
Delapan belas bulan telah berlalu ....
Terhitung sejak Lexa pergi meninggalkan Jack. Walau terkadang masih terbayang-bayang wajahnya, perlahan Lexa pun mulai terbiasa menjalani hari-hari tanpa pria itu. Kenangan manis mereka menjadi amat menyakitkan setiap kali Lexa mengingatnya. Namun semua tindakan buruk yang selalu mereka lakukan menguatkan tekad Lexa untuk tetap bertahan dalam keadaan apa pun kini.
Setahun lalu, ia diterima bekerja sebagai pramusaji di sebuah hotel ternama di kawasan Hannam-dong. Lexa merasa beruntung sebab tak harus menyerahkan surat-surat riwayat pendidikan ataupun persyaratan lainnya yang tidak Lexa miliki. Walaupun penghasilan yang didapatnya tidak banyak, Lexa mampu bertahan hidup dari itu.
Lexa bekerja delapan jam, berangkat di pagi hari dan pulang saat sore. Walau ia menjalani kehidupannya dengan hal-hal yang biasa saja, ia merasa sangat tenang dan cukup nyaman dengan kondisinya saat ini. Justru karena hal-hal biasa itulah, menjadi sesuatu yang berbeda dari kehidupannya yang dulu. Hal kecil yang ia dapatkan dari hasil kerja kerasnya pun menjadi sangat berarti.
Malam ini, seorang pengusaha menyewa hotel untuk menggelar pesta pernikahan putrinya. Lexa dan para pelayan lain yang seharusnya bekerja setengah hari pun diminta untuk lembur seharian. Lexa berusaha tetap fokus pada pekerjaannya meski pikirannya di tempat lain, dan itu sedikit membuatnya cemas.
"Yoori, apa kau baik-baik saja?" Sang kepala dapur memberikan pertanyaan itu ketika melihat Lexa masuk ke dapur dengan wajah lemasnya.
Dialah Kak Lin, wanita 40 tahun yang telah menolong Lexa—yang kala itu tengah terombang-ambing di jalanan tanpa tujuan. Melihat kondisi memprihatinkan Lexa hari itu saat pertama kali Kak Lin menemukannya di pinggiran jalan—pada tengah malam—Kak Lin berani membawa Lexa yang belum pernah dikenalnya ini ke apartemennya. Selain memberinya pekerjaan di hotel ini, wanita berhati mulia itu juga menyewakan apartemen di tempat yang sama untuk Lexa. Walaupun apartemen yang ditempati hanyalah apartemen biasa, di beberapa negara biasa disebut juga rumah susun yang tak lebih dari lima lantai, akan tetapi Lexa merasa sangat tertolong. Wanita itu telah menyelamatkan hidupnya. Saat Kak Lin menanyakan nama Lexa untuk yang pertama kali, Lexa memutuskan untuk kembali memakai nama semasa kecilnya, nama aslinya.
"Aku tidak apa, Kak. Aku hanya ... sedikit mencemaskannya."
Kak Lin mesem. "Tenanglah, seseorang sedang menjaganya, kan!" Dia menjadi satu-satunya orang yang sangat mengerti Lexa saat ini. Dia selalu tahu apa yang sedang Lexa pikirkan.
"Ya, mungkin aku hanya merindukannya."
Sejak Kak Lin menolong Lexa dan akhirnya hidup bertetangga, Lexa telah menceritakan segalanya kepada wanita itu. Tentang kehidupannya, juga masa lalunya. Tak hanya itu, Kak Lin mendukung usaha Lexa dalam menerapkan perubahan baik pada dirinya kini.
Kak Lin tersenyum lembut seraya memegang pundak Lexa. "Semoga acara ini cepat selesai dan kita bisa segera pulang."
Lexa mencibir. "Ya, karena Kakak juga sudah tidak sabar, kan, ingin segera pergi berkencan?" Lexa mengerling nakal sambil menyenggol-nyenggol lengan Kak Lin dengan sikunya.
Kak Lin membelakak. "Eits, bicara apa kau ini?"
Lexa menyipitkan mata untuk mulai menggoda. "Pria itu akan menjemputmu malam ini, kan, Kak? Hm? Ayo, mengaku saja! Aku mendengarnya saat Kakak bicara dengan pria itu di telepon kemarin."
"Oh? Pssttt ...! Kecilkan suaramu!"
"Kenapa memangnya? Biarkan saja semua orang tahu, akhirnya Kakak tidak sendiri lagi. Label janda itu akan segera terlepas dari diri Kakak!" Lexa tak jera meledek.
Bagaimana pun, ia turut senang akhirnya Kak Lin mau membuka hatinya setelah sepuluh tahun dia mengaku hidup dalam kesendirian, semenjak diceraikan suaminya demi wanita lain. Ya, Kak Lin seorang janda tanpa anak. Mungkin sebab itulah Kak Lin menjadi sangat mengerti dan peduli pada Lexa yang sebatangkara.
"Kau ini, kami baru saja berkenalan!"
"Aah, tapi Kakak berharap padanya, kan?"
"Kau ini!" Pipi wanita itu bersemu merah. Dia malu-malu.
"Hei, hei, kenapa malah mengobrol? Para tamu sudah mulai berdatangan!" Datang Min-Na, teman sesama pramusaji, menegur keduanya.
"Ah iya, maaf." Lexa menggumam.
"Kalian pasti sedang membicarakan Presdir Kim yang tampan itu, ya?"
Kak Lin mengernyit. "Presdir Kim?"
"Iya, pemilik Restoran Kim Ji yang terkenal di Itaewon itu! Kalian sudah melihatnya belum?"
"Aakh, kau ini, selalu tahu kalau soal pria tampan!" celetuk Kak Lin disambut tawa lirih dari Lexa.
Bekerja, bertemu dengan teman-temannya adalah hal yang menyenangkan dan selalu bisa menghibur Lexa tanpa sadar, sehingga waktu menjadi cepat berlalu tanpa terasa.
"Ayo, ayo, kembali bekerja!" Kak Lin selaku ketua juru masak, membubarkan waktu istirahat para anak buahnya.
"Kak, aku akan pergi ke depan," Lexa berpamitan.
"Iya, iya, kerja yang benar, ya. Jangan pikirkan apa pun!"
Lexa meringis. "Aku mengerti."
Lexa berkeliling untuk menyuguhkan minuman kepada para undangan. Gedung penuh dengan tamu. Acara sudah dibuka sejak setengah jam yang lalu, dan kini para tamu telah diperkenankan untuk menikmati hidangan. Mereka semua berpenampilan formal, membentuk kelompok di tiap meja, mengobrolkan sesuatu yang tidak Lexa pahami. Namun Lexa senang bisa ada di antara mereka, ya, meski hanya sebagai pelayan. Ini menjadi pengalaman baru baginya.
Hanya tersisa satu gelas minuman berwarna merah di atas nampannya. Lexa akan pergi untuk mengambil minuman lagi. Dalam perjalanannya menuju dapur, ketika melewati barisan meja-meja bulat yang dipenuhi tamu terhormat, seseorang berjalan dari belakang tak sengaja menabrak lengannya. Lexa tersentak ke depan, dan tanpa ia sadari, gelas di atas nampannya terguling. Seluruh minuman itu tumpah. Gawatnya, tak hanya di nampannya, air itu juga jatuh ke bawah mengenai salah seorang tamu yang duduk di kursi roda.
Orang-orang yang memadati meja itu kaget dan berteriak spontan, tak terkecuali Lexa sendiri. Ia terkejut, lalu buru-buru meletakkan nampannya di atas meja yang sama. Ia berlutut di hadapan wanita berkursi roda itu sambil buru-buru mengeringkan pakaiannya dengan celemek yang sebelumnya ia pakai.
"Ma-maaf, aku sungguh tidak sengaja!" Lexa bergetar. Ia terus mengusap bagian paha wanita itu karena Lexa membuat gaun putihnya bernoda, dengan tangan gemetar. Sesekali memperhatikan wajahnya, khawatir air itu juga tumpah di kepalanya.
"Tidak apa, biar aku bersihkan sendiri." Dia wanita yang lembut.
"Ya Tuhan, maafkan aku ...." Lexa ingin menangis. Tetap saja ia merasa bersalah. Seluruh tamu di sekitarnya memperhatikan Lexa, membuat Lexa sangat ketakutan dan juga malu.
"Iya, tidak apa. Ini hanya masalah kecil."
"Aku akan mengantar Anda ke kamar kecil untuk membersihkannya."
Beruntung sekali, wanita yang terlihat lebih tua usianya dari Lexa itu sangat baik. Namun Lexa tetap merasa tidak enak sendiri. Apalagi wanita bertubuh kurus tinggi itu duduk di kursi roda. Kemungkinan kakinya menderita masalah fungsi kerja, dan Lexa malah menyiramnya dengan air es.
"Ada apa?" Seorang pria datang dari arah berlawanan. Dia berdiri di belakang kursi roda.
"Ah, tidak, bukan apa-apa. Dia menumpahkan minuman ke bajuku."
"Aku sungguh tidak sengaja, Nyonya." Mata Lexa berembun. Ia ingin menangis karena takut dan malu.
Lexa menegakkan badan kembali usai memastikan minuman lengket itu tidak lagi menggenangi pangkuan wanita itu. Pandangannya beralih pada pria rekan wanita ituatau mungkin dia suami dari wanita itudan pria itu pun menatapnya. Saat itu, saat kedua mata saling bertemu, kepanikan Lexa sirna berganti terkejut begitu menyadari itu Jack. Apa? Jack?
Lexa tidak yakin dengan dugaannya. Ia mengerjapkan mata, memperbaiki penglihatannya. Pria itu jelas jauh berbeda dari Jack yang ia kenal. Dia berjas, berdasi, dengan model rambut klimis yang disisir rapi ke belakang. Namun pria itu pun menatapnya dengan keterkejutan yang sama, seakan-akan suatu pemikiran yang sama pun menetap dalam benaknya juga. Dia mengawasi Lexa dengan mata setengah membelalak, memperhatikan penampilan Lexa, seolah sedang meyakinkan penglihatannya pula. Tidak salah lagi, dia Jack!
Lexa beralih pandang guna mengendalikan situasi, tapi yang terjadi, ia malah hilang konsentrasi. Mendadak ia gugup dengan dada bergetar sekali.
"Sekali lagi aku minta maaf." Lexa mengucapkan itu dengan suaranya yang menghilang-hilang.
"Iya, tidak apa."
Ia berbalik dan pergi tergesa-gesa, masih sambil tercengang-cengang mencerna pertemuan ini. Ia ingin tidak percaya meski keadaan begitu nyata.
"Dasar tidak bertanggung jawab!" Seseorang bergumam dengan nada sinis. Itu suara Jack.
Langkah Lexa terhenti seketika saat kalimat kasar itu terasa seperti sebuah pukulan untuknya.
"Kim, sudah." Wanita berkursi roda itu menyela.
Kim? Apa itu nama asli Jack? Ataukah dia memang Kim dan bukan Jack?
"Apa kau pikir dengan pergi, masalahmu selesai?"
Sekelebat cahaya seolah meledak dalam penglihatan Lexa saat kata-kata ketus dari mulut pria itu kembali menamparnya. Lexa membalikkan badan ke belakang, melihat pria itu menatapnya dengan penuh kebencian.
"Apa kau tidak pernah berpikir, bagaimana jika noda yang kau tumpahkan ini bisa saja membekas dan tidak bisa hilang?"
"Kim, sudahlah, ini hanya masalah kecil. Aku bisa menggantinya nanti."
"Kau pergi begitu saja setelah mencemari pakaiannya. Mungkin kau merasa ini hanya masalah kecil. Tapi bagaimana jika setelah ini, pakaian ini tidak lagi terpakai dan akhirnya terbuang setelah sekian lama harus bekerja keras untuk bisa memilikinya?"
"Kim, kau ini bicara apa?" celetuk wanita berkursi roda itu, tetapi tetap tak diindahkan.
Pria itu berjalan mendekati Lexa, membuat Lexa bergetar ketakutan. Dia membuat orang-orang di sekitarnya terheran-heran. Tidak salah lagi, dia Jack yang pernah ia kenal kendati tidak lagi seperti yang dulu.
"Bukannya membersihkannya, kau malah pergi." Dengan sorot matanya yang tajam dan seakan memendam kesakitan, dia kembali mengucapkan kalimat yang akhirnya mampu Lexa pahami. "Jika pakaian itu telah diganti dengan yang baru, apa kau pikir semuanya terlupakan begitu saja? Kau akan tetap diingat sebagai pelaku yang tidak bertanggung jawab!"
Dia sedang tidak membicarakan tentang kesalahan Lexa yang telah mengotori pakaian wanita itu, entah siapa dia bagi Jack. Namun Lexa mengerti, pria itu mencoba memberi tahu apa yang sudah Lexa perbuat dengan meninggalkannya hari itu. Mata Lexa berair, ia nyaris menjatuhkan air matanya di pipi, akan tetapi batal saat wanita itu mendorong kursi rodanya untuk menghampiri Jack.
"Sudah, maafkan ucapannya. Ini tidak masalah bagiku. Kau boleh pergi," katanya.
Lexa mengangguk, kemudian lekas berputar arah. Dua langkah saja, Jack kembali mengecamnya.
"Pengkhianat."
Sekejap, Lexa terhenti. Suara itu memang tidak keras, bahkan sangat lirih, tapi Lexa masih bisa mendengarnya dengan jelas. Kali ini Jack benar-benar melontarkan satu kata yang semakin menunjukkan maksud hatinya. Pria itu tentu kecewa setelah tahu Lexa benar-benar pergi dari kehidupannya. Namun Lexa tidak menyangka, setelah selama ini mereka berpisah, Jack akan begitu membencinya. Tak mau terbawa emosi, Lexa memilih pergi.
Tuhan, apa yang Kau rencanakan dengan mempertemukan kami kembali?
Lexa merenung di pintu belakang restoran, tercengang-cengang seorang diri mencerna apa yang baru saja terjadi. Jack kembali muncul dalam kehidupannya, tentu menjadi suatu hal yang mengganggu pikirannya. Walaupun dia marah, tapi Lexa mengaku senang melihat segala perubahannya. Jack tampak lebih baik dari sisi gaya hidup maupun penampilan.
Apakah wanita berkursi roda itu kekasihnya? Atau juga istrinya? Wanita itu, sepertinya dialah yang membuat Jack berubah dan mampu memperbaiki hidupnya. Syukurlah, Lexa memejam lega. Ia telah membuktikan bahwa kepergiannya memang mampu memberikan pengaruh baik pada pria itu. Keputusannya dengan memilih berpisah, dirasanya begitu tepat. Lexa senang pada perubahan baik Jack itu kendati ia sendiri tersiksa. Tak apa, gumamnya dalam hati. Untuk suatu perubahan, dibutuhkan pengorbanan sekalipun itu perasaan.
"Yoori? Yoori!"
Minna meneriakkan nama Lexa di dalam dapur. Lexa tertegur dan buru-buru masuk kembali.
"Iya, ada apa?"
"Hey, kudengar tadi kau menumpahkan minuman ke salah seorang tamu?"
Lexa bergeming merasa napasnya tersumbat beberapa saat. "Ya, benar. Tapi sungguh aku tidak sengaja melakukannya."
"Apa kau tahu, wanita itu datang bersama Tuan Kim, Presdir 'Restoran Kim Ji' yang aku bilang tadi!"
"Apa? Presdir?"
"Iya! Aduuh, semoga saja berita itu tidak sampai ke manajer kita. Atau kalau tidak, ini akan menjadi masalah besar untukmu!"
Mendadak fungsi otak Lexa bekerja dengan sangat lambat ketika mengartikan satu kata itu. Presdir? Jack, presiden direktur? Di Restoran Kim Ji? Restoran terkenal itu? Bagaimana bisa? Apa yang terjadi? Kenyataan itu terus menyita kerja otak Lexa dan membuatnya bertanya-tanya. Hingga pesta sampai pada puncak acara, Lexa masih saja terus memikirkannya.