
Memang, ini bukanlah kehidupan seperti yang diinginkannya dulu. Ia dan Lexa pernah bermimpi hidup sederhana, hidup dengan benar seperti manusia pada umumnya. Menikah, bekerja, dan memiliki keluarga. Menjadi wanita dan pria baik-baik adalah salah satu harapan mereka. Pada kenyataannya, semua tak berjalan sebaik itu. Keputusan mereka untuk pergi dari panti asuhan dan memilih hidup mandiri tanpa orang tua ternyata tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Tanpa adanya perhatian dan didikan, membuat Jack dan Lexa tak terkendali dalam bertindak. Keduanya seakan tak mampu membedakan mana yang salah dan benar. Melakukan apa pun yang mereka suka, adalah hal terbaik bagi keduanya.
Pengalaman hidup yang mereka alami pada masa anak-anak, lingkungan, tradisi keras, suka menghukum, harapan yang tak tercapai, menjadi faktor utama pembentukan gangguan antisosial pada diri keduanya. Tumbuh menjadi kepribadian yang menyimpang dari masyarakat pun tak ada yang mencegah. Perilaku penyimpangan sosial yang Jack dan Lexa terapkan dalam keseharian kerap digunjing dan dikucilkan, dipandang buruk juga rusak. Jack dianggap kriminal hingga sulit dipercaya. Begitu pun dengan Lexa, kendati banyak pria yang langsung tertarik begitu melihatnya, Jack tahu Lexa tidak senang. Ia tahu mereka mendekati dan menggoda Lexa karena berpikir Lexa adalah gadis yang gampangan.
Dikejar, dianggap sampah, ditolak, bahkan diusir, sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka. Inilah Jack dan Lexa, mereka sudah seperti ini sejak dulu. Ini adalah keputusannya dan Jack nyaman menjadi seperti sekarang ini. Meski begitu, bukan berarti Lexa wanita murahan. Lexa tidak pernah berganti pasangan bahkan walau hanya sekadar bersentuhan dengan pria lain—dalam arti yang dalam. Jack tahu karena wanita itu tidak pernah beranjak sejenak pun dari sisinya. Mereka terus bersama setiap saat dan selalu melakukan apa pun bersama-sama.
Namun tadi, ketika Lexa pergi ke toko untuk membeli apa yang dibutuhkannya saat itu, sang pemilik toko mengusirnya, menyebutnya dengan panggilan kasar. Mereka menilai Lexa wanita yang melacurkan dirinya untuk kesenangan semata, juga tidak memiliki tata krama hanya karena melihat penampilan Lexa yang menurut sebagian orang tidak umum dan urakan. Celana compang-camping, kaus sebatas pusar, jaket kulit ala punk, juga make-up matte yang mengandalkan polesan nude berpadu bold gelap, dan rambut kering yang disemir dua lapis belang-belang. Ya, walaupun sadar penampilan mereka memang tidak seperti masyarakat di sekitarnya, tapi mereka nyaman. Gaya itu sangat wajar di kalangan tertentu. Jack mengerti, Lexa pasti merasa sakit hati. Mungkin Lexa bisa menerima jika dirinya dianggap miskin atau semacamnya, karena itu benar, tetapi untuk disebut jalang ataupun gongli, itu sangat keji dan menyedihkan.
Setelah mengantar Lexa pulang dan memastikannya sampai di kabin, Jack pergi lagi tanpa berpesan. Tadi ketika mereka di jalan, Jack tak berjalan di sebelahnya. Ia mengikuti Lexa dari belakang, mengawasi saja dan tak ingin menegurnya. Jack tidak ingin semakin memperburuk suasana hati sang istri. Selain itu, tak banyak yang bisa Jack lakukan untuk membuatnya melupakan hinaan itu, sebab Lexa adalah tipe wanita pemikir.
Langkah Jack menelusuri tepian jalan raya. Seorang diri menapaki alur tanpa tujuan. Dari arah berlawanan, tampak seorang pria bermantel tengah berjalan ke arahnya sembari mengangkat telepon di sisi telinga. Pria itu sibuk mengobrol sambil memasukkan dompetnya ke salah satu saku pinggang mantelnya. Mereka bersimpangan dan Jack pun menghentikan langkahnya tiba-tiba saat suatu gagasan datang mencerahkan pikirannya. Ada kesempatan di depan mata. Tak ingin melewatkannya, Jack berbalik ke belakang dan mulai berjalan cepat seiring rencana jahat yang timbul dalam otaknya. Matanya mengintai lurus punggung sang korban. Jack menyerang diam-diam, menabrak lengan pria itu dengan sengaja.
"Oh!" Pria muda itu terentak ke depan hingga ponsel yang menempel di sebelah telinganya meleset.
"Maaf, aku tidak sengaja." Jack menggumam, menundukkan kepala.
Pria itu tidak mengatakan apa pun, juga tidak terlihat marah, dia mengangkat satu tangan di depan dada mengisyaratkan bahwa dirinya baik-baik saja. Kemudian, pria rapi itu melanjutkan perjalanannya, sementara Jack terdiam di tempat. Usai memastikan si korban menghilang dari pandangan, Jack mengangkat dompet pria itu, dompet kulit yang ia ambil secara cepat dan ahli dari saku mantel sang korban. Pria itu tidak menyadarinya sama sekali—ketika Jack menyelinapkan tangan ke dalam saku mantelnya dan mencuri dompetnya—itu pasti karena Jack sudah lihai dalam beraksi. Jack menatap benda tebal itu dan mulai memikirkan tujuannya.
Jack memasuki sebuah mini market yang terletak di depan jalan raya. Ia mengambil troli, mengisinya dengan makanan apa pun yang dilihatnya. Jack akan membeli semuanya untuk dibawa pulang. Lalu akan membayarnya dengan uang yang baru ia dapatkan. Saat Jack dan Lexa pergi tadi pagi, mereka belum makan sama sekali. Karena bandit-bandit di pasar, rencana mereka untuk mencuri pun batal.
Setelah merasa cukup, Jack membawa seluruh barang belanjaannya ke meja kasir. Sambil menunggu sang kasir menotal keseluruhan harga, Jack merenung, terbayang-bayang wajah layu sang kekasih. Ia tidak akan langsung pulang setelah ini. Jack berencana membeli makanan untuk Lexa dulu, putusnya dalam hati.
Jack mengernyit saat mendapati pemuda yang menjadi kasir mengangkat salah satu barang belanjaan sambil menatap Jack ragu-ragu. Dia tidak lekas menscan harga pada barcode, malah menyelidiki Jack dengan tatapan menilai.
"Apa?" celetuk Jack, mengerti apa yang tengah dipikirkan laki-laki itu dengan melihat satu bungkus besar pembalut wanita yang dipilihnya. "Aku membelinya untuk istriku!" Buru-buru Jack menjelaskan sebelum pemuda itu menertawakannya.
Tentu tampak aneh atau menggelikan jika Jack yang berpenampilan super preman, bertato dan bertindik, harus membeli barang seperti itu. Namun Jack tidak malu sama sekali. Lebih tepatnya, kebal menahan malu. Demi Lexa, Jack rela menanggalkan semuanya bahkan rasa malunya sendiri. Mau bagaimana lagi, itu adalah caranya mengalah.
"Cepat total semuanya dan berhenti memandangku seperti itu!"
Pemuda itu tergagap. "Ah, i-iya." Gugup, juga takut-takut, dia kembali melakukan pekerjaannya.
"Eh, berikan itu juga!" Jack menuding alat kontrasepsi untuk pria yang terpajang di etalase belakang kasir.
"Oh? Yang ini?"
"Tidak, tidak! Yang anggur saja, istriku tidak suka rasa mint!"
"Oh, ini."
"Berikan aku lima!" pintanya lagi-lagi mencengangkan sang kasir. Walau Jack tidak akan bisa menyentuh Lexa malam ini sampai beberapa hari ke depan, Jack membelinya untuk persediaan saja. Lima kotak dengan masing-masing berisi tiga, bisa ia habiskan hanya dalam dua hari saja jika seharian di rumah.
"Ah, i-iya."
Jack memesan makanan di sebuah kedai untuk dibungkus setelah keluar dari mini market, dan langsung membawanya pulang.
Di kabin, keberadaan Son dan Nil agak mengejutkannya.
"Oh, itu dia!" Mereka berseru seakan tengah menanti-nantikannya.
Pandangan Lexa yang sedang duduk melamun di atas kursi pun beralih padanya.
"Eh? Kenapa kalian sudah kembali?"
"Hari ini petugas dari kepolisian sedang beroperasi di stasiun. Mereka mengamankan para pedagang jalanan dan pengemis liar. Jadi kami pulang saja." Son, pemuda berambut gondrong keriting itu menggerutu.
Jack mendesah geram. "Kalian ini memang tidak berguna!" cetusnya. "Ini, ambillah!" Ia memberikan dua kantong plastik besar yang berisi banyak camilan dan makanan instan dari kedua tangannya. Jack melihat mata sendu Lexa, mereka bersitatap sejenak, kemudian wanita itu berpaling dan kembali merenung.
Son dan Nil mengambil bingkisannya, membukanya dengan antusias.
"Woaah, ada perayaan apa ini, Kak? Kenapa belanja banyak sekali?"
"Aku tahu kalian akan pulang dengan tangan kosong hari ini!" Jack mendudukkan diri di sofa yang lainnya. Sofa usang setengah rusak.
"Eh, apa ini?" Nil mengangkat pembalut yang dibeli Jack, memperhatikannya dengan heran.
Cepat-cepat Jack merebutnya. "Eeh, ini untuk istriku!" Jack melemparnya ke pangkuan Lexa dengan gerakan ringan.
Wanita itu tersentak kecil, lalu tepekur memandangi benda itu di pangkuannya.
"Oh? Kakak pergi untuk membeli itu?" Son menyadari dan mulai merecoki.
"Ya. Kenapa?" sahut Jack ketus. "Apa itu memalukan?"
Son berpaling manahan tawanya di mulut. Walaupun pria berjas rapi, memang akan terasa aneh jika harus membeli barang seperti itu, apalagi untuk Jack yang seorang rocker, tapi Jack tidak peduli.
"Diamlah kau, anak kecil!" celetuk Son menjitak kepala Nil.
Jack mengalihkan pandangannya kepada Lexa, berharap mau memberikan senyumnya untuk Jack yang diam-diam dirundung resah. Namun, wanita itu tercenung menatapnya tanpa ekspresi, kemudian beranjak dari kursi membawa barang yang dibutuhkannya tadi masuk ke dalam.
*****////
Lexa mendatangi Jack sore itu. Pria bermata sipit itu sedang menikmati dunianya di tepi telaga, duduk di atas rumput dengan santai seperti biasanya. Ia mengacak rambut Jack, menegurnya, lalu langsung mendudukkan diri di sisi sang suami.
Jack menoleh ke samping, mengulas senyuman hangat, menatap Lexa dengan mata berkilauan seakan menyimpan begitu banyak kekaguman. "Kau sudah merasa lebih baik?" tanyanya, entah mengenai perasaan Lexa atau gejala menstruasi yang dialaminya.
Lexa mengangguk saja sambil tersenyum cerah. "Ini jauh lebih baik," jawabnya.
Senyuman Jack tersungging. Dia mencondongkan mulutnya untuk memagut bibir Lexa sejenak. Melahapnya dengan bibirnya yang tipis, lalu menarik wajah kembali. Dia meninggalkan rasa dan bau rokok yang baru diisapnya di bibir Lexa, itu sudah biasa.
"Kau cantik seperti ini." Dia merayu sambil menahan dagu Lexa dengan nada yang terdengar gemas.
Senyum Lexa terlepas mendengarnya. Jack memang cukup pandai dalam merayu, selalu mampu mengempaskan kekesalan Lexa dalam jangka singkat. "Kau ingat, Suami, saat pertama kali aku mengalami masa pubertas ini?" katanya tiba-tiba. Ia sudah tidak ingin mengingat kejadian di pasar tadi pagi saat dirinya dianggap wanita jalang, demi Jack, meskipun itu sangat melukai perasaannya.
Kedua alis Jack terangkat. Dia tepekur seakan mencoba mengingat kembali ke masa-masa di mana saat ini Lexa sedang ingin mengenangnya. "Tentu saja, usiaku masih sebelas tahun. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat kau tiba-tiba berteriak kesakitan. Kau terus memegangi perutmu, dan wajahmu pucat sekali, membuatku panik setengah mati!"
Tawa Lexa pecah saat Jack mulai menceritakan perasaannya kala itu, saat Lexa mengalami dismenor untuk yang pertama kalinya.
"Ya, kau membawaku ke rumah sakit. Kau mengaku pada dokter yang berjaga kalau kau itu kakakku!"
"Mau bagaimana lagi? Dia menanyakan orang tuamu, jadi aku berbohong saja. Aku katakan padanya kalau orang tua kita sedang ke luar kota."
"Tapi kau tidak pernah tahu, kan, saat itu usiaku sudah tiga belas tahun dan sepertinya dokter itu tahu!"
"Apa? Jadi maksudmu, sekarang kau sudah 27 tahun dan aku lebih muda darimu?"
"Ya, harusnya kau itu adikku!"
"Tidak, tidak! Itu tidak mungkin!"
"Bagaimana bisa tidak? Badanmu saja lebih kecil dariku saat aku membawamu keluar dari panti terkutuk itu!"
"Tapi, tapi, Kau tidak pernah memberitahuku selama ini!"
"Itu karena kau tidak bertanya, Bodoh!"
"Lihat, aku tumbuh lebih besar darimu sekarang ini dan mampu melindungimu!"
"Ya, itu karena kau laki-laki!"
"Aaaakh, jadi selama ini kau sudah menipuku, ya?"
Lexa menjerit begitu Jack menggelitik perutnya. Ia memberontak sambil melengkingkan tawa, lalu melarikan diri mengitari pohon-pohon pinus yang tertanam bertahun-tahun di sekitar kabin dari kejaran Jack yang terus berusaha menyerangnya. Mengenang saat-saat sulit di masa kecil mereka, menjadi cara Lexa untuk mencairkan suasana yang semula beku. Begitu Lexa melumpuh, ia menyerah dalam dekapan Jack.
Mereka kembali terduduk di depan telaga. Keadaan pun berangsur membaik. Lexa duduk di antara kedua kaki Jack yang terbujur, menyandarkan punggungnya di dada Jack yang bidang dan Jack pun memeluknya dari belakang. Berdua, bersama menikmati senja. Matahari perlahan tenggelam, menghilangkan jejak di antara gedung-gedung tinggi yang berdiri megah di belakang pepohonan lebat yang membentengi telaga.
"Aku ingin suatu hari kita pergi ke sana!" Lexa mengarahkan telunjuknya ke arah gedung-gedung pencakar langit. "Kota besar dan penuh dengan manusia. Aku ingin kita tinggal di sana, Jack."
"Aakh, apa enaknya? Di sini jauh lebih damai. Tidak ada seorang pun yang peduli kita mau berbuat apa. Di sana hanya akan menimbulkan masalah saja."
"Tapi, Jack .... Di sini sangat sepi. Tidak ada seorang pun yang datang dan tidak banyak kegiatan. Aku ingin sesuatu yang baru, yang berbeda. Aku ingin semua orang tahu tentang kita. Tentang cinta kita."
Jack tersenyum simpul. "Apa yang lebih baik daripada menunjukkan cinta yang kita punya, untuk orang yang kita cintai, hm?"
"Itu memang benar."
"Istri, berjanjilah padaku untuk tidak merahasiakan hal apa pun lagi dariku, sama seperti yang kau lakukan saat kau tidak jujur mengenai usiamu. Aku merasa sangat dirugikan!"
Lexa tertawa lepas begitu Jack memprotes. Ia mengelus rahang Jack yang penuh dengan bulu-bulu kasar. Sementara Jack menempelkan sisi kepalanya di kepala Lexa.
"Tidak untuk apa pun itu. Begitu pun dengan apa yang kau rasakan."
"Kenapa?" Lexa meredakan suara tawanya.
"Membohongi perasaanmu sendiri, itu adalah hal yang paling menyakitkan daripada kehilangan harta benda."
"Ooouh, kau sangat manis!" Ia merayu seraya mencubit jenggot tipis sang suami.
"Eeh, aku serius!"