Black in Love

Black in Love
Chapter 29



"Junho? Kau akan datang hari ini, benarkah? Bagaimana dengan masalah di kantormu? Apakah sudah teratasi? Ah, bagus sekali! Apa? Kau akan datang ke tempat kerjaku saat jam makan siang nanti? Baiklah, kita bertemu di kafe depan hotel. Aku akan menunggumu di sana. Ya, oke."


Tadinya, semenjak tahu Jack memesan salah satu kamar di hotel tempat Lexa bekerja, setiap hari—setiap pagi, Lexa merasa tidak tenang ketika akan pergi bekerja. Ia resah menduga-duga apa yang kiranya akan terjadi jika Jack menemuinya lagi, lalu kembali membuat ulah. Dia telah mempermalukan Lexa dan menciptakan gosip miring yang tentu sangat mengganggu. Lexa menjadi tidak nyaman saat bekerja karena beberapa pekerja di hotel kerap bergunjing tentang kedekatannya dengan presdir dari Restoran Kim Ji itu.


Tentu saja mereka tidak akan percaya jika Jack yang memulai semuanya. Orang-orang itu berpikir Lexa-lah yang telah merayu. Namun walaupun itu tidak benar, tidak banyak yang bisa Lexa lakukan untuk menyangkal. Lexa hanya bisa pasrah, mencoba kebal mendengarkan. Selama tidak terbukti, Lexa tidak akan kehilangan pekerjaannya, kendati sangat menyulitkan.


Namun telepon dari Junho tak Lexa pungkiri sedikit meningkatkan semangatnya kembali. Pria itu akan datang setelah beberapa bulan yang lalu harus kembali ke Itaewon demi menyelesaikan masalah yang membelit perusahaannya. Junho nyaris mengalami kebangkrutan. Lantaran itu, Lexa pun sangat mengkhawatirkannya. Karena di telepon dia mengaku semua telah teratasi, Lexa tak menutup perasaan senang yang menghinggapinya. Kerja keras Junho tak percuma. Juga karena kebaikannya selama ini, Lexa ingin sekali bisa menyambut kedatangan pria itu dengan senyuman.


Lexa memasuki lift dengan hati riang. Ia seorang diri, hendak menuju ke lantai atas untuk merapikan kamar yang baru ditinggal pergi penghuninya. Sebelum kedua pintu lift tertutup rapat, seorang pria berkacamata minus datang ke arahnya sambil mendorong kursi roda yang diduduki seorang wanita. Mereka masuk ke lift yang sama, otomatis Lexa pun menepi untuk memberi ruang.


"Nyonya, apa Tuan Kim tidak akan marah kita datang tanpa memberi tahunya?"


"Memangnya dia punya hak untuk itu?"


Eh? Kerja otak Lexa langsung tersita oleh satu percakapan itu. Saat ia perhatikan si wanita di kursi roda, Lexa langsung menemukan ingatannya pada pesta malam itu, di mana ia pernah menumpahkan minuman ke salah seorang tamu. Wanita itu adalah orang yang sama. Tidak salah lagi, dia yang waktu itu datang bersama Jack.


"Kim Ji-Hwan tidak bisa menolak apa pun itu tanpa keputusan dariku. Tapi sejak menghadiri pesta malam itu, dia tidak mau ikut pulang bersama kita tanpa memberi tahu alasannya. Sudah beberapa hari dia melalaikan perusahaan. Aku harus bisa membawanya pulang sekarang juga."


Yang sedang dia bicarakan itu, apakah Jack? Lexa serius mengurai kalimat wanita itu, mempelajarinya. Walaupun bukan urusannya, Lexa tertarik ingin tahu juga, alasan yang membuat Jack tidak mau kembali ke Itaewon hingga menelantarkan pekerjaannya. Jack meninggalkan wanitanya yang lumpuh itu, apakah setelah pertemuannya dengan Lexa?


Tiba-tiba wanita perpenampilan elegan itu menoleh, lalu mengernyit mengamati wajah Lexa seolah tengah menggali ingatannya. Lexa pun mengulas senyum, menundukkan kepala untuk memberikan salam.


"Kita bertemu lagi. Maaf untuk kecerobohanku malam itu."


"Ah, iya tidak apa," timpal wanita itu dengan penuh lemah lembut. Kemudian, dia beralih pandang pada pria berdasi yang masih berdiri di belakang kursi rodanya. "Kau pergilah, ambil mobil di bengkel. Aku akan menemuinya sendiri."


"Aku bisa pergi setelah mengantar Nyonya ke kamar Tuan Kim."


"Tidak perlu. Biar nona ini yang mengantarku."


Begitu dipandang kembali, Lexa langsung gelagapan. "T-tentu saja," jawabnya dengan nada terbata-bata.


Lexa tidak pernah merasa setegang ini berjalan di koridor hotel tempatnya bekerja. Ia keluar dari lift sambil mendorong kursi roda yang diduduki istri Jack. Bagaimana bisa Lexa merasa sangat yakin bahwa wanita itu adalah istri Jack? Semua sudah cukup jelas. Lexa tidak menemukan jawaban lain untuk menyebut kedekatan Jack dengan wanita itu.


Tak ayal begitu pintu kamar bernomor 70 itu dibuka, Jack yang semula terkejut melihat ke arah istrinya, sontak tertegun ketika pandangannya berpaling ke arah Lexa.


"Kau pasti tidak menyangka aku akan datang kemari, kan?" Wanita itu mendorong roda kursinya sendiri dengan usaha dari kedua tangannya untuk menerobos masuk.


Tak lantas menyusul istrinya, Jack malah tampak kebingungan memandang Lexa. Entah, Lexa pun tak mengerti mengapa ia bisa terjebak dalam situasi ini. Ia menjadi bingung, tak mampu berpikir harus berbuat apa. Ingin sekali hengkang, tetapi tas dan sebuah bingkisan milik wanita itu ada di tangannya.


Setelah membuka pintu kamarnya lebar-lebar, akhirnya Jack memilih berlalu dari hadapan Lexa. "Ngg? Kapan kau tiba? Sendirian?" tanyanya pada sang istri yang tampak berang di sisi ranjang.


Lexa pun tak memiliki pilihan lain kecuali masuk ke dalam kamar itu—dengan sungkan-sungkan dan canggung—untuk meletakkan barang yang masih di tangannya di atas meja hias.


"Jika kau tidak bisa bekerja dengan benar, untuk apa aku menunjukmu menjadi atasan?"


"Aku hanya ingin berlibur sebentar. Aku juga harus menemui teman di sini untuk suatu urusan. Aku akan kembali jika urusanku sudah selesai. Jangan terlalu mengkhawatirkan aku!" Suara tinggi Jack di akhir kalimat menarik perhatian Lexa seketika.


"Aku khawatir pada para karyawan! Mereka butuh dirimu!" Wanita itu marah pada Jack.


"Apa ada masalah? Bukankah keputusanmu saja sudah cukup mengatasi? Kenapa kau menyalahkan aku? Aku sendiri masih belajar untuk bisnis ini."


"Lihatlah kondisiku! Apa aku bisa pergi untuk mengatasi semua perkara? Aku sendirian, aku butuh dirimu. Aku ... merindukanmu!"


Tak hanya Jack, Lexa terpaku saat wanita semampai berambut indah itu mengungkap perasaannya. Oh! Bodohnya, Lexa kesulitan menggerakkan kedua kakinya untuk beranjak. Ia masih tertahan hingga Jack berlutut di hadapan kesedihan istrinya.


"Maafkan aku," ucapnya berubah lembut. Dia memegang tangan wanita cantik bermata sipit itu, mengelusnya dengan tatapan penyesalan dan penuh kasih sayang.


Namun pemandangan itu, entah bagaimana bisa terasa menyedak dada Lexa.


"Mmm, ma-maaf." Lexa berusaha keras mengeluarkan suaranya, dan akhirnya berhasil mengusik ketegangan pasangan di situ. "Apa ada yang bisa aku kerjakan lagi? Jika tidak, aku akan kembali."


"Ah, tidak. Terima kasih, ya. Kau boleh pergi." Wanita itu menimpali, perasaannya terlihat jauh lebih baik setelah Jack mengalah.


"Aku permisi."


Tanpa ingin memandang mata Jack, cepat-cepat Lexa keluar dari kamar itu. Payah! Bagaimana bisa Lexa tertahan di dalam dan menyaksikan kedekatan mereka? Lexa bersandar di dinding koridor guna mengempaskan napasnya yang sempat terasa sesak.


Mereka terlihat sangat akrab dan saling membutuhkan. Mereka pasangan yang manis. Lexa bisa melihat betapa wanita itu sangat bergantung pada Jack, dan Jack luluh padanya. Jack mengalah, sama seperti dulu setiap kali Lexa marah. Lexa pikir, Jack hanya akan bersikap seperti itu padanya. Tidak disangka, dia pun bisa melakukannya pada wanita lain. Jack pasti sangat ingin menjaganya.


Wanita itu telah memberikan segalanya, yang terbaik kepada Jack. Tentu saja, dengan cinta yang benar. Pemandangan yang romantis, akan tetapi Lexa merasa nyeri di dada ketika melihatnya. Kenapa denganku? Lexa memukuli dadanya yang masih berdenyut nyeri. Melakukan hal bodoh dengan mencoba menghapus tato nama Jack di punggung telapak tangan kanannya, dengan gesekan dari tangan yang satunya. Lexa ingin sekali menghapus semua tentang pria itu.


*****/////


"Antar nyonyamu sampai rumah dengan selamat. Jangan semakin memperburuk perasaannya!"


"Mengerti, Tuan."


"Kim, kau yakin tidak ingin kembali bersamaku?"


"Aku sudah jelaskan alasanku, kan. Aku janji akan kembali minggu ini."


"Kau ini sangat keras kepala!"


Ia menepuk badan mobil, memberi isyarat pada asistennya yang telah bersiap di belakang setir, agar segera melajukan kendaraan pribadinya dan membawa nyonya Kim Ji itu pulang ke Itaewon.


Sekali lagi, untuk yang kesekian kalinya, Jack harus menolak ikut bersama mereka. Jack masih tidak rela meninggalkan Hannam-dong setelah berhasil menemukan apa yang ia cari. Sebuah jawaban untuk penantian panjangnya. Demi semua itu, ia tega meninggalkan tanggung jawabnya untuk restoran. Ia pun menelantarkan pendidikan pribadi yang masih dikecamnya. Yejin telah melakukan banyak hal untuk membuat Jack menjadi lebih baik. Namun walaupun kerap bertindak buruk, apa yang sudah Lexa lakukan dulu saat masih bersamanya, adalah yang paling berarti. Lebih berarti dari yang lain.


Jack baru akan kembali masuk ke gedung sebelum melihat keberadaan Lexa di seberang jalan. Wanita itu masuk ke sebuah kafe yang ada di sana, mungkin untuk makan siang karena saat ini adalah jam istirahat. Merasa menemukan sebuah kesempatan, Jack beralih niat. Ia menyeberangi jalan raya, tak sabar ingin menerobos kendaraan-kendaraan yang merajai dua jalur berlawanan.


Sebelum Jack sampai di pintu utama kafe, pandangannya menembus kaca jendela dan dilihatnya Lexa tak sendiri di dalam sana. Wanita itu memeluk seorang gadis kecil setinggi perutnya dan seorang pria berkemeja rapi tersenyum-senyum di sisinya. Dia ... pria itu! Si duda yang telah mencuri hati Lexa dan membawanya pergi ke kota ini, pergi dari kehidupan Jack.


Lalu, apa lagi yang masih ingin Jack tanyakan? Mereka benar-benar hidup bersama dan tampak sangat bahagia. Sudah jelas semuanya. Ya, sudah cukup jelas.


Di salah satu meja, Lexa duduk bersama si duda dan putrinya. Dia tertawa, dia begitu ceria. Terlihat Lexa membuatkan minuman susu untuk gadis kecil itu dari gelas yang telah berisi air mineral, mungkin ... yang sudah dianggapnya seperti putrinya sendiri. Jack melihat begitu besar perhatian yang dicurahkan Lexa, sayang sekali, bukan lagi untuk dirinya.


Apa ini? Rasa sakit apa yang menyelinapi hatinya kini? Bukankah seharusnya Jack tenang akhirnya melihat mantan kekasihnya bahagia? Semudah itu? Jack tidak yakin ia bisa. Ia tidak percaya jika ada seseorang yang bisa rela melihat yang dicintainya bahagia bersama orang lain. Nyatanya, kebahagiaan itu memecutinya diam-diam. Terbendung dendam dalam genggaman. Kakinya melangkah mundur, memilih menjauh dari kenyataan meski sebenarnya ia sangat ingin menghakimi. Lantaran tak yakin bisa terkendali untuk saat ini, karena sesuatu yang menjerat dan terlalu menyayat hati, Jack memilih pergi.


Saat ia berbalik badan, Jack tak sadar telah keluar dari pintasan bahu jalan. Sebuah mobil melaju ke arahnya dan secepat itu menghantam tubuhnya hingga tergeletak di aspal. Ia melihat orang-orang berdatangan mengerumuninya, sayangnya Jack tak menemukan wajah Lexa di antaranya. Lexa ... kenapa Jack tidak mati saja? Dia meninggalkan Jack dengan cara yang teramat manis, manis sekali hingga Jack sulit melupakannya. Ia merasa tubuhnya kini tak berfungsi, tetapi kepedihan itu masih saja menyelimuti.


*****/////


"Kenapa dia menolak pergi ke rumah sakit? Padahal dia terluka, dan manajer hotel sendiri yang akan mengantarnya."


"Mungkin hanya luka-luka ringan. Pengendara mobil menginjak rem di saat yang tepat."


"Karena restorannya yang terkenal di Itaewon, dia mendapatkan pelayanan terbaik di sini."


"Sebenarnya, apa yang dilakukan presdir itu selama di sini, ya? Apa hanya berlibur? Seorang diri?"


Mendengar beberapa pramusaji mengobrol di dapur, Lexa tertarik untuk menguping, terlebih yang sedang mereka bicarakan itu ... sepertinya adalah Jack. Kecelakaan? Memang, saat jam makan siang tadi, Lexa juga melihatnya, beberapa waktu lalu saat ia bertemu dengan Junho dan Eunbi di kafe, memang sempat terjadi keributan di pinggir jalan raya. Ia hanya dengar orang-orang itu berkata bahwa ada seorang pria tertabrak mobil. Mereka membawa si korban menuju ke hotel tempat Lexa bekerja, tetapi Lexa tidak pergi mencari tahu siapa dia. Apakah itu benar-benar Jack?


"Ah, sebaiknya aku segera mengantar obat ini ke kamarnya atau kalau tidak, manajer akan menghukumku!"


"Tu-tunggu!" Lexa mencegah temannya yang ditugaskan sang manajer untuk mengantar obat.


Perempuan itu berhenti, menanti Lexa yang ragu-ragu untuk mendekat.


"Ngg, kau akan pergi ke lantai berapa? Aku akan mengganti seprai di lantai enam. Mungkin saja aku bisa mengantar obat itu sekalian." Sengaja Lexa mencari alasan hanya supaya bisa membuktikan kecemasan yang mendadak membiusnya.


"Kebetulan sekali, kamar 70 ada di lantai enam, kan. Baguslah, Aku bisa mengerjakan yang lainnya."


"Baiklah." Lexa menerima kotak medis dari tangan temannya. Ketika ia mendengar angka itu, nomor kamar yang ditempati Jack, kecemasan Lexa pun menjadi-jadi.


Segeralah Lexa naik menuju ke lantai enam. Kecemasan yang terus mengiringi langkahnya, membuat tenaganya terasa cepat terkuras. Sepenggal kenangan di masa lalu pun terus melintas dalam kedipan matanya, di mana Jack kecil harus terluka akibat dihajar massa yang memergokinya mencuri, dan Jack kecil terus memanggil-manggil Lexa. Entah mengapa, begitu mengingat saat ini Jack sendirian di sini—setelah melihat siang tadi istrinya pergi, angin seakan menghantar bisikan dari pria itu, menyebut-nyebut nama Lexa. Menuntunnya ... untuk menemui.


Sesampainya di depan kamar bernomor 70 itu, Lexa mendadak ragu mengetuk pintu. Baru saja tersadar, ternyata Lexa tak siap menghadapi keangkuhan pria itu lagi. Ini terlalu berani.


"Kau mencariku?"


"Oh!"


Tiba-tiba Jack muncul dari belakang, mengagetkan Lexa seketika. Ia terkesiap berbalik badan, dan Jack sudah berdiri dengan tatapan angkuhnya.


"A-aku ... ini, manajer hotel mengirim obat untukmu." Lexa dilanda gugup. Matanya menangkap bercak darah di kemeja Jack pada bagian siku, dan pria itu terus memegangi lengannya itu.


Jack melirik ke arah kotak medis yang diulurkan Lexa ke arahnya. "Aku tidak memerlukannya."


"Ta-tapi kau terluka."


"Luka ini sudah ada sejak dulu."


"Oh?"


"Sejak kau pergi meninggalkanku."


Kedua tangan Lexa menurun lemas saat Jack melempar kalimat tajam itu. Mengapa Lexa tidak bisa memperkirakan hal seperti ini akan terjadi? Setiap maksud yang ia tujukan, Jack akan terus mengalihkannya pada masa lalu. Terlalu mengkhawatirkannya, membuat diri Lexa sendiri dalam masalah.


"Berapa?"


Lexa mengernyit begitu Jack bertanya.


"Berapa harga yang harus kubayar supaya kau bisa menyembuhkan lukaku ini?" sambung Jack kembali memberikan tamparan. "Kau memberiku kenangan yang sangat manis sebelum pergi. Apa kau tidak pernah tahu, bahwa kau sedang memberiku penyakit yang sangat berbahaya?"


"Jack—"


"Jack sudah mati!!"


Lexa baru akan membuat pria itu mengerti apa yang sesungguhnya terjadi, tapi Jack melantangkan suara, dia membentak Lexa.


"Kau membunuhnya malam itu! Kau menghancurkannya! Yang sedang berdiri di hadapanmu ini adalah kebencian! Setiap kali melihatku, kau akan melihat kesalahan terbesarmu, Lexa. Aku di sini, untuk mengingatkanmu bahwa cintamulah yang hitam!"


Usai menembak Lexa dengan kata-kata beracunnya, Jack beranjak masuk ke kamarnya. Ya Tuhan, Jack masih begitu marah atas kepergian Lexa. Lexa ingin sekali menjelaskan apa yang sesungguhnya ia pikirkan dengan meninggalkan pria itu diam-diam. Namun menyadari keadaan kini tak seperti dugaannya, datang banyak pertimbangan yang akhirnya memaksa Lexa untuk tetap bersikap diam.