Black in Love

Black in Love
Chapter 4



Meski tahu tak memiliki masa depan yang menjanjikan, dunia Jack dan Lexa seolah begitu menyenangkan. Mereka tak takut kehilangan apa pun walau hal kecil menjadi sangat dibutuhkan. Mereka bisa mendapatkan apa pun yang mereka mau walau tak menyimpan sepeser uang. Mereka bisa bersenang-senang tanpa harus mendatangi tempat-tempat hiburan. Kendati kerap terancam, rasa berdosa seakan tak pernah terselip dalam hati keduanya. Nyaris dihukum, tak membuat keduanya jera. Semua yang terbatas memaksa keduanya untuk mengambil milik orang lain diam-diam.


Setiap pagi, di kala para istri di bumi sibuk mempersiapkan keperluan suami, Lexa pun melakukan hal yang sama kendati Jack bukanlah seorang pegawai pabrik atau karyawan kantoran dengan gaji yang pasti. Lexa mengurusnya, menyiapkan pakaian dan merapikan rambut yang terkasih. Mereka juga melaksanakan acara sarapan pagi walau hanya ada nasi. Namun seringkali selera Lexa menguap begitu saat Jack menyuguhkan seporsi nasi dan telur goreng buatannya, di atas meja makan berbentuk persegi.


"Aku makan nanti saja, ya?" ujarnya lembut, khawatir akan menyinggung perasaan Jack yang sudah memasak untuknya.


Jack mendengus lirih. "Kenapa? Kau bosan?"


Lexa meringis kaku, tidak enak hati harus berkata jujur.


"Biasanya aku makan telur rebus dua butir setiap pagi, tapi aku tidak pernah bosan. Lihat, ototku sangat besar, kan! Aku juga sangat kuat!" Jack mengangkat sebelah lengannya, menyombongkan ototnya yang padat dan menonjol. Lexa hanya tersenyum kecil. "Ini adalah telur terakhir kita, kau akan merindukannya nanti!"


"Tapi aku bosan. Telur maupun nasinya, rasanya sama saja." Lexa menggerutu dengan nada manja. "Aku ingin makan ikan, Jack."


Terdiam sebentar, Jack menyelami mata Lexa dengan suatu pemikiran, mencoba memahami keinginan Lexa dan agaknya itu membuat Jack merana. Lalu seakan tak mau semakin bersusah hati, beberapa detik kemudian dia mendesah seolah mendapat gagasan cerah. "Aaah! Kau mau makan ikan, kan? Tunggu sebentar!"


Lexa melihat pria itu beranjak dari kursinya menuju ke meja hias kuno yang tak banyak perabotan dipajang di atasnya. Jack membuka salah satu laci di sana dan mengambil majalah, membawanya ke tempat Lexa. Dibukanya salah satu halaman yang memuat bab tentang makanan. Entah bagaimana bisa kebetulan, Jack mendecak dengan wajah berseri menemukan gambar sajian ikan yang dipanggang dan dilumuri dengan bumbu kacang.


"Lihat, ini memang enak!" Jack meletakkan majalah resep masakan lokal itu di samping piring, menghadapkannya ke arah dirinya sendiri dan Lexa.


Lexa memperhatikan gambar menggiurkan itu bersama-sama.


"Ikannya sangat gemuk, dipanggang dengan pencatatan waktu yang pas, hingga menghasilkan warna kecokelatan yang merata!"


Lexa mengangguk sependapat. Pikirannya mulai terserap dalam angan-angan, membenamkan kata-kata yang Jack uraikan untuk menjelaskan setiap detail dari bentuk olahan. Dengan menunjukkan gambar lezat itu, Jack sukses membuat perut Lexa semakin keroncongan. Ia menelan ludah, mengkhayal bisa mencicipinya.


Diam-diam menyendok nasi dan sepotong telur dari piring yang sempat ditolak—juga terabaikan, Jack menyuapkannya ke mulut Lexa pelan-pelan sambil terus berusaha mengalihkan. "Bumbunya juga sangat kental. Dicampur mozarella dan sedikit lada, kau bisa bayangan betapa lezatnya bumbu kacang itu?"


Terhipnotis, Lexa terangguk lemah. Ia membuka mulutnya, menerima suapan Jack tanpa disadarinya. Otaknya berimajinasi, melambung tinggi, membayangkan olahan ikan yang sama benar-benar berwujud nyata di depannya kini.


"Coba makan bagian perutnya, kau akan menemukan rasa gurih yang meresap ke dalam dagingnya yang sangat lembut!" Seperti hantu yang berbisik, Jack terus berusaha menghasutnya sambil mengangkat suapan kedua dan Lexa melahapnya tanpa kendali. "Aaakh, perpaduan kecap dan saos sambalnya juga memberikan rasa manis dan pedas yang pas!"


Tak lagi bersuara, Lexa tertegun saat kembali membuka mulutnya untuk suapan berikutnya, tapi Jack tak lagi mengangkat sendoknya.


Lexa mengalihkan pandangannya pada Jack dan mendapati pria itu sedang melamun menatap gambar masakan nikmat itu. Mungkin Jack membayangkannya, dia tampak terbengong-bengong menelan ludah. Sepertinya Jack sendiri mulai tergiur dan Lexa pun tak dapat menahan senyum. Diam-diam ia mengambil secuil telur dengan tangan kosong, menegur khayalan Jack dengan mendekatkan telur yang hanya dibumbui garam itu ke mulutnya. Lexa tergelak begitu Jack terkesiap melototinya.


Sudah hampir sepekan, telur menjadi menu tetap mereka. Tidak setiap hari mereka mencuri, agar tak terlalu dicurigai. Namun banyaknya kebutuhan yang harus mereka tanggung, terkadang memaksa Lexa dan Jack untuk mengirit uang hasil curian. Kadang-kadang juga, mie instan pun menjadi menu pengganti. Dengan cara mereka sendiri, Lexa dan Jack mampu menikmati mie itu hanya dengan membayangkan seporsi spaghetti, dan makanan itu akan habis tanpa mereka sadari.


Mereka melakukan segala hal bersama-sama setiap hari. Membersihkan rumah, mencuci pakaian ataupun mencuci piring. Masalah-masalah kecil yang biasa terjadi dalam keseharian rumah tangga pun tak luput menghampiri. Perdebatan dan pertengkaran kecil kerap menjadi pemanis dalam hubungan keduanya. Namun mereka selalu bisa mengatasi masalah apa pun dengan canda dan tawa.


Merampok rumah besar akan mereka lakukan sesekali jika dalam keadaan terdesak, guna memberi waktu pada tempat-tempat atau orang yang telah mereka jadikan target, untuk menghapus ingatan mereka akan kejadian itu. Hasil yang melimpah tentu menjadi tujuan utama. Uang, emas, dan harta benda dari hasil rampokan itulah Lexa dan Jack bisa membeli semua barang-barang mahal, dan pergi ke tempat-tempat mewah. Tak sembarang rumah yang mereka jarah. Hanya pengusaha dengan latar belakang penjilat ataupun yang kerap dianggap sampah masyarakat.


Di saat kegilaan mulai melanda, mereka tak kenal dunia. Keduanya menari-nari di atas kasur lantai diiringi musik keras yang seirama dengan suasana. Setiap waktu, setiap detik, ciuman menjadi obatnya. Ciuman yang panjang dan tidak ada habisnya, yang telah membuat keduanya saling candu bak narkotika.


Mereka beraksi. Menyusuri jalanan dengan langkah yang pasti. Mendatangi setiap tempat berpeluang dan lokasi untuk dijadikan target operasi. Mengatur sebuah rencana usai mengintai dan mengamati. Lexa dan Jack juga mengincar para penumpang bus. Berpura-pura bertujuan, di dalam bus keduanya dituntut untuk peka dan waspada. Penumpang yang memegang handle grip menjadi target utama. Mereka yang tak mendapat jatah kursi memiliki peluang besar untuk memudahkan aksi Lexa dan Jack. Keduanya naik bersama, tapi memilih untuk berpisah begitu masuk ke sana. Seorang pria berpakaian formal, tampak seperti seorang pekerja kantoran dengan gaji yang menjamin pun menjadi pusat tujuan dari rencananya. Jack mengedipkan matanya untuk memberi kode, dan Lexa pun mengangguk tanda mengerti.


Lexa berpindah tempat. Ia meninggalkan Jack dan sengaja berhenti di depan pria muda berpenampilan rapi dan wangi itu sambil siaga. Seolah tahu ini akan terjadi, ketika bus melewati jalur bergelombang dan otomatis bus terpental—membuat seluruh penumpang terhuyung ke arah yang sama—Lexa pun menjatuhkan diri ke arah targetnya.


"Oh! Maaf!"


"Hey, kau tidak apa?"


"Tidak, hanya sedikit ... kaget."


Pria itu tersenyum manis ketika Lexa mengeluarkan desahan dari mulutnya saat bersuara manja. Saat itu, saat perhatian sang korban lengah, Jack bergerak cepat memepetnya. Jack menyelinapkan tangan memasuki saku celana bagian belakang laki-laki itu untuk mengambil dompetnya di sana, dengan waswas. Saat mereka beraksi, Jack menanggalkan ikat kepalanya dan berpenampilan biasa agar tak terlalu dicurigai. Namun jaket kulit dan celana hitamnya, membuat Jack tetap disegani, begitu pun dengan Lexa. Dia berlalu ke barisan kursi terdepan dan meminta sopir bus untuk menghentikan laju kendaraannya karena Jack akan turun. Setelah berterima kasih pada pria klimis itu dengan kerlingan mata genitnya, Lexa buru-buru menyusul Jack untuk turun.


Di bahu jalan, saat itu juga Jack membuka isi dompetnya. Hanya ada beberapa lembar uang dengan nominal campuran dan ... beberapa uang koin. Mereka serentak tergelak menyadari kekonyolan itu. Ya, seringkali berhasil mencuri, bukan berarti mereka selalu beruntung, tidak selalu membawa hasil besar. Terkadang penampilan mangsa malah menipu mereka dan menjadikan usaha mereka agak sia-sia. Tak jarang pula Lexa dan Jack mengambil dompet kosong hingga mereka pun harus bekerja dua kali demi bisa makan hari itu.


"Lumayan," kata Jack membuang dompet yang telah kosong itu ke jalanan. Dia merangkul Lexa dan mulai berjalan menapaki kerasnya kehidupan.


Jack membawa Lexa bersenang-senang seperti kebiasaan mereka setiap harinya setelah mencuri. Jack membelikan apa pun yang Lexa minta dengan uang kotor itu. Mereka berjalan-jalan menjelajahi apa yang ditawarkan di setiap sudut jalan. Gelak tawa terus mengalir dari diri keduanya. Mereka membicarakan setiap hal menarik yang mereka lihat, lalu memecahkan tawa bersama seolah-olah itu adalah tontonan gratis yang lucu. Mereka makan di sebuah kafe, memesan menu ikan dan daging untuk membayar rasa rindu mereka akan makanan lezat. Berfoto-foto dalam studio photobox, memainkan segala permainan di zona game yang ada dalam mal, melihat-lihat setiap benda yang terpajang dalam toko sambil memakan camilan. Kemesraan pun acap kali menyelingi langkah keduanya. Cium dan peluk mereka umbar tanpa malu. Lexa bahagia seperti ini. Lexa bahagia bersama Jack.