
(15 tahun silam)
Yoo-Ri berhenti mengelap meja hias yang terpajang di ruang utama ketika pengurus panti asuhan menyambut kedatangan tamunya. Seorang wanita keluar dari dalam taksi bersama anak laki-laki bermata sipit. Sambil menjinjing tas besar yang penuh, wanita itu dipersilakan masuk ke dalam ruangan yang sama oleh sang pengurus. Mereka orang dewasa kemudian mengobrolkan sesuatu yang tidak Yoori pahami, akan tetapi ia tahu wanita itu berencana menitipkan anak muda yang dibawanya tadi ke panti asuhan ini, panti yang telah Yoori tinggali sejak ia masih bayi. Panti asuhan yang terletak di pelosok utara kota Seoul.
"Tahun ini, dia sudah masuk kelas dua SMP. Usianya memang baru sepuluh tahun, tapi dia memiliki IQ tinggi sehingga para guru di sekolahnya memasukkan dia ke kelas akselerasi. Kau tahu, kan, program percepatan belajar. Dia diizinkan untuk lompat kelas!"
"Ya, ya. Itu hebat!"
"Tapi setelah dia tinggal di sini, kau mau menyekolahkannya atau tidak, aku serahkan keputusan itu padamu. Asalkan, jangan biarkan dia pergi dari sini apalagi untuk kembali ke rumahnya!"
"Bagaimana jika dia memaksa?"
"Lakukan saja tugasmu! Aku sudah tidak peduli lagi padanya."
"Ah, baiklah. Lagi pula tempat ini cukup jauh dari Itaewon, dia tidak akan tahu ke mana arah jalan pulang."
"Kau tetap harus mengawasinya, karena dia itu sangat cerdas!"
Yoori melempar pandangan keluar sejenak, ke arah anak laki-laki yang berdiri termenung seorang diri di depan teras. Dia yang sedang dibicarakan orang-orang itu. Dia terlihat seperti orang kaya, tapi mengapa sampai harus dititipkan ke panti asuhan? Di mana orang tuanya? Lalu, siapa wanita yang datang bersamanya ini? Anak itu terlihat tidak bersemangat. Dia tampak murung. Dia terlihat sedih.
"Ingat, buat dia sibuk di sini. Jangan sampai dia teringat apa pun tentang rumah atau orang tuanya."
"Nyonya tenang saja, itu masalah mudah!"
Mendapati Yoori tengah menguping. sang pengurus panti menegurnya. "Hey, Yoori!"
Yoori tersentak kaget.
"Apa yang kau lakukan di situ, huh?"
"Aku sedang membersihkan meja."
"Pergilah dan kerjakan yang lainnya!"
"Ngg, Bibi, apa aku boleh minta makan dulu sekarang?"
"Apa? Makan?" Bibi pengurus panti berdiri, menghampiri Yoori. Dia tampak berang, membuat Yoori tegang. "Memangnya kau sudah menyelesaikan cucianmu?"
Yoori menggeleng.
"Dasar anak tidak tahu diri! Jika bukan karena aku yang sudah membawamu ke sini, kau pasti sudah menjadi gelandangan di luar sana! Pikirkan jika aku tidak mengurusmu selama ini, bagaimana bisa kau tumbuh sebesar ini? Orang tuamu saja tidak menginginkanmu, seharusnya kau bersyukur dan tahu diri bisa tinggal di sini! Aku hanya memintamu untuk bekerja sebagai balasan, tapi kau malah mengaturku!" Wanita itu menepak kepala Yoori. "Kapan aku akan memberiku makan, itu adalah urusanku!"
"Tapi aku lapar, Bibi! Aku akan menyelesaikan semua pekerjaan setelah Bibi memberiku makan!" Yoori bersikeras di sela cucuran air matanya. Ia sudah tak tahan dengan rasa perih yang meremas-remas perutnya.
"Enak saja! Setiap orang harus bekerja sebelum mendapatkan uang, begitu pun di sini! Selesaikan dulu semua pekerjaan yang kuberi, baru kau bisa makan!"
Wanita paruh baya itu menoleh ke belakang dan tamunya malah menyunggingkan senyum dukungan. Yoori pun berlalu ke halaman belakang dan menumpahkan air matanya. Ia terduduk memegangi perutnya di samping bak-bak besar berisi rendaman pakaian dalam air berbusa. Bagaimana ia akan bekerja dengan perut kosong?
Yoori kelaparan. Diperlakukan dengan paksa dan harus mengerjakan pekerjaan yang sebenarnya tidak layak dikerjaan untuk anak seusianya, adalah hal yang sudah biasa terjadi di panti asuhan ini. Tak hanya Yoori, pengurus panti juga menyiksa semua anak-anak yatim piatu yang menumpang di yayasannya ini.
Isak tangisnya mereda begitu seorang anak menjulurkan sebungkus roti untuknya. Yoori mendongak dan anak laki-laki yang datang bersama wanita tadi sudah berdiri di hadapannya. Ternyata anak itu lebih kecil dari Yoori. Ya, seperti yang ia dengar tadi, wanita itu mengatakan usianya baru sepuluh tahun. Sedangkan Yoori sudah dua belas tahun.
Bagaimana dia bisa tahu Yoori sedang butuh makan? Apakah tadi dia melihat saat pengurus panti memarahinya? Setelah Yoori menerima roti pemberiannya dengan ragu-ragu, anak itu pergi.
Tengah malam ....
Seperti kebiasaan yang selalu Yoori lakukan saat seisi panti asuhan tertidur lelap, ia akan mengendap-endap keluar dan mulai menggerogoti pagar halaman belakang yang terbuat dari tembok menggunakan palu. Tembok yang cukup tinggi untuk dapat diraih. Namun begitu rapuh karena bangunan tua. Ia telah membuat lubang di balik pot tanaman, akan tetapi masih belum muat untuk meloloskan seluruh tubuhnya keluar. Pelan-pelan, Yoori mengetuk sisi-sisi lubang, memperbesarnya dan akhirnya ia berhasil. Malam ini ia tidak ingin bertahan lagi di panti. Ia sudah mengemasi semua pakaiannya ke dalam ransel dan bersiap melarikan diri. Tekadnya untuk hidup bebas di luar sana memang cukup berani, dan Yoori merasa itu akan lebih baik daripada terus disiksa di sini.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aagrh!"
Yoori terperanjat kaget saat seseorang menegurnya. Ia memekik singkat, tapi buru-buru membungkam mulutnya sendiri saat melihat anak laki-laki yang memberinya roti tadi pagi sudah berdiri di belakangnya.
"Kau?" Yoori panik karena diaanak penghuni baru panti asuhan initelah memergokinya tengah membobol tembok.
"Kau sedang membuat lubang? Untuk apa?"
"Pssstt! Jangan keras-keras!" Yoori menarik tangan anak itu hingga terduduk di dekatnya, menyembunyikannya dari cahaya lampu. "Aku akan kabur dari sini. Kau mau ikut?"
"Kenapa? Aku baru saja tiba tadi pagi."
"Ya, aku tahu. Tapi jika saja kau tahu, pengurus panti ini sangat kejam pada semua anak!"
"Oh, ya? Bukankah dia menyekolahkan semua anak-anak di sini?"
"Memang, dia membangun sekolahan sendiri di samping panti dan juga memanggil guru untuk tiga hari dalam seminggu. Di hari lain, kami dipaksa untuk bekerja. Dia tidak akan membiarkan kami belajar sebelum semua pekerjaan rumah selesai. Dia menggunakan uang donasi untuk kepentingannya sendiri."
Anak laki-laki itu serius mempelajari pengakuan Yoori. Yoori berkata jujur, ia mengalami trauma hebat karena itu.
"Dengar, aku membuat lubang ini berhari-hari, kau pun belum tentu bisa mendapatkan kesempatan yang sama di kemudian hari. Sebelum lubang ini akan benar-benar ditutup besok pagi, dan bahkan semua pintu di tempat ini, atau bisa saja semua anak akan dipasangkan pasung di kedua kaki dan tangannya, sebaiknya kau juga pergi dari sini!"
"Pergi ke mana?"
"Ke mana saja, asal tidak di sini! Atau kau bisa kembali ke rumahmu. Kau pernah tahu ada neraka di langit? Maka ini adalah neraka di bumi!"
Bocah itu berpikir keras. Tentu dia tahu Yoori tidak berbohong jika dia sendiri telah melihat bagaimana tadi pagi Yoori tidak diberi makan oleh pengurus panti.
"Sudah, kembali saja jika kau masih banyak berpikir. Aku harus cepat-cepat pergi dan menemukan surgaku. Besok saat si nenek sihir itu menyadari kepergianku, sebaiknya kau diam saja, ya!"
Yoori membenarkan posisi ransel di punggungnya, bersiap untuk melewati lubang tembok.
"Tu-tunggu! Aku ikut!" Anak itu menahannya.
Yoori menoleh. "Kau yakin?"
Dia mengangguk. "Tapi bisakah aku mengambil pakaianku dulu?"
Yoori mendegus. "Merepotkan sekali. Cepatlah!"
Akhirnya mereka berdua bebas dari tempat terkutuk itu. Ini menjadi pengalaman pertama Yoori memijakkan kaki di luar kawasan panti. Ia berlari cepat, menjauh dari tempat yang selama ini merenggut hak-haknya sebagai seorang anak. Walaupun ia tidak tahu apakah dirinya masih memiliki orang tua dan di mana mereka berada, ia masihlah tetap seorang anak biasa yang harusnya layak diperlakukan seperti seorang anak. Setidaknya, pemberian kasih sayang akan membuatnya senang. Jika pengurus panti tidak sudi memberikan itu, maka Yoori akan mencari kesenangannya sendiri di luar.
"Wuuuuooooh! Akhirnyaaa ... aku bebas!" Yoori meneriakkan kebebasannya di tengah jembatan yang membentang di atas sungai curam. "Kenapa diam saja? Berteriaklah sepertiku, keluarkan semua keluh kesahmu agar kau bisa merasa lega!"
Anak laki-laki itu tersenyum, kemudian sesuai perintah Yoori, dia benar-benar berteriak kencang. "Huaaaaaargh!!"
Yoori terkekeh. "Bagus."
"Lalu, apa yang akan kita lakukan setelah ini?"
Yoori tertegun oleh pertanyaan bocah itu. "Aku tidak tahu."
"Apa?"
"Aku tidak pernah memikirkan mau ke mana. Aku tidak punya keluarga ataupun saudara. Aku juga tidak tahu siapa orang tuaku. Mereka bilang, aku dibuang ke tempat itu sejak aku masih bayi. Ya, walaupun mereka sudah mengurusku hingga aku sebesar ini, tapi bukan berarti mereka bisa seenaknya saja menyiksaku, kan?"
"Itu benar."
"Bagaimana jika kau bawa aku ke rumahmu?"
"Tapi aku juga tidak punya keluarga."
"Oh?"
"Ayah, ibu, kakakku, mereka baru saja meninggal dalam kecelakaan. Dan karena itulah aku dikirim ke panti itu."
"Dia pengasuh yang sudah lama bekerja pada orang tuaku. Dia yang merawatku selama ini. Kami selamat, karena saat itu kami ada di rumah."
"Itu artinya kau masih punya rumah, kan? Siapa yang akan menempatinya jika kau di sini? Seharusnya dia tetap menjagamu di rumah itu, kan?"
"Aku tidak tahu. Dia bilang tidak bisa mengurusku lagi. Katanya, dia juga akan menjual rumah dan seluruh harta milik ayahku untuk melunasi semua hutang-hutang orang tuaku."
"Oh, begitu."
"Jadi, apa kita akan di sini semalaman?"
"Aku tidak punya uang untuk menyewa tempat tinggal. Aku hanya membawa beberapa potong roti untuk bekal. Kita juga tidak bisa tinggal di sembarang tempat. Mereka akan mencari kita dan menghukum kita jika tertangkap. Sementara waktu, kita harus bersembunyi di tempat yang sepi dan aman. Tapi ... aku tidak tahu di mana itu. Apa ada tempat seperti itu?"
Sejenak tampak memikirkan ucapan Yoori, wajah anak itu berubah cerah seakan mendapat gagasan. "Aku tahu! Ayo kita ke sana saja!"
"Oh? Sungguh ada? Di mana itu?"
"Ya, rumah itu ada di pelosok Itaewon. Ayahku pernah mengajakku ke sana. Sepertinya tidak ada yang menempatinya."
"Bagaimana jika pemiliknya tahu dan mengusir kita?"
"Kalau begitu, kita pergi saja dan mencari tempat lain. Memangnya apa mereka tega mengusir anak kecil seperti kita?"
"Tapi, Itaewon cukup jauh dari sini. Ya, walaupun aku belum pernah ke sana, tapi itulah yang kudengar dari mereka."
"Kita akan naik subway. Aku punya uang tabungan untuk membeli tiketnya. Setibanya di sana, kita tinggal naik bus saja sesuai tujuan. Aku hafal semua jalan."
"Apa sebelumnya kau dan keluargamu memang tinggal di sana?"
Anak itu mengangguk mantap.
"Baiklah, bagus sekali. Ayo!"
Mereka benar-benar nekat pergi ke sana. Ditempuhnya perjalanan panjang menggunakan kereta bawah tanah. Dua anak yang tak saling mengenal ini tidak peduli bahaya di sekitarnya. Menurut Yoori, ia sudah cukup usia untuk mulai mengenal dunia. Perjalanan ini seperti petualangan yang membuatnya tertantang. Pengalaman keras dan menyakitkan yang ia dapatkan di panti itu sejak ia masih bayi telah membuatnya cukup untuk bertahan dari rasa takut dan serangan. Anak laki-laki itu memang tidak banyak bicara, dia hanya tersenyum memperhatikan Yoori yang berseru-seru mengagumi apa yang dilihatnya, tapi Yoori mengaku senang memiliki teman seperjalanan yang kaya pengetahuan sepertinya.
Mereka tiba di sebuah rumah tua yang seluruh bangunannya terbuat dari kayu, setelah melewati perkampungan, lalu lapangan yang luas, pohon-pohon tinggi, juga telaga panjang. Tidak ada rumah lagi di situ. Di sisi seberang telaga, popohonan rindang bak hutan membuat suasana menjadi sedikit menakutkan.
"Rumah apa ini?"
Itu lebih buruk dari panti asuhan yang pernah Yoori tinggali. Kayu-kayu berserakan di dalam ruang. Gelap, dan lembap.
"Ini kabin. Ayah pernah mengajakku masuk ke sini beberapa bulan yang lalu sebelum Ayah meninggal. Kami memancing di telaga itu, dan terpaksa berteduh karena hujan. Di sini tidak berpenghuni dan tidak dikunci, jadi kami masuk saja."
"Ini sangat menyeramkan. Bagaimana jika ternyata di sini banyak hantunya?"
Anak laki-laki itu tertawa kecil. "Semua rumah itu berhantu, tapi itu tidak akan menakuti jika kita tidak membiarkan rasa takut itu berkembang dalam diri kita."
Mereka membersihkan sudut ruangan dari serbuk-serbuk kayu hasil susupan rayap. Yoori menggelar selimut di lantai untuk tempat mereka beristirahat. Pada malam hari, suasana mencekam amat terasa. Mereka berdua duduk bersebelahan setelah memakan sisa bekal yang Yoori bawa. Air dan lampu di kabin itu tidak bisa menyala, jadi mereka menggunakan senter dan lilin sebagai penerangan. Sementara untuk urusan buang air, mereka harus menggunakan air hujan dari tempayan penampungan di luar, atau pergi ke telaga.
"Oya, siapa namamu?"
"Aku Yoori. Tapi mulai sekarang, aku akan mengganti namaku dengan yang baru!"
"Kenapa begitu?"
"Nama itu, tentu nama pemberian dari nenek sihir itu. Aku tidak mau lagi memakai nama itu. Lagi pula aku akan memulai hidup baru di sini, dan melupakan masa laluku yang buruk dengan kebiasaan baru, dan juga nama baru!"
Anak laki-laki itu meringis geli. "Baik, aku juga akan mengganti namaku!"
"Benarkah?"
Dia mengangguk yakin.
"Kalau begitu biar aku yang membantu mencarikan nama untukmu!" Yoori begitu antusias. Ia pun berpikir keras. Setelah beberapa detik, ia menemukan sebuah ide, "Jack. Bagaimana dengan nama itu? Kau suka?"
"Jack? Kenapa harus Jack?"
"Karena aku suka saja. Kedengarannya enak." Yoori menyeringai.
"Itu bagus juga. Aku juga suka Jack Sparrow dan sudah beberapa kali menonton filmnya."
Mereka serempak tergelak.
"Bagaimana denganku?"
"Biar aku! Biar aku yang pilihkan, ya!"
"Boleh. Tapi jangan yang terdengar konyol, ya!"
Jack tertawa.
"Alexa," usulnya setelah tercenung sesaat. "Lexa, aku suka nama itu, dan itu cocok denganmu yang pemberani dan pembela!"
"Oya? Apakah itu artinya?"
Jack mengangguk.
"Bagus sekali. Aku suka. Lexa, Lexa, Lexa."
Jack tertawa geli begitu Yoori terus menyebut nama barunya itu.
Hari-hari pun mereka lalui bersama dengan begitu adanya. Setiap saat, setiap apa saja yang akan mereka lakukan, selalu ada keterbatasan, penuh ancaman, dan akhirnya memaksa keduanya untuk membenarkan segala cara. Jack dan Lexa melakukan apa pun demi bertahan hidup tanpa pengawasan orang dewasa, termasuk dengan mencuri. Banyak kesulitan yang harus mereka hadapi daripada kesenangan itu sendiri. Hanya dengan berkhayal, mereka mampu menciptakan dunia mereka yang menyenangkan di kala lelah dan bosan melanda.
"Jack? Hey, Jack! Bangunlah!" Lexa kecil terheran-heran karena mendapati Jack tiba-tiba mendesah-desah dalam tidurnya. Kedua mata Jack memang terpejam, tapi dia tampak resah. Lexa menepuk-nepuk wajah Jack, hingga bocah itu membuka matanya. "Kau tidak apa?" tanya Lexa kalem sembari membungkuk di atas Jack.
Tak lekas menjawab, Jack yang telah berusia 13 tahun itu malah terbengong-bengong menatap Lexa tanpa berkedip. Seulas senyum Lexa berikan untuk mengembalikan ingatan Jack, tetapi pemuda itu malah menyingkirkan tubuh Lexa dan pergi tergesa-gesa. Lexa tahu, Jack kecil baru saja mengalami mimpi langkanya. Dia telah memasuki masa pubertas. Dia telah menginjak masa remaja. Karena semenjak kejadian itu, Jack mendadak berubah menjadi sosok pemalu. Dia selalu canggung setiap berada di dekat Lexa. Meski Lexa sudah berusaha untuk mencairkan jarak yang tiba-tiba terbentuk di antara keduanya—dengan berlaku akrab dan tak jarang mencandainya, Jack tetap saja bersikap kikuk dan mulai jarang bicara.
Hingga beberapa tahun berikutnya, perlahan semuanya berubah. Selain tumbuh berewok tipis dan berganti suara, Lexa pun menyadari adanya perubahan dalam hati Jack untuknya. Saat Jack berusia 18 tahun, Lexa kerap mendapati pemuda itu memperhatikannya diam-diam. Walaupun setiap hari kompak mencuri bersama-sama, melewatkan setiap hari bersama-sama, ada saatnya Jack melewati batas normalnya. Lexa mencium Jack untuk yang pertama kalinya, memberinya pengalaman pertama setelah berhasil membuat Lexa gembira menerima hadiah ponsel darinya—dari ponsel itulah, mereka bisa belajar banyak hal lewat dunia maya—Jack tertegun, tak berkutik seperti patung.
Antara kesalahan dan keberanian, Lexa belum bisa membedakan kedua hal itu untuk menilai perbuatannya. Ketika Jack tertegun melihatnya tengah berganti pakaian, Lexa yang berusia lebih tua dua tahun darinya pun mendekatinya. Ia mengangkat kedua tangan Jack, dan menempelkannya ke pipi Lexa, membiarkan pria itu menjamahnya. Dia terlihat gugup dan grogi.
"Sepertinya ... aku jatuh cinta." pengakuan Jack secara tiba-tiba itu mencengangkan Lexa.
Kala itu mereka tengah duduk berduaan di dalam kamar. Sambil memeluk kedua lutut masing-masing, bersama mendengarkan suara derai hujan yang berjatuhan di luar. Mereka tidak punya televisi ataupun radio sehingga setiap malam harus mereka lewati dalam suasana sunyi. Namun kali ini, Lexa bisa mendengar dengan jelas bunyi detak jantungnya yang keras dan tak terlatih. Ia dan Jack saling bertatapan dekat, menyelami mata dengan perasaan yang bergetar hebat.
"Lexa, aku jatuh cinta padamu!" Jack memperjelas, dan Lexa merasa napasnya berhenti berembus. "Kita sudah bersama-sama sejauh ini. Rasanya sulit bagiku untuk berpisah darimu. Tapi membiarkan kita terus begini, memendam apa yang aku rasakan ini, rasanya ini tidak akan baik. Jadi ... bagaimana ... jika kita menikah saja?"
"A-apa?"
"Jadilah istriku, dan terimalah aku sebagai suamimu! Kita akan terus bersama dan aku akan selalu menjagamu!"
"Jack ...."
"Kau mencintaiku, kan?"
Lexa termangu-mangu masih merasa tak percaya dengan apa yang ia dengar baru saja, tapi Jack terlihat begitu menjanjikan. "Ya," jawabnya, akhirnya mengembangkan senyuman di bibir pemuda itu.
Jack terlihat sangat senang. Lexa pun tak memiliki alasan untuk menolaknya. Mereka setiap hari bersama, tinggal bersama, dan melakukan semua hal bersama-sama, bagaimana mungkin Lexa bisa memungkiri perasaan yang sama? Ia tidak meragukan perasaannya sama sekali. Yang ia pikirkan hanya bagaimana caranya mereka bisa terus bersama, dan itulah jawabannya.
Jack menggenggam kedua tangan Lexa. "Mari berjanji mulai detik ini, kita adalah suami dan istri! Kita ... menikah!"
Ya, mereka menikah. Jalinan itu telah berlaku dan terpaku hanya berawal dari sebuah ucapan saja. Sejak saat itu, Jack mulai berani menyentuhnya dan mereka pun melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan sepasang suami istri untuk yang pertama kalinya. Kegelapan dalam kabin itu tak hanya membutakan penglihatan mereka terhadap kebenaran, tapi juga hitam dalam mengartikan cinta.
Hai, Reader 🤗 Babak kehidupan baru Jack dan Lexa, akan segera dimulai. Beri like dan comment yaa biar author-nya semangat dan rajin update 😁