Black in Love

Black in Love
Chapter 15



"Ayah pulang!"


Badan Lexa yang lunglai langsung menegak. Rasa malas dan lelah yang menggelayutinya, sirna seketika Eunbi berteriak untuk kedatangan ayahnya, tepat pada pukul empat sore. Setelah menemani gadis itu bermain, Lexa juga menyempatkan diri untuk berkeliling rumah. Ia bersama Eunbi menjelajahi seisi rumah yang mewah. Ketika melihat benda berharga seperti jam tangan mahal yang terpajang sembarangan di meja hias, timbul naluri jahat di hati kecilnya. Lexa nyaris mencurinya, akan tetapi senyum yang tersungging di bibir Eunbi melemahkan niatnya begitu saja. Gadis itu juga meminta Lexa untuk membuatkannya makan siang. Lexa menemukan sereal di dalam lemari es, jadi hanya itulah yang bisa Lexa sajikan untuk menu makan siang mereka, karena ia juga tidak pandai memasak.


"Kau sudah melihatnya?" Lexa tak sabar ingin mendengar kabar baik dari mulut Junho.


Junho beralih pandang dari Eunbi. "Eh, kau masih di sini rupanya! Baguslah."


Lexa mendengus, muak dengan basa-basi si duda. "Kau tidak lupa janjimu, kan? Aku sudah menjaga putrimu seperti yang kita sepakati!"


"Ah. Ya, aku pergi ke rumah sakit."


"Lalu, bagaimana keadaannya? Apa kau bicara dengan dokternya?"


Pria itu berjalan masuk dan Lexa pun mengikutinya. "Dia kabur dari rumah sakit," katanya, mengejutkan Lexa seketika.


"Apa?"


"Tapi tenanglah, aku sudah membayar seluruh sisa biaya perawatannya. Pihak rumah sakit tidak akan mencari suamimu."


Lexa tercengang-cengang di tempat. Jack kabur dari rumah sakit? Apakah itu benar? Mengapa dia melakukannya? Apakah jangan-jangan ... Jack tahu Lexa pergi merampok? Bagaimana ini? Kabar yang Junho sampaikan sekejap menyelinapkan kekhawatiran dalam diri Lexa. Ia tercenung tak berkutik memikirkan kondisi sang suami, juga kemarahannya jika sampai Jack benar-benar tahu Lexa tidak di rumah.


"Bagaimana dengan keadaannya?" gumamnya dengan suara lirih. Lexa amat cemas. Napasnya tak lagi terasa berembus dengan lancar.


"Apa ... dia tahu yang kau lakukan ini?"


Lexa berpaling pada ayah Eunbi yang telah terduduk di sofa sambil menyilangkan kaki. Matanya menyipit, seakan melempar curiga.


"Atau jangan-jangan ... kalian adalah sekomplotan?" lanjutnya kembali melontarkan prasangka. "Di mana kalian tinggal? Apa kalian masih punya orang tua?"


"Berhentilah bertanya dan biarkan aku pergi!" Lexa memekik geram. "Seseorang menusuk perutnya. Siapa yang akan merawatnya jika aku di sini?"


Junho melepaskan punggungnya dari sandaran. "Jika aku membiarkanmu pergi, apakah itu akan menjamin kau tidak akan memasuki rumah yang lain?" Junho menyela, dan itu cukup untuk menerdiamkan Lexa hingga beberapa saat. "Tidak, kan?" Dia menunjukkan ponselnya, memberi tahu foto Lexa masih tersimpan di sana.


Ah, sialan. Apa yang sebenarnya pria itu inginkan? Kenapa mempermainkan Lexa seperti ini? Lalu Jack, bagaimana jika kondisinya belum membaik? Lexa tahu, saat ini Jack tentu mencarinya. Jack akan memaksakan dirinya untuk menemukan Lexa. Bisa saja Jack akan mendatangi Lexa di rumah ini. Lexa merasa itu tidak bagus untuk kondisi sang suami saat ini.


"Kenapa diam saja? Kau belum mandi, ya?" Junho menegurnya dari lamunan. "Sayang, tunjukkan dia kamar mandi di rumah ini. Ayah akan mencarikan pakaian ibumu yang ada untuk dia pakai."


"Baik, Yah. Kakak, ayo!"


"Oh?"


*****/////


Eh? Dia meninggalkan ponselnya di atas meja ruang tamu. Satu-satunya alasan yang membuat Lexa tertahan di sini, adalah foto dirinya yang tersimpan di ponsel itu. Jika Lexa menghapusnya, maka urusan selesai. Ia bisa pergi dengan tenang, tanpa mencemaskan wajahnya yang harus terpampang di setiap sudut jalanan sebagai buronan. Bagus sekali.


Lexa mengambil benda itu. Ia merasa sangat beruntung terlebih ponselnya tak menggunakan password pribadi. Dengan mudah, Lexa menjelajahi seluruh isi folder dalam ponsel dengan jarinya. Ia buka satu per satu, berusaha menemukan file foto yang dijadikan bukti. Namun ... tidak ada. Ponsel itu tidak memiliki banyak data yang tersimpan, seharusnya mudah bagi Lexa menemukan apa yang dicarinya, tapi tetap saja tidak ditemukannya.


Geram, Lexa berbalik ke belakang begitu mendengar suara pintu terbuka. Junho keluar dari kamarnya. Lexa pun tak dapat mencegah dirinya lagi untuk bertanya.


"Di mana kau simpan fotoku?"


"Oh? Foto apa?"


"Kau mengambilnya untuk menahanku di sini! Apa kau sudah mencetaknya? Apa kau berniat untuk menyebarkannya hari ini?"


"Oh, itu. Tidak ada," jawabnya enteng. Si duda mulai berjalan mendekat.


"Aku ingin kau menghapusnya, dan aku berjanji padamu tidak akan merampok lagi. Kau puas?"


Pria berlesung pipi ketika tersenyum itu menyelami mata Lexa, kemudian berkata, "Tapi aku memang tidak menyimpan foto apa pun. Aku berbohong untuk menggertakmu saja."


Pengakuannya itu tentu saja membakar kemarahan Lexa. "Kenapa kau lakukan itu? Seseorang sedang membutuhkanku, tapi kau malah mempermainkanku!"


Junho mengembuskan napas besar. Lalu berujar, "Ada kalanya seseorang harus berada di titik terbawah untuk bisa naik ke atas. Kau sangat berani datang ke sini. Aku ingin lihat, apa kau juga berani bertanggung jawab? Maaf jika caraku ini membuatmu kebingungan. Tapi aku melakukannya karena aku tahu, kau itu sebenarnya wanita baik-baik."


Oh!


Kalimat terkahir yang dihaturkan pria berpenampilan maskulin itu serasa menepuk kepala Lexa. Perasaan kesal yang membumbung akibat terus ditahan di tempat ini tiba-tiba menguap begitu saja.


"Jika kau mau pergi, pergilah. Kau bisa lakukan itu, kan, saat aku tidak di rumah? Kau bisa mengambil seluruh harta benda yang ada di rumah ini. Kau bisa menipu Eunbi. Tapi kenapa tidak kau lakukan?"


Pria itu mengatakan sederet pertanyaan yang membuat Lexa sendiri bingung mencernanya. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri seperti apa yang Junho ucapkan. Mengapa? Lexa tidak mampu menemukan jawabannya.


"Jika foto itu yang kau takutkan, aku rasa bukan. Kau punya banyak pilihan. Kau bisa menggunakan semua cara untuk alasan mengancamku supaya aku menghapus fotomu. Mungkin ... dengan menyandera Eunbi?"


Lexa tidak percaya ini. Dia memberikan banyak ide secara tidak langsung, tapi Lexa justru merasa tidak tertarik untuk melakukannya. Ia tidak pernah terpikir untuk melakukan semua itu sebagai cara meloloskan diri. Kenapa Lexa tertahan di sini? Si duda itu menyangka sebenarnya Lexa adalah wanita baik-baik. Aneh sekali.


Pria itu kembali mengecam, "Keadaan telah memaksamu. Aku ingin membantumu keluar dari situasi itu. Kau bukan orang jahat. Kau bukanlah penjahat. Tanggung jawabmu adalah buktinya. Dan janjimu, adalah tanggung jawabmu."


Keangkuhan meluruh dari dalam dirinya. Keinginan kuat untuk bisa terlepas dari tahanan ini tak lagi terasa membelenggunya. Ketika Junho menilai Lexa sebegitu berbedanya dari pandangan orang-orang selama ini, harus Lexa akui, dirinya tersanjung.


Pria itu berlalu dari hadapan Lexa tanpa menunggu balasan keluar dari mulut Lexa untuk menimpalinya. Dia keluar menuju ke halaman belakang dan duduk di kursi santai.


Selama ini, tidak pernah ada yang mampu melihat kebaikan pada diri Lexa selain hanya Jack saja. Semua orang, bahkan ketika Lexa berperilaku baik, mereka tetap saja memandangnya buruk. Bahkan ia ditolak. Lexa dihina dan dipandang kotor. Namun dia, Junho, bagaimana mungkin dia bisa berkata demikian setelah memergoki Lexa tengah merampok di rumahnya?