
"Woah, hari ini kita makan enak!"
Lexa tersenyum simpul melihat Son dan Nil bersuka cita. Pemuda berusia 22 tahun dan 20 tahun itu gembira malam ini bisa membeli banyak makanan lezat dari restoran setelah harus menahan lapar sejak tadi siang. Melihat semua makanan itu, seperti melihat permata yang membuat mata mereka berkilauan. Kerja keras Lexa setiap malam menjadi wanita penghibur amatiran ternyata sungguh memuaskan. Lexa senang melihat kedua anak jalanan yang ia tampung dalam rumahnya sejak enam tahun lalu—karena kasihan melihat mereka telantar kelaparan—itu tersenyum bahagia. Kendati menggunakan uang curian, Lexa tak merasa bersalah ataupun menyesal. Mengambil uang dari orang yang gemar menghamburkan harta untuk wanita penghibur, bagi Lexa, itu adalah hukuman yang pantas untuk mereka para pria hidung belang.
"Mmm ... Enak sekali! Ini sangat empuk. Sudah lama kita tidak makan daging."
Pandangan Lexa beralih pada pintu kabin yang terbuka, usai menyeruput sejenak minuman kalengnya. Ia melihat Jack tengah duduk di depan telaga. Dia agak berbeda malam ini. Jack tidak turut makan bersama, dan lebih memilih menyendiri di sana.
Lexa mencoba mendatanginya, duduk di atas rerumputan kecil di sisi Jack—yang tengah serius mengisap batang rokoknya sambil melempar pandangan kosong ke arah telaga. Telaga lebar yang dikelilingi perbukitan dan pohon-pohon tinggi, mungkin itu seperti lahan yang ditanami pepohonan hingga menjadi hutan kecil. Di balik itu, berdiri kukuh gedung-gedung dan pabrik. Lexa dan Jack tidak pernah tertarik untuk menjelajah ke sana, karena memang tidak ada jalan terhubung selain menyeberangi telaga. Tidak ada rumah lagi di sini selain rumah mereka. Tidak pernah ada seorang pun yang datang ke tempat ini, apalagi untuk mengaku sebagai pemilik sah kabin kecil dengan satu kamar di dalamnya ini. Hunian ini seperti tempat peristirahatan para petualang yang hanya akan disinggahi sesekali.
Berlokasi di pinggiran pusat Itaewon, tampaknya telaga ini sudah tidak pernah dikunjungi ataupun dirawat lantaran tercemar limbah. Karena saat Jack dan Lexa tiba di kabin ini, jalanan dipenuhi batang-batang kayu dan sampah. Padahal Jack mengatakan, dia dan ayahnya kerap datang kemari untuk memancing ikan bersama wisatawan lain. Saat itu, Jack—yang masih berusia tujuh tahun—dan ayahnya terpaksa masuk ke kabin untuk berteduh dari hujan yang tiba-tiba turun dengan deras disertai guruh dan petir. Kabin ini sudah tidak berpenghuni selama itu, jadi Lexa dan Jack pun tidak memiliki alasan kuat untuk meninggalkan kabin, karena mereka juga tidak punya tempat lagi untuk ditinggali. Selama ini Lexa dan Jack hidup tanpa bertetangga. Namun mereka merasa ini lebih baik daripada harus hidup di panti asuhan dengan segala aturan kerasnya.
Dulu, Lexa dan Jack pun harus hidup tanpa penerangan lampu. Ketika Jack membawa Lexa ke tempat ini, listrik di kabin itu sudah tidak berfungsi. Beberapa tahun terakhir, mereka berhasil menyalakan listrik di kabin berkat uang hasil mencuri. Semua yang mereka dapatkan adalah hasil dari mencuri. Yang mereka lakukan selama ini selalu mencuri. Tidak ada hal lain yang bisa menolong hidup mereka selain hanya dengan mencuri.
Lexa menawarkan minuman bersoda dalam kaleng yang masih di tangannya kepada Jack. Pria 25 tahun itu menolak, menggeleng tanpa memandangnya. Dia terlihat enggan. Lexa mengamatinya, mencoba mencerna keangkuhannya. Jack begitu ahli dalam mengembuskan asap rokok dari mulut. Dia bisa menghabiskan dua bungkus rokok dalam sehari. Jack bisa tahan tanpa makan hanya dengan merokok. Kebiasaannya itu bermula sejak Jack berusia 17 tahun. Sebenarnya Lexa tidak pernah suka, tapi Jack tidak pernah mau berhenti menciptakan limbah dari putung rokoknya.
"Ada apa denganmu?" Akhirnya pertanyaan itu terlepas dari mulut Lexa. Ia tidak tahan Jack terlalu lama mendiaminya.
Bergeming sejenak, pria bertindik dan pemilik rambut lebat dengan gaya acak-acakan menutupi sebagian keningnya itu malah balik bertanya, "Apa si hidung belang itu menciummu?"
Sudah Lexa kira. Itu adalah pertanyaan yang sama, yang selalu Jack lontarkan setiap kali Lexa usai beraksi mencari uang. "Kau sudah tahu dari awal ini pasti terjadi, haruskah kau menanyakannya?"
"Aku tidak suka," aku Jack datar. Dia sangat keras kepala. "Aku harap kau bisa menjaga dirimu."
"Kalau tidak suka, jangan dibicarakan!" Lexa meninggi sebab merasa tak tahan lagi dengan kecemburuan Jack yang berlebihan. Suaranya yang ketus sontak menarik pandangan Jack padanya.
Jack yang kerap mengenakan ikat kepala di dahinya itu menatapnya garang. "Aku bertanya padamu!" bentaknya.
"Dia hanya memelukku. Itu saja!" sela Lexa berang.
Kesal, Jack melempar rokoknya ke telaga dan menghadapi Lexa dengan mata melotot. "Apa kau juga membiarkannya menyentuhmu?"
"Jika tidak menyentuh, bagaimana bisa aku—"
"Kau tahu menyentuh seperti apa yang aku maksud!" Jack memotong, berteriak-teriak.
Lexa berpaling sejenak darinya. Sesaat mengambil napas, berusaha mengendalikan diri lantaran tak habis pikir lagi. "Tujuan kita hanya mengambil uangnya. Setelah kita mendapatkannya, kenapa kau masih harus mempermasalahkan ini?"
"Aku sudah katakan, aku tidak suka pria lain mendekatimu!" Jack berteriak-teriak menampakkan otot-otot di lehernya.
"Lalu, kau pikir aku suka? Hah?"
Jack tertegun begitu Lexa memekik. Ia berdiri karena mulai merasa bosan dengan keadaan ini. Jack pun bangkit, Lexa bisa melihat kecemasan di wajah pria itu. Sepertinya dia mulai menyadari kemarahan Lexa.
"Kau kira aku senang pria-pria tua itu menggodaku? Jika kau tidak suka, maka jangan biarkan aku lagi yang bekerja mencari uang!" Lexa beranjak.
Jack gegas menahan tangannya. "Lexa!"
Lexa mengentak tangannya keras-keras hingga terlepas dari genggaman Jack. Ia geram dengan kebiasaan buruk Jack itu. "Kau tahu menjadi wanita penggoda bukanlah diriku, tapi aku terpaksa melakukannya demi mendapatkan uang untuk kita, untuk teman-teman kita! Jika tidak dengan cara seperti ini, lalu dengan cara apa lagi? Memangnya apa kau mampu mencari uang yang banyak untuk kami? Asal kau tahu saja, aku benci semua ini! Aku bosan menipu! Aku takut mencuri dan kau hanya mementingkan perasaanmu saja!"
"Lexa, maafkan aku!" Jack melemah.
"Lexa. Lexa!"
*****
Menjadi satu-satunya wanita dalam hidupnya, membuat Jack begitu menguasai Lexa. Dia begitu protektif. Begitu pun Jack, dia adalah yang pertama untuk segalanya bagi Lexa. Mereka berkomitmen saat usia Lexa menginjak tahun ke-20. Mereka menjalani hubungan suami istri dan tak pernah sekali pun saling menyakiti, apalagi mengkhianati. Namun tidak seperti Lexa yang begitu dewasa dan percaya padanya, semakin hari Jack menjadi semakin posesif. Dia begitu takut kehilangan Lexa kendati Lexa sendiri yakin dirinya tidak akan pernah meninggalkan pria itu. Jack adalah hidupnya. Jack adalah satu-satunya tempat untuknya berteduh. Keagresifan Jack terkadang membuat Lexa berpikir seandainya itulah yang akan menjadi alasan Lexa benar-benar pergi, lantas apa yang akan terjadi dan yang akan Jack lakukan? Apakah Jack akan gila? Lexa tidak ingin berpikir terlalu keras.
Jack sudah tidak bekerja. Beberapa bulan yang lalu, pria itu dipecat sebab menghajar atasannya. Ya, Jack memang tidak berpendidikan tinggi, tapi kemampuan Jack yang ahli dalam mengotak-atik mesin telah berhasil membuat beberapa orang percaya padanya dan mau menerimanya bekerja di bengkel. Dia menyadari bakatnya itu ketika mencoba memperbaiki mesin pikap yang dibuang di tepian telaga—hingga kini menjadi kendaraan yang mampu membawa mereka menyusuri jalanan. Namun saat Lexa datang untuk menjemputnya di tempat kerja hari itu, para pria di sana termasuk atasannya tertarik dan berani meminta Jack untuk mengenalkannya pada Lexa. Jack marah dan baku hantam selalu menjadi jurus andalannya untuk melampiaskan kecemburuan.
Jack masuk ke dalam kamar, membuyarkan renungan Lexa dan kembali membangkitkan kekesalannya, mengingatkan Lexa bahwa sekarang ini dirinya sedang merajuk. Jack pun berjalan perlahan ke arahnya. Lexa tak ingin menatapnya. Ia membuang muka, berlaku angkuh. Duduk di sudut kasur lantainya sambil memeluk kedua lutut, berjanji pada dirinya sendiri untuk mengunci mulut. Sampai Jack duduk di hadapan Lexa, Lexa masih mencegah diri memandangnya. Pria berbadan sepuluh senti lebih tinggi dari Lexa itu pun merangkul kedua lutut Lexa, mendekati wajahnya.
"Maafkan aku ...," bisiknya lembut, menarik pandangan Lexa, menatap lekat-lekat kedua mata Lexa yang ingin melemah, dengan tatapan sayu dari mata sipitnya.
"Pergilah," celetuknya ketus, masih membetahkan diri bersikap angkuh meski sebenarnya Lexa tak semampu itu.
Jack menelusupkan satu tangannya ke sisi rambut Lexa dan mencoba untuk melesatkan bibirnya. Lexa berpaling cepat, tapi pria itu terus berusaha. Sekali lagi Jack melakukan hal yang sama demi meluluhkan hatinya, dan lagi-lagi Lexa menghindari ciuman Jack yang memaksa. Ia berpaling ke arah lain, sontak pendaratan ciuman Jack meleset ke udara.
"Ck, pergilah!" bentak Lexa gerah, menatap geram.
Jack tertegun. Dia melemah dan tampak kecewa. Kemudian, dia menarik wajahnya dengan mata berkaca-kaca. Lexa tahu, Jack begitu takut saat Lexa marah, tapi dia tetap saja melakukan kesalahan yang sama.
"Aku minta maaf ... Istri."
Lexa mendapati mata tajam pria itu mulai layu. Kemudian, Jack mengeluarkan sesuatu dari saku jaket denim robek-robek yang dikenakannya, meletakkannya di sisi Lexa sebelum memilih berdiri dan menanggalkan jaketnya.
Setengah hati Lexa mengerling, melihat apa yang Jack berikan di sisi tempatnya duduk. Dua lembar tiket konser musik. One Ok Rock, begitu melihat nama band favoritnya, wajah Lexa langsung berubah cerah. Ia mengambil dua tiket itu dengan rasa tak percaya Jack bisa memilikinya. Senyumnya tersungging bebas, melepas kekesalan yang sempat tertahan di hatinya.
"Jack!" Lexa memekik, menahan langkah Jack yang hampir mencapai pintu keluar.
Jack berbalik, memandangnya dengan wajah sombong.
"Ini untukku?" Lexa masih tak bisa percaya dengan hadiah yang Jack berikan. Ia tak percaya tangannya bisa menyentuh tiket itu.
Jack tersenyum kecut sambil mengangguk ringan.
"Dari mana kau bisa dapatkan tiket ini?"
Jack pasti sudah mengira Lexa akan menanyakan itu, dan Jack pun memberikan jawaban terbaiknya, "Aku memenangkan taruhan."
Termenung sejenak, merasa mendapat jawaban yang melegakan, senyuman Lexa pun lantas melebar. Ia melejit ke tempat Jack sambil menjerit histeris dan langsung memeluk pria itu sembari meloncat-loncat girang.
"Oooouh! Terima kasih, Suami!" Segala pujian ingin Lexa lontarkan saat ini juga untuk sang kekasih, tapi tak satu pun kata dapat terlantun dari mulutnya akibat terlalu gembira. Lexa menahan kedua rahang Jack, dan mencium bibirnya adalah caranya berterima kasih.
"Aku tidak mau! Aku tidak mau!" Jack berpaling membalas penolakan Lexa sambil menahan senyumnya.
Lexa tergelak memaksakan bibirnya untuk dapat menyentuh bibir tipis sang kekasih, ingin sekali menggigitnya.
Jack selalu tahu caranya menyenangkan hati Lexa. Dia selalu punya cara untuk melebur kekesalan Lexa. Itulah kenapa Jack menjadi sangat berarti baginya. Dimulai dari kebiasaan, kini Jack telah bermetamorfosa menjadi kebutuhan utamanya. Lexa bangga memilikinya.