
Sesampainya di kabin, Jack telah menunggunya di ruang tamu. Langkah Lexa tertahan di ambang pintu, senyumnya lenyap melihat sorotan tatapan pria itu begitu tajam padanya. Jack, hatinya berbisik dan mendadak ketenangan dalam hatinya sirna.
"Dari mana?" Pertanyaan dingin itu dilontarkan Jack di langkah pertama Lexa memasuki rumah.
"Bukan sesuatu yang penting."
"Kau meninggalkanku untuk sesuatu yang tidak penting?"
Berpikir untuk mengalihkan kecurigaan Jack dengan jawaban kosong, Lexa malah terjebak dengan ucapannya sendiri. Bola mata Jack beralih pada topi yang masih dikenakan Lexa dengan tatapan menyelidik. Buru-buru Lexa melepasnya dari kepala sebelum benar-benar terucap sebuah dugaan dari mulut Jack yang akan memperkeruh keadaan.
"Siapa orang itu? Apa dia seorang pria?"
Lexa tidak ingin berkelit lagi. Ia terdiam karena merasa itu lebih baik. Jack sudah mulai berprasangka, dia akan lebih buruk lagi jika Lexa menjawabnya.
"Seseorang pasti telah mengacaukan pikiranmu. Kau berubah sejak kembali dari rumah itu. Apa ... dia adalah pemilik rumah itu?"
Lexa mendengus. "Daripada sibuk menyalahkan orang lain, lihatlah apa diri kita ini sudah benar?"
"Lexa!" Jack sigap berdiri dari kursinya. Dia marah.
"Aku ingin istirahat," sela Lexa beranjak masuk.
Lexa tahu, ini tidak akan mudah. Ia sangat mengenal Jack. Pria itu terlalu berkuasa atas dirinya. Selama ini Lexa begitu menjaga dirinya dari hal-hal yang sekiranya bisa memicu kemarahan pria itu. Apalagi saat Jack cemburu, dia akan melakukan hal yang paling buruk sekalipun. Itulah kenapa Jack tidak pernah beranjak dari sisinya bahkan walau hanya untuk pergi bekerja. Selain khawatir seseorang mengganggu Lexa, pria itu juga menaruh kecurigaan yang besar apabila sampai membiarkan Lexa seorang diri. Dia bisa saja menyangka Lexa bermain-main di belakangnya. Cinta telah menguasai emosi dan pikiran Jack. Dia menjadi sosok yang mengerikan saat bicara tentang cinta.
Namun, kali ini—anehnya, Lexa tidak takut lagi. Semenjak ia mendapat ketenangan dari kepercayaan yang Junho beri, ia menjadi tidak peduli pada kemarahan Jack. Ia merasa sudah berada di jalur yang benar.
Jack masuk, langsung duduk di hadapan Lexa yang termangu seorang diri di atas kasur.
"Katakan, apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu memaafkanku?" Jack bersuara, nadanya menjadi lemah.
Lexa melihat harapan besar di mata pria itu.
"Aku tentu telah membuat kesalahan dan pasti itulah alasanmu menjadi seperti ini. Kau berubah, Lexa. Kau sudah tidak lagi mempedulikanku. Kau sudah tidak lagi melihatku. Mungkin menurutmu aku sudah tidak seperti dulu lagi, meskipun aku tidak merasa begitu. Aku mohon, maafkan aku untuk itu. Sekarang bisakah kita berbaikan? Aku sangat merindukan kita yang dulu."
Sayangnya Lexa tak benar-benar merasa Jack menyadari dirinya. Dia tahu Lexa ingin mereka berubah dari seorang pencuri, tapi Jack tidak menjanjikan itu. Itu artinya mereka tetap akan seperti ini.
Lexa pun berpaling dengan enggannya. "Aku sedang tidak ingin membicarakan ini, Jack."
Pundak Jack melemas. Dia terus mengawasi Lexa dengan mata lemahnya, akan tetapi Lexa tidak ingin melihatnya terlalu lama. Lexa takut ia tidak akan berdaya, lalu janjinya akan terlupa. Mereka terdiam, saling mematung merasakan jarak yang mulai terbentuk.
"Agrh!"
Tiba-tiba mengerang, sontak pandangan Lexa beralih cepat pada Jack. Pria itu merintih kesakitan. Lexa amat terkejut melihat darah yang keluar membasahi kausnya. Dari luka di perutnya!
"Jack!"
"Akh."
"Astaga! Lukamu berdarah! Apa yang terjadi?"
Lexa panik seketika. Tangannya bergerak cepat menyingkap ujung kaus yang dikenakan Jack untuk memeriksa lukanya.
"Tidak usah." Jack menolak, dia menyingkirkan tangan Lexa.
"Jack, kau berdarah!"
"Biarkan saja!" celetuknya terus menahan tangan Lexa agar tidak menyentuh perutnya. Dia tampak kesal.
"Jack, biarkan aku memeriksanya!" Lexa memohon. Matanya mulai berair. Kali ini Lexa sungguh mencemaskan keadaannya. Darah yang keluar dari luka tusuknya cukup deras, bagaimana mungkin Lexa bisa mengabaikannya.
Beberapa detik mengartikan kecemasan di mata Lexa, seolah memastikan bahwa itu benar, akhirnya Jack pun membiarkannya.
Lexa beranjak untuk mengambil air bersih dan juga sepotong kain. Ia meminta Jack menanggalkan atasannya, kemudian Lexa pun bertindak membersihkan darah di lukanya. Mereka duduk berhadapan. Darahnya terus mengalir keluar dari celah jahitan. Ada secuil bagian kulit di lukanya yang robek. Ia tidak tahu kenapa itu bisa tiba-tiba terjadi, padahal sebelumnya ia sendiri telah memastikan luka Jack itu telah mengering.
"Apa kita harus ke rumah sakit? Sepertinya, jahitannya robek."
"Aku tidak apa." Jack malah terlihat lebih tenang.
"Tidak apa bagaimana? Ini pasti sangat sakit. Ah, ya ampun ... kau mengeluarkan banyak darah, Jack!"
"Aku akan mempertaruhkan nyawaku demi dirimu, Lexa."
Oh? Lexa terpaku oleh pengakuan Jack. Ia menatap pria itu dan melihat kesungguhan di matanya. Mungkinkah Jack sengaja melukainya, menyobek lukanya ini dengan kukunya untuk mendapatkan kembali perhatian Lexa? Ya Tuhan, dia sangat nekat.
Lexa terkesiap begitu Jack mengempaskan diri memeluk Lexa erat-erat, bahkan meremasnya.
"Aku merindukanmu, Istri. Aku sangat merindukanmu." Suaranya bergetar, hampir menangis.
Ya Tuhan, apa yang sudah Lexa lakukan? Jack tampak amat menderita oleh sikap Lexa. Lexa termangu-mangu mencerna apakah dirinya sudah terlalu mengabaikan sang kekasih?
Jack menjauhkan diri, kemudian menelusupkan satu lengannya ke tengkuk Lexa. Jack menariknya dan langsung menekankan ciuman di bibir Lexa dalam sekejap. Oh! Kaget, secara spontan tangan Lexa membuat gerakan mendorong di lengan pria itu. Lexa ingin menolaknya, akan tetapi Jack semakin memperkuat ciumannya. Dia terus menekan dan mempererat dekapan, menarik wajah Lexa ke arahnya, membuat Lexa kesulitan melepaskan diri.
"Jack, hentikan!" Suara Lexa menghilang-hilang karena Jack masih saja berusaha memaksakan diri untuk membungkam bibir Lexa dengan mulutnya. Dia membuat seluruh bagian bibir Lexa basah kuyup, hingga ke pipi-pipi. Dia penuh emosi. Lexa bisa merasakan kali ini Jack sangat berambisi.
Sampai mendadak seluruh lampu di kabin padam, Jack pun akhirnya menyudahi ciumannya. Dia melepaskan Lexa yang tersengal-sengal mengelap bibirnya. Adapun sedikit rasa sakit di bagian sudut bibirnya akibat sesapan Jack yang kuat. Lexa ingin marah, tetapi kondisi sedang tidak mendukungnya.
"Sial. Mereka memadamkan listriknya. Sudah lebih dari tiga bulan kita belum membayarnya."
Ah? Benar juga.
Jack beranjak mencari sesuatu di laci. Dia keluar dari kamar lalu kembali membawa lilin sebagai penerangan pengganti. Jack meletakkannya di meja rias yang ada di dalam kamar, dan Lexa pun mulai dapat melihatnya samar-samar. Lexa yang tengah meringkuk ketakutan sembari memeluk kedua lututnya sendiri, masih di tempat yang sama.
"Aku tidak suka gelap," bisik Lexa pada diri sendiri, dan Jack tahu itu.
Jack pun berjalan mendekatinya. Kembali duduk di hadapannya. Dia pegang tangan Lexa, berujar, "Tenanglah, aku akan mencari cara untuk mendapatkan uang. Tidak apa, kan, kau di sini sendirian? Son belum kembali, sepertinya dia tidak akan pulang malam ini. Kita tidak bisa menunggu sampai besok. Aku harus dapatkan uangnya malam ini juga."
"Tidak, Jack. Tidak dengan mencuri."
Jack mengernyit. "Apa maksudmu tidak?"
"Kita harus berubah mulai sekarang."
"Jack, percayalah, Tuhan akan menolong kita."
"Lexa, hentikan!" Jack membentak. "Kita sedang dalam keadaan terdesak! Jika tidak mencuri, kita akan mendapatkan uang dari mana? Apa hanya dengan berdoa, lampu di rumah ini akan menyala? Mereka juga mematikan saluran airnya!" Jack mulai berteriak-teriak geram.
"Kita akan mencari pekerjaan." Suara Lexa bergetar. Ia mulai ketakutan. Selain karena ruangan amat gelap, ia takut Jack akan semakin marah. Namun Lexa tidak bisa menahan diri untuk mencegah pria itu mencuri.
"Butuh berapa bulan untuk bisa mengumpulkan uang? Kita hanya akan diterima sebagai buruh!"
"Jack, semua akan baik-baik saja! Tolong sekali ini saja, dengarkan aku!" Lexa berusaha menenangkan Jack sambil menggenggam kedua lengan pria itu. Berharap pria itu mau mengerti.
"Oke, baiklah, terserah kau saja!" Jack mengempaskan duduknya yang semula tegang. "Aku akan duduk di sini. Semoga Tuhan mengirim seseorang untuk membantu kita. Entah petugas listrik atau siapa pun itu."
*****/////
Detik demi detik berlalu. Dalam gelap kini, keduanya membisu. Keheningan malam ini terasa begitu berbeda. Mereka melewatinya dengan hanya saling terdiam berjauhan saja. Jack duduk bersandar di dinding sambil mengotak-atik rubik tanpa semangat, sedangkan Lexa memilih merebahkan punggung di kasur lantai. Sesekali Jack mengawasinya, tetapi Lexa melamun tanpa ingin memandang ke arahnya sedikit pun. Sangat menjemukan.
Seandainya dia tahu, Jack amat merindukannya. Jack menahan hasrat itu. Ia berharap sekali bisa melewati malam ini dengan sesuatu yang mesra. Namun perubahan pada diri Lexa tak ia tampik mengerahkan rasa takut dalam diri Jack. Mungkin ia bisa saja marah, tapi ia khawatir Lexa akan lebih marah dan semakin menjauh. Maka Jack tak akan lagi memaksanya. Ia akan membiarkannya sementara waktu sampai wanita itu menyerah, saat dia sadar bahwa memang tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan selain menjalani hidup yang seperti ini. Jack putuskan untuk mengalah saat ini. Ia akan menuruti istrinya selama itu bisa membuat Lexa tetap bersamanya.
Pukul 23:00.
Lexa dan Jack masih betah saling mengunci bibir. Tidak saling bicara, juga tidak saling beranjak. Jack ingin memulai percakapan, tapi tampaknya Lexa sedang tidak berselera. Ia tidak tahu sampai kapan mereka akan seperti ini, seperti orang asing. Jack berharap ia mampu mengembalikan semangat Lexa padanya meskipun ia harus mulai bekerja. Ya, Jack akan mencari pekerjaan jika itu yang Lexa inginkan. Karena akhirnya Jack berpikir, pasti karena itulah Lexa mulai menjauhinya. Dia ingin suatu perubahan. Dia ingin Jack tidak lagi mencuri. Hanya itu.
Lexa tiba-tiba meringkuk memeluk dirinya sendiri. Kendati kondisi ruang temaram, Jack masih mampu melihatnya dengan jelas. Semakin ia mempertajam penglihatan, ia mampu melihat wanita itu sedang kesakitan.
"Lexa?" Jack melejit ke tempat Lexa. Wanita itu meremas-remas perutnya sendiri sambil meringis menahan sakit. "Kau baik-baik saja, Istri?"
"Aku tidak apa-apa." Lexa menjawab dengan suara lemah.
Jack menyapu seluruh rambut Lexa ke belakang. "Kau sangat pucat. Apa kau lapar, hah? Kau menahan sakit di perutmu?" Ia kesal jika itu memang benar.
Lexa menggeleng. "Jangan khawatir. Kita sudah biasa seperti ini, kan."
Sontak saja Jack terbelalak, geram dengan jawaban entengnya. "Dasar bodoh! Tunggulah di sini, aku akan segera kembali."
Jack beranjak dari sisi Lexa. Ia mengambil dompetnya di saku celana yang menggantung di belakang pintu. Tersisa enam ribu won saja. Hanya cukup untuk seporsi makanan. Lalu apa yang akan mereka makan besok? Mendapatkan pekerjaan pun, tidak akan langsung menerima gaji. Jika Jack menuruti Lexa untuk tidak mencuri, mereka akan kelaparan. Apakah Jack harus melakukannya diam-diam? Tentu Lexa akan bertanya dari mana Jack mendapatkan uang, saat itu Jack tidak akan mampu menjawab. Ya Tuhan, Jack bingung sekali.
Tak ingin membuat Lexa terlalu lama menunggu, Jack pun mengambil kausnya dan pergi.
*****/////
"Son, apa kau melihat Jack? Tadi dia pergi, sepertinya untuk membeli makanan. Tapi sampai sekarang dia belum juga kembali."
Hampir satu jam Jack pergi. Lexa khawatir, sebab pria itu masih dalam kondisi terluka. Lantaran mencemaskan keadaan Lexa, Jack pergi begitu saja tanpa memikirkan dirinya sendiri. Beberapa menit kepergian Jack, Lexa tak tenang memikirkannya. Ia memaksakan dirinya yang lemas tak bertenaga—karena ia memang belum makan malam—untuk menunggunya di teras depan. Rasa perih di lambungnya pun harus ia tahan demi menahan Jack untuk mencuri. Namun tetap saja Jack menyadarinya. Semoga saja uang yang dibawa Jack cukup untuk membeli, sehingga dia tidak harus mencuri lagi.
"Ya, aku sempat bertemu dengan Kak Jack tadi di jalan. Kak Jack tidak melihatku, dia sibuk bicara dengan Tuan Tan."
"Tuan Tan?"
"Ya, ketua gengster itu, Kak! Dia ingin Kak Jack menyerang seseorang untuknya."
"Apa? Bagaimana kau bisa tahu?"
"Kak Jack pergi sebelum aku. Jadi aku sempat menanyakannya pada anak buah orang itu."
Kabar yang dibawa Son tentu saja mengejutkan Lexa. Jadi itu kenapa Jack tidak juga kembali? Seseorang berencana menyewanya untuk menyerang orang lain. Jack tahu Lexa tidak pernah suka itu, dan jika sampai Lexa tahu Jack menerima tawaran itu, Lexa tidak akan pernah memaafkannya.
"Eh, listriknya mati, Kak?"
"Ya, kita tidak bisa membayarnya."
"Aaakh, bagaimana ini?"
"Tidurlah di tempat lain."
"Baiklah kalau begitu," timpal Son berputar arah. "Nah, itu dia!" seru Son kemudian.
Kepala Lexa berputar cepat ke arah seberang. Dilihatnya Jack berjalan cepat ke arahnya sambil menjinjing bingkisan.
"Istri, kau menungguku, ya? Ini aku bawakan makanan untukmu. Ngg ... Son, uangku hanya cukup untuk satu bungkus saja."
"Ah, tidak apa, Kak. Aku baru saja makan di markas teman-teman."
"Baiklah kalau begitu." Jack menggandeng tangan Lexa. "Ayo." Mengajaknya masuk ke dalam.
Sebungkus Sujebi—semacam sup pangsit—yang masih panas, Jack sajikan ke dalam mangkuk. Ia duduk di depan Lexa, meniup mi-nya supaya cepat dingin. Dia menyuapi Lexa seperti anak kecil.
"Habiskan, ya. Jangan terlalu banyak berpikir sampai mengabaikan kesehatanmu. Aku janji, besok meja makan kita akan penuh dengan makanan."
"Jack, apa kau juga mau berjanji satu hal padaku?"
"Soal apa?"
Ragu-ragu Lexa berkata, "Kau tahu, kan, aku paling tidak suka kau berkelahi?"
"Ya, aku tidak akan berkelahi," jawab Jack kembali menyumpit makanannya.
"Sekalipun kau dibayar?"
Jack terpaku sekejap begitu Lexa menambahkan kalimatnya. "Hm?" Dia menatap Lexa, seolah memperbaiki pendengarannya, mencoba fokus dari topik pembicaraan mereka, pada apa yang dimaksud Lexa.
"Berjanjilah padaku, kau tidak akan menyerang seseorang demi mendapatkan uang."
Terdiam beberapa saat, Jack lantas mengangguk dengan berat.
Lexa memang sempat menganggap dirinya sedang jatuh cinta. Itu jika saat dirinya bersama Junho. Saat bersama Jack, ia kembali gundah. Ia mempertanyakan arti perasaan ini. Bagaimana bisa ia jatuh cinta pada pria lain, sedangkan selama ini Jack telah menempati hatinya? Apakah ini benar? Seandainya benar, bisakah? Tidak, itu pasti tidak benar. Itu tidak bisa terjadi. Jack tidak pernah menyakitinya selama ini. Pria itu sangat menjaganya. Tidak ada alasan bagi Lexa untuk mengkhianati Jack dan mencintai pria lain.
Kejenuhan yang ia rasakan akhir-akhir ini memang lantaran Lexa merindukan sebuah perubahan baik dalam hidupnya. Ia telah lama merasakan kejenuhan itu, dan pengaruh Junho kian memperkuat keinginannya untuk berubah. Tidak ada salahnya jika Lexa memberi kesempatan pada Jack untuk berubah. Mungkin saja pria itu yang akan memperbaiki kehidupannya. Mungkin ini tidak akan mudah, mungkin harus bertahap, Lexa akan mencobanya.