
Susah payah Jack menarik punggungnya untuk duduk. Nyeri luka tusuk di bagian perutnya terus berdenyut-denyut dan membuatnya lemah. Tenaga yang dimilikinya pun terasa terus berkurang tiap kali Jack menggerakkan tubuhnya.
"Son. Son!"
Pemuda yang dipanggilnya datang dari luar kamar dengan tergesa-gesa. "Kakak, kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu? Apa obat penahan nyeri yang aku belikan semalam berpengaruh?"
"Jam berapa sekarang?"
"Ngg, dua belas siang."
"Apa? Kenapa kau tidak membangunkanku? Kita sudah sangat terlambat menemukan Lexa!"
"Kakak, kau tidur sangat nyenyak. Aku tidak mau mengganggumu. Aku pikir kau masih butuh istirahat."
"Lexa! Saat ini yang lebih penting adalah Lexa!" Jack meninggi. "Aku akan pergi sendiri!" Jack bangkit dan beranjak pergi dari kamar. Kecemasannya kembali mendera mengingat Lexa tak di sisinya.
"Tapi, Kak, di luar masih terlalu terang!"
"Enyah saja kau!" Jack mendorong dada Son yang terus saja menghalanginya, hingga pemuda itu terempas limbung ke belakang.
"Kakak! Kakak!"
*****/////
Ragu-ragu Lexa menemuinya. Pria berwajah mulus dan licin itu dilihatnya sibuk di dapur. Dia sedang memasak. Dia mengiris bahan dengan gerakan cepat. Dia tampak sangat ahli. Dia terlihat ... seksi. Ini sudah lewat dari pukul 12:00, tapi dia tidak berangkat bekerja, Lexa tidak tahu kenapa. Ia juga tidak mencoba mencari tahu, sebab Lexa sendiri baru terbangun dari lelap tidurnya setelah semalam gelisah tanpa alasan. Si duda itu memberinya tempat tidur di kamar tamu. Kendati kamar itu luas dan bagus, Lexa masih saja tidak mengerti kenapa dirinya tidak bisa merasa tenang. Tentu Jack-lah menjadi penyebab utamanya.
"Kau sudah bangun." Junho melihatnya. "Apa kau sudah biasa bangun sesiang ini?"
Lexa mengalihkan pandangannya ke arah lain, merasa sedikit tersinggung, sekaligus malu karena ia memang tidak pernah bangun terlalu pagi.
"Eunbi membangunkanmu berkali-kali, tapi kau sama sekali tidak bergerak." Junho kemudian menertawakannya dengan suara lirih. "Lihatlah, dia jadi bermain sendirian."
Lexa memutar pandangan ke belakang, ke arah yang ditunjuk Junho, dan dilihatnya gadis kecil itu sibuk bermain bersama bonekanya di dalam tenda kemah kecil, yang didirikan di halaman belakang.
"Aku berpikir untuk pergi ke kantor setelah kau bangun, karena khawatir kau benar-benar tidak akan bangun."
Dia pikir Lexa mati? Lexa cemberut.
Junho berjalan ke arahnya sembari membawa sepiring kentang goreng yang mungkin baru saja dibuatnya. "Kau mau? Ayo!" Dia memberi isyarat mata ke arah halaman belakang untuk menyuruh Lexa mengikutinya.
Seakan tersihir mantra dari senyuman cerianya, Lexa menurut saja.
Eunbi berlari kecil dengan wajah riangnya menuju ke arah mereka. "Kakak sudah bangun! Ayo, temani aku bermain!" Dia menarik satu tangan Lexa.
"Nanti saja, ya. Aku sedang malas." Lexa menolaknya secara halus.
Eunbi merengut. "Baiklah." Dia lantas mengambil sepotong kentang setelah Lexa dan ayahnya duduk di kursi yang bersebelahan. Gadis itu kembali ke tendanya, bermain dengan dunianya.
"Aku adalah orang yang berpegang teguh pada janji." Tiba-tiba bicara, kalimat Junho itu seketika menyita perhatian Lexa padanya. "Janji itu kuat. Aku percaya pada janji. Karena itu aku tidak ingin bermain-main dengan janji."
Lexa mencermati setiap bagian wajah bersih itu dari sisi samping. Hidungnya yang mancung, juga alisnya yang tebal. Rasanya ia tidak percaya, pria setampan dia bisa begitu tega menggusur rumah warga. Apakah dia melakukannya atas perintah orang lain? Perlukah Lexa menyelidiki ini? Untuk apa? Mengapa Lexa begitu ingin membuktikan bahwa si duda ini pria baik-baik?
Sampai Junho meneruskan, "Tapi dia, saat aku berjanji di hari pernikahan kami, saat itu aku telah menyerahkan semua dariku padanya."
Eh? Apakah dia sedang membicarakan mantan istrinya? Lexa mengangkat kedua alisnya, tak mengerti kenapa pria itu tiba-tiba beralih topik pembahasan.
"Aku pikir dia pun sama. Setahun setelah melahirkan Eunbi, dia kembali seperti yang dulu, seperti tidak pernah ada kami. Dia melupakan tanggung jawabnya, janjinya. Sejak saat itu, aku tidak percaya pada janji-janji lagi."
Oh, begitu.
Ya, walaupun Lexa tidak tahu jelasnya, dan tidak tertarik untuk mencari tahunya, dari apa yang diungkapkan pria itu secara tiba-tiba dan singkat saja, Lexa bisa mengerti kekecewaan yang dirasakannya. Dia telah kehilangan kepercayaan. Sepertinya, itulah yang membuatnya sulit menemukan pengganti ibu Eunbi. Dia pria yang cukup tampan, dan tentu mapan, itu juga yang membuat Lexa heran kenapa dia tidak berpikir untuk mencari pendamping hidup yang baru.
"Kalian berpisah hanya karena itu?" setelah menanyakan itu, Lexa seakan tersadar ia sudah terlalu lancang. Dalam hati, ia membodohi dirinya sendiri.
"Hanya karena itu, segalanya menjadi kacau," timpal Junho, masih tak berpaling dari pemandangan di depannya.
"Tapi selama tidak ada orang lain, mungkin saja hubungan kalian masih bisa diperbaiki. Mungkin ... dengan kembali membuat janji yang baru."
Lexa meringis kembali membodohi dirinya sendiri. Payah, Lexa sama sekali tidak berkuasa menahan kalimat itu di mulutnya. Melihat kesedihan di wajah Junho saat kembali mengenang kesakitan yang mungkin dirasakannya di masa lalu, membuat Lexa tak sadar diri untuk menaruh simpati. Ia tak percaya dengan apa yang dikatakannya. Semua itu mengalir begitu saja dari mulutnya.
Junho menyunggingkan senyum menatap Lexa, entah untuk apa, sepertinya dia merasa itu lucu. Mungkin memang terdengar aneh. Lexa yang seorang pencuri berani menasihati pria baik-baik sepertinya.
"Semua orang bisa berjanji, tapi tidak semuanya mampu menepati. Sesuatu yang terlihat meyakinkan pun, tidak menjamin bisa memberikan kepastian. Tapi aku kagum padamu."
Eh? Pada Lexa?
"Kau yang terlihat tidak meyakinkan ...." Junho melirik penampilan Lexa, mengamatinya dengan tatapan menilai. "Aku tidak menyangka kau akan benar-benar menjaga putriku dan menepati janjimu."
Iya, mungkin semua orang pun akan menilai sama. Lexa bertindik hampir di seluruh daun telinga. Rambutnya yang kering dan sepanjang pinggang pun diberi pewarna yang membuatnya amat mencolok. Ia selalu memakai penghitam di sekitar mata dan kuku. Juga dengan aksesori gelang dan kalung mainan di tangan beserta kakinya. Pasti itulah kenapa orang langsung menilainya bukan wanita baik-baik. Lexa terlalu garang dan urakan. Namun selama ini Lexa merasa nyaman dengan semua itu. Jack pun tidak pernah memprotes, dan selalu mendukung dengan berpenampilan sama.
"Kau perampok, tapi sepertinya kau bukan pengkhianat."
Pria itu terlalu sibuk menilai Lexa, entah sengaja untuk menyinggung atau meremehkan, terus terang ... Lexa malah merasa tersanjung. Payah.
Untuk membuat pria itu mengerti bahwa Lexa juga berhati, Lexa pun kembali bertutur, "Aku besar di panti asuhan. Aku tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua. Di sana aku disiksa, diperlakukan dengan kasar.
"Aku melihat Eunbi. Walaupun tidak terdapat luka di tubuhnya, bahkan hidup dengan mewah, tapi aku bisa merasakan ada luka yang sangat dalam di hatinya. Luka itu akan semakin berkembang saat dia dewasa, saat dia menyadari perpisahan orang tuanya. Mungkin saja, pengaruh yang akan diakibatkannya bisa lebih buruk dari apa yang terjadi padaku. Dia sangat menyedihkan. Kedua orang tuanya masih hidup, tapi tidak mendapatkan kasih sayang yang utuh."
Junho terdiam, dia tercenung menatap ke dalam mata Lexa. Lexa tahu, mungkin ini lagi-lagi terdengar aneh. Bisa jadi setelah ini si duda itu akan menertawakannya lagi, atau malah berpikir Lexa ini terlalu sok pintar. Namun Lexa tidak peduli. Ia hanya berkata menurut hati.
"Hey."
Lexa merapatkan alis mendapati pria yang selalu berdandan necis itu mendekatkan wajahnya ke wajah Lexa. Lexa tegang, takut jika pria itu akan keberatan bila Lexa terlalu mencampuri kehidupannya.
"Kau terlihat sangat manis seperti ini," bisiknya tak disangka-sangka Lexa, dengan mata berbinar-binar.
Eh? Apa maskudnya? Apakah Lexa sudah salah bicara? Ataukah lantaran pakaian milik mantan istrinya yang dikenakan Lexa ini? Berbagai pertanyaan berputaran di otaknya. Di sisi lain, Lexa sibuk menyembunyikan semburat merah yang pastinya menyala-nyala di pipinya, mungkin sampai ke daun-daun telinga akibat pujian si duda. Pria itu menyunggingkan senyuman yang manis—sungguh teramat manis—lalu berpaling memandang ke depan, dan Lexa masih terbengong-bengong sibuk mengartikan getaran di dadanya.
*****/////
"Bagaimana?" tanya Jack tak sabar hati begitu Son kembali dari rumah yang rencananya akan mereka jadikan target perampokan beberapa waktu lalu.
Ketika itu, hari menjelang sore. Son menyamar untuk memastikan keadaan rumah itu, mencari tahu informasi mengenai keberadaan Lexa. Dia menghampiri tempat Jack mengawasinya di balik pohon di seberang jalan.
"Kakak, pemilik rumah belum pulang sejak seminggu yang lalu, tepat seperti yang pernah kita perkirakan. Pelayan di rumah itu juga tidak berkata apa pun. Rumah itu tampak tenang. Sepertinya Kak Lexa tidak tertangkap." Demi mendapatkan sedikit informasi, Son berdandan seperti wanita dengan mengenakan perias wajah, juga bulu mata palsu yang datang untuk menawarkan asuransi jiwa.
"Lalu kenapa dia belum juga kembali? Di mana dia sekarang?" Jack bertanya pada dirinya sendiri.
"Kakak, apa mungkin seseorang menculiknya?"
Jack menoleh. "Menculik untuk apa?"
"Kak Lexa begitu cantik. Dia terlihat seperti anak orang kaya, mungkin para penculik berpikir untuk meminta tebusan. Kita tunggu saja mereka menghubungi kita."
"Dasar bodoh!" Jack menceletuk karena tak sependapat. "Lexa itu wanita yang cerdik. Dia punya banyak siasat untuk mengelabui musuhnya. Hanya melarikan diri dari seorang penculik, itu pasti tidak sulit baginya. Lagi pula, mana ada penculik yang tega mengurung wanita secantik dia! Bukannya meminta tebusan, bisa-bisa Lexa dijadikan istri."
Son merengut manja. Jack semakin geli melihatnya, apalagi dengan mini dress milik Lexa yang dikenakannya. Berpikir keras, Jack terdiam sesaat mengawasi kembali rumah mewah yang tadi dimasuki Son.
"Coba lihat itu," titahnya seiring pencerahan yang menghampiri otaknya.
"Rumah itu?"
"Nomor rumahnya."
Son mengikuti arah pandang Jack, tepat ke arah plat nomor rumah yang tadi didatanginya. "Ada apa dengan itu?"
"Perhatikan baik-baik angkanya."
"86."
"Coba balik kedua angka itu."
Son bergumam sejenak. "Menjadi 68."
"Coba putar platnya!" cetus Jack kesal.
"Baik."
"Eh, eh, kau mau ke mana?" Jack mencegah ketika Son hendak berlalu darinya.
"Membalik plat nomor rumahnya."
"Bayangkan saja dengan memutar penglihatanmu!" celetuknya kian geram dengan keluguan anak buahnya itu.
Son memutar kepalanya searah jarum jam sambil serius memikirkannya. "Mmm ... menjadi 98."
"Kita cari rumah nomor 98," putus Jack kemudian, mantap. Ia hengkang begitu saja.
Son buru-buru menyusulnya dengan larinya yang manja. "Kakak, apa maksudmu, Kak Lexa salah memasuki rumah?"
"Itu masih perkiraanku."
Mereka mengelilingi kompleks untuk mencari rumah dengan nomor itu. Dugaan Jack bisa sampai ke sana, lantaran ia tidak punya alasan lain lagi yang memperkuat penyebab Lexa tidak juga kembali pulang ke rumah.