Black in Love

Black in Love
Chapter 22



"Semoga aku mendapat pekerjaan hari ini."


"Kau akan mencari ke mana, Jack? Kau akan pergi dengan penampilan seperti ini?"


"Aku punya banyak kenalan. Beberapa pemilik bar dan bengkel. Mereka akan menerimaku dengan mudah."


"Itu bagus. Kau tidak ingin aku menemanimu?"


"Tidak usah, aku akan segera pulang. Tunggu saja di rumah. Son yang akan pergi jika kau membutuhkan sesuatu."


"Baiklah. Jangan buat masalah, ya!"


"Kau tenanglah."


Seperti janjinya semalam, pagi ini Jack akan pergi mencari pekerjaan. Dia tidak akan mencuri lagi untuk membuat listrik di kabin menyala kembali. Juga saluran air yang mati. Lexa senang, Lexa berharap besar itu benar.


"Jack ...." Lexa mencegah ketika Jack berbalik hendak meninggalkannya.


Jack memutar badan, menaikkan kedua alis mempertanyakannya. Tanpa berkata-kata, Lexa segera mendekat dan memeluknya, menegun pria itu seketika.


"Aku percaya kau akan mengubah kita menjadi lebih baik," bisiknya sambil terus melingkarkan kedua lengan ke leher Jack, ingin menyalurkan energi baik yang mampu menenangkan hatinya.


"Akan kupastikan itu," timpal Jack lantas balas memeluk pinggang Lexa erat-erat.


Tuhan, semoga itu benar, bisik Lexa dalam hati. Ia melepas dekapannya, menatap sang kekasih dalam-dalam dengan tatapan yang sendu. Lexa merapikan rambut Jack, mengelus rahangnya yang telah mulus, dan Jack hanya terdiam mengawasi Lexa. Dia akan pergi mencari pekerjaan dengan jaket kulitnya, sepatu boots dan ikat kepala. Itu sangat lucu, tapi Lexa akan terus mendukungnya. Ini adalah awal yang baik, Lexa tidak ingin mengacaukan perasaannya dengan mengungkap perkiraan-perkiraan berdampak buruk.


Seolah tak mampu lagi membendung perasaan harunya akibat perhatian Lexa yang kembali tercurah, Jack meluncurkan kecupan di sebelah pipi Lexa. Lexa tercengang-cengang membiarkannya.


Jack pergi dengan berjalan kaki. Lexa terus mengawasinya, mendoakan yang terbaik untuknya. Di kejauhan, pria itu membalikkan badan, melambaikan tangan kepada Lexa. Lexa tersenyum geli membalas lambaiannya. Beberapa detik melanjutkan perjalanannya, Jack kembali berbalik lalu menari-nari kocak. Sontak saja ulah konyol pria itu memecahkan gelak tawa Lexa. Tampaknya pria itu sedang berbahagia. Lexa pun tak menyangkal perasaan yang sama atas awal perubahan yang baik ini. Lexa terus tertawa sampai pria itu berbelok arah, dan hilang dari pandangannya.


Sayangnya, Lexa tidak bisa langsung percaya Jack akan menepati janjinya. Ia masuk ke dalam, memakai jaket kulit dan juga sepatu kets-nya, tanpa harus mengganti hotpants compang-campingnya. Tak lupa topi dari Eunbi menghiasai kepalanya dengan rambutnya yang tergerai bebas. Lexa pun bergegas menyusul Jack. Setelah mendengar informasi dari Son atas pertemuan Jack dengan Tuan Tan semalam, bagaimana Lexa bisa mengabaikannya? Lexa memendam curiga semalaman. Jack pun sangat bersemangat pagi ini. Bukan Lexa tidak ingin percaya pada pria itu, ataupun berburuk sangka padanya, Lexa hanya ingin menenangkan dirinya sendiri.


Di jalanan besar, Lexa beruntung masih sempat menyusulnya. Ia bersembunyi-sembunyi mengawasi Jack dari kejauhan. Sebisa mungkin Lexa tetap fokus mengawasinya agar tak kehilangan jejak. Jack memakai kain masker untuk menutupi mulut dan hidungnya, lalu menyeberangi jalan raya dan masuk ke sebuah lorong gang setelah sempat menerima telepon dari seseorang.


Di depan sebuah kafe, Jack mendatangi seorang pria yang kala itu baru keluar dari MPV hitamnya. Lexa mengintainya dari tikungan jalan. Banyak toko di sekitarnya yang masih tutup, mungkin karena hari juga masih terlalu pagi. Tak banyak pejalan kaki yang hilir mudik di jalanan sepuluh meter dari jalan raya itu. Jack menyapa orang itu, mengucap tiga suku kata dan Lexa sama sekali tidak bisa merasakan firasat apa pun. Sampai pria bermantel panjang yang membelakangi arah Lexa itu mengangguk, Jack mengawasi sekelilingnya sejenak, lalu tiba-tiba saja dilayangkannya tinju ke wajah orang itu. Astaga!


Lexa membelalak bersamaan dengan jatuhnya pria tersebut ke tanah. Merasa sesuatu yang lebih buruk lagi akan terjadi, segeralah Lexa keluar dari persembunyiannya. Ia berlari ke arah Jack sambil berteriak berang.


"Jack!"


Tak hanya Jack, pria yang menjadi korban serangan Jack itu pun menoleh ke arahnya.


"Lexa? Kau di sini?" Jack tampak terkejut.


Lexa beralih cepat dari ketercengangan Jack, pada si korban yang terkapar akibat pukulan pria itu. Keterkejutan Lexa kian memuncak menyadari Junho di sana. Junho? Pria itu adalah Junho? Ya, Lexa tak mungkin salah. Ayah Eunbi itu pun menyadarinya. Keduanya saling bersitatap, tercengang-cengang.


"Junho!" Lexa memekik seketika, mendekati sang pemilik nama yang masih terkulai di tanah dengan setetes darah yang mengalir dari hidungnya. "Astaga, kau tidak apa?" Ia panik. Tangannya gemetar ketika hendak membantu pria itu untuk bangun.


Beralih menatap Jack, Lexa tak dapat menahan kemarahannya lagi. "Apa yang kau lakukan padanya?"


"Kau kenal dengannya?" tanya Junho sambil terus memegangi hidungnya.


Jack menurunkan masker dan memperlihatkan keseluruhan wajahnya. "Bagaimana kau bisa ada di sini? Kau mengenalnya?" Jack masih berdiri tercengang-cengang mencerna apa yang diperlihatkan Lexa di hadapannya.


Pertanyaan yang sama dari dua pria itu tidak mendapat jawaban dari Lexa.


Pekikan lain terlontar dari mulut Lexa, "Kau sudah berjanji padaku tidak akan menyerang untuk seseorang, tapi apa ini?" Dada Lexa bergetar hebat merasakan emosi yang kuat. Terlebih Jack menyerang pria yang akhir-akhir ini membuat Lexa kepikiran.


"Lexa, aku melakukannya untukmu!"


"Aku tidak pernah memintamu!" Lexa menyela geram dan Jack pun langsung tersentak. "Aku tidak mau menyentuh uang yang kau dapatkan dari mencelakai orang lain!"


Jack mengernyit.


"Junho, apa kau baik-baik saja?" Lexa memegangi kedua lengan Junho, membantunya bertahan. "Aku minta maaf untuk ini."


"Aku tidak apa."


Ya Tuhan, kenapa ini bisa sampai terjadi? Lexa merasa matanya mulai menggenang cairan. Sungguh, ia sama sekali tidak menduga Jack akan menyerang Junho, bahkan sekadar berpikir Jack akan benar-benar menerima tawaran dari Tuan Tan pun tidak. Jack telah berjanji padanya semalam, tapi rupanya dia mengingkarinya, dan itu sangat menyakiti Lexa. Ia pun membantu Junho berdiri. Pria itu terus menyeka darah dari hidungnya, membuat Lexa tak tega melihat kondisinya.


"Kenapa kau tiba-tiba menyerangku?" Junho melempar tanya kepada Jack.


Namun Jack tak menjawab. Dia terus menatap lurus ke arah Lexa yang masih memegangi lengan Junho. Ada emosi tertahan di matanya, Lexa takut melihatnya.


"Jadi, diakah orangnya?" Suara Jack sontak menarik pandangan Lexa padanya. Pria itu masih berdiri di hadapannya dengan tegak, dengan amarah yang kian berkobar dari matanya. Kemarahan yang tampaknya siap meledak. "Dia yang membuatmu berubah."


Untuk dugaan Jack itu, Lexa tak memiliki bantahan. Ia rasa pun semuanya sudah cukup jelas. Jack tahu Lexa tidak pernah mengenal orang lain selain hanya dirinya saja. Jika saat ini Jack melihatnya berdiri di pihak Junho, maka Lexa tak perlu menjelaskan apa pun lagi. Junho menatap Lexa, tampak mempelajari apa yang tengah terjadi kini.


"Lexa, dia suamimu?" Akhirnya Junho bertanya dengan suara lirihnya.


Lexa tak menjawab, karena ia tidak memiliki jawaban yang tepat untuk itu. Iya ataupun tidak, semuanya serba salah. Lexa hanya bergeming, menatap bingung ke arah lain.


Sampai Jack mengentak satu tangannya ke bawah, dan pisau lipat dari tangannya itu tiba-tiba terbuka, ketegangan pun memuncak. Kedua mata Lexa sontak membelalak. Ketika Jack melangkah maju, Lexa langsung melejit di depan Junho, menghalangi aksi nekat Jack.


Lexa tahu Jack tidak main-main. Ia bisa mencium akan adanya bahaya akibat dari kemarahan Jack itu. Mereka bertatapan dari dekat. Mata Jack begitu mengancam. Lexa cemas mengartikannya.


"Kau berjanji padaku tidak akan menyerang untuk seseorang."


"Sekarang, ini untuk diriku sendiri!"


"Tidak!" Lexa menahan kedua bahu Jack, menghalanginya untuk bertindak brutal. "Jangan lakukan itu! Akulah yang bersalah dalam hal ini, Jack. Aku yang tidak bisa menjaga diriku. Aku tidak bisa membuatmu mengerti!"


"Menyingkirlah!" pekiknya tak mau tahu, seraya maju selangkah.


"Jack!" Lexa sigap menahannya.


Menyerobot, Lexa bertindak cepat mendorong Jack agar tidak mendekati Junho. Ayah Eunbi itu sendiri terlihat bingung harus berbuat apa di belakang Lexa.


"Hentikan, aku mohon!"


"Aku akan membunuhnya untuk diriku sendiri!" pekik Jack memberontak, mengangkat pisaunya. Dia begitu yakin ingin melenyapkan Junho. Ya, dia telah memperingatkan Lexa bahwa akan membunuh siapa pun pria yang dekat dengan Lexa. Sekarang, Lexa bisa merasakan semua itu bukanlah gertakan semata.


Lexa berharap ada seseorang yang lewat di sekitarnya, dan mau membantunya untuk menghentikan ini.


"Tidak, Jack! Maafkan aku ...."


"Menyingkirlah, Lexa!"


Jack memaksa untuk maju, otomatis mendorong Lexa hanya dengan kekuatan dari dadanya. Merasa ini tidak akan seimbang, Lexa segera mendekap tubuh tegang pria itu supaya menjauh dari Junho, sembari mencengkeram pergelangan tangan Jack yang masih kukuh mempertahankan pisaunya. Ia bisa merasakan Jack terus mendorong dadanya untuk menyingkirkan Lexa dari hadapannya. Kedua kakinya terus memaksa untuk melangkah, dan Lexa semakin memperkuat kakinya untuk mencegah.


"Junho, pergilah!" teriak Lexa, cemas luar biasa.


"Kau tidak akan bisa selamat dariku!" Jack mengancam, sedangkan Junho masih kebingungan di tempat.


Kekasihnya itu masih berusaha lolos dari dekapan Lexa yang menghalangi aksinya sambil terus memberontak, mencoba mengangkat tangannya yang Lexa cengkeram, sehingga Lexa pun harus mengerahkan seluruh tenaganya. Junho mengkhawatirkan Lexa, ia tahu itu, karena itu dia tidak mau pergi juga.


"Jack! Aku akan ikut denganmu, tapi tolong hentikan perbuatanmu ini!"


"Aku akan menghabisinya!"


"Jangan, Jack. Aku mohon! Dia tidak mengerti apa pun! Junho, aku mohon pergilah!"


"Tapi bagaimana denganmu?"


"Aku akan pergi bersamanya!"


Junho mengangguk bimbang, dia terlihat tidak rela meninggalkan Lexa. Sementara Jack terus saja memberontak sambil meneriakkan ancaman-ancaman untuk Junho.


"Aku tidak akan membiarkanmu lari! Aku akan mencari ke mana pun kau pergi!"


Akhirnya Junho pun tampak terpaksa masuk ke dalam mobilnya dan berlalu. Lexa sendiri masih berusaha mengendalikan kemarahan Jack. Beberapa saat kemudian, ia pun mampu merebut pisau lipat itu dari tangan Jack dan membuangnya.


"Tenanglah, aku akan ikut denganmu!"


*****/////


Meski berhasil membawanya kembali ke kabin, kemarahan Jack tak mampu Lexa padamkan. Jack semakin menjadi-jadi. Berkali-kali dia lempar bebatuan ke tengah telaga. Dadanya tersengal-sengal, sesekali berteriak kesal, mungkin membayangkan dapat menghajar Junho. Lexa kesulitan menyurutkan emosinya. Lexa tidak tahu apakah ia bisa menyebut ini keberuntungan atau tidak. Ia telah menggagalkan rencana Jack menyerang Junho untuk Tuan Tan, tapi Lexa telah menggali ancaman untuk Junho dari diri Jack sendiri.


"Dia pemilik rumah itu, kan?" tanya Jack masih terus menatap dengki ke arah telaga.


Pandangan Lexa melemah, beralih dari punggung Jack, bingung harus berkata apa. Lexa tidak menyangka, akhirnya ia harus menghadapi ini.


"Pasti karena dia, kan, kau menolak ikut denganku pergi dari rumah itu? Karena dia, kan, kau berubah sejak kembali dari rumahnya!"


Lexa tahu ini belum berakhir. Jack akan kembali mempermasalahkan dan akan terus berkelanjutan selama Lexa tak mampu mengusir prasangkanya. Jack akan melakukan sesuatu yang lebih buruk untuk menyudahi kecemburuannya.


"Apa kau menyukainya?" Begitu satu pertanyaan itu Jack lontarkan dengan suaranya yang garang, dada Lexa seakan dientak. "Katakan padaku. Apa kau mencintainya?" Sekali lagi Jack mendesak.


"Jack, kendalikan dirimu. Tidak terjadi apa-apa antara aku dan dia, percayalah. Aku hanya merasa perlu berbuat baik padanya. Dia adalah orang yang telah menyelamatkanmu. Kau pun sebaiknya bersikap baik padanya."


"Menyuruhku bersikap baik padanya?" sahut Jack berputar arah ke belakang, menatap Lexa dengan sorot mata yang mengerikan. "Dia membuatmu berubah, Lexa. Dia bukannya menyelamatkanku, tapi menghancurkanku!"


"Kau hanya cemburu, Jack!" Lexa membenarkan, mencoba membuat pria itu mengerti. "Kau tidak pernah senang melihatku dekat dengan pria lain. Siapa pun itu, apa pun alasannya."


Jack membuang muka, tak mau peduli dengan apa yang coba Lexa jelaskan. Dia kembali melempar kebencian ke arah telaga.


"Bukan marah. Cara terbaik untuk meredam cemburu, adalah bilang i love you!" Lexa bertutur dengan suara lembutnya.


Jack terdiam sejenak, kemudian meneriakkan kemarahannya. "Huaaaaagrh!" Seolah berusaha menahan diri untuk tidak melibatkan Lexa, dia meledakkan emosinya di depan telaga. Dia tampak bergetar hebat. Seluruh otot di lehernya hampir keluar. Dia sangat jelek ketika marah. Setelah merasa puas, Jack lantas pergi masuk ke dalam kabin, meninggalkan ketakutan yang dahsyat dalam diri Lexa.


Inilah kesalahan terbesarku, Jack.


Lexa tidak bisa mengendalikannya. Ia memberinya hal yang salah. Setelah ia pahami, cinta seharusnya bisa menenangkan, bukan malah terus membuatnya cemas. Dia terlalu menguasai Lexa padahal cinta tidak pernah berkuasa, melainkan untuk saling berbagi dalam setiap hal. Jika Jack tidak bisa mengerti kegelisahannya, maka menurutnya itu bukanlah cinta. Dia hanya menerima Lexa tanpa mengerti keadaannya. Lexa hanya ingin dia berubah, tapi sulit sekali dia melakukannya. Akhirnya pun, Lexa mulai merasa tidak nyaman dengan cinta yang Jack punya. Atau mungkin itu cinta yang salah. Cinta yang terlalu. Cinta hitam. Tuhan, setelah sekian lama, mengapa Lexa baru menyadari ini?