Semuanya sangat berantakan dan kau masih bisa tidur?" Lexa merasa dadanya tertekan.


"Hey, bukankah setiap hari juga seperti ini?" timpal Jack enteng.


Lexa ternganga tak habis pikir. Ia berpaling sejenak sekadar mencari penyegaran guna menahan emosi. "Terkadang aku merasa bosan, Jack, hidup seperti ini terus. Aku merasa ini tidak ada habisnya. Sampai kapan kita akan seperti ini? Apa kau pernah memikirkannya?"


"Lexa, aku hanya tidur sebentar, aku sangat mengantuk karena kau juga tahu kemarin aku bekerja sampai larut malam."


"Bukan itu masalahnya!" Lexa akhirnya meninggi, menegun Jack seketika. "Tapi apa kau tidak pernah berpikir untuk memperbaiki hidup kita ini? Apa tidak ada sedikit pun keinginan dalam hatimu untuk mencari pekerjaan yang layak dan aku tidak perlu bersusah payah seperti ini terus?"


Jack tepekur memandangnya di ujung kasur, sementara Lexa masih berdiri di ambang pintu.


"Kita tidak bisa terus mengandalkan uang curian! Jika setiap hari kita mencuri, suatu hari akan tiba saatnya kita gagal, Jack! Kita akan dipenjara dan membusuk di sana! Aku sudah terlalu sering merasakan hidup susah sejak kecil, aku tidak mau semakin menderita jika kita tertangkap!"


Melihat mata Lexa mulai berembun, Jack bangkit. Seakan mengerti Lexa sedang dalam kondisi goyah karena lelah—dan sebelum Lexa benar-benar marah—dia beranjak menghampiri, memeluknya dan air mata Lexa pun meluncur tak terbendung lagi. "Sabarlah, Sayang, karena hanya ini yang bisa kita lakukan."


"Aku bosan, Jack! Aku hanya ingin hidup sewajarnya, aku ingin hidup dengan hormat, aku ingin kita punya sesuatu yang bisa diandalkan untuk besok. Tapi aku merasa apa pun yang kita lakukan, tidak akan mengubah sedikit pun dari kita. Aku lelah."


Lexa sadar ke mana arah bicaranya yang menceracam. Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba ingin mengungkapkan semua itu kendati Jack tidak pernah memulai untuk mempermasalahkannya. Namun rasa lelah dan kejenuhan yang memuncak telah mendesaknya untuk meledak. Setelah itu ia merasa lega, seolah-olah itulah yang membebaninya selama ini. Terlebih Jack selalu siap memeluknya.


Jack melepas dekapan Lexa di bahunya, menatap ke dalam mata berair Lexa dengan penuh penyesalan. Memegang kedua pipi Lexa sambil berujar, "Kita tidak akan pernah gagal, karena kita selalu bersama-sama. Aku berjanji padamu, suatu hari nanti semuanya akan berubah seperti yang kau mau!"


Tampaknya Jack memang sudah tidak berminat untuk mencari pekerjaan lainnya. Selain rendahnya pendidikan, Lexa tahu itu karena Jack tidak mau meninggalkannya terlalu lama jika harus bekerja di luar rumah tanpa Lexa. Lexa pun tidak ingin terlalu memaksa. Saat Lexa tak di sampingnya, Jack akan mulai berprasangka. Jika Lexa terus memaksanya bekerja, akan tumbuh curiga dalam hati suaminya. Kecemburuan Jack sangat berisiko. Mungkin dia akan membunuh Lexa apabila Lexa tak berhasil meyakinkannya bahwa Lexa tidak sedang berbuat macam-macam di luar pengawasannya. Hal itu pernah terjadi, dan Lexa tak mau mengulanginya lagi.


Lexa merasuki pandangan Jack yang begitu menjanjikan. Ia berharap apa yang dikatakan Jack itu benar meski terasa omong kosong semata. Hati kecilnya ingin percaya, tapi sudah tidak bisa. Lalu, bagaimana hidup mereka akan berubah tanpa suatu usaha? Lexa serba salah. Sudah terlalu lama, sudah terlalu lelah. Lexa hanya bisa pasrah.


"Ayo, duduklah!" Jack mendudukkan Lexa di kursi dekat pintu. "Kau pasti sangat lelah, maaf membuatmu terus bekerja."


Lexa membisu, tak mengerti kenapa masih saja merasa jenuh dengan semua yang dilihatnya. Ia membutuhkan jawaban yang memuaskan, ia membutuhkan suatu perubahan.


"Baiklah, biar aku yang merapikan ini semua." Jack beranjak memunguti semua pakaian yang berceceran hampir memenuhi seluruh lantai, dan menggantungnya di dinding.


Lexa terus memperhatikannya. "Itu juga!" Sesekali memberi arahan, menunjuk pada benda yang luput dari penglihatan Jack.


Jack mondar-mandir bergantian memunguti sampah dan barang-barang kecil lainnya, menyimpannya ke tempat yang seharusnya. Setelahnya, Jack beranjak ke kasur guna merapikan seprai hitam favorit dan menata bantal-bantalnya. "Ah, ini juga!" Dia melakukannya sambil melirik Lexa berkali-kali, berseru antusias, sengaja untuk menyindirnya. "Yang ini, dan ini!"


Berusaha untuk tetap terlihat tegas, Lexa menahan senyumnya. Lexa berpikir, pria sekeras Jack takut padanya? Dalam hati ia tertawa geli. Lexa tahu, ia mengerti itu karena Jack sangat mencintainya. Tak jarang Jack melakukan pekerjaan yang biasa dikerjakan perempuan untuk membantu Lexa, seperti mencuci piring ataupun memasak. Dia akan melakukan hal konyol demi membuat Lexa senang. Jack juga pernah menitikkan air matanya saat pertama kali Lexa marah. Dia menangis karena Lexa. Dia melemah hanya untuk Lexa. Karena itulah, Lexa selalu bisa menerima sisi buruknya.


Usai memastikan seluruh ruangan bersih dan setiap sudut pun rapi, Jack beranjak menghampiri Lexa. "Apa ada lagi yang harus aku kerjakan, Nyonya?" Dia berlutut di depan Lexa, mendongak menatap mata Lexa dengan mata yang berbinar-binar.


Kali ini Lexa tak bisa mencegah bibirnya untuk tersenyum. Ia membuang muka dan tiba-tiba rasa letihnya sudah tak lagi terasa. "Aku lapar," akunya.


"Aah, iya baiklah!" Jack memegang kedua tangan Lexa yang ada di pangkuan. "Aku akan pergi untuk membelikanmu makanan. Kau istirahat saja di sini. Kunci pintu dan jangan bukakan untuk siapa pun sebelum aku datang!"


Lexa mengangguk.


Jack berdiri dan sebelum berlalu, dia membungkuk menekankan ciuman di kening Lexa. "Aku akan segera kembali."


Ketenangan itu berhasil Jack biuskan di sela kejenuhan Lexa. Lantunan doa pun tak pernah sirna dalam hati Lexa di setiap kepergian suaminya.


*****/////


Sedih setiap kali mendengar kata bosan yang keluar dari mulut istrinya. Jack merasa terancam tiap Lexa mengaku dirinya inginkan suatu perubahan. Sedangkan Jack telah memilih menjadi seperti ini, hidup dalam kondisi seperti ini hanya karena Lexa saja. Sudah kesekian kali Lexa berada pada titik kejenuhan, Jack hanya bisa mengalah untuk melipur laranya. Sebab, Jack kesulitan mengubah dirinya karena suatu alasan, komitmen dan risiko. Lexa tidak mengerti itu, karena hanya Jack yang tahu rahasia yang tersimpan dalam hatinya.


Jack tidak marah. Ia mengakui dirinya yang bodoh, yang tidak mampu, tidak memiliki apa-apa, hanya keberanian untuk mengajak Lexa hidup sengsara bersamanya. Ia terlalu berani, dan keberanian itulah yang berhasil membuat mereka bertahan hingga bertahun-tahun lamanya. Namun tadi, ia melihat Lexa menitikkan air mata. Lexa menangis karena dirinya. Jack merasa sangat bersalah dan tertekan. Ia tidak bisa membahagiakan Lexa dengan caranya yang sederhana, juga tidak sanggup bila harus melepasnya. Akhirnya satu-satunya jalan yang selama ini ia hindari pun harus ditempuh demi memperbaiki hidup mereka. Ini mungkin akan sulit, butuh waktu, butuh perjuangan, tapi Jack tidak mau memikirkan risikonya lagi setelah mengingat kesedihan istrinya.


Pandangan Jack tertancap lurus pada restoran bernama 'Kim Ji' itu dari seberang jalan. Lexa pernah sangat ingin Jack membawanya masuk ke sana dan mencicipi olahan menu seafood-nya. Sebenarnya Jack selalu menghindari tempat itu. Ia benci melihatnya. Nama restoran itu menyimpan kisah di masa lalu Jack yang membekaskan dendam yang ingin Jack lupakan. Demi Lexa, Jack akhirnya menyeberangi jalan raya untuk bisa sampai ke sana, sebagai langkah awal ia akan memperbaiki hidupnya.


Di lorong tempat parkir kendaraan khusus pengunjung restoran, Jack bersiap siaga. Ia menyembunyikan diri di balik kegelapan mengincar satu mobil yang ia kenal. Begitu terdengar bunyi derapan, Jack mengendap diam-diam mendekatinya. Seorang wanita 45 tahunan berjalan santai sambil mengeluarkan kunci dari dalam tasnya. Dia sampai ke mobil mewah berwarna hitam intaian Jack itu dan akan membukanya. Sebelum wanita berpakaian formal itu sempat memasukkan kunci, Jack keluar dari persembunyian, menahannya dengan menodongkan pisau lipat ke leher sang mangsa.


"Jangan bergerak!"


"Agh!" Wanita bersanggul itu memekik kaget, menjatuhkan kuncinya ke tanah. Dia menegang dan tak berkutik melirik kilatan tajam dari senjata yang Jack tempelkan di kulit lehernya.


"Jika kau berteriak, maka pisau ini akan langsung menusuk lehermu!" Jack memberikan ancaman.


"Si-siapa kau? Apa yang kau inginkan? Ambillah semua yang kau mau, tapi jangan ambil nyawaku!"


Jack tersenyum sinis melihat wanita itu gemetaran. Kendati Jack berdiri di sisinya, Jack masih bisa melihat dengan jelas wajahnya memucat dan keringat mulai membasahi dahinya. Wanita itu ketakutan.


Wanita berlipstik merah menyala itu mengernyit, tiba-tiba heran dengan maksud kalimat Jack.


Tak ingin berlama-lama, Jack akan membuat wanita itu semakin terkejut dan merasa benar-benar akan tamat kejayaannya dengan menurunkan pisaunya, lalu membalikkan badan wanita itu ke arah Jack. Wanita itu tersentak, punggungnya tersandar di badan mobil sambil mengamati wajah Jack takut-takut, tampak mencoba menggali ingatannya.


"Apa kabar ... Bibi?"


Begitu Jack memanggil satu sebutan itu dengan nada akrab, mata dengan keriput tipis di bagian ujung wanita paruh baya itu membelalak. Jack tersenyum sinis, senang melihat wajah nanarnya. Akhirnya Jack bisa melihat ketakutan di mata wanita itu setelah sekian lama Jack dibuatnya lemah.


"Ji-Ji ...?" Bibi itu tergagap.


"Ya, ini aku!" sela Jack dengan mata mengancam. "Kau sudah semakin tua, tapi aku tidak menyangka daya ingatmu masih begitu peka!" Ia ulaskan sejenak senyuman sinis di ujung bibirnya.


*****/////


"Kau pergi lama sekali. Aku sudah tidak lapar lagi."


Lexa menggerutu ketika Jack kembali ke kabin setelah hampir tiga jam pergi. Jack merangkul pinggang wanita itu sambil menjinjing bingkisan. Mereka berjalan beriringan dari pintu utama menuju ke meja makan.


Jack mesem. "Maaf, ya, aku harus menemui seseorang untuk satu urusan."


Jack meletakkan kantong plastik berisi makanan yang didapatnya dari restoran ke atas meja. Sementara Lexa beralih mengeluarkan isi bingkisan, Jack beranjak mengambil piring dan minuman.


"Kim Ji?"


Jack tersentak begitu Lexa menyerukan sebuah nama yang tak asing di telinganya, seakan-akan Lexa sedang menegurnya. Jack langsung menoleh ke belakang dan mendapati Lexa menatap barisan huruf yang tertera di bagian depan kantong plastik mewah itu.


"Ini, kan ... kau dari sana?" Lexa menatap Jack tak percaya.


Jack mengulas senyum melemaskan pundaknya yang sempat tegang akibat tersentil nama akrab restoran itu. Ia pun mengangguk.


"Woah?" Seolah ingin memastikan, Lexa buru-buru membuka isi kotak dan terkejut melihat berbagai menu seafood di dalamnya. Semuanya ada lima kotak. "Kau benar-benar pergi ke sana! Kau masuk ke sana?"


Sambil berjalan menghampirinya, Jack tersenyum.


"Aaakh, kenapa tidak mengajakku juga? Kau tahu, kan, aku ingin sekali bisa masuk ke sana!"


"Seorang teman mengajakku bertemu di sana. Karena ingat kau begitu ingin mencicipi masakan di restoran itu, jadi kuminta membungkuskannya juga untukmu."


"Aah, baik sekali temanmu itu!" Lexa mencolek bumbu yang melumuri sekumpulan udang dengan ukuran jumbo itu dan mencicipinya, lalu berseru antusias, "Mmmpft! Ini enak sekali! Aku tidak pernah makan masakan seenak ini. Tiba-tiba aku jadi lapar lagi."


Jack terkekeh melihat ekspresi norak sang istri. "Kalau begitu makanlah yang banyak, habiskan semuanya."


Lexa mengambil kursi dan mendudukinya di sisi Jack, membagi nasi di masing-masing piring. Dia terlihat tak sabar ingin segera memakan beberapa macam olahan yang Jack bawa dari restoran megah itu—dengan resep yang berbeda. Lexa mengambil satu per satu ikan laut dari setiap menu dan juga untuk Jack. Wanita bertubuh jenjang sepuluh senti lebih pendek dari Jack itu mulai memakannya, merasakan kenikmatannya dengan begitu lahap, dan Jack bahagia bercampur pilu memperhatikannya. Seandainya Jack bisa berbuat sesuatu lebih baik dari ini, keceriaan di wajah itu pasti akan bertahan lebih lama lagi, pikirnya.


"Lexa, aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Jack membuka suara setelah beberapa kali menyendok makanannya.


Sambil menghancurkan makanan dalam mulutnya, Lexa menimpali, "Aku juga." Dengan nada menggumam.


"Oh? Soal apa?"


"Kau saja yang katakan duluan!"


"Tidak, tidak, kau saja duluan!"


Lexa menelan makanannya, lalu menegakkan badan, menghadapkan diri ke arah Jack untuk memulai. "Mm ...? Aku minta maaf," ucapnya tiba-tiba.


"Eh?"


Ragu-ragu dengan wajah berubah sedih, dia menjelaskan, "Tadi ... aku pasti sudah menyinggung perasaanmu dengan perkataanku. Tapi aku sungguh tidak sadar, dan sekarang aku menyesal."


Jack mengerjapkan mata beberapa kali setelah sempat tercenung mencerna pengakuan Lexa. "Tidak apa. Aku tidak pernah menyalahkan itu."


"Kau tidak marah, kan?" Lexa menatap lekat-lekat mata Jack, dan Jack bisa melihat ada harapan di matanya. Mungkin harapan untuk mendapatkan maaf dari Jack.


Senyum Jack tersungging singkat. "Tidak sama sekali." Ia mengelus puncak kepala Lexa. Setiap kali melakukannya, sebenarnya perasaan penuh kasih tengah menguasai Jack.


Wanita itu langsung meringis senang. "Baiklah, apa yang ingin kau katakan padaku?"


Jack tidak langsung bersuara. Ia menyelami mata Lexa dengan renungan-renungan, tepekur mendalami senyumannya dengan penuh pertimbangan. Sesuatu penting yang ingin ia bicarakan mendadak menguap saat melihat wajah Lexa kembali ceria. Sesuatu yang mungkin akan memberikan dua efek ketika mengatakannya. Kebahagiaan, atau juga kekecewaan. Sementara Jack tidak tahu mana yang akan terjadi, dalam hati ia memutuskan untuk menunda kejujurannya kali ini.


"Aku mencintaimu." Kalimat lain meluncur lancar dari mulutnya. Ia dapati Lexa terperangah menatapnya. "Aku tidak akan pernah mencabut janjiku untuk membuatmu bahagia. Tidak lama lagi, semua akan tetap berubah seperti yang kau inginkan!" Ia sungguh-sungguh mengatakannya.


"Ingatlah, apa pun nanti yang terjadi di sekitar kita, yang harus kita lakukan hanya berpegangan tangan. Hanya itu, maka semuanya akan baik-baik saja," sambungnya.


Tersenyum haru, Lexa menggenggam tangan Jack di atas meja. "Aku percaya itu," jawabnya mantap.


Wanita itu mencondongkan wajahnya, dan Jack tak ingin mencegah diri untuk mengecup bibir sang kekasih.


Jack tidak pernah merasa seberarti ini. Lexa adalah satu-satunya orang yang bisa membuatnya merasa hebat. Hanya kepercayaan darinya, menjadi hal yang paling berharga untuk Jack miliki. Lexa adalah tanggung jawab yang akan selalu Jack jaga.