Black in Love

Black in Love
Chapter 3



Saat instrumental dari sang gitaris mengentak ribuan penonton untuk berlonjak-lonjak di depan panggung sambil mengangkat tangan, Jack dan Lexa tak mau menahan diri untuk turut larut dalam musik rock band kesayangannya lewat lagu hits mereka, Bedroom Warfare. Keempat personel handal asal Jepang itu tergabung dalam band yang telah lama digilai Jack dan Lexa. Mereka sukses mengguncang dunia dengan kualitasnya. Suara emas sang vokalis, Takahiro, menjadi alasan utama Lexa menyukainya. Namun bagi Jack, lagu itu menjadi lagu andalannya karena mengandung makna yang mampu membakar gairah. Mereka semua menggila dalam dentuman irama cadas malam ini.


Lexa begitu senang. Dia terus tersenyum sepanjang acara konser. Sesekali mereka ikut menggemakan suara melantunkan lirik yang sama. Semenjak tahu kota ini menjadi salah satu tempat yang dituju Taka dan kawan-kawannya untuk menyelenggarakan World Tour ke beberapa negara, Lexa tak sabar hati ingin bisa menyaksikannya. Dia menjadi resah setiap hari dan memimpi-mimpikan dirinya bisa terlibat di dalam konser mereka. Mereka adalah band papan atas, harga tiket konsernya tidak bisa dibilang murah, apalagi untuk Jack yang pengangguran.


Namun selama beberapa hari ia mencari dan berusaha, salah seorang kenalan bersedia membayar Jack dengan tiket itu, jika Jack mau menyerang seseorang untuknya. Lexa tidak tahu, Jack sengaja merahasiakan hal itu sebab walaupun acap kali mencuri, kekerasan dan melukai orang yang tidak dikenalnya demi membalaskan dendam orang yang mau membayarnya adalah hal yang paling tidak disukai Lexa. Jack harus menyerang orang yang tidak bersalah padanya. Jack meminta Lexa untuk tidak memikirkannya saat Lexa berulang kali menanyakan bagaimana Jack bisa mendapatkan tiket mahal itu. Selama Jack bisa membuat Lexa tersenyum, segala cara apa pun jadi.


Setelah puas membuat para penggemarnya menikmati musik dan berteriak-teriak seirama, seruan tepuk tangan yang renyah penonton berikan untuk menyambut kesuksesan band yang telah memabukkan mereka dalam sensasi lagunya. Sang vokalis berteriak menyalurkan semangat membara, dan energi seluruh penonton pun seakan tak surut dikalahkan lelah.


Musik berubah pelan. Lagu telah berganti. Kendati beraliran rock alternatif, One Ok Rock juga sukses mencuri perhatian banyak kaum perempuan muda dalam salah satu lagu slow rock-nya, Wherever You Are. Tak tahu mengapa, setiap lagu itu diputar, terlebih ketika Toru Yamashita memetik gitarnya dengan akustik, Jack benci melihat seluruh wanita di sekitarnya mendadak berseru manja—tak terkecuali Lexa. Lagu itu memang memiliki lirik yang romantis. Sebuah pesan-pesan perpisahan yang sangat menyentuh, juga pujian-pujian untuk orang yang dicintai. Tanpa diminta, semua perempuan-perempuan itu mendendangkan lirik yang sama dan sang vokalis hanya tersenyum-senyum geli mengarahkan mikrofon-nya pada penonton. Semua lelaki di situ pasrah dan membiarkan sang vokalis menguasai gadis mereka sementara ini.


"Tonight ... Tonight ... You are my angel ...."


Ketika sampai pada bait itu, Jack tak mau menjadi sama dengan para lelaki di sekelilingnya. Ia tidak ingin menyerahkan Lexa malam ini pada lagu romantis sang band. Jack menarik pinggang Lexa ke dekapannya, hingga wanita itu terkesiap dan menatap heran. Tak hanya malam ini, Lexa bidadarinya sepanjang hari dalam hidup Jack, ya, di mana pun dia berada. Jack memenjarakan bibir wanita kesayangannya itu, mengulumnya ke dalam mulut, menyesap kelembapannya dengan begitu lembut. Mereka berdiri di tengah para penonton, tapi seluruh area Jack sulap menjadi dunianya dan Lexa saja dalam sekejap.


Konser berakhir dengan amat memuaskan. Semua yang hadir keluar dari stadion dengan membawa kesan tersendiri dan tak henti-hentinya membicarakan sang bintang. Jack dan Lexa berjalan sambil berangkulan mesra. Beberapa kali Jack meluncurkan ciuman singkat di bibir tebal nan seksi Lexa yang terus menerus mengeluarkan kalimat-kalimat antusias dari sana. Dia terlihat begitu menggemaskan.


"Suami, aku haus," keluh Lexa dengan suara manjanya.


Setiap memanggil Jack dengan sebutan sayang itu—suami—Jack tahu hati Lexa sedang dalam keadaan senang, maka Jack tidak akan pernah menyia-nyiakan saat itu dengan merusak suasana hati sang istri.


"Baiklah, Istri. Tunggu di sini, ya!"


Jack meninggalkan Lexa di dekat gerbang menuju ke vending machine yang ada di sebelah pintu utama stadion. Ia memasukkan koin pada mesin, lalu memilih minuman dengan jenis soda. Setelah dua minuman kaleng keluar dari slot berkatup, Jack kembali ke tempat Lexa menantinya.


Di tengah perjalanan, langkah Jack tertahan tiba-tiba mendapati salah seorang pemuda dari rombongan bergaya rock gothic berjalan ke arah Lexa, dengan sengaja menepuk pantat Lexa sambil berlalu. Lexa terkesiap membeliak, tapi pemuda berengsek itu tanpa menyesal terus berjalan melewati gerbang—berlagak tak tahu menahu. Sialan.


Jack meremas kedua kaleng di tangannya hingga penyok dan seluruh isinya meledak keluar. Emosi yang timbul ketika melihat pelecehan yang dilakukan pemuda itu terhadap Lexa tentu saja membuat Jack geram dan tak mau mencegah diri. Ia berjalan cepat menyusul si pemuda berandalan. Jack menahan pundaknya, dan begitu si anak muda urakan itu berbalik, sebuah tinju melesat cepat tepat ke arah wajahnya dari tangan Jack.


"Aaakh!" teriak orang-orang di sekitarnya.


Semua terkejut. Lexa juga, dia memekik tapi Jack tak peduli. Ia kembali mendaratkan pukulan ke wajah pemuda itu dan beberapa kawan pemuda itu bertindak menghentikannya. Namun Jack memberontak. Ia maju dengan amarah yang meledak. Ia menahan tangan si pelaku yang telah lancang menyentuh Lexa dan menggelintirnya. Satu tangannya lagi bergerak menghantam rahang anak tak punya santun itu.


Selama ini Jack percaya orang bertindik dan bertato tak selalu memiliki sisi brutal, sebab ia sendiri memiliki tato di beberapa bagian tubuhnya. Ia juga bertindik, tapi ia sama sekali tidak tertarik untuk menjadi penjahat wanita. Ia sangat menghargai wanita dan begitu setia pada pasangannya. Tujuan ia bertato dan bertindik hanya untuk melindungi Lexa. Namun keliaran anak-anak muda itu agaknya dapat mengancam karakter Jack sebagai pria bertato serta bertindik. Jack tidak bisa membiarkan itu. Dia juga telah berani mencolek wanita kesayangan Jack. Jack marah.


Beberapa orang yang masih hilir mudik di lapangan tertahan di tempat untuk menyaksikannya. Lexa sendiri hanya memandangnya cemas, sepertinya dia tahu kenapa Jack harus melakukannya dan setuju untuk itu.


"Keparat!" Geram terus dihajar, pemuda itu maju dan langsung melayangkan tinju yang mengenai tulang pipi Jack.


Wajah Jack sontak terpelanting ke satu sisi. Denyutan nyeri di bagian itu tentu saja semakin membuat Jack berang. Sial, pemuda bertubuh mungil itu cukup kuat juga, pikirnya. Dendam mulai berkuasa dalam dirinya. Jack menampar wajah anak muda itu dengan seluruh tenaga, sampai si bocah benar-benar terkapar lemah di tanah. Jack pun membabi buta. Kali ini ia tidak ingin berhenti. Ia tidak akan lengah lagi. Ia memberikan perlawanan dengan terus menghajar pemuda itu. Jack terus menghantamnya, dan pemuda itu mulai tak berdaya, juga mengeluarkan banyak darah dari sudut bibir dan pelipisnya. Melihat kebrutalan Jack, teman-teman si pelaku tak berani mendekat. Jack akan membuat mereka mengenal siapa dirinya mulai malam ini.


Puluhan tinju telah Jack ciptakan malam ini dalam kemarahannya. Satu pukulan mengempaskan kekesalannya. Akan tetapi, sepertinya kekesalan Jack tak ada habisnya. Ia terus menghajar dan merasa sangat marah. Sampai sekelompok polisi datang, semua berbondong-bondong membubarkan diri.


"Jack, lari!" pekik Lexa, saat semua manusia di situ berlari kocar-kacir menyelamatkan diri.


Jack kalap.


Ia tak mau berhenti meski Lexa berusaha menarik bajunya. Bingung, Lexa tampak rela tak rela meninggalkan Jack yang masih memenjarakan musuhnya hingga hampir mati. Jack duduk di atas perut lawan dan terus meninju wajah lawannya. Akhirnya, Lexa tak ambil risiko dan itu bagus menurut Jack. Lexa melarikan diri begitu para polisi mendekat dan menangkap Jack. Mereka membawa Jack bersama segala kecemburuannya.


*****/////////


Dalam sel, Jack dikurung. Ia duduk bersama beberapa tahanan lain sambil merenung. Pengalaman masuk penjara kali ini bukanlah yang pertama baginya. Ia pernah merasakan jemunya hidup di balik jeruji besi meski hanya beberapa hari saja atas kasus yang sama. Ia menyerang seorang pria tak dikenalnya hanya karena pria itu menggoda Lexa dan Jack terbakar cemburu. Ia juga pernah dipenjara atas laporan dari atasan di tempatnya bekerja dulu dengan kasus serupa. Baku hantam selalu menjadi cara terbaik Jack untuk melampiaskannya. Jack telah terbiasa dengan semua ini. Ia menganggap semua ini adalah bagian dari hidupnya yang harus dijalani demi bertahan hidup, juga mempertahankan Lexa.


Jack mencuri dan melakukan segala cara demi Lexa, demi membahagiakan wanita itu. Ia bahkan rela dibayar untuk menghajar seseorang demi mendapatkan uang. Walaupun semua hal yang dikerjakannya itu buruk, dan Lexa pun tahu, Jack tak mau berhenti. Ia tidak bisa melakukan cara laincara yang baik, karena ia hanya pria bodoh yang tidak punya apa-apa. Namun justru karena ia sadar akan kebodohan dan kekurangannya itu, ia menjadi sangat takut kehilangan Lexa.


"Keluarlah, seseorang memberikan jaminan untukmu!" Seorang polisi datang membukakan pintu sel.


Pria berseragam putih biru itu bicara pada Jack. Kening Jack berkerut heran mencernanya. Seseorang memberikan jaminan untuk membebaskannya? Selama ini, selama beberapa kali menjadi tahanan, tidak pernah satu kali pun ada orang yang datang untuk itu. Ia bebas setelah masa hukumannya selesai—karena memang Jack ditahan dalam waktu singkat untuk tindak kriminal yang masih terbilang ringan, seperti berkelahi atau ugal-ugalan di jalanan.


Jack keluar dari jeruji besi mengikuti langkah sang polisi. Ia dibawa menuju ke meja penyidik dan Jack pun tak dapat menutupi rasa penasarannya lagi. Ia melihat seorang wanita berdiri di depan jendela dengan arah membelakanginya. Jack mengawasinya, mengawasi kemolekan tubuhnya dan merasa yakin wanita itu sudah salah tahanan. Dia memakai sepatu ber-hak sangat tinggi. Kedua kakinya yang mulus dibiarkan polos sampai ke atas paha. Mini dress ketat berwarna merah menyala membalut tubuhnya yang berisi. Dengan model tanpa lengan, kedua kulit lengannya yang putih pun ditelanjangi. Wanita itu menyanggul rambutnya tinggi-tinggi, berdiri dengan amat seksi.


Seluruh polisi di situ tercengang-cengang dibuatnya. Mereka aparat mendadak berubah menjadi otak penjahat begitu dihadapkan dengan pemandangan erotis itu. Mereka tampak tergiur dan terlihat begitu ingin menyentuhnya. Jack pun tepekur, akan tetapi tidak merasa tertarik untuk mengamati keindahan itu. Justru ia merasa mulai mengenali sosok itu hanya dengan menjelajahi bagian-bagian tubuhnya. Namun Jack meragu.


"Nyonya, itu keponakanmu!" Polisi yang mengeluarkan Jack dari sel memberi tahu.


Keponakan? Jack tercenung oleh satu kata itu. Sejak kapan ia punya bibi dan ... seseksi itu?


Si bibi misterius itu berbalik badan, menoleh ke belakang dan mulai menampakkan batang hidungnya. Perlahan tapi pasti, rasa penasaran Jack tertepis dan langsung berubah kaget begitu mengetahui dugaannya tidak keliru. Lexa! Woooik? Ada apa dengan wanita itu? Apa yang dilakukannya dengan datang ke kantor polisi tiba-tiba sepagi ini dan ... dia berdandan dengan sangat menonjol, juga ... aneh. Jack terpaku dengan mata melotot mengawasi wajah menor sang kekasih. Lexa mengoleskan bedak yang amat tebal di seluruh wajahnya. Dia juga mengoleskan lipstik merah berminyak dan pewarna hijau di kelopak matanya. Dia berhasil membuat Jack sulit mengenalinya. Dia sukses membuat dirinya sendiri menjadi seperti seorang wanita penggoda. Jack mengerjap-ngerjapkan mata, nyaris tak memercayai penglihatannya.


"Hey! Beri salam pada bibimu!" Salah seorang polisi menepuk punggung Jack hingga tersentak gelagapan.


Jack tergugu, bingung harus berkata apa, sementara ia masih tercengang-cengang dengan perubahan Lexa yang mendadak. Mengerti ini hanyalah rencana Lexa, maka Jack pun segera menyadarkan diri. "Aaaah, Bibi!" Ia berseru, berjalan mendekati bibi amatiran itu sambil memasang wajah sedih.


Jack merentangkan kedua tangannya bersiap untuk memeluk bibi palsunya demi menyempurnakan akting sang kekasih. Namun sebelum Jack sempat merapatkan diri, sebuah tamparan ringan tiba-tiba Lexa layangkan di satu pipi Jack.


Oh! Jack tertegun tanpa bisa berpaling ke arah wanita itu lagi. Jack mematung. Lexa menampar Jack di depan para polisi dan mereka semua pun serentak menyipit ngeri menyaksikan kesakitan yang harus Jack terima akibat aktingnya.


Akhirnya Jack memutar lehernya yang mendadak kaku. "Apa yang kau lakukan?" Ia berbisik dengan nada tertekan dan plaak! Oh! Lexa kembali mendaratkan tamparan di pipi Jack yang satunya.


"Dasar keponakan tidak tahu diri!" celetuk Lexa semakin membuat Jack tak mengerti apa yang sedang direncanakannya, dan sepertinya Jack mulai stres. "Apa hanya ini yang bisa kau kerjakan, hah?" Lexa berubah garang.


Jack memaksakan kembali kepalanya yang kaku untuk berputar menatap wanita itu sambil mengelus-elus pipinya. Dia mempermalukan Jack di depan banyak orang. Dia sedang berakting, tapi akibat dari tamparan yang harus Jack terima tidaklah main-main.


"Aku merawatmu sejak kau masih kecil, sejak ibumu pergi entah ke mana! Setiap hari aku memandikanmu dan memberimu susu, apa hanya ini balasanmu?" Lexa berteriak-teriak marah dengan suaranya yang lantang. Dia sangat ngotot. Bahkan demi dapat membebaskan Jack, dia sampai harus berperan total sambil membusungkan dadanya—pertanda kemarahannya atau juga ingin menantang.


"Apa yang kau lakukan?" Jack menekankan suaranya ke nada terendah sembari mengerling belahan dada Lexa yang luput dari balutan dress-nya. "Haruskah seperti ini?"


Tertegun, Lexa menurunkan pandangannya, lalu buru-buru menaikkan bahu pakaiannya ke atas untuk menutupi bagian yang ditunjuk Jack dengan mata. Jack benci melihat penampilannya yang seksi, tapi malah terlihat seperti wanita murahan. Setiap hari Lexa memakai celana ripped jeans dan t-shirt longgar atau hoddie yang terkadang juga dipakai Jack bergantian. Lexa hanya akan menggenakan rok mini saat beraksi menghukum para lelaki hidung belang. Namun kali ini dia membuat Jack muak sudah menjadi pusat perhatian kaum lelaki di kantor polisi.


Kembali menatap Jack, Lexa tiba-tiba menarik baju Jack di bagian dada hingga tersentak di dekat wajahnya. "Kau selalu berkelahi dan membuat bibimu ini kerepotan!" Dia kembali mengomel dengan topik rekaan. "Jika sekali lagi kau melakukan hal yang sama, kupotong milikmu!"


"Eeeuh!"


Ancaman Lexa sontak disambut desahan ngeri oleh para polisi. Mereka semua menyipit membayangkan bualan Lexa. Sial. Bukannya tertolong, Jack merasa Lexa sudah membunuh karakternya.


"Akan kuhabisi kau setelah ini!" cetus Jack tak tahan lagi. Ia bergumam dengan suara lirih. Jack tidak main-main.


Lexa tersenyum sinis. Dia menurunkan tangannya, kemudian berjalan dengan sangat seksi menuju ke meja sang penyidik. Dia berlenggak-lenggok di setiap langkah, dan mata para polisi di sekitarnya terpaku mengawasinya dengan tatapan bergairah.


Lexa menggumam seraya mengusap lehernya, memperlihatkan punggung telapak tangannya yang bertato—sepertinya sengaja untuk melumpuhkan pertahanan targetnya. "Di sini panas sekali," katanya dengan nada manja dan mendesah-desah.


Dia membuat Jack semakin tak tahan ingin marah. Selama ini Jack begitu menjaganya, tak membiarkan pria lain melihat secuil kulitnya. Namun demi mengeluarkan Jack, Lexa berani melanggarnya.


"Oh! Maaf jika Anda kepanasan. Pakailah ini!" Polisi yang bertugas menyelidiki kasus para tahanan itu sigap berdiri dan menawarkannya kipas kecil otomatis yang menggunakan baterai.


"Terima kasih." Lexa menerimanya dengan kerlingan genit. Dia membuat dada Jack panas. "Ngg ... Lalu, apakah aku bisa membawa keponakanku hari ini juga?" Dia merayu dengan tatapan sedih, seolah-olah telah kehabisan akal. Sepertinya Lexa sengaja membakar kecemburuan Jack untuk memberikan hukuman.


"O-oh, ya, tentu saja!"


"Sungguh?"


Napas Jack tersedak keluar begitu Lexa duduk di atas meja sambil melantunkan satu kata itu dengan suara mendayu-dayu.


"Oouh, kau baik sekali!" Lexa memukul dada pria itu dengan ayunan manja dari tangannya. "Kau juga sangat imut!" serunya seraya mencolek dagu sang polisi yang tampak hanya sanggup menelan ludah dibuatnya.


Senyuman sinis terlepas dari bibir Jack menyaksikan adegan menggelikan itu. Konyol. Ia tidak percaya Lexa akan melakukannya.


"Baiklah, aku pergi, yaa ...!" Lexa berdiri dan melambaikan tangannya secara merata kepada semua anggota polisi di sana bak ratu dunia.


Setelah berbalik ke arah Jack, wajahnya yang centil berubah mengancam. Dia berjalan mendekati Jack sambil memancarkan teror lewat matanya. "Ayo pergi!" celetuknya menarik jaket jins yang dikenakan Jack dengan paksa.


Dia sangat membahayakan!


*****//////


"Dasar tidak tahu diri! Aku sudah menyelamatkannya, tapi masih saja salah!" Lexa menggerutu sendiri di depan cermin rias, sementara satu tangannya bergerak menghapus sisa make-up di wajahnya dengan kapas basah.


"Menyelamatkanku, kau bilang?" Di belakangnya, Jack menyahuti dongkol sembari berkacak pinggang. "Dengan cara seperti itu, kau bisa-bisa membuatku dipenjara selama belasan tahun!"


"Terus saja kau cemburu seperti itu! Terus saja!" Lexa memekik gerah.


Sikap Lexa yang apatis menambah kekesalan Jack. Ia menghampiri wanita itu dan memaksa badannya untuk berbalik. Mata bulat sang kekasih begitu berani menghadapi kobaran amarah di mata Jack. Jack tidak suka.


"Kau tahu aku akan membunuh semua pria yang mendekatimu! Jadi, jangan sekali-kali kau lengah dalam menjaga dirimu, Lexa!" Jack mempertegas untuk kesekian kalinya. Setelah itu Jack berbalik menuju pintu.


Namun Lexa berteriak menghentikan langkahnya, "Aku merindukanmu semalam!"


Jack tertahan di ambang pintu kamar, tak bisa mendengar apa-apa lagi setelah pengakuan Lexa itu merasuki otaknya dengan sangat kejam, menegunnya.


"Aku berpikir, jika kau membunuh mereka, kau akan dipenjara seumur hidup atau bisa saja dihukum mati. Lalu, apa kau tidak memikirkan bagaimana aku harus melewati setiap malamku selama itu?" Suara Lexa kembali merasuki otak Jack dan memaksanya berpikir keras. Emosinya tiba-tiba melemah.


Jack berbalik dan langsung tercenung melihat mata Lexa yang sayup membendung cairan.


"Berhentilah cemburu, kendalikan itu."


"Apa sebelumnya kau pernah melihatku mampu melakukannya?"


"Kecemburuanmu itu selalu membuat masalah. Aku bosan! Apa kau pikir dengan menghajar mereka, kau merasa hebat? Jika kau cemburu, tidak perlu memberi tahu dengan cara melukai orang lain. Cukup katakan baik-baik bahwa kau tidak suka, aku pasti tahu alasannya. Jika kau kesulitan meredam, pergi saja!


"Atau kau bisa mencari hiburan lain, bermain-main dengan wanita lain, misalnya. Ya, mungkin itu bisa sedikit membantumu. Sebagai pria, kau pasti akan merasa lebih hebat daripada harus berkelahi. Silakan saja, aku tidak apa!"


"Apa?" Jack mengernyit tak habis pikir. Saran yang Lexa berikan justru semakin menambah kegeramannya. "Aku tidak mengerti apa yang ada di otakmu!"


Lexa berpaling membuang muka.


"Apa kau benar-benar ingin aku bermain dengan wanita lain hanya karena bosan dengan kecemburuanku, hah? Sayangnya aku tidak tertarik!" tegasnya menyita perhatian Lexa kembali. "Pria yang punya banyak wanita, bukan berarti dia hebat. Justru itu karena dia lemah, tidak bisa menjaga hatinya hanya untuk satu wanita saja. Dan cemburu adalah caraku menjagamu. Aku tidak peduli kau tidak suka. Aku akan tetap seperti ini!"


Lexa meluluhkan pandangannya masih sambil menyandarkan sedikit pantatnya di tepian meja rias. Jack berharap, dia mengerti akan sangat sulit bagi Jack meredam emosinya di kala cemburu. Wanita itu hanya diam, tidak berkata apa-apa lagi, kemudian memutuskan untuk hengkang.


"Percuma bicara denganmu!" gumamnya pelan sembari mengurai rambutnya yang panjang sepinggang.


"Asalkan jika kau berjanji tidak akan pernah meninggalkanku dan membiarkan pria lain menyentuhmu!" sahut Jack sontak saja mencegah langkah Lexa seketika.


Lexa berbalik memandangnya.


Jack pun meneruskan, "Aku akan berusaha mengendalikannya."


Terdiam sesaat membenamkan janji Jack, Lexa mengulas senyuman tipis. "Memangnya apa pernah aku meninggalkanmu, hah? Dasar bodoh!"


Senyuman Jack akhirnya tersungging begitu merasa keadaan mulai mencair.


*****////


Jack membiarkan Lexa mengobati luka-luka di wajahnya akibat serangan pemuda semalam, sesaat setelah mereka saling bersitegang. Jack mengalami beberapa luka ringan, sedangkan anak muda yang telah lancang memukul pantat Lexa dilarikan ke rumah sakit karena menderita cedera parah. Jack tidak peduli. Setelah meluapkan kemarahannya, Jack selalu bisa merasa lega.


Ia terus mengawasi Lexa yang berdiri di hadapannya, tengah merekatkan plester ke rahang Jack sambil terus mengomel.


"Setiap bulan kau membuat wajahmu seperti ini. Lama-lama aku tidak akan bisa mengenali wajahmu lagi!"


Jack membuang sekumpulan asap dalam mulutnya ke arah samping. Ia tengah menikmati saat-saat bersensasi sembari duduk di ujung meja makan. Kegurihan dan sedikit rasa manis yang ia dapatkan dari tembakau dengan campuran cengkih dalam sebatang rokok, membuatnya rileks. Candu yang diakibatkannya ketika menyalakan rokok, lalu mengisapnya dalam-dalam telah menjadi kebutuhan baginya. Jack ketagihan. Sama seperti halnya Lexa, Jack gelisah bila tak menjamahnya.


Lexa menarik wajah Jack dengan paksa saat Jack berpaling meniupkan asap lebat dari mulutnya. Dia serius mengobati luka Jack kendati Jack tidak pernah memintanya. Dia sangat peduli pada Jack, dia sangat mencemaskan Jack. Jack senang, meski terkadang ia bengap mendengar celotehan yang itu-itu saja dari mulutnya.


Lexa menekan plesternya agar benar-benar merapat di kulit wajah Jack. "Kapan kau mau berhenti? Aku tidak mengerti sama sekali denganmu!" celetuknya bernada kesal, seraya menepuk plester yang menutupi luka Jack itu dengan gemas.


Jack tersentak kecil. Lexa mengobati, tapi juga membuatnya semakin sakit. Ia kembali mengisap rokoknya dan menahan asapnya dengan mengatupkan sedikit mulut. Dalam beberapa detik, ia embuskan asap mengepul secara perlahan ke arah wajah Lexa dengan sengaja dari mulutnya. Sontak saja Lexa berpaling gelagapan, dan Jack tertawa geli menggodanya.


"Jack, seriuslah!" Lexa memukul bahu Jack kemudian memilih berlalu dari hadapannya.


Namun Jack sigap menarik tangan wanita itu dengan cepat, hingga kembali terempas ke arahnya dan terduduk di pangkuannya. Jack melingkarkan satu tangannya ke perut Lexa untuk memenjarakan sang kekasih.


"Jangan marah-marah terus. Aku tahu kau membebaskanku bukan untuk itu!" Jack menggoda dengan suara merayu, mengecup mesra punggung kekasihnya.


Malu, Lexa menyiku dada Jack dengan manja. "Enyahlah," cetusnya melarikan diri.


Jack tak dapat menahan tawanya. Walaupun kerap bersikap tegas dipadu ketus, Lexa tetaplah memiliki sisi yang lemah sebagai wanita. Jack paling suka melihat sang istri tersipu akibat digodanya. Apalagi melemah dalam urusan bercinta. Ia melihat wanita itu berjalan ke arah pintu. Lexa memperhatikan kondisi luar dengan penuh tanya dari kerutan di keningnya.


"Ke mana Son dan Nil? Tadi mereka masih di sini. Aku lupa tidak memberi mereka makan karena buru-buru menjemputmu."


"Aku menyuruhnya bekerja," timpal Jack menarik pandangan Lexa ke belakang.


"Apa? Kau menyuruh mereka bekerja?"


Jack mengangguk, lalu memilih untuk kembali mengisap rokoknya.


"Jack, Nil baru saja dikeroyok atas aksi pencuriannya minggu lalu dan sekarang kau meminta mereka untuk turun ke jalan lagi?" Wanita itu selalu saja marah-marah, Jack gerah. "Seharusnya kau tidak biarkan itu! Nil butuh waktu untuk membuat semua orang bisa melupakan wajahnya. Bagaimana jika seseorang mengenalinya dan kembali menghakiminya, hah?"


Lexa maju beberapa langkah dan kembali meneruskan protesannya. "Jika kali ini mereka gagal, aku tidak mau menemui polisi-polisi itu lagi!"


Jack mengapit rokoknya dengan jari tengah dan telunjuk, menjauhkan benda itu dari mulut. "Istri, tenanglah! Aku hanya menyuruh mereka menyelidiki rumah yang akan menjadi target kita. Akan ada operasi besar dalam waktu dekat ini, tidak untuk mencopet lagi. Sudah tiga bulan listrik di rumah ini belum dibayar, beberapa hari lagi kita akan gelap-gelapan. Kita tidak bisa hanya dengan mengandalkan dompet orang lain! Aku juga tidak akan membiarkanmu menggoda paman-paman hidung belang itu lagi. Jadi, tenang saja!" sela Jack menjelaskan dengan santai.


Jack meneruskan, "Lagi pula ... jika aku tidak menyuruh mereka pergi, bagaimana hari ini bisa menjadi milik kita?" Ia menatap Lexa dengan penuh maksud.


Mengerti, Lexa mengembuskan napas besar diselingi senyuman kecut, sambil berkacak pinggang. Ya, itu karena di kabin ini hanya ada satu kamar dan tanpa pintu. Jadi, selama ini, untuk bisa melakukan apa pun berdua, mereka harus mengusir Son dan Nil.


Ketika Lexa mulai berjalan, Jack pun mulai waspada. Jack tahu diam-diam wanita itu menjelma menjadi musuhnya dalam sekejap. Bibirnya terkatup rapat akan tetapi Jack merasa wanita itu berbisik jahat di telinganya. Lexa mengambil putung rokok yang masih menyala, yang Jack angkat di depan mulut dan baru akan diisapnya. Jack tertegun. Namun ia tahu, permainan sudah dimulai. Lexa mengisap rokoknya, memberi tahu sebuah rencana nakal dari sorot matanya. Sedikit menggembungkan kedua pipi, Lexa menahan asap dalam mulutnya. Dia mematikan rokok di tangannya secara menyelinap di atas meja dekat Jack sambil mencondongkan wajahnya ke depan, lalu menyembulkan asap tebal dari mulutnya ke wajah Jack dengan sangat ahli. Jack pun terkesiap kecil.


Kemudian wanita itu berbisik mesra, "Bedroom Warfare."


Senyum Jack terlepas begitu Lexa menyebut judul lagu dari band kesayangannya itu untuk memberi kode. Tak mau membuang-buang waktu lagi, Jack segera menyerangnya dengan menundukkan perut Lexa di pundaknya. Jack mengangkatnya, menggotongnya dan membawanya masuk ke kamar. Lexa hanya berteriak sambil tergelak.


Tak hanya di tengah malam, setiap saat adalah milik mereka berdua. Saat musuhnya melemah, Jack tahu sebenarnya dia menjadi lebih keras. Ia sangat suka ketika lawannya mulai sibuk dan Jack menjadi amat resah. Jack seakan tidak memiliki kesempatan untuk melawan. Mereka bertempur, tapi bukanlah pertempuran yang adil saat musuhnya mulai memengaruhinya lewat bahasa tubuh. Mereka berperang. Mereka melakukan tarian yang sangat berbahaya. Itulah kenapa Jack suka dengan lagu itu. Lagu yang seolah sedang menceritakan bagaimana dirinya dengan Lexa setiap hari.