Black in Love

Black in Love
Chapter 10



Lexa dan Jack bergelut dalam satu selimut. Hujan saat ini sedang mengguyur bumi. Sunyi dan senyap menggugah naluri. Perang tengah malam menjadi hal terbaik dalam menikmati suasana kali ini. Jack melakukan tarian berbahaya untuk menciptakan sensasi. Lexa terlena. Ia menyerah karena merasa mulai tak berdaya. Didekapnya tubuh Jack yang berat dan padat untuk mendapat kehangatan. Tubuhnya yang gagah dan berotot, yang selalu memberinya perlindungan. Ia tak mampu bersuara saat Jack membawanya dalam kemelut siksaan. Sudah sepekan lebih mereka tak melakukannya, kini Jack membuas tega.


Di saat Lexa mulai mabuk, akal sehatnya menjadi sulit dikendalikan. Beberapa kali matanya memejam dan membelalak. Saat penglihatannya terfokus sayup-sayup setiap Jack mendesak, saat itu bola mata Lexa teralih tanpa sengaja pada ventilasi di kamarnya, Lexa melihat sepasang mata sosok makhluk di sana.


"Aaagrh!" Sontak saja Lexa terperanjat sambil memekik kaget.


Jack terkesiap menghentikan permainannya. Dia menatap Lexa yang ketakutan sambil menangis tanpa air mata. "Ada apa?"


Lexa memejam ngeri, menyembunyikan wajah di bahu Jack. Ia memang sedang dalam keadaan setengah kendali, lengah karena kuasa Jack, tapi Lexa yakin penglihatannya masih bekerja dengan baik. "Itu! Ada orang di sana!" Lexa menunjuk ventilasi di atas jendela, masih sambil memejamkan mata dengan ketakutan yang luar biasa. Dengan suaranya yang parau.


Jack mengikuti arah yang dimaksud Lexa dengan pandangannya, tapi mengaku tak menemukan apa-apa di sana. "Tidak ada siapa pun, Lexa!"


Takut-takut Lexa membuka mata, mencoba mengalihkan pandangannya kembali ke sana dengan jantung yang berdetak cepat. "Tapi aku melihatnya, Jack! Ada orang di sana! Dia sedang mengawasi kita!"


"Apa? Kau pasti salah lihat!"


"Tidak, Jack! Aku benar-benar melihat matanya, sungguh!"


Jack tahu Lexa tak mungkin berbohong. Lexa begitu ketakutan dan trauma untuk lanjut berperang. Jack menjadi waspada dan geram. Dia langsung mengambil tindakan saat itu juga. Akhirnya setelah menelisik dan menaruh curiga, mereka pun menemukan pelakunya.


Nil tak mampu mengelak lagi saat Jack mendesaknya, karena pemuda itu ada di bawah ventilasi yang sama saat Jack mendatangi lokasi dari luar. Dia semakin ketakutan begitu Jack marah dan mengancamnya. Bocah itu berani mengintip mereka setelah Jack sangat percaya padanya.


"Tidak tahu diri!" Jack menampar sebelah pipi Nil yang ditangkapnya beberapa saat setelah kejadian. Jack membawanya masuk ke kabin dan langsung menghakiminya.


Son menyipit ngeri, akan tetapi tampak tak berdaya membela temannya. Lexa sendiri tak ingin berbuat sesuatu untuk menolongnya. Ia kesal. Bagaimana pun juga tindakan Nil itu tidak bisa dibenarkan, bahkan bisa dikatakan sebagai tindakan kriminal. Mereka memang seorang pencuri, tapi hanya mencuri uang, tidak hal yang lainnya apalagi dari sesama teman. Jack telah berbaik hati memberi mereka tempat tinggal, juga memperlakukan mereka seperti seorang adik. Namun rupanya pergaulan mereka tetap menjadi alasan utama yang memperkuat kepribadian.


"Jika sekali lagi kau berani melakukannya, kubunuh kau!"


"Kak ..., ampun!" Nil berlutut, memohon sesuatu yang mustahil Jack berikan di saat emosi, sambil menangis-nangis. "Aku kedinginan di luar. Aku ingin masuk, tapi Kakak mengunci pintunya. Aku berpikir untuk memanggil Kakak dengan cara lain, tapi ternyata—"


"Apa?! Kau tahu biasanya kenapa kami harus mengunci pintunya! Jika kau kedinginan, maka tunggulah sampai aku keluar, atau carilah tempat lain untuk tidur! Sekarang pergilah dari sini. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi. Sana, pergilah!" Jack menendang-nendang Nil dengan kesal hingga pemuda itu tersentak ke belakang. "Dasar memalukan!"


Saat Jack menyiapkan tinju dari tangannya, sontak Nil melindungi wajahnya sendiri dengan tangan, Lexa pun bergegas menghampiri untuk mencegah.


"Jack, sudah hentikan!"


"Sekarang kau tunjukan siapa dirimu sebenarnya!" Jack masih saja memaki.


"Son, bawa dia pergi dan jangan kembali lagi sampai beberapa hari!" Lexa berujar sambil memeluk Jack untuk memberikan ketenangan.


"Jangan pernah kembali lagi ke sini!" teriak Jack mulai gelap mata.


Cepat-cepat Son menyelamatkan Nil dari amukan Jack yang memuncak. Mereka keluar dari kabin sebelum Jack benar-benar meledakkan amarahnya. Lexa bisa membayangkan sesuatu yang mengerikan akan terjadi.


"Jack, tenangkan dirimu!" Lexa mendudukkan Jack di sofa, merangkul pundaknya, memegang satu tangannya lagi untuk menyurutkan amarah sang kekasih. Lexa bisa merasakan napas Jack memburu. Matanya melotot berang menatap lurus ke arah pintu seakan ingin mengejar Nil dan melenyapkannya. Ia menyandarkan kepala Jack di pundaknya, mencoba mengalihkan situasi. "Biarkan saja. Dia sudah memberikan alasannya, kan."


"Sudahlah .... Dia sedang labil. Jangan terlalu keras padanya. Jika Nil pergi, bagaimana kita akan menjalankan misi besar kita? Akan sulit untuk kita jika kehilangan personel."


"Kita saja sudah cukup. Selama ini kita bisa tanpa dia!"


"Tidak, Jack. Kau harus memikirkannya lagi setelah kau tenang. Nil bisa saja mendendam dan membocorkan rencana kita." Lexa memegang rahang Jack ketika pria itu memandangnya. "Kita harus berhasil menjalankan misi itu dalam waktu dekat. Kita butuh uang yang banyak. Kau akan melupakan hal ini kan, nanti? Iya kan, Sayang?"


Lexa berusaha membujuknya sebab konsep perampokan minggu depan telah tersusun matang. Mereka telah menentukan dan menyepakati tugas masing-masing setiap orang dalam lokasi yang telah menjadi target. Jika mereka gagal, listrik dan air di rumah mereka akan mati. Maka, Lexa mengecup kening Jack untuk meluluhkan emosinya dan melumpuhkan dendamnya terhadap Nil. Berharap itu akan berhasil.


*****/////


Jack tak mau tinggal diam sejak insiden itu. Dia tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi. Tentu dia juga khawatir Lexa akan benar-benar trauma dan tidak ingin bercinta lagi. Menutup ventilasi dengan papan menjadi caranya mencegah. Jack naik di atas kursi untuk memakunya, membuntu celah udara itu agar tak ada lagi yang bisa mengintainya dalam kamar. Tak hanya itu, Jack juga berencana untuk memasang pintu kamarnya guna berjaga-jaga. Kabin yang mereka tinggali ini memang sudah dalam keadaan rusak saat mereka pertama kali datang, dan satu-satunya kamar di situ memang sudah tidak berpintu. Selama ini Lexa memasang tirai dari kain seadanya untuk penutup, sehingga mereka pun masih harus mengunci pintu utama untuk bisa melakukan sesuatu yang intim berdua.


Jack mengukur kusen pintu sebelum memotong kayu dan merakitnya. Selain pandai membetulkan mesin, Jack juga ahli dalam membuat perabotan seperti meja dan rak. Bakat itu didapatnya secara otodidak dan karena kondisi yang tidak mendukung mereka untuk membeli perabotan baru.


Lexa hanya diam memperhatikannya bekerja. Jack termasuk tipe pekerja keras. Dia mau bekerja apa pun, ya, mungkin dia mau melakukannya demi Lexa. Dulu, selain pernah bekerja di bengkel, Jack juga sempat bekerja di toko furniture pinggir jalan. Menjadi kuli barang, hingga kuli bangunan. Namun karena kecemburuannya yang tidak terkendali, Jack membuat masalah yang sama hanya karena tak senang pria-pria yang juga bekerja di sana ingin Jack mengenalkannya pada Lexa. Tak hanya itu, Jack juga seringkali menaruh curiga setiap pulang dari tempat kerja dan menuduh Lexa dengan prasangka-prasangka yang tak pasti, seperti adanya pertemuan Lexa dengan pria lain saat Jack tak di rumah. Akhirnya Jack berhenti bekerja, tak jarang tanpa digaji. Untuk bekerja pada bidang lain tentu tidak mudah bagi Jack yang berpendidikan rendah. Pada akhirnya mencuri pun menjadi pilihan Jack untuk menghidupi Lexa.


Lexa ingat betul di hari ke-30 mereka tinggal di kabin ini ketika Lexa kelaparan, setelah sebelumnya mereka harus bekerja menjadi buruh serabutan di pasar kota. Di kabin masih kosong, tak banyak perabotan di dalamnya. Material kayu yang menjadi bahan utama bangunan membuat seluruh ruangan lembap dan menjamur. Banyak bagian disusupi rayap. Mereka harus mengganti komponen yang telah melapuk dengan tangan mereka sendiri untuk membuat kabin tetap berdiri tegak. Lexa dan Jack kecil melewati setiap hari hanya dengan terduduk lemah, dan terkadang berkhayal.


Jack akhirnya mengajak Lexa untuk meminta-minta pada salah satu rumah karena mereka sama sekali tidak memiliki uang untuk membeli makanan, tapi orang-orang itu mengusirnya tanpa belas kasih. Orang-orang menganggap Lexa dan Jack hanya gelandangan yang kerap mengganggu keberadaannya di kompleks mereka. Melihat Lexa terus mengerang dengan wajah memucat, Jack panik. Sampai dia melihat seorang wanita meninggalkan barang belanjaannya di depan toko, Jack seolah melihat kesempatan. Jack mengambilnya dan itu adalah yang pertama kalinya dia mencuri, dia mencuri untuk Lexa.


"Aku tidak mau memakan makanan hasil curian!" katanya saat itu kendati rasa perih tengah menggerogoti bagian-bagian dalam perutnya. Lexa merasa kering dan tak bertenaga.


"Tuhan pasti tahu kenapa kita harus melakukannya. Aku berjanji akan menanggung semua dosa kita. Jika tidak begini, dari mana kita akan makan? Uang yang diberikan pemilik toko untuk membayar tenaga kita sangat sedikit, dan tidak setiap hari mereka membutuhkan kita. Kau tidak perlu khawatir, kita hanya mengambil satu bungkus saja, tapi orang itu masih punya banyak uang untuk membelinya lagi!


"Asal kau tahu, bagiku lebih baik menjadi seorang pencuri daripada menyiksa orang dengan membuatmu kelaparan terus menerus. Jika kau mati, maka aku akan menanggung dosa yang lebih besar lagi dengan menjadi seorang pembunuh!" Itu menurut Jack yang masih berusia 10 tahun, dan tiba-tiba saja sejak saat itu Lexa pun menjadi setuju dengan alasannya.


"Jack ...."


"Ya?"


"I love you!"


Jack termangu begitu Lexa melontarkan pernyataan itu secara tiba-tiba. Tatapannya terpaku pada palu di tangannya. Jack bergeming sejenak sebelum mengalihkan pandangannya pada Lexa yang ada di depannya. Dia mengulas senyuman malu-malu. "Ada apa denganmu? Apa kau sedang merayu?" godanya.


Lexa sontak terkekeh. Ia melejit dan langsung merangkul Jack dari belakang, mendekap punggungnya dengan manja. "Aku sangat mencintaimu, Suami!"


"Aaakh, kau mencoba merayuku, ya! Katakan saja, ada apa? Apa aku terlihat tampan hari ini?"


Lexa tergelak-gelak mengacak gemas rambut cokelat samar pria itu.


Setelah seharian bekerja keras, Jack berhasil memasang pintu di kamar mereka. Lexa tersenyum bangga untuknya. Dia telah berusaha untuk Lexa, selalu untuk Lexa. Apa pun cara yang digunakannya, Lexa tidak akan pernah bisa menyalahkannya karena ia tahu, ia mengerti, Jack melakukannya demi menjaga Lexa. Lantas, bagaimana bisa Lexa sanggup mematahkan niat baik seseorang yang tengah berjuang untuknya? Lexa memeluk Jack, memberikan sebuah ciuman berarti di bibirnya.