Black in Love

Black in Love
Prolog



Lexa tidak menyangka, dirinya harus kembali ke Itaewon-dong setelah beberapa bulan yang lalu begitu yakin tidak akan pernah kembali lagi ke kota ini. Walaupun kawasan pemukiman ini hanya berjarak berkisar tiga kilometer dari tempat tinggalnya kini—karena masih berada di lingkungan Yongsan-gu, ia tetaplah harus merelakan impian terbesarnya. Memang tidak terlalu berharga, hanya bertujuan menjadi orang yang lebih baik dari dirinya yang dulu.


Namun Lexa berharap dengan membawa sebuah alasan, itu pun dapat membawa suatu kebaikan. Alasan yang memaksanya untuk kembali, dan menemui yang pernah ia tinggal pergi.


Ia memasuki sebuah kawasan terpencil yang jauh dari pemukiman penduduk sambil berjalan kaki. Semakin kedua kaki membawa raganya mendekat ke tempat tujuan, jantungnya semakin berdegup kencang. Apakah ia siap bertemu dengan pria itu lagi? Apakah dirinya bisa meyakinkan alasan yang ia bawa untuk bisa membuat pria itu menerimanya kembali? Lexa berusaha tenang. Ia hirup harum khas embun di pepohonan pinus yang tumbuh berjejer mengiringi sepanjang perjalanannya, dan tiba-tiba menyadari bahwa dirinya sedang merindu.


Sebuah telaga dengan air keruh berwarna hijaunya telah tampak di kejauhan mata, juga kabin jatinya. Langkahnya terhenti ketika mendapati sebuah mobil sport putih tanpa atap terparkir di depan bangunan tua itu. Seiring munculnya beberapa pertanyaan dalam benak, Lexa beringsut menyembunyikan diri di balik pohon. Ia mengintai, penasaran. Seorang wanita cantik berbadan kurus, dengan rambut hitam panjang yang lurus, tengah duduk di jok depan. Jarak yang cukup jauh membuat Lexa kesulitan mengenali wajahnya. Siapa dia? tanyanya dalam hati. Selama Lexa tinggal di sana, tidak pernah ada orang lain yang datang.


Beberapa menit yang lalu, ia baru tiba menggunakan bus pemberangkatan dari Hannam-dong. Dengan segenggam niat, Lexa telah memutuskan hal terbesar dalam hidupnya untuk tetap terikat. Kedatangannya pada musim semi ini, ia juga sangat berharap tetap bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan di masa lalunya—meski harus berbelok arah, akan tetapi ... sepertinya ini sia-sia. Dia telah pergi. Dia sudah tidak sendiri.


Apa yang terjadi? Setelah sempat menolak cinta, bagaimana mungkin hatinya bisa merasa sesakit ini? Tidak ada seorang pun di sana, tapi Lexa mendengar seluruh belantara seolah menertawakannya. Pohon-pohon, rerumputan, telaga yang membentang, semua yang menjadi saksi bagaimana hubungan itu terbentuk pun seakan tak mau peduli dengan apa yang ia bawa. Sebuah hasil yang telah tumbuh dan berkembang dalam dirinya.


Lexa menangis, tersedu-sedu duduk di teras depan kabin sambil memeluk dirinya sendiri. Air mata itu terus bercucuran dan tak mau berhenti. Sebuah alasan yang menuntunnya kembali ke tempat ini, telah tercampakkan dan kini membuat hatinya sakit. Mungkin ini salahnya, mungkin juga ini akibat yang harus ditanggungnya, pergi di saat pria itu sedang bernapas untuknya. Namun, Ini terlalu cepat. Ini terlalu menyayat. Begitu mudahnya Tuhan membalikkan hati seseorang, setelah dua manusia saling berpegangan erat. Harapan itu tidak lagi membuatnya kuat. Ia kehilangan ... segalanya.